
Filla dan Iren menarik koper mereka masing-masing bejalan keluar dari pesawat, cukup banyak waktu yang mereka habiskan dalam pesawat.
"Lo dijemput?" tanya Iren sambil memasang topinya.
Filla melihat arloji di pergelangan tangannya, "Hmm, tadi bokap udah kasih tahu katanya ada yang nunggu diluar," ucap Filla membuat Iren mengangguk.
"Mereka nggak jemput?" tanya Iren.
Filla mengangguk, "Gue yang maksa buat nolak, kasian jauh," ucap Filla.
Iren merangkul Filla, "Anak yang baik," ucap Iren. Membuat keduanya tertawa.
Mereka keluar dari bandara setelah mengambil koper mereka yang disimpan di bagasi pesawat.
"Mama, Papa," panggil Iren saat mendapati kedua orangtuanya menunggu di luar pagar pembatas.
Kedua orangtua Iren melambai sambil tersenyum.
"Kangen," ucap Iren manja sambil memeluk kedua orangtuanya bergantian.
Filla menyalami kedua orangtua Iren tentu saja dengan senyuman khasnya, "Apa kabar Om, Tante," ucap Filla.
"Alhamdulillah Filla, akhirnya kamu pulang juga ke Indonesia," ucap mama Iren sambil memeluk Filla.
Filla tertawa, memang dirinya sudah mengenal kedua orangtua Iren, mereka beberapa kali pernah ke Milan hanya karena rindu dengan Iren yang merupakan anak semata wayang mereka.
"Kamu main ke rumah Fill, atau ikut kita pulang aja," ucap mama Iren antusias.
"Mama, Filla kangen keluarganya kali, kapan-kapan deh Fill, tapi wajib ya," ucap Iren sambil merangkul Filla.
Filla tersenyum, "Pasti, Kamu juga main ke Bandung," ucap Filla membuat semua tertawa.
"Yaudah, pulang sekarang?" tanya papa Iren sambil tersenyum.
"Filla udah dijemput?" tanya mama Iren sambil melihat sekeliling.
Filla juga ikut melihat sekeliling tapi belum menemukan keberadaan pak Mamat, supir pripadinya dulu, "Mungkin sebentar lagi Tan," ucap Filla.
"Yaudah kita tungguin jemputan Filla dulu," ucap papa Iren yang langsung diangguki anak dan istrinya.
Filla menggeleng, "Nggak apa-apa Paman duluan aja, lagian paling bentar lagi," ucap Filla.
"Serius?" tanya Iren.
Filla mengangguk cepat, "Iya, lo juga pasti capek banget, pulang gih, tapi jangan kangen gue ya," ledek Filla membuat Iren dan kedua orangtuanya tertawa.
"Kurang kerjaan banget gue ngangenin lo," ucap Iren.
"Filla," panggil seseorang.
Deg...
Filla tak ingin berasumsi atau berharap lebih, namun suara itu adalah suara orang yang ia hindari selama 3 tahun ini, Filla belum siap menemuinya sekarang.
"Sorry aku telat," ucap Rangga.
Filla melihat keberadaan Rangga didepannya, dirinya memaksa tersenyum. "Rangga," ucap Filla.
__ADS_1
Iren membulatkan matanya lalu menyenggol bahu Filla, "Dia?" tanya Iren sambil berbisik.
Filla meremas tangan Iren.
"Atur napas, tapi lumayan," ucap Iren sambil berbisik.
Rasanya Filla ingin menjambak Iren, bahkan saat seperti ini pun Iren masih bisa meledek.
"Ini kalian kenapa pada bisik-bisik?" tanya papa Iren membuat Filla dan Iren mendonggak serentak.
Iren tersenyum, "Hai gue Iren, sahabat Filla," ucap Iren mengulurkan tangan pada Rangga.
Rangga tersenyum lalu menyambut tangan Iren, "Gue Rangga," ucap Rangga.
"Oiya ini kedua orangtua gue," ucap Iren sedikit canggung.
Rangga tersenyum, "Hallo Om, Tante," ucap Rangga sambil menyalami mereka satu persatu.
"Pacar kamu Filla?" tanya mama Iren sambil tersenyum.
"Hmm," dehem Filla kikuk.
"Mama, aku capek banget, ayo kita pulang," ucap Iren, dirinya harus menyelamatkan keadaan jika terus dilanjutkan akan semakin kacau pikirnya.
"Kalian hati-hati dijalan, cukup jauh loh," ucap mama Iren yang meraih anggukan sekaligus senyum Filla dan Rangga.
"Gue duluan, jangan lupa kabarin gue, semangat, sampai ketemu satu minggu lagi, salam buat temen-temen yang lain," ucap Iren sambil berbisik.
Filla menghela napas, "Lo hati-hati, jangan lupa telpon gue," ucap Filla sambil memeluk Iren.
Iren tersenyum, "Gue bohong kok tadi, gue pasti kangen banget sama lo, kita harus telponan, satu minggu lama banget rasanya." aku Iren membuat Filla tertawa.
"Siap Om," ucap Filla sambil tersenyum.
Iren dan keluarganya berjalan meninggalkan Filla dan Rangga, Iren masih saja menoleh kebelakang sambil menaikkan kedua alisnya meledek Filla, sampai akhirnya benar-benar tak terlihat.
"Hmm," dehem Rangga pelan. "Kamu apa kabar?" tanya Rangga.
Filla harus berdamai dengan jantungnya, dirinya memaksa memasang wajah santai, "Baik, lo gimana?" tanya Filla.
Rangga tersenyum, "Akhirnya gue baik-baik aja," ucap Rangga.
Filla mengerutkan kening, "Emang selama ini enggak?" ucap Filla lalu tertawa.
"Ya, selama tanpa lo."
Filla menghentikan tawanya, lalu tersenyum canggung, "Kok lo yang jemput?" tanya Filla memberanikan diri.
"Lo nggak mau dijemput orangtua lo, jadi dari pada pak Mamat yang jemput, lebih baik aku nawarin diri," ucap Rangga jujur.
Filla memaksa senyumnya, Lebih baik pak Mamat yang jemput sumpah, batin Filla.
"Filla ...,"
Filla menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Dirinya benar-benar mendapat kejutan yang tak pernah ia bayangkan apalagi inginkan berturut-turut hari ini
Vino berlari mendekati Filla lalu tanpa aba-aba memeluk Filla erat.
__ADS_1
Rangga menatap tajam melihat tingkah Vino.
Filla mendorong Vino menjauh dari tubuhnya, "Kak tolong jaga sikap," ucap Filla tegas, Rangga tersenyum mendengar ucapan Filla.
"Aku kangen banget sama kamu dek," ucap Vino sambil memegang wajah Filla.
Filla menepis tangan Vino.
Vino tidak memperdulikan tatapan atau rasa tidak suka Filla sama sekali, dirinya hanya begitu senang melihat Filla setelah tiga tahun berlalu.
"Aku jemput kamu, ayo kita pulang," ucap Vino sambil menarik tangan Filla.
Dengan sigap Rangga melepas genggaman Vino dari pergelangan tangan Filla, "Orangtua Filla, mempercayakan Filla pulang dengan selamat sampai rumah sama gue," ucap Rangga dengan tatapan tajamnya.
Filla melihat keduanya bergantian, lalu menghela napas.
"Lo nggak punya hak atur Filla!"
"Lo juga nggak punya," ucap Rangga.
Filla menghempaskan kedua tangannya membuat tangan Vino dan Rangga terlepas dari pergelangan tangannya, "Stop, gue pulang sendiri," ucap Filla lalu menarik kopernya berlalu meninggalkan keduanya.
"Filla," panggil Rangga yang menahan Filla dengan berdiri dihadapannya.
Filla menghela napas, "Minggir," ucap Filla.
"Minggir," Vino mendorong Rangga. "Kamu mau pulang sama aku kan?" ucap Vino antusias.
Filla menatap mata Vino, "Minggir, please jangan bikin aku tambah nggak suka sama kamu, tempat Kamu bukan disini," ucap Filla.
Vino menatap mata Filla dalam, didalam sana terasa sangat sesak mendengar cara berbicara Filla yang terasa asing, "Kakak mohon Fill, kasih kesempatan, tiga tahun nggak bisa ngilangin kamu diingatan Kakak, Kakak udah kasih waktu dengan nggak pernah ganggu kamu selama tiga tahun ini, jadi Kakak mohon," ucap Vino.
Filla menghela napas, "Aku harap kamu bersikap seperti tiga tahun belakangan," ucap Filla tegas.
Filla melepas tangannya yang digenggam Vino.
"Fill, balik sama aku oke?" ucap Rangga.
"Please sama aku Filla," ucap Vino tak mau mengalah.
"Aku naik taxi," ucap Filla lalu berjalan meninggalkan Rangga dan Vino.
Rangga menahan tangan Filla membuat Filla menatap malas padanya, "Oke, kamu pulang sama dia, daripada kamu naik taxi lebih bahaya, aku punya tanggungjawab buat bawa kamu pulang dengan selamat, aku akan ikutin dibelakang," ucap Rangga tulus.
Kenapa kamu terlihat tulus Rangga, makin sulit buat aku, batin Filla.
"Ayo Fill, bagus dia paham," ucap Vino sambil memegang tangan Filla.
Rangga melepas tangan Filla lalu tersenyum, mengisyaratkan Filla agar ikut dengan Vino.
Filla menatap Vino lalu menarik tangannya, "Aku pulang sama Rangga," ucap Filla lalu berjalan meninggalkan Rangga dan Vino.
Rangga tersenyum mendengar pilihan Filla.
"Rangga ayo," teriak Filla.
Rangga mengangguk cepat lalu berlari mengejar Filla.
__ADS_1
"Sial," ucap Vino sambil memukul pilar di sebalahnya.
******