Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 64


__ADS_3

"Kak Papa mau ngomong," ucap papa serius saat mereka selesai meneguk airputih terakhir setelah makan malam.


Filla mendonggak, "Iya Pa?" Filla memfokuskan diri menghadap papa walau sesekali menatap mama yang sepertinya tahu arah pembicaraan papa.


"Papa sama Mama udah bicarain baik-baik untuk mengadopsi Tita jadi adik kamu, menurut kamu gimana?" tanya papa.


"Iya Fill, Nggak tahu kenapa, Mama sayang banget sama Tita, dan ternyata Papa juga merasakan hal yang sama."


Filla mengangguk cepat, terlihat jelas ia sangat menyukai kabar ini, "Filla pasti setuju, lagian Tita emang udah jadi adiknya Filla sejak lama," ucap Filla tanpa menghilangkan senyum senangnya.


"Alhamdulillah kalau kamu setuju Fill."


Filla sangat senang dengan kabar yang ia dengar malam ini, memiliki adik adalah keinginan Filla sejak lama, dan sekarang semua akan terwujud tanpa ia sadari.


"Mama udah ngomong sama Bunda, Bunda seneng banget dengernya kemaren."


"Filla juga Ma, akhirnya cita-cita Filla pengen punya adek terkabul," ucap Filla senang, membuat kedua orangtunya tertawa melihat tingkah Filla.


******


"Kak, kamu udah mau berangkat?" tanya bunda yang berjalan menghampiri Filla setelah menutup gerbang.


Filla tersenyum, "Iya Bun, ada kelas pagi hari ini," jawab Filla sambil mencium tangan bunda.


"Kamu kok beberapa hari nggak sama Rangga? Berantem?" tanya bunda penasaran.


"Fillanya mau Move on Ra," ucap mama yang keluar dari dalam rumah sambil tersenyum. "Katanya capek ngejer anak kamu," ucap mama dengan nada bercandanya.


"Mama," Filla mempautkan bibirnya.


"Iya kan Kak? Kenapa malu," ucap mama sambil mencubit pipi Filla pelan.


Bunda tersenyum melihat tingkah Filla dan mamanya, "Bagus Kak, Rangga emang nggak ada bagus-bagusnya dikejar, Bunda juga bingung kamu suka sama dia," ucap bunda malah menjelek-jelekkan Rangga.


"Yaudah Ma, Bun, Filla udah harus berangkat," ucap Filla lalu menyalami keduanya.


"Hati-hati Fill, jangan ngebut," ucap mama ketika Filla keluar dari halaman rumah.


Filla menyatukan jadi telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O saat kaca jendela mobilnya sengaja dibuka.


Filla memakai menyetel musik untuk menemaninya dalam perjalanan kekampus, sesekali ia memandang sekitar yang sudah sangat padat aktivitas.


Beberapa kali ia tersenyum melihat tingkah anak-anak yang menuju sekolah sambil meloncat girang, mengingatkannya pada masa kecil.

__ADS_1


Filla menyipitkan matanya saat seseorang yang ia kenal terlihat dibawah pohon pinggirjalan melambaikan tangan kearahnya.


"Rangga?" tanya Filla pada dirinya sendiri.


Rangga melangkah mendekat dan tanpa menunggu lama sudah berdiri didepan kaca mobil Filla.


Filla mengerutkan kening bingung, "Ngapain?" tanya Filla saat dirinya sudah berada dihadapan Rangga.


"Ni," ucap Rangga sambil memberikan kotak makan pada Filla.


Filla menatap Rangga penuh tanya.


"Jangan sampai lupa makan," Rangga mengacak rambut Filla lalu berjalan kembali kemotornya meninggalkan Filla setelah melambaikan tangan.


Filla masih menatap Rangga yang perlahan hilang dengan laju motornya, lalu menggeleng cepat setelah membuang pandangan, "Sadar Filla jangan terpengaruh," ucap Filla lalu kembali masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanannya.


Selang beberapa menit Filla sampai dan memarkirkan mobilnya diparkiran kampus, sesekali ia membalas senyum orang-orang yang menyapanya.


"Mobil sih oke, cuma kalau nggak punya malu tetep aja kelihatan B aja," ucap Rasti.


Filla menoleh malas, "Yang nggak punya malu gue rasa lo," ucap Filla santai.


Rasti tertawa membuat banyak orang menatap kearah mereka, "Gue? Malu?" tanya Rasti sambil tertawa.


"Lepas!" ucap Rangga yang tiba-tiba berada diantara mereka, "Gue bilang lepas, lepas!" bentak Rangga membuat semua orang menatapnya tak terkecuali Filla.


Rasti terhuyung kebelakang saat Rangga dengan kasar mengempas tangan Rasti sampai terlepas dari pergelangan tangan Filla. "Sakit!" teriak Rasti sambil memegang tangannga yang memerah karena cengkraman Rangga.


"Jangan pernah cari masalah, atau lo berhadapan sama gue!" Rangga membawa Filla menjauh dari Rasti.


"Stop," ucap Filla sambil melepaskan tangannya yang digenggam Rangga, "Please Ngga, jangan bikin gue nggak bisa lupain lo," bentak Filla kesal, akhirnya ia bisa mengucapkan kalimat yang membuatnya kesal dengan sikap Rangga.


"Lo emang nggak boleh lupain gue," ucap Rangga sambil menatap dalam mata Filla.


Filla menghembuskan napas gusar, "Terus mau lo apa? Gue ngejer lo?" tanya Filla sambil melipat kedua tanggannya didepan dada.


Rangga diam, sepersekian detik mereka nyaman dengan pikiran masing-masing.


"Gue nggak tahu kenapa ucapan lo ditaman belakang bikin gue nggak tenang, setelah lo ngomong lo bakalan lupain gue, rasanya gue nggak terima," ucap Rangga jujur.


Filla tertawa mengejek, "Terus lo mau gue gimana?" tanya Filla.


"Jangan lupain gue," ucap Rangga mantap.

__ADS_1


"Dan kembali ngejer lo abis itu tersakiti lagi?" tanya Filla kesal.


"Kali ini biar gue yang maju," ucap Rangga lalu melangkah mendekati Filla dan mencium puncak kepala Filla.


Filla terdiam mencerna apa yang arangga lakukan sekarang.


*****


Filla diam menatap kotak bekal yang disiapkan Rangga untuknya, sekarang ia berada di kantin kampus setelah matakuliahnya pagi ini selesai.


Perbiatan Rangga pagi tadi membuat Filla gusar, ucapan Rangga lama ia ingin dengar, namun siatuasi kali ini berbeda.


"Woy, gue liat-liat ngelamun mulu lo sejak mata kuliah pak Basori, tumbenan Filla sang wanita rajin belajar cuek sama pelajaran berharga dari dosen terkiler sepanjang zaman."


"Apaansih Rey," ucap Filla melepas tangan Reya yang memegang kedua pipinya.


Reya yanpa peduli mencubit pipi Filla membuat Filla melotot, Reya tertawa atas keberhasilan kejahilannya, "Wih tumben bawa bekel," ucap Reya sambil mengambil cepat kotak makan Filla dimeja.


"Balikin," ucap Filla sambil menarik kotak makan ditangan Reya sebelum Reya berhasil membukanya.


"Pelit amat, udah kayak kotak makan dari pangeran Rangga aja," celetuk Reya lalu membuka buku menu yang ada diatas meja.


Filla mengerutkan keningnya, celetukan Reya kadang membuat Filla takjub untuk sesaat, "Emang dari Rangga."


Reya tertawa mengejek, "Halu aja terus," ucap Reya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu.


"Gue serius, pagi tadi dia berhentiin gue dijalan dan ngasih kotak makan ini," ucap Filla.


Reya melepas buku menu dan menatap Filla, "Lo seriusan?" tanya Reya.


Filla mengangguk meyakinkan, "Beneran, mungkin kesambet," ucap Filla sambil menaikkan kedua bahunya.


"Kesambet cinta," celetk Reya sambil tertawa mengejek.


"Reya," ucap Filla serius.


"Apa lagi dong kalau bukan cinta, dia tuh kena karma keknya, lama nyuekin lo berakibat pada kerusakan otak kayaknya."


"Resek, jangan buat gue baper dan salah paham, gue capek, mau move on aja susah," Filla menyeruput es teh yang aejak tadi menghasilkan embun digelasnya.


"Siapa tahu beneran, siapin hati aja."


Filla mengangkat kedua bahunya tanpa peduli.

__ADS_1


******


__ADS_2