Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 68


__ADS_3

"Ngomong-ngomong Fil" seriusan nggak suka Rangga lagi?" tanya Putra tiba-tiba membuat Filla tersedak.


Dengan cepat Rangga dan Rafael memberikan minuman kepada Filla, membuat semua terdiam termasuk Filla.


Filla dengan cepat mengambil minuman dari Rafael membuat Rafael tersenyum, "Makasih Kak," ucap Filla sambil melirik Rangga.


"Makannya hati-hati," ucap Rafael yang meraih anggukan kepala Filla.


"Woh, Selamet Ngga kayaknya Filla bener-bener udah move on," ucap Putra antusias.


Rangga diam tanpa mau membantah dan memilih kembali menikmati makanannya.


"Yaiyalah banyak cogan diluarsana Filla harus beralih dong," ucap Reya menyindir.


"Emangnya Filla dan Rangga?" tanya Rafael penasaran.


Semua diam tanpa mau menjawab.


"Bisa topik lain?" tanya Filla geram dengan situasi yang tercipta sekarang.


Semua mengangguk tidak mau membantah permintaan Filla.


"Oke," jawab Putra santai.


Filla mendonggak saat Rafael menyampirkan rambut Filla yang sedikit berantakan kebelakang telinga Filla, terasa aneh bagi Filla diperlakukan begitu oleh Rafael.


"Berantakan," jawab Rafael sambil tersenyum.


Melihatnya yang lain hanya menahan senyum atas keuwuan yang mereka ciptakan.


Hans menyenggol tangan Rangga membuat Rangga menoleh padanya, Hans dengan santai mengusap dadanya mengisyaratkan pada Rangga untuk bersabar, dengan cepat Rangga menjitak kepala Hans membuat Hans mengaduh kesakitan.


"Ngapain kalian berdua?" tanya Putra.


"Kepo lu," jawab Hans masih sambil mengusap kepalanya.


"Kalau Filla udah ada yang punya, Reya juga boleh," ucap Putra sambil mengedipkan mata pada Reya.


"Berhenti sebelum gue lempar gelas," ucap Reya sambil mengangkat gelasnya siap melempar Putra.


"Serem amat, nggak jadi, belum nikah udah mati gue," celetuk Putra membuat semua tertawa sedangkan Reya menatap sengit dirinya.


******


Semakin malam acara peringatan anniversary bunda dan ayah semakin terasa hangat, banyak yang bercanda diantara mereka dan adik-adik panti, tak terkeculi rombongan Filla ataupun Rangga.


Setelah memotong kue dan berdoa bersama semua orang sibuk bercerita, Filla duduk diayunan dekat kolam ikan kecil, memperhatikan ayah dan bunda yang bercanda gurau dengan orangtuanya, sungguh pemandangan yang membuat nyaman pikir Filla.


"Fill, sendirian?" tanya Rafael yang sudah menempatkan diri disebelah Filla.


Filla mengangguk, "Kakak nggak makan?" tanya Filla sambil menunjuk makanan yang terhidang rapi dimeja depan mereka.


"Kenyang Fill," jawab Rafael dengan ekpresi lucu menurut Filla sambil memegang perutnya. "Banyak banget kakak makan hari ini," tambah Rafael sambil tersenyum.

__ADS_1


Filla tertawa, "Alhamdulillah kalau kenyang," jawab Filla sekenanya.


"Makasih loh udah diundang," ucap Rafael sambil menggulung lengan bajunya yang panjang sampai siku.


"Sama-sama Kak, makasih juga udah sempetin dateng."


"Bukan kamu yang ngundang kan?" tanya Rafael tanpa menoleh.


Filla tersenyum kikuk tak tahu harus menjawab apa.


"Tenang aja, tegang banget," ucap Rafael sambil mengacak rambut Filla.


Filla tersenyum sambil merapikan rambutnya, "Maaf kak, bukan gitu maksudnya."


Rafael tertawa, "Aku tahu Fill, dari muka kamu pas aku dateng juga udah ngejawab," ucap Rafael sambil tertawa. "Kamu dijebak Reya kan?" tanya Rafael namun kali ini menatap Filla dengan wajah ramahnya.


Filla tersenyum, "Jujur iya Kak, sempet kaget tiba-tiba kakak berdiri didepan rumah, tapi seneng juga kok, jadi nggak cuma Reya yang dateng, yang akan buat aku kayak nggak punya temen," Filla tertawa dengan leluconnya sendiri diikuti Rafael yang ikut tertawa.


"Bisa aja."


"Akak," teriak Tita yang tiba-tiba berada didepan Filla dan memeluk kaki Filla erat.


"Tita," Filla mengangkat Tita membawanya kepangkuan. "Belepotan banget Ta," ucap Filla sambil mengusap wajah Tita yang penuh dengan coklat menggunakan tisu.


Tita memamerkan gigi rapinya, "Kue Bunda lezatos," ucap Tita dengan wajah imutnya.


"Gemes," ucap Filla sambil mencium pipi Tita.


Rafael hanya memperhatikan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, "Namanya siapa adek manis?" tanya Rafael sambil mencolek lengan Tita.


"Eh," ucap Rafael sambil melihat kearah Filla yang ikut terkejut dengan ucapan Tita lalu mereka tertawa.


"Tau aja yang ganteng, udah ngerti?" tanya Filla sambil mencubit gemas pipi Tita.


"Mama yang bilang, kata Mama Abang ini anteng, pacal akak ya?" tanya Tita sambil mendonggak menatap wajah Filla.


"Eh, kamu kecil-kecil dek, bukan dek abang ini temen kakak," jawab Filla santai.


Tita mengangguk, "Kayak Tita cama Riko?" tanya Tita sambil menunjuk Riko yang berlari dengan Anton.


Filla mengangguk diikuti Tita.


"Lucu banget, adekmu Fill?" tanya Rafael sambil menyenderkan punggungnya kesenderan ayunan.


"Iya," jawab Filla sambil mencium Tita gemas.


Rafael ikut tertawa melihat sikap Filla yang begitu menyayangi Tita.


"Aduh, serasa dunia milik berdua," celetuk Reya yang mendekati mereka dengan sepiring makanan ditangannya.


"Dunia milik Allah Kak Riya," ucap Tita yang masih tidak bisa memanggil Reya dengan jelas.


"Bagus Tita," ucap Rafael sambil mencubit pipi Tita pelan.

__ADS_1


"Terhianati gue, Tita tidak baik," celetuk Reya pura-pura ngambek.


Tita tertawa sambil menoleh Filla, "Kata Mama kalau cuka ambek jangan di temenin," ucap Tita yang menambah tawa Filla.


"Yaampun Ta, pinter banget, bener banget jangan ditemenin," ucap Filla.


Reya berjalan menjauh tak sanggup dengan celotehan Tita yang semakin hari semakin pintar, "Nyerah," ucap Reya sambil mengangkat tangan dari kejauhan.


Tita turun dari pangkuan Filla dan naik kepangkuan Rafael.


"Ta," ucap Filla ingin mengambil Tita kembali tapi ditahan dengan tatapan Rafael yang menganggap semua tidak masalah.


"Abang, abang punya lubang disini," ucap Tita sambil menunjuk lesung pipi Rafael.


"Eh, iya Ta, punya dua," celetuk Rafael sambil menunjuk lesung pipi di wajah selah kirinya.


Tita mengangguk.


"Bukan lubang Tita, kamu kira muka bang Rafaelnya sumur," celetuk Filla sambil mengusap rambut Tita.


Rafael tertawa mendengar celotehan Filla.


"Telus namanya apa?" tanya Tita sambil menoleh ke Filla.


"Lesung pipi," ucap Filla.


"Tita kok ndak punya?" Tita memegang kedua pipinya.


"Nggak semua orang punya Ta, kakak juga nggak punya," ucap Filla menunjukkan wajahnya.


Tita mengangguk paham, "Abang, nanti main lagi ya," ucap Tita lalu turun dari pangkuan Rafael.


"Mau kemana?" tanya Rafael saat Tita berlari meninggalkan mereka berdua.


"Paling ambil Frozennya, kelupaan itu," ucap Filla sambil tertawa melihat Tita yang berlari dengan wajah paniknya.


"Ada-ada aja anak kecil," Rafael menatap langit yang dipenuhi bintang sesekali tersenyum.


Filla melirik sekilas, senyum Rafael dapat dikatakan pemikat menurut Filla, sudah banyak Filla dengar teman-temannya memuji ketampanan seorang Rafael, namun tanpa Filla bisa pungkiri, kehadiran Rafael tidak membuatnya menggantikan Rangga.


"Kakak punya adik?" tanya Filla menambah bahan obrolan.


Rafael menggeleng, "Aku anak tunggal, enak ya kayaknya kalau punya adek?" Rafael menoleh.


"Lumayan, mereka bisa dijadiin pelepas penat, dan aroma anak kecil adalah aroma ternyaman yang pernah ada," ucap Filla sambil tersenyum.


Rafael tersenyum sambil mengangguk, diacaknya rambut Filla merasa gemas dengan sikap Filla.


"Kakak, berantakan," ucap Filla kesal.


"Akhirnya bisa kesel juga," ucap Rafael sambil tertawa diikuti Filla yang ikut tertawa.


Tanpa mereka sadari kebersamaan mereka tak lepas dari pantauan Rangga.

__ADS_1


*****


__ADS_2