Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 119


__ADS_3

Dalam perjalanan yang cukup memakan waktu, Rangga tertidur, setelah dirinya merasa mengantuk dan memutuskan untuk duduk dibelakang bersama Filla.


Filla masih saja menatap jalanan yang menampilkan aktivitas penduduk dan beberapa hutan yang masih ada di Bangka Belitung.


Filla melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Sekitar 30 menit lagi kita sampai nak," ucap pak Andi seolah paham dengan pertanyaan yang ada dibenak Filla.


Filla mengangguk sambil tersenyum.


"Hmm," Rangga terlihat gelisah dalam tidurnya.


Filla menoleh, mendapati Rangga yang mulai berkeringat, Filla membenarkan duduknya, "Ngga," panggil Filla sedikit mengguncang lengan Rangga.


Rangga masih gelisah dalam tidurnya, beberapa kali dirinya bergumam tidak jelas.


"Rangga," panggil Filla sedikit lebih keras sambil mengguncang tubuh Rangga.


Rangga terbangun lalu menatap Filla dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mimpi buruk?" tanya Filla penasaran.


Rangga meraup wajahnya, lalu meraih tangan Filla dan melihat pergelangannya, "Pergelangan tangan lo pernah luka?" tanya Rangga.


Filla diam ikut melihat pergelangan tangannya lalu menggeleng.


"Serius Filla," ucap Rangga sambil melihat tangan Filla dengan seksama.


"Lo kenapa sih?" Filla menarik tangannya.


"Gue serius Filla, pergelangan tangan lo pernah kegores pisau?" tanya Rangga menuntut jawaban.


Filla menatap Rangga, mendapati wajah Rangga yang membutuhkan jawaban darinya, "Lo nggak bisa lihat? Tangan gue aman dan nggak punya bekas luka."


Rangga kembali menghadap kedepan, dirinya masih memikirkan mimpi aneh yang terasa nyata.


"Tadi apa?" ucap Rangga pelan berbicara pada dirinya sendiri.


"Apa Ngga?" tanya Filla.


Rangga menggeleng, lalu menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.


Dirinya merasa mimpi tadi sangat berbekas dan terasa nyata, Filla dengan pergelangan tangan penuh darah karena dirinya.


********


Filla bernapas lega saat melihat nama Vino muncul dilayar ponselnya, tanpa berpikir panjang Filla mengangkat vidio call dari Vino.


"Kakak kemana? Kok nggak ngabarin?" tanya Filla saat wajah Vino memenuhi layar ponselnya.


"Sorry dek, Kakak kemaren sibuk ngurusin kantor," jelas Vino dari seberang.


Filla mengerutkan kening karena merasakan tatapan Vino yang terasa beda, Vino mengalihkan pandangannya agar tidak menatap Filla secara langsung, "Kakak sakit?" tanya Filla.


Rangga hanya menatap Filla yang membelakanginya, "Ayolah Rangga," ucap Rangga pelan menguatkan dirinya sendiri atas perasaan yang bahkan dirinya sendiri tidak paham.

__ADS_1


"Nggak, Kakak biasa aja," ucap Vino.


Filla akhirnya mengangguk walau merasakan Vino menyembunyikan sesuatu darinya, "Yaudah, Kakak jaga kesehatan selama disana," ucap Filla.


Vino mengangguk, "Iya," ucap Vino masih tidak menatap mata Filla.


"Kakak buat salah sama aku?" tanya Filla akhirnya.


"Hmmm," Vino menggeleng dengan cepat, lalu menatap mata Filla walau akhirnya kembali mengalihkannya. "Ng-nggak," ucap Vino tergagap.


Filla mengerutkan keningnya, dirinya yakin ada hal yang berusaha Vino sembunyikan darinya, "Yaudah," ucap Filla menyerah, baginya bukan waktu yang tepat juga membicarakannya didepan Rangga.


"Kakak lanjut kerja ya," ucap Vino.


Filla mengangguk, dan sekali lagi Filla merasa Vino aneh, belum pernah Vino menutup telpon atau vidio call duluan, dan sekarang dia melakukannya.


Filla memasukkan ponselnya kedalam tas, lalu menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi, memikirkan Vino yang bahkan tidak mempertanyakan pesan Filla yang meminta izin ke Bangka Belitung.


******


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai pak Andi terparkir didepan rumah dengan gaya minimalis dan sangat asri dikarenakan masih banyaknya pohon-pohon buah yang terawat didepan rumah sahabat papa dan mama.


Filla kagum dengan mereka, mungkin mereka tidak beruntung saat kecil, dibesarkan di panti asuhan tanpa kasih sayang orangtua, namun mereka bisa merubahnya sekarang, mereka semua menjadi orang-orang hebat termasuk papa dan mamanya.


Filla bangga pada mereka yang berjuang hidup, dirinya jauh lebih beruntung terlahir saat perekonomian keluarganya bisa dibilang sangat baik. Maka kapan lagi harus bersyukur jika tidak sekarang.


"Akhirnya nyampe," ucap mama yang keluar dari rumah dengan cat cream.


Filla tersenyum lalu memeluk mama, "Udah kangen," ucap Filla.


"Baru juga 3 hari Fill," ucap mama sambil tersenyum.


Filla tersenyum, "Kenapa? Kangen kan?" ledek Filla, karena sebelum Tita berangkat meninggalkan Filla, Tita lah yang mengejek Filla akan kangen dengannya.


Tita melepas pelukannya dari Filla, "Biasa aja," ucap Tita membuat semua tertawa.


"Akhirnya sampe," ucap seorang pria paruh baya sambil tersenyum, Filla bisa menebak pria tersebut tentu pemilik rumah yang akan mereka tempati beberapa hari kedepan.


Filla dan Rangga bergantian bersalaman dengan Paman Dani yang baru Filla ketahui namanya dari papa.


"Beneran cantik anakmu Mi," ucap tante Lina.


"Makasih Tante," ucap Filla.


"Anakku loh Lin yang kamu bicarain, pasti cantiklah," ucap mama dengan bangga membuat semua tertawa.


"Anakku juga ganteng, jangan ketinggalan," ucap bunda yang baru keluar dari dalam rumah.


"Tenang Ra, anakmu tadi aku simpen buat dipuji terakhir," ucap tante Lina sambil tertawa.


"Ayo masuk dulu, capek pasti kalian," ucap paman Dani sambil mendahului masuk kedalam rumah.


"Sini biar aku yang bawa," ucap Rangga sambil meraih koper yang Filla angkat.


Filla menggeleng, "Aku bisa," Filla berjalan lebih cepat meninggalkan Rangga.

__ADS_1


Sekali lagi Rangga merasakan rasanya penolakan.


Meraka duduk diruangan keluarga yang sangat besar, mungkin akan bergema saat berteriak diruangan ini.


"Gimana perjalanan tadi, terasa jauh nggak dari Bandung?" tanya paman Dani membuka pembicaraan.


"Lumayan Paman, cuma terbayar karena dipinggir jalan aja udah bisa lihat pantai." ucap Filla.


Paman Dani tertawa, "Alhamdulillah kalau gitu, nanti kita jalan-jalan, orangtuamu udah nyuri start duluan," ucap paman Dani membuat yang lain tertawa termasuk Filla.


*******


"Ini kamar kalian berdua, jangan sungkan kalau ada apa-apa panggil bibi, mereka siap semua" ucap tante Lina saat mereka berdiri didepan dua kamar.


"Makasih Tante," ucap Filla sambil tersenyum.


"Iya Tante makasih banyak," ucap Rangga.


"Sama-sama, tante juga seneng kok, nanti malem Tante kenalin sama anak semata wayang Tante, sekarang dia lagi kuliah," ucap tante Lina.


Filla dan Rangga mengangguk sambil tersenyum.


"Yaudah, kalian istirahat, karena nanti malam kita makan malam diluar, sambil jalan-jalan." tante Lina terlihat sangat antusias.


Setelah tante Lina berjalan turun kelantai bawah kembali berkumpul dengan yang lain, Filla membuka pintu kamar untuknya sambil menarik koper.


"Gue duluan Ngga," ucap Filla lalu menutup pintu kamar setelah dirinya masuk.


Rangga masih berdiri menatap pintu kamar yang Filla tempati, dirinya paham jarak seperti apa yang Filla berusaha ciptakan, dan ia tahu ini konsekuensi setelah yang terjadi selama ini.


Rangga akhirnya juga masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Dirinya meronggoh ponsel didalam saku lalu melihat ada 20 panggilan tak terjawab dari Kania, dan 10 pesan masuk.


Rangga menggeleng, "Nggak paham lagi," ucap Rangga pelan.


From Kania


Rangga, kamu dimana sih, aku nyamperin kamu kerumah, kok kamu nggak ada, nggak bilang-bilang juga kalau liburan.


From Kania


Rangga, jangan kekanak-kanakan, aku udah cukup sabar ya.


From Kania


Yaudah aku minta maaf


From Kania


Rangga aku nggak mau putus


Rangga menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan dari Kania dengan tatapan tak perduli, dirinya merasa muak dengan sikap kekanakan Kania.


To Kania


Kita udah putus dan berhenti hubungin gue

__ADS_1


Rangga melempar ponselnya diatas kasur, lalu menutup matanya dengan lengan, menghela napas, Rangga berusaha terlelap.


*******


__ADS_2