Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 21


__ADS_3

"Kak," panggil bunda dari luar.


Filla menoleh, "Masuk Bun, nggak dikunci," ucapnya masih berbaring, rasanya tubuhnya tambah lemah karena telalu lama dibawah sower.


"Yaampun Kak, kok dingin gini? Kenapa sih? Bunda nggak percaya cuma jatoh di toilet," ucap bunda akhirnya menyalurkan rasa penasarannya. "Sini Bunda obatin luka kamu," ucap bunda sambil mengambil tangan Filla yang sudah duduk. Dengan pelan bunda mengobati semua luka Filla.


"Kakak jujur sama Bunda, ada apa? Kakak tahukan Bunda khawatir?" tanya bunda membuat Filla mengangguk.


"Makasih Bun, udah khawatir sama Filla, Filla kayak dapet kasih sayang yang sama kayak Mama dari Bunda," ucap Filla sambil memeluk bunda.


"Sekarang kenapa nangis?" tanya bunda melepas pelukan Filla dan menatap Filla lekat. "Cerita sama Bunda ya," bujuk bunda.


Filla mengangguk sambil memaksa tersenyum. Filla menceritakan semuanya pada bunda, mulai dari perlakuan Bianca dan teman-temannya sampai apa sebabnya, terlihat jelas bunda marah dengan ini semua.


"Nggak boleh tinggal diem Kak, dia udah main kekerasan, kita laporin polisi," ucap bunda sambil bangkit tapi ditahan Filla.


"Filla mohon Bun, jangan," pinta Filla sambil menangis. "Jangan kasih tahu Rangga juga, Filla nggak mau Rangga ngerasa bersalah Bun," jelas Filla membuat bunda kembali duduk walau terbakar emosi.


Bunda menangkup wajah Filla yang penuh airmata, "Kak, tapi dia keterlaluan, siapa dia yang berani ngelarang Kakak deket sama Rangga, sedangkan Bundanya sendiri nggak pernah negalarang," ucap bunda emosi.


"Tapi Filla nggak mau semua ini panjang Bun, dan akhirnya Filla dikeluarin dari sekolah kayak dulu, Filla cuma mau tenang Bun," ucap Filla tambah menangis.


"Tapi dia udah ngelakuin hal yang nggak baik terhadap kamu kak, apalagi main foto sembarangan, Bunda nggak terima," ucap bunda naik darah.


"Biar Filla yang beresin. Tapi please Bunda jangan perpanjang, Filla janji akan selesein semuanya dengan cara Filla sendiri. Filla janji Bun," pinta Filla membuat bunda kembali menariknya dalam pelukan.


"Oke Bunda turutin mau Kakak, tapi kalau Kakak nggak bisa nyelesein jangan pernah sungkan minta bantuan sama Bunda," ucap bunda menekankan kata-katanya.


"Pasti Bun, makasih," ucap Filla memeluk bunda dengan erat.


******


"Kak Tiara, tolong panggilin kak Filla ya. Bunda mau ambilin nasi buat semua," pinta bunda yang sibuk mengambil nasi untuk semua orang yang berada dimeja makan. Kecuali Rangga yang sudah makan duluan dan hampir menghabiskan makanannya.


"Oke Bun," ucap Tiara sambil berjalan kelantai atas memanggil Filla.


"Filla kenapa Bun?" tanya ayah yang belum mengetahui keadaan Filla. "Ayah perhatiin wajahnya tadi pucat," sambung ayah.


"Filla dibully Yah," ucap bunda dengan nada yang begitu khawatir, mendengarnya Rangga langsung melepas sendok makannya dan menatap bunda tak percaya. "Sebenernya Bunda nggak boleh ni kasih tahu kamu Ngga, Filla dibully karena cewek yang suka sama kamu nggak suka kalau Filla barengan sama kamu berangkat sekolahnya," jelas bunda membuat Rangga tambah melotot.


"Seriusan Bun? Hal yang aku takutin terjadi," ucap Rangga dengan kesal.

__ADS_1


"Maksud kamu, kamu udah ngira ini semua?" tanya ayah mulai heran.


Rangga menatap ayah dan bunda bergantian, "Iya, Rangga selalu ngejauhin Filla saat disekolah, ya ini sebabnya, Rangga nggak mau Filla jadi bulan-bulanan disekolah, tapi kayaknya nggak ngaruh," ucap Rangga frustrasi.


"Anak sekarang nggak ada takutnya, main siksa orang seenaknya," ucap ayah yang juga mulai emosi. "Sudah kita perkarakan ke hukum saja," ucap ayah tegas.


"Jangan Yah, Filla minta untuk perkara ini jangan dibawa kepolisi karena ia yakin bisa nyelesein ini sendiri. Kita kasih kepercayaan sama Filla, kalau nanti Filla nggak bisa selesein, kita baru tempuh hukum," jelas bunda.


"Nggak bisa Bun, ini udah nggak bener," ucap ayah sambil bangkit dari duduknya. "Ayah akan lapor polisi," ucap ayah tegas.


"Yah tunggu, Bunda juga takut kalau Ayah lapor polisi akan berakibat ke Filla," ucap bunda menghentikan ayah yang hampir beranjak pergi.


"Maksud Bunda?" tanya Rangga heran. "Ini memang harus bawa ke jenjang hukum," tambah Rangga mendukung ayah.


"Yah, Ngga, masa depan Filla ada ditangan anak itu. Kalau sampai Ayah ngelapor kepolisi, Filla bisa dipermaluin. Mereka udah ambil gambar Filla dibagian terlarangnya dan mereka mengancam akan menyebarkannya kalau Filla macam-macam. Jadi Bunda mohon percaya sama Filla. Bunda yakin Filla pasti tahu cara menyelesaikan semua ini, karena Bunda liat dia begitu yakin, jadi kita percayakan sama dia," ucap bunda membuat semua terdiam.


"Benar-benar kurang ajar itu anak," bentak ayah marah.


"Siapa Bun? Siapa orangnya, itu udah kurang ajar, mengambil gambar Filla seperti itu. Ini salah Rangga, seharusnya Rangga jaga Filla bukan menjauhi," ucap Rangga merasa bersalah sambil menunduk lemas.


"Ngga, jangan nyalahin diri sendiri, ini yang Filla takutin, makanya Filla ngelarang Bunda kasih tahu kekamu. Filla nggak nyalahin kamu Ngga," ucap bunda.


"Bunda, Bunda ...!" teriak Tiara sambil berlari menghampiri bunda.


"Jangan lari-lari Ra, kamu nanti jatuh. Ada apa teriak-teriak?" tanya Bunda sambil menahan bahu Tiara yang hampir terjatuh.


"Kak Filla badannya panas," ucap Tiara sambil ngos-ngosan. "Terus Tiara suruh bangun, dia bilang nggak apa-apa, dia malah suruh Tiara lanjut makan," ucap Tiara sangat lugu.


"Sampai demam Yah, pasti ia sangat kesakitan tadi," ucap bunda khawatir.


"Yaudah Bun, Bunda kan belum makan, jadi Bunda urus yang lain biar aku urus Filla, nanti aku kompresin dia, aku udah selesai makan, nanti kalau Bunda udah selese, Bunda nyusul," tawar Rangga.


"Yaudah Ngga, jaga Filla ya," pinta bunda khawatir.


"Pasti Bun," ucap Rangga lalu naik kelantai atas menuju kamar Filla.


******


"Fill," panggil Rangga saat membuka kamar Filla dan nampak Filla yang meringkuk dibalik selimut tebalnya.


"Ngga? Ngapain kesini?" tanya Filla yang berusaha duduk.

__ADS_1


"Bunda suruh gue rawat lo, kata Tiara lo demam," Rangga duduk ditepian tempat tidur Filla dan menaruh punggung tangannya dikening Filla. "Panas banget, lo abis keluar dari open?" canda Rangga yang tak digubris Filla sedikitpun, Filla lebih memilih diam mematung. "Fill, jangan ngelamun," ucap Rangga sambil mengoyang bahu Filla.


"Gue nggak ngelamun," ucap Filla tanpa menoleh kewajah Rangga.


Rangga menghela napas pasrah, "Terserah deh," ucap Rangga. "Yaudah gue kompresin," Rangga membasahi handuk yang ia bawa dengan baskom kecil tadi.


"Gue nggak papa, nggak usah dikompres," ucap Filla masih tak menoleh.


"Bukan gue yang mau ngompres tapi disuruh Bunda, kalau gue juga ogah deh, jadi jangan perotes," Rangga menempelkan handuk basah tepat dikening Filla. "Jangan suka mendem semua sendiri, gue tahu lo masih asing sama keluarga ini dan tentunya masih nggak suka sama gue, tapi tunggu, gue juga nggak suka sama lo, ngerebut kamar yang udah gue tempatin hampir 17 tahun, siapa juga yang nggak marah? Untung gue baik," canda Rangga yang tak meraih ekspresi apapun diwajah Filla.


Filla masih betah dengan lamunannya.


"Kenapa sih? Gue lagi ngomong Filla," teriak Rangga sambil mencolek dagu Filla.


"Apasih Ngga? Jangan resek deh," bentak Filla sambil menatap Rangga.


"Nah gitu dong, bicara itu harus liat lawan bicara jangan diem kayak patung, oke ni obat penurun panas, lo minum setelah makan, dan sekarang waktunya makan," ucap Rangga sambil mengambil piring berisi nasi yang tadi sempat dibawa Tiara karena disuruh bunda.


"Gue nggak napsu makan," ucap Filla.


"Nggak ada penolakan, atau gue suapin?" ledek Rangga yang meraih gelengan cepat dari Filla.


"Gue bisa sendiri," ucap Filla sambil menarik piring berisi makanan dari tangan Rangga, sedangkan Rangga hanya tersenyum penuh kemenangan. "Jangan bangga deh, gue makan karena Bunda," ucap Filla mengetahui pikiran Rangga.


"Terserah deh," ucap Rangga masih tersenyum bangga, membuat Filla mengernyit tak mengerti. "Udah, makan aja," Rangga menepuk kepala Filla pelan.


"Aduh, anak-anak Bunda akur banget," ucap bunda yang baru saja masuk kekamar Filla.


"Udah Ngga, biar Filla Bunda yang jaga, kamu kerjain PR aja. Oiya besok kamu kasih surat ya ke guru, bilang Filla nggak bisa masuk," pinta bunda yang meraih anggukan kepala Rangga.


"Bun, Filla masuk kok besok, lagian juga udah mendingan," ucap Filla pelan.


"Nggak ada Fill, entar lo pingsan ngerepotin gue, jadi lebih baik dirumah," ucap Rangga cepat.


"Bener kata Rangga, kamu pucet banget Kak," bunda mengelus puncak rambut Filla. Sedangkan Filla hanya bisa diam tak bisa menolak lagi.


"Yaudah, Rangga kekamar dulu," pamit Rangga.


"Langsung tidur Ngga, awas kalau Bunda intipin masih main game," ingat bunda yang hanya meraih anggukan malas Rangga.


******

__ADS_1


__ADS_2