
Filla berjongkok, dirinya terlalu lelah berjalan hampir empat puluh menit tapi tetap berputar ditempat yang sama tanpa arah, sejak tadi dirinya tidak menemukan siapapun, harapannya cuma satu melihat hamparan daun teh saja sudah cukup.
Dilihatnya arloji dipergelangan tangan, sudah hampir satu jam dirinya didalam hutan, keringat sudah menganak diwajahnya.
Filla bersender di salah satu pohon besar disebelah kanannya, dirinya berusaha tenang, namun tetap saja bayangan dirinya akan sendiri sampai malam benar-benar memenuhi pikirannya.
Filla mengedarkan pandangan, langit benar-benar tidak bersahabat dengannya, sekarang awan hitam seakan menutupi langit yang tadinya cerah.
Filla duduk sambil memeluk kakinya yang ia tekuk, "Rangga," panggilnya pelan, entah mengapa nama Rangga yang ia ucapkan tanpa sadar.
"Masak gue sampai malem disini?" tanya Filla pada dirinya sendiri, Filla membenamkan wajah diatas lututnya.
"Filla ...! Fill ...," teriak seseorang dari kejauhan.
Filla mengangkat wajahnya, suara Rangga benar-benar kelegaan yang Filla rasakan kini, dirinya berdiri mencari asal suara Rangga, "Rangga...! Disini," teriak Filla.
Filla berlari saat mendapati Rangga, dirinya menghambur kepelukan Rangga, rasanya lega dengan kehadiran Rangga.
"Kamu kemana aja?" Rangga memeluk Filla erat, seolah tak ingin melepaskannya sedikitpun, dirinya mencium puncak kepala Filla berulang.
Filla terisak, betapa leganya bertemu dengan Rangga, "Aku kira bakalan sendirian disini," ucap Filla membenamkan wajahnya pada dada bidang Rangga, membuat kemeja biru yang Rangga gunakan basah karena airmatanya.
"Aku pasti cari kamu, kamu kenapa sendirian kesini? Aku udah bilang kan kalau mau berangkat telpon salah satu dari kita, aku nggak mau kejadian kayak gini."
"Maaf Ngga," ucap Filla.
Rangga mengusap punggung Filla berulang, "Udah, jangan nangis, udah ada aku," Rangga memundurkan tubuh Filla, mengusap air mata Filla dengan ibu jarinya. "Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Rangga sambil memeriksa tubuh Filla.
Filla mengangguk, dirinya tak mau menatap mata Rangga, rasa malu dan lega bercampur jadi satu bagaimana bisa dirinya menangis didepan Rangga, apalagi langsung menghambur ke pelukan Rangga tanpa tahu malu, padahal dirinya yang selalu menolak Rangga.
Rangga memegang tangan kanan Filla yang dipenuhi goresan, "Kamu luka?" tanya Rangga panik sambil melihat luka ditangan Filla.
"Cuma kegores waktu aku sembunyi dari anjing tadi, nggak apa-apa," ucap Filla yang juga memeriksa tangannya.
Hujan tiba-tiba saja turun dengan cukup deras, membuat Rangga refleks langsung memayungi Filla dengan kedua tangannya.
"Sini" Rangga merangkul Filla, membawa Filla berteduh dibawah pohon yang lumayan rindang, setidaknya cukup memayungi mereka dari hujan. "Dingin?" tanya Rangga sambil menggosok telapak tangannya sambil sesekali meniupnya.
Filla hanya mengangguk, tanpa bersuara.
Rangga mengenggam tangan Filla, menyalurkan rasa hangat pada tangan Filla.
__ADS_1
Filla menatap Rangga yang sibuk meniup tangannya, bahkan saat sekarang, Rangga melakukan apapun agar dirinya nyaman, tapi Filla tak pernah melakukan apa-apa untuk Rangga.
"Aku emang paling sial yang lain milih jalan bener, aku malah salah," ucap Filla.
Rangga tersenyum, "Aku sialnya nggak bawa jaket," ucap Rangga.
"Aku nggak apa-apa kok, nggak perlu jaket," jawab Filla serius.
Rangga tertawa, "Emang jaketnya bukan buat kamu?"
Filla mengerutkan kening, "Terus buat siapa?" tanya Filla.
"Buat aku, kan aku cepet kena flu, jadi harus pake jaket," ucap Rangga.
Filla memutar bola mata malas, "Jadi kalau bawa jaket, kamu akan pakai jaketnya sendirian dan biarin aku kedinginan?" tanya Filla mulai kesal.
Rangga tertawa lalu mencubit gemas pipi Filla, "Kamu percaya aku akan melakukan itu?" ucap Rangga balik bertanya.
Filla terdiam, menatap bola mata Rangga, mereka terlalu dekat, membuat jantung Filla berdetak lebih kencang.
Rangga tersenyum lalu mengacak rambut Filla, "Suara jantungnya tolong dikondisikan," ledek Rangga.
Filla langsung menampar lengan Rangga, "Resek," Filla melipat tangan didepan dada sambil membuang wajah dari Rangga.
"Aduh," Filla tersandung rerumputan yang menjalar.
Rangga dengan sigap menangkap tubuh Filla, "Kamu lemes?" tanya Rangga.
Filla menggeleng, "Nggak, cuma kesandung," ucap Filla sambil mengibas celananya yang dipenuhi rumput mirip padi.
Rangga berjongkok membelakangi Filla, "Aku gendong aja," ucap Rangga.
Filla menggeleng, "Aku bisa jalan Ngga, nggak perlu digendong segala," ucap Filla.
"Mau aku gendong atau aku tinggal?" ancam Rangga membuat Filla diam.
Filla akhirnya mengikuti kemauan Rangga, dirinya mendekat dan mengalungkan tangannya pada leher Rangga.
Rangga berjalan pelan menyusuri jalanan yang mulai terlihat, Filla hanya bisa menghela napas, bagaimana dirinya bisa berputar sampai 5 kali, tanpa mencoba rute lain, Filla merutuki dirinya sendiri Karena memang terlalu bodoh, bahkan menemukan jalan keluarpun dirinya tak sanggup.
"Aku jadi inget, dulu kamu tinggalin aku gitu aja waktu aku jatoh," ucap Filla saat teringat sikap dingin Rangga dulu.
__ADS_1
"Aku berharap kamu bisa lupain aku yng nggak dewasa itu," ucap Rangga.
Filla tertawa, "Bukan belum dewasa, cuma dinginnya aja ngalahin batu es," ledek Filla.
Rangga ikut tertawa, "Aku nggak akan ngulangin kebodohan ku dulu, aku cuma berharap suatu saat kamu bisa nerima aku lagi," ucap Rangga tulus.
Filla terdiam, menatap leher Rangga, dirinya lalu mendekatkan diri pada bahu Rangga dan membuat bahu Rangga sebagai penyanggah dagunya.
Rangga sempat melirik, terkejut dengan perlakuan Filla.
"Aku capek, sebentar aja," ucap Filla, dirinya tahu jelas apa yang ada dipikiran Rangga sekarang.
Rangga mengangguk antusias. Membuat Filla tersenyum tipis.
******
"Ya ampun Fill, lo nggak apa-apa?" tanya Ola yang langsung berlari mendekati Filla diikuti Iren dan Reya yang sama khawatirnya.
"Ngga turunin," ucap Filla pelan, Rangga langsung menuruti ucapan Filla.
"Lo nggak apa-apa Fill?" tanya Iren khawatir.
Filla tersenyum, "Nggak apa-apa kok, maaf ya, kalian nggak jadi piknik gara-gara gue," ucap Filla merasa bersalah.
"Masih sempet mikirin piknik, lupain aja," ucap Ola.
"Iya Fill, yang penting lo selamet," ucap Samuel yang diangguki Jiel dan Glen.
Filla tersenyum mendengar ucapan tulus dari sahabat-sahabatnya.
"Pasti lo ketakutan banget didalam hutan, maaf Fill tadi gue panik sampai lupa sama lo," ucap Reya.
Filla tersenyum, lalu menoleh pada Rangga yang juga menatapnya sambil tersenyum, entah bagaimana hati Filla menjawab bahwa tidak ada rasa takut setelah kehadiran Rangga.
Reya ikut melihat arah pandang Filla, lalu memutar bola matanya malas, "Lupa gue, lo sama suami, mana bisa ngerasain takut," ledek Reya membuat yang lain tertawa.
"Makasih Ngga, udah menemukan Filla," ucap Iren sambil memeluk erat Filla.
Filla tertawa, "Lebay Ren," ledek Filla membuat Iren mempautkan bibirnya.
"Lo nggak perlu bilang makasih La, yang gue selametin istri gue sendiri," ucap Rangga membuat suasana gaduh meledek dirinya dan Filla.
__ADS_1
*******