
Hujan mengantarkan hawa dingin sampai Filla harus merapatkan jaket yang ia pakai ketubuhnya, sudah hampir satu jam hujan turun tanpa jeda.
Filla duduk disalah satu bangku didalam perpustakaan kampus, memfokuskandiri membaca buku yang ia pegang, namun tetap saja pikirannya bercabang, ia masih saja memikirkan rasa bersalahnya pada Fanny, bisa-bisanya 14 tahun hidup biasa saja dan melupakan Fanny.
Filla menunduk menyembunyikan wajahnya di atas meja dengan tangan sebagai penyangga. Filla beranjak saat seseorang menarik bangku disebelahnya.
Filla diam sebentar lalu menggeser duduknya agar berjarak dari Rangga, sudah cukup memikirkan rasa Bersalahnya, tidak ada waktu untuk terus memikirkan masalah hati.
"Kenapa geser?" tanya Rangga sambil menoleh.
Filla menoleh kearah Rangga, "Entar lo nggak suka gue deket-deket," ucap Filla lalu kembali menyembunyikan wajahnya diatas diatas tangannya.
Rangga menarik kursi Filla membuat Filla bengun dan menatap heran pada Rangga, "Disini aja," ucap Rangga lalu kembali fokus pada bacaannya.
Filla menatap Rangga malas, jika Rangga bersikap pimplan seperti ini akan sangat tidak aman untuk perbaikan hatinya.
Filla beranjak dari duduknya, mengumpulkan buku yang sempat ia ambil tapi tidak sedikitpun membukanya, Filla menyampirkan tasnya dipundak, "Gue duluan," ucap Filla.
"Segitunya nggak mau disebelah gue?" tanya Rangga dengan wajah kesalnya.
Filla mengerutkan keningnya, "Bukannya lo yang nggak mau disebelah gue?"
"Terserah," ucap Rangga lalu kembali berbalik memfokuskandiri pada bukunya.
Filla menaikkan kedua bahunya, lalu memilih menuju rak untuk mengembalikan buku yang sudah ia ambil tadi. Lalu keluar dari perpustakaan setelah melihat Rangga yang sudah tidak ada pada tempatnya, Filla mencoba untuk tidak peduli.
******
"Gimana? Beneran kan adek lo dah mati," tanya Rasti sambil mengambil jus jeruk Filla dan memindahnya didepan Ola.
Ola sengaja berkunjung ke kampus Filla setelah acara kampusnya yang dilakukan dekat dengan kampus Filla selesai.
"Rasti," ucap Ola sedikit terkejut dengan kehadiran Rasti.
"Oh, pada reuni nih ceritanya," ucap Rasti saat menyadari kehadiran Ola.
"Eh gue belum selesai," Rasti menoleh ke Filla. "Gue nggak nyebar berita hoak kan, adeklu beneran mati kan?" ledek Rasti sambil tertawa.
Filla menampar wajah Rasti kuat membuat semua orang melihat kearah mereka, "Jangan bawa adik gue jadi bahan omongan busuk lo!" Filla menatap tajam Rasti.
"Wow," Rasti mengkat tangannya namun dengan kuat Filla menahan sehingga Rasti tidak bisa membalas tamparannya. "Kuang ajar banget lo!" Rasti menatap Filla dengan tatapan penuh dendam.
__ADS_1
"Lo yang kurang ajar, mulut busuk lo berhenti bawa-bawa adek gue," Filla melepas tangan Rasti dengan mendorongnya kuat.
"Heran gue sama lo, nggak bisa bersikap dewasa? kekanakan lo di SMA jangan dibawa," ucap Ola menatap Rasti tajam
"Sial," Rasti beranjak dari lantai. "Pembunuh," ucap Rasti lalu meninggalkan Filla yang terdiam.
Filla terduduk dikursinya.
"Filla nggak usah didengerin, dia selalu pengen bikin lo terpuruk," ucap Ola sambil mengusap punggung Filla berulang.
Filla mengangguk, walau kata-kata Rasti memenuhi pendengarannya membuatnya tambah merasa bersalah.
******
Rangga bersender didepan pintu masuk toilet cewek.
Rasti berjalan keluar dari toilet lalu terkejut dengan kehadiran Rangga, "Ngapain lo?" tanyanya heran.
"Gue peringetin sama lo, jangan pernah ganggu Filla," ucap Rangga menatap tajam Rasti.
Rasti tertawa, "Kenapa? Lo care sama dia?" tanya Rasti sambil melipat tangan didepan dada.
"Bukan urusan lo! Lo cuma perlu inget, berani ganggu Filla berhadapan sama gue," Rangga meninggalkan Rasti.
Rangga menatap dari kejauhan Filla mengayunkan diri di ayunan dekat taman belakang kampus.
"Rangga," ucap Filla saat Rangga berada tepat didepannya, menciptakan bayangan yang membuat Filla terlindungi dari terik matahari.
"Sampai kapan lo mau merasa bersalah?" Rangga duduk diayunan sebelah Filla.
Filla menghapus airmatanya yang menetes, ia membuang muka, tak mampu menatap Rangga.
Rangga menyender diayunan, lalu menggunakan kedua tanggannya sebagai bantal.
"Lo kenapa beberapa hari ini baik sama gue?" tanya Filla memberanikan diri.
Rangga sejenak menatap langit yang sudah cerah setelah hujan tadi, "Jangan kepedean, gue cuma menolong sesama manusia, lo lagi sedih makanya gue bersikap lebih baik," ucap Rangga pelan.
Filla mengangguk, ia akan mempercayai ucapn Rangga walau terasa sakit mendengarnya, setidaknya ia masih bisa mengobrol dengan Rangga setelah kejadian buruk yang ia alami.
Filla tahu hal yang ia lakukan saat kehadiran Rangga adalah konyol, begitulah hatinya yang tidak sejalan dengan logika.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan?" tanya Rangga sambil menoleh.
Filla mengerutkan alisnya, "Jalan-jalan?" tanya Filla memastikan.
Rangga mengangguk, "Kalau lo mau," ucap Rangga lalu beranjak dari senderannya diayunan.
******
Filla merutuki dirinya, sekarang ia dengan sepeda biru melewati jalanan, ia tak bisa menolak sedikitpun ajakan Rangga, ditambah lagi Filla berjingkrak senang dibelakang Rangga saat Rangga peduli dengannya.
"Lelet amat," Rangga melewati Filla sambil menggowes sepedanya.
Filla tertawa, lalu dengan semangat menggowes sepeda yang ia naiki mengejar Rangga, walau kecil kemungkinan akan berada disamping Rangga, bersepeda saja Rangga sudah meninggalkannya jauh apalagi masalah hati.
Ada sesak yang Filla rasa saat memandang punggung Rangga yang semakin jauh dari pandangannya. Seolah sama dengan kisahnya, mengejar seseorang yang tak ingin disamai langkahnya.
"Makasih Kak," Filla mengembalikan sepeda yang ia sewa, selang beberapa menit Rangga juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Iya, terimakasih kembali."
"Gimana? Lebih plong kan?" tanya Rangga.
Filla mengangguk, "Makasih Ngga," ucap Filla sambil melempar senyum terbaiknya pada Rangga.
"Gue cuma mau ngingetin, lo jangan Ge-er, gue lakuin ini cuma karena disuruh Bunda," ucap Rangga sambil meneguk air mineral didalam botol.
Filla menghembuskan napasnya, Rangga mempertegas hal yang walau sedikit membuat Filla bahagia, namun mengetahui bahwa Rangga melakukannya demi Bunda, rasanya hati yang ada padanya tertusuk ribuan jarum.
"Lo denger kan?" tanya Rangga sambil menatap Filla.
Filla mengangguk, "Makasih, gue cukup seneng hari ini," ucap Filla memaksa senyumannya.
"Nih dari bunda," ucap Rangga mengeluarkan kotak bekal dari tasnya.
Filla tersenyum antusias, "Duh, udah laper banget, bunda the best." Filla langsung mengambil kotak bekal dari Rangga. "Makasih lo," Filla membuka kotak bekal dari bunda, ada nasi dan beberapa lauk kesukaan Filla.
"Makan pelan-pelan," ucap Rangga saat melihat Filla. memakan masakan bunda dengan lahap.
Filla menyodorkan kotak bekal pada Rangga, "Makan bareng Ngga," ajak Filla.
Rangga menggeleng, "Gue nggak laper, abisin aja," ucap Rangga yang meraih anggukan dari Filla.
__ADS_1
Filla menatap Rangga yang membalas chat dengan senyuman yang bahkan tak pernah Rangga tujukan padanya.
******