Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 92


__ADS_3

Cuaca cerah berbanding terbalik dengan wajah Filla dan kedua orang tuanya, Filla duduk sambil memegang batu nisan bertulisakan nama Fanny diatasnya, Filla menahan airmatanya untuk tidak jatuh, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis didepan Fanny, itu setidaknya yang bisa ia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya pada Fanny.


"Dek, Maaf ya, baru bisa nemuin kamu," ucap Filla lalu membuang muka kesebelah kiri, ia berusaha menahan tangisnya, Filla tak mau Fanny melihatnya menangis. "Kakak Janji akan hidup lebih baik," ucap Filla sambil memaksakan senyumnya.


Papa ikut duduk disebelah Filla, memegang bahu Filla berusaha menangkan.


Filla meletakkan buket bunga yang ia siapkan di atas makam Fanny, "Kakak Janji bakalan sering kesini," ucap Filla sambil tersenyum.


******


Filla membaringkan tubuhnya diatas kasur, ia baru saja pulang setelah berbagai drama dikampus, Filla meronggoh ponselnya didalam tas yang tergeletak sebelahnya.


Filla kaget melihat postingan Rangga, ia mendudukan diri, mencoba melihat lebih teliti lagi, meyakinkan penglihatannya bahwa dilayarnya benar Rangga dan Kania yang berpose romantis, Rangga mencium kening Kania.


Filla menutup mulutnya, caption yang Rangga tulis benar-benar menimbulkan sesak teramat untuk Filla, hanya caption stiker love yang tertera dibawah foto mereka, namun berhasil membuat Filla meneteskan airmatanya.


Untuk seorang Rangga yang terkenal dingin, semua orang akan tahu pasti bukan hal yang lumrah Rangga memposting foto perempuan apalagi dengan caption love.


Filla memukul dadanya, sesak yang ia rasakan sekarang berbeda dengan sesak yang ia rasakan biasanya, kali ini Rangga termiliki, namun dimiliki orang lain.


Filla melempar ponselnya kekasur, lalu menyembunyikan wajahnya diantara lutut, sekarang ia benar-benar harus terima rasa sakit untuk patah hati sebenarnya.


Suara motor Rangga membuat Filla berlari kebalkon kamarnya, kebiasaan bodoh yang sering Filla lakukan, memandangi Rangga dari balkon kamarnya, namun sekarang bukan senyum antusias seperti biasanya.


Rangga membonceng Kania masuk kehalaman rumah, Filla masih berdiri dibalkonnya menatap senyum bahagia dari keduanya.


Mata Rangga dan Filla bertemu, Filla membuang wajahnya, bagaimanapun ia tak mau terlihat ceneng didepan siapapun. Filla memilih masuk kedalam kamarnya, mungkin akan jadi terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di balkon.


"Apa aku harus berhenti?" tanya Filla pada dirinya sendiri saat menatap kaca, ia memilih duduk didepan meja riasnya, sengaja ingin melihat wajah putus asanya karena cinta.


Filla tersenyum paksa, "Bodoh," ucapnya, entah untuk keberapa kalinya ia mengatai diri dan hidupnya, ini kenyataannya.


"Lo bisa Fill," ucapnya menguatkan diri, lalu memaksa senyumnya.


"Kak," panggil mama yang berjalan masuk kedalam kamar Filla, Filla melupakan pintu yang tidak ia tutup tadi.

__ADS_1


Filla membuang muka, ia tak ingin terlihat sedih dihadapan mama untuk urusan tidak pentingnya, "Iya Ma," jawab Filla sambil menghapus cepat airmatanya.


Mama memegang bahu Filla, "Kenapa?" tanya mama sambil mendudukan diri disebelah Filla.


Filla menggeleng dan berusaha tersenyum, "Nggak," jawab Filla.


Mama membawa Filla dalam Pelukannya, "Kamu tahu kan Mama tahu kapan kamu bohong?"


Filla tak bisa menahan tangisnya, ia memeluk mama erat, "Kenapa Ma sesulit ini?" ucapnya sambil menangis.


Mama mengelus punggung Filla, "Kadang hidup memang tak selalu berpihak untuk kita Kak, yang hidup juga bukan cuma kita aja, semua terbagi, ada senang dan kamu nggak boleh lupa yang namanya sedih," Mama melepas pelukannya dari Filla lalu tersenyum.


Filla menghapus airmatanya.


Mama mengelus wajah Filla, "Kamu tahu kenapa Mama nggak pernah bolehin kamu buang dress itu?" tanya mama sambil menunjuk dress kecil yang masih rapi tersimpan di dalam bingkai yang sengaja mama buat


Filla menggeleng sambil menatap dressnya waktu kecil yang sampai hari ini masih melekat didinding kamarnya.


"Karena Mama pertama kali lihat kamu ketawa lepas saat pakai baju itu, Mama selalu bilang sama papa, kalau nanti kamu sedih, Mama dengan bangga akan bilang, kamu pernah tertawa lepas," ucap mama.


Filla tersenyum, "Makasih Ma," Filla menarik mama ledalm pelukannya.


******


Filla fokus dengan film yang ia tonton diruang keluarga, ditemani segelas susu dan cemilan kesukaannya.


"Kaka, Mama boleh minta tolong?" tanya mama saat lewat dibelakang Filla menuju dapur.


"Iya Ma," Filla masih menatap layar TV.


Mama membawa rantang berdiri disebelah Filla.


Filla menoleh menatap wajah mama dan rantang bergantian, "Anter ke bunda?" tanya Filla yang sudah bisa menebak kemana rantang itu akan berlabuh.


Mama mengangguk, "Iya, Mama masak banyak," ucap mama sambil menunjukkan rantang ya ia bawa.

__ADS_1


"Tapi...," Filla belum sempat menolak, "Iya Ma, Filla anterin," ucapnya sambil tersenyum, ia tak bisa selalu menghindar, ia harus memantapkan hati untuk bertemu Rangga dan mengikhlaskan apa yang sedang terjadi.


"Makasih ya," ucap mama lalu memberikan rantang pada Filla dan kembali kedapur.


Filla mematikan film yang ia setel lalu berjalan menuju rumah Rangga, Filla sempat berhenti sejenak ketika mendapati sepatu Kania didepan pintu rumah Rangga.


Filla berbalik, ia ragu untuk masuk jika ada Kania didalam sana, namun baru beberapa langkah ia kembali berbalik menatap rumah Rangga.


"Lo bisa Fill," ucapnya menyemangati diri sendiri.


Filla berjalan masuk kedalam rumah yang pintunya terbuka lebar, "Assalamualaikum, Bunda," panggil Filla lalu berjalan masuk kedalam rumah, sudah menjadi kebiasaannya keluar masuk rumah bunda, namun kali ini terasa sangat berbeda.


"Waalaikumsalam," ucap bunda dari arah dapur. "Masuk Kak," teriak bunda.


Filla berjalan menuju dapur, ia menghentikan langkah didepan pintu masuk antara dapur dan meja makan, Kania dan Bunda sedang masak bersama.


"Kak," panggil bunda.


Filla tersenyum lalu menghampiri bunda, "Dari Mama, katanya masak banyak," ucap Filla sambil meletakkan rantang yang ia bawa diatas meja. Filla membalas Kania yang melempar senyuman kearahnya.


"Alasan itu, Mamamu pasti sengaja pamer resep barunya," ledek bunda sambil tertawa.


Filla ikut tertawa, "Kayaknya Bun," Filla mendekati bunda. "Masak apa Bun? Keknya seru sama Kania."


"Ini Kania belajar masak katanya," ucap Bunda sambil mengelus puncak kepala Kania.


Filla sempat terdiam melihatnya, namun kembali tersenyum, biasanya bunda akan melakukan itu kepadanya namun sekarang ia menjadi penonton, "Yaudah Filla balik ya," ucap Filla sambil menyalami bunda.


"Kok cepet banget? Biasanya main dulu," bunda memasang wajah heran. "Berantem lagi sama Rangga?" tanya bunda.


Filla tertawa, "Nggak Bun, Filla ada janji sama Ola," ucap Filla terpaksa berbohong.


Bunda mengngguk, "Yaudah, hati-hati pulang jangan kemaleman," Nasehat bunda seperti biasanya melebihi mama.


Filla mengangguk, "Gue duluan Kania," ucap Filla basa basi lalu berjalan keluar dari dapur, Filla sempat melihat punggung bunda dan Kania, mereka terlihat akrab membuat Filla sedikit iri untuk kali ini.

__ADS_1


Filla berpapasan dengan Rangga, sepertinya Rangga menuju kedapur, Filla melempar senyum, namun kali ini tidak ada sapaan antusiasnya seperti biasa, ia melewati Rangga tanpa kata.


******


__ADS_2