
Rangga merenggangkan tubuhnya sambil melihat view yang tepat berada didepannya, dirinya berdiri di balkon kamar setelah berdamai dengan rasa kantuk.
Rangga menoleh saat Filla ikut berdiri disebelahnya dengan wajah yang sangat imut menurut Rangga, Filla belum sadar sepenuhnya, sesekali dirinya masih menguap.
"Gimana tidurnya? Nyaman?" tanya Rangga sambil mendekat, menghapus jarak diantara mereka, dirinya memang sangat suka berdekatan dengan Filla.
Filla mengusap matanya, lalu mengangguk.
Rangga tersenyum lalu menaruh telapak tangannya dipuncak kepala Filla.
Filla membiarkan perlakuan Rangga, Filla sudah membiasakan diri dengan semua sikap Rangga walau sesekali tetap saja salting.
Rangga membenarkan rambut Filla yang sedikit berantakan, menyisirnya pelan dengan jari, "Semalem bahas apa sama temen-temenmu?" tanya Rangga, dirinya sudah cukup penasaran sejak semalam.
Filla mengerutkan kening, "Bahas apa? Nggak ada," jawab Filla sambil menggaruk pelan lehernya.
"Nggak mungkin nggak ada, Reya semalem sampai salah tingkah gitu waktu ketahuan aku sadar kalian semua meratiin aku."
"Kepedean-nya dikurangin Mas," ucap Filla sambil menepuk bahu Rangga, lalu melewati Rangga masuk kedalam kamar.
Rangga tersenyum lalu mengikuti Filla dibelakang, "Kayaknya kalau kamu panggil aku Mas asik," ucap Rangga.
"Mas panci? Mas balon? Atau mas batangan aja sekalian," ujar Filla.
Rangga tertawa, "Jangan malu-malu gitu, biasa aja," tambah Rangga.
"Terserahlah," Filla mengambil handuk yang tersedia di sebelah pintu kamar mandi.
"Seriusan nggak mau manggil mas?" tanya Rangga. "Udah jangan malu-malu, aku tahu kok di dalam hati kamu terdalam kamu pengen manggil aku mas," ucap Rangga sengaja ingin meledek Filla.
Filla memutar bola mata malas sebelum menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Rangga yang masih setia menertawakannya.
"Aaaaaah...!" teriak Filla dari dalam kamar mandi.
Rangga yang mendengar teriakan Filla berlari panik, mengetuk kuat pintu kamar mandi, "Fill kenapa? Buka," ucap Rangga masih menggedor pintu.
Rangga memutar kenop pintu dengan khawatir yang menggerogotinya sampai dirinya berhenti saat Filla membuka pintu kamar mandi, "Kenapa?" tanya Rangga dengan wajah paniknya.
"Airnya ternyata dingin," ucap Filla tanpa dosa, "Nih, tangan aku beku," Filla menempelkan telapak tangannya pada lengan Rangga.
__ADS_1
Rangga menghela napas, antara lega dan tak habis pikir dengan Filla, "Kamu masuk lagi dan mandi ya Filla, dan untuk air, bisa kamu aonasih duku," ucap Rangga lembut, dirinya sudah tidak tahu ingin mengucapkan apalagi pada Filla.
Filla mengangguk dengan santai lalu kembali menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Rangga yang menggeleng karena tingkahnya.
*******
Sesuai agenda yang sudah dibuat, Sekitar jam dua siang, mereka akan piknik disalah satu area dekat Vila, berkat saran dari mang Diman, pengurus di Vila mereka menemukan tempat yang bagus walau jalanan yang ditempuh adalah kebun teh dan sedikit masuk hutan.
Sesuai kesepakatan mereka berbagi tugas, para wanita menyiapkan makanan, dan para pria menyiapkan tempat dan peralatan untuk BBQ-an disana.
Ola melihat arloji dipergelangan tangannya, "Dua puluh menit lagi kita udah harus berangkat," ucapnya sambil memasukkan minuman yang ada didalam kulkas kedalam kertas.
Yang lain mengangguk paham.
"Udah selesai semua kok," ucap Iren sambil menutup wadah yang sudah diisi daging.
"Sayang banget ya Caca nggak bisa ikut, padahal dia semangat banget kalau acara piknik kayak gini," ucap Raya.
Filla mengangguk, "Mau gimana lagi? Ponakan kita harus dijaga dong, nanti kalau debay udah besar kita ajakin piknik," ucap Filla membuat yang lain mengangguk semangat.
"Siapa tahu kan nanti bisa main sama anak gue," ucap Ola.
"Aamiin," ucap mereka serentak lalu tertawa.
Filla hanya tersenyum mendengar teman-temannya serempak mengucap Aamiin.
"Udah yok, berangkat," ucap Ola yang meraih anggukan kepala dari yang lain.
*******
Mereka berempat mengedarkan pandangan saat berada di tengah-tengah kebun teh.
"Lo yakin La, ini jalan yang bener?" tanya Iren mulai ragu.
"Pertanyaan lo udah kayak pak ustad," ucap Reya membuat yang lain tertawa.
"Yakin, gue udah nanyain mang Diman, katanya lurus aja," ucap Ola yang terus memandu perjalanan.
Filla mengedarkan pandangannya, "Kenapa nggak iyain aja sih waktu istrinya mang Diman pengen nganterin? Kita ada peluang buat nyasar ini."
__ADS_1
"Ya nggak enak lah, anaknya sakit masak kita minta anter, dan jangan doain yang nggak-nggak dong Fill, entar nyasar beneran," ucap Ola.
"Tapi gue punya pikiran yang sama deh kayak Filla, nggak yakin aja jalanannya kayak gini, kan kata mang Diman tempatnya sering dikunjungi, masak jalanannya sesusah ini?"
"Pernah denger nggak kalau mau sesuatu harus ada perjuangan, mungkin ini yang dinamakan perjuangan, udah ah kalian pada nakut-nakutin," ucap Ola mulai kesal.
Akhirnya mereka memilih diam, berusaha percaya pada Ola yang padahal mereka juga tahu kalau Ola sama khawatirnya, hanya berusaha menutupi sejak tadi.
"Nah apa gue bilang, bener kan?" ucap Ola saat mendapati jalan yang dimaksud mang Diman. "Sekarang tinggal ke kanan," ucap Ola yakin.
"Minta jemput aja sama para cowok," usul Iren sambil mengeluarkan ponselnya.
"Manja banget lo Ren jadi cewek," ledek Ola.
Iren memutar bola matanya malas, "Dari pada kesasar, lo juga nggak yakin dari tadi."
Guk-Guk!!!
Mereka menoleh pada sumber suara, dan tebakan awal benar, seekor anjing menatap mereka, mereka semua dapat merasakan tatapan tak suka dari anjing tersebut.
"Jangan lari, makin lari makin ngejar," ucap Reya pelan.
"Mau mati? Lari...!" Ola lebih dulu berlari meninggalkan yang lain.
"Ola mah, kan jadi ngejar," Iren berlari sekencang mungkin diikuti, Filla dan Reya, mereka berlari sekuat tenaga.
Saat di hadapkan dengan jalan bercabang, mereka berpisah tanpa sadar, Reya dan Iren ke kanan sedangkan Filla seorang diri ke arah kiri.
Filla menyembunyikan diri didalam semak-semak, "Astaga," ucap Filla pelan saat mendapati lengannya tergores tanaman liar.
Filla hampir sepuluh menit menyembunyikan diri, saat merasa aman dirinya keluar dari semak-semak dan mengibaskan celananya yang dipenuhi rumput liar seperti padi.
"Untung anjingnya nggak ngejar gue," ucap Filla bernapas lega.
Filla melirik ke samping kanan dan kirinya, "Mati gue, ini dimana?" Filla mengedarkan pandangan, dan hanya pepohonan tinggi yang dapat ia lihat sepanjang mata memandang.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, "Gue sendiri nih?" tanya Filla pada dirinya sendiri. "Bodoh," Filla memukul kepalanya sendiri, "Ngapain lari kesini?"
Filla mengedarkan pandangan, bagaimanapun caranya tentu ia harus keluar dari dalam hutan, Fila bergidik ngeri saat mengingat ucapan mang Diman, bahwa hutan disini cukup berbahaya, "Ya mana ada hutan nggak bahaya," ucap Filla berbicara pada dirinya sendiri seolah menjawab pernyataan mang Diman.
__ADS_1
Filla berjalan pelan, dirinya mencoba mengingat jalan yang ia lewati tadi, tapi nihil, dirinya memang orang yang sulit menghapal jalan, apalagi baru pertama kali melewatinya.
*********