
Rangga memegang kepalanya karena kesal, "Lo tahu mereka taruhan buat dapetin lo?" tanya Rangga tegas.
Filla menghela napas, "Mau mereka taruhan bawa gue atau gimanapun nggak ada urusannya sama lo Rangga," ucap Filla tak kalah tegas.
Rangga tersenyum sinis, "Berarti emang lo yang mancing buat mereka berpikiran kotor kayak gitu? Iya?" ucap Rangga. "Nggak tahu terimakasih, gue bantuin sebatas peduli sesama manusia."
"Kalau gitu nggak usah anggep gue manusia, seperti biasa lo lakuin anggep gue nggak pernah ada!" Filla sangat kesal dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Rangga.
Saat Filla berbalik bermaksud pergi, Rangga menahan tangannya.
"Apa susahnya sih Fill dengerin omongan gue? Demi kebaikan lo sendiri, hari ini mereka bisa cuma ngomong, kedepannya nggak ada yang tahu niat seperti apa yang ada diotak kotor mereka," ucap Rangga sedikit melemah.
"Please Ngga, jangan bersikap kayak gini, semua itu urusan gue, urusin urusan lo dan anggep gue nggak ada seperti biasanya, berhenti buat gue bingung," ucap Filla sambil menatap Rangga.
"Bagaimanapun lo ada, keluarga kita deket, nggak akan menutup kemungkinan, yang terjadi sama lo akan jadi urusan gue juga."
Filla tersenyum sinis, "Sejak kapan lo sok bijak? Sejak kapan lo mengakui keluarga kita deket? Berhenti bersikap semau lo," ucap Filla sambil menghentakkan tangannya, namun genggaman Rangga terlalu kuat.
"Lepas!"
Filla terkejut saat tangannya beralih pada genggaman Vino.
"Nggak ada hak lo pegang tangan dia setelah semua yang lo lakuin, sekali lagi lo ganggu Filla, lo berhadapan sama gue!" ucap Vino tegas.
"Kalau lo emang bertugas jagain dia, jangan setengah-setengah, paham," ucap Rangga lalu menabrak bahu Vino keras sambil melangkah meninggalkan Vino dan Filla.
Filla berdiri dihadapan Vino, "Kakak nggak apa-apa?" tanya Filla.
Vino masih menatap punggung Rangga dengan geram, sampai tangan Filla mengelus wajahnya. Vino menoleh pada Filla.
"Nggak apa-apa kan?" tanya Filla khawatir.
Vino menggeleng lalu tersenyum, "Nggak sayang, aman," ucap Vino. "Maksud ucapan dia tadi apa?" tanya Vino penasaran.
Filla menghela napas, "Tadi ada mahasiswa yang nyamperin aku, tapi belum sempet nemuin aku Rangga dengan tiba-tiba mukul mahasiswa tersebut sampai terjadi perkelahian," ucap Filla.
Vino mendengar cerita Filla sambil mengerutkan keningnya, "Terus? Alasan dia tiba-tiba mukul?" tanya Vino.
Filla kembali menghela napas, "Kata Rangga mereka taruhan buat -," ucap Filla terhenti saat Vino menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
"Kakak paham," ucap Vino. "Maaf ya, tadi nggak ada saat kamu butuh," ucap Vino merasa bersalah.
__ADS_1
Filla menggeleng, "Bukan salah Kakak, pria itu aja yang bereng***," ucap Filla.
Vino mengangguk, lalu menggenggam tangan Filla, "Yaudah yuk," ajak Vino.
Mereka berjalan menuju parkiran, seperti biasanya, mereka menjadi pusat perhatian, banyak yang kagum dan iri dengan hubungan keduanya namun Filla dan Vino tidak pernah memperdulikan sedikitpun.
"Aw," Sepatu Filla tersangkut lubang yang ada di tangga.
"Kenapa Dek," ucap Vino yang ikut reflek menahan tubuh Filla agar tidak terjatuh.
Filla melepas sepatunya dan mendapati heelsnya patah, "Patah Kak," ucap Filla sambil menunjukkannya pada Vino.
Vino malah berjongkok mengecek pergelangan kaki Filla, "Sakit nggak?" ucap Vino khawatir.
"Nggak Kak, cuma sepatu aja yang patah," ucap Filla.
Vino kembali berdiri, "Sepatu bisa dibeli kapanpun, kalau kamu kenapa-kenapa, itu yang nggak baik-baik saja," ucap Vino.
"Udah jalan lagi yuk, bentar lagi sampai parkiran," ucap Filla sambil melepas kedua high heels lalu menentengnya.
Vino dengan cepat menggendong Filla ala bridal style, membuat semua orang bersorak melihatnya.
"Dan biarin kamu berjalan tanpa alas kaki? Nggak akan," ucap Vino yang terus berjalan.
Filla pasrah, lebih baik ia menyembunyikan wajahnya, ia tak berani melihat reaksi orang-orang disekelilingnya.
Vino tersenyum, berada dekat dengan Filla tentu membuat jantungnya berdetak lebih kencang, namun ia menikmatinya.
Lain hal dengan Rangga yang melihat kearah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
********
"Bro," panggil Samuel sambil menepuk bahu Rangga, saat ini mereka sedang berada di salah satu cafe di Bandung.
"Hmm," Rangga memutari lingkaran pada gelasnya dengan jari telunjuk.
"Lo kenapa? Gue lihat akhir-akhir ini selalu uring-uringan," ucap Samuel sambil menyesap minuman yang ia bawa setelah memesan.
Rangga menoleh lalu menghela napas, 'Gue juga nggak paham sama diri gue sendiri," ucap Rangga.
Putra ikut duduk di samping kiri Rangga, "Kebanyakan mikir sih lo," ucap Putra sambil membuka minuman kaleng miliknya.
__ADS_1
Rangga diam tanpa berniat menanggapi.
Putra memegang bahu Rangga, "Ikutin kata hati, gue juga nggak bisa ngehakimi lo setelah semua ini, jadi ikutin kata hati lo, biar lo tahu apa yang harus dilakukan," ucap Putra lalu kembali menikmati minumannya.
"Iya bener kata Putra, Ngga, nggak semua harus lo pikir pakai logika," ucap Samuel sambil menepuk bahu Rangga.
Rangga mengangguk walau dirinya saja masih belum tahu rasa apa yang selalu mengusik dirinya beberapa hari ini, rasa yang terasa akrab namun kadang juga terasa asing.
"Gue bingung, selama ini gue selalu pengen Filla nyerah sama perasaannya buat gue, dan sekarang ketika dia melakukannya, dengan egois gue pengen dia balik." ucap Rangga mencoba jujur. "Gue ngerasa melakukan sesuatu yang tak termaafkan pada Filla, setiap harinya Kania yang gue pikir cinta pertama gue, malah semakin membuat gue ragu."
Putra memegang bahu Rangga, "Dari sekarang lo harus menemukan kemantapan itu untuk hati lo," ucap Putra.
"Udah, sekarang lupain semua masalah, makan sepuasnya gue teraktir," ucap Samuel dengan semangat.
"Udah Ngga, sekarang waktunya makan gratis,' ucap Putra antusias.
Rangga menghela napas, benar kata kedua sahabatnya, dirinya harus memantapkan hatinya secepat mungkin, mencari setiap kejanggalan yang terasa.
******
"Ngga, shopping yuk," ajak Kania sambil bergelayut manja pada lengan Rangga.
"Aku belum dapet uang bulanan, dan kerjaan sampingan aku belum stabil," ucap Rangga jujur, ia sudah sering mengorbankan uang sakunya hanya untuk keperluan belanja Kania.
Kania menghela napas, "Kamu gimana sih Ngga? Aku kalau nggak ke mal minggu ini, bisa stres," ucap Kania sambil melepas tangannya dari lengan Rangga dan kembali duduk dengan melipat tangan didepan dada. "Lagian kamu tuh harus fokus biar usaha kamu menghasilkan."
"Kalau kamu mau belanja, pakai duit kamu sendiri lah, aku nggak bisa selalu belanjain kamu," ucap Rangga tegas.
"Kok kamu gitu sih? Kamu kan pacar aku Ngga, sudah sewajarnya dong nyenengin aku, dan kesenangan aku ya belanja," ucap Kania.
Rangga menggeleng, "Kalau gini sekarang aku paham, kamu pacaran sama aku cuma mau bikin aku jadi ATM berjalan kan?" tanya Rangga.
Kania berdiri lalu menampar wajah Rangga, "Bereng***, asal kamu tahu, banyak diluar sana cowok yamg mau belanjain aku, bukan cuma kamu, paham," ucap Kania.
Rangga ikut berdiri, "Kalau gitu pacaran aja sama mereka, kita putus," Rangga meraih helmnya diatas meja lalu menaiki motornya.
"Inget ya Ngga, selangkah kamu pergi, kita nggak akan pernah balikan," ucap Kania.
Rangga tanpa perduli menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Kania yang menatap tak percaya padanya.
*******
__ADS_1