
Vino sangat kesal ketika mendapati Filla masih saja menangis sambil menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Dek, buat apa kamu nangis?" tanya Vino frustasi, melihat Filla menangis adalah hal yang sangat ia benci sejak kecil.
Filla diam tak menggubris pertanyaan Vino, ia sudah cukup bodoh mempermalukan diri sendiri pagi ini, dan lagi ia merutuki hatinya yang masih berharap pada keberadaan Rangga.
"Filla," panggil Vino sambil menarik tangan Filla dan mengenggannya. "Nggak ada yang perlu kamu tangisin," ucap Vino dalam menatap mata Filla.
"Aku cuma benci sama diri aku sendiri Kak, kenapa masih berharap pada orang yang bahkan membenci keberadaanku," ucap Filla memberanikan diri.
Vino memejamkan sebentar matanya, lalu menarik dagu Filla agar Filla menatap matanya, "Kamu suka sama dia?" tanya Vino.
"Aku nggak bisa bilang enggak Kak, karena itu yang aku rasain sekarang," ucap Filla sambil mengusap airmatanya dengan lengan.
Vino menarik Filla kedalam pelukannya, menyembunyikan wajah Filla dibalik dada bidangnya, "Nggak ada yang salah sama perasaan, kamu nggak bisa mengaturnya, cuma kamu bisa berhenti menunjukkannya Filla," ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.
Filla melepas pelukannya dari Vino, lalu mengangguk, "Makasih Kak, selalu ada," ucap Filla tulus.
Rasanya menceritakan hal yang ia sembunyikan sejak lama pada Vino membuat Filla merasa lebih lega, Vino benar-benar sosok pria penenang bagi Filla.
"Yaudah sekarang kita kekampus," ucap Vino yang meraih anggukan kepala dari Filla.
******
Filla memperhatikan sekelilingnya, sejak dirinya dan Vino masuk kelingkungan kampus banyak sekali mata yang menatap mereka, mulai dari tatapan kagum atau tatapan tak suka.
Banyak dari mahasiswi berbisik membicarakan ketampanan Vino, sesekali Filla menajamkan pendengarannya demi mendengar bisikan yang sebenarnya tak penting untuk ia ketahui, hanya senang saja melakukannya.
"Kak, kayaknya Kakak bakalan jadi idola kampus nih," ucap Filla sambil mencolek lengan Vino.
Vino tertawa, "Kamu aja yang baru sadar," ucap Vino percaya diri.
Filla menutar bola matanya malas, "Nyesel-nyesel," ucapnya sambil berjalan meninggalkan Vino.
Vino sambil tertawa mengejar Filla, "Fill, kamu ikutan Makrab (Malam Akrab) Fakultas kita?" tanya Vino saat berjalan disebelah Filla.
Filla menoleh, "Belum tahu, tergantung Mama Kak, setelah berhasil bangun dari koma Mama jadi suka khawatir berlebih," ucap Filla menjelaskan.
__ADS_1
Vino mengangguk, dirinya sudah mendengar banyak cerita dari Filla, walau sedikit terkejut, Vino sudah bisa mengatasinya sekarang, "Nanti Kakak yang minta izin biar kamu bisa ikut," ucap Vino.
Filla menatap Vino antusias, "Seriusan? Akhirnya," ucap Filla sambil mengepalkan tangan dan menariknya kebawah.
Vino tertawa sambil memegang puncak kepala Filla yang cukup pendek disebelahnya.
"Kak Vino, ini," ucap mahasiswi yang sudah berdiri didepan dan menghentikan Vino dan Filla dengan sekotak kue ditangannya.
Vino mengerutkan alisnya, "Buat saya?" tanya Vino menunjuk dirinya.
Filla menahan tawanya, sepertinya lama diluar negeri tidak merubah Vino jadi santai menghadapi wanita kecuali Filla.
Mahasiswi itu mengangguk dengan antusias, "Namaku Salsa, jangan lupa dimakan Kak," ucap Salsa sambil berlari kecil menghampiri teman-temannya dibelakang sebuah pohon.
"Diliat-liat enak tuh," ucap Filla sambil tertawa.
Vino menarik tangan Filla dan meletakkan kotak kue ditelapak tangan Filla, "Buat kamu aja, Kakak kenyang," ucap Vino sambil berjalan.
Filla mengikuti dibelakangnya, "Asik," ucapnya senang.
"Pulang nanti tunggu aja dikelas nanti Kakak samperin," ucap Vino.
Vino berjalan meninggalkan Filla dan tak terlihat setelah menghilang dibalik tembok pembatas setelah mengusap puncak kepala Filla.
Filla berjalan masuk kedalam kelas, seperti biasa, Rangga adalah objek pertama yang selalu menarik perhatiannya.
Dan pikiran bodoh itu datang lagi, Filla dengan santai menghampiri Rangga dan menyodorkan kotak kue yang ia bawa, "Rangga, mau?" tanya Filla saat berada disamping Rangga yang sibuk membaca buku.
Rangga melirik malas lalu kembali menatap bukunya tanpa menggubris keberadaan Filla, "Rangga," panggil Filla lagi, kali ini lebih keras.
"Apa!" bentak Rangga sambil melepas headsetnya dengan kasar.
Filla sedikit takut dengan bentakan Rangga, "Gue cuma nawarin kue," ucap Filla sambil menunduk.
"Lo tuh nggak tahu malu? Atang emang nggak punya?" tanya Rangga sambil melipat tangan didepan dada.
Filla menunduk, "Maaf," hanya kata itu yang keluar dari otaknya, sungguh menyedihkan posisinya sekarang, mengejar cinta seorang Rangga yang tak tergapai, setidaknya itu yang sering ia dengar dari mulut mahasiswi lain.
__ADS_1
"Kalau lo merasa bersalah jangan ganggu gue," ucap Rangga tegas.
"Gue cuma mau temenan sama lo, salah?" tanya Filla pelan memberanikan diri, kali ini ia menatap dalam manik mata Rangga dan seperti biasa hanya ada kebencian disana.
Rangga tersenyum sinis, "Oke kalau itu mau lo, lo cuma mau gue terima ini kan?" tanya Rangga sambil menarik kasar kotak kue ditangan Filla.
Sekarang mereka jadi tontonan mahasiswa dalam kelas, mencampur tiap ucapan dan pikiran mereka tantang Filla.
Rangga berjalan menuju tong sampah dan membuang kue milik Filla disana dengan kejam, "Puas?" tanyanya sambil kembali duduk dan memakai headsetnya tanpa memperdulikan Filla yang berdiri mematung.
"Sama gue aja sih Fill, buat apa coba sama cowok yang nggak seberapa," ucap Reyhan sambil tertawa dengan gengnya.
Filla memejamkan matanya, menikmati kebodohan yang tanpa ia sadari terjadi lagi.
"Ayo," ajak Reya sambil merangkul Filla untuk duduk jauh didepan.
Filla mengikuti tanpa membantah, lalu duduk disalah satu kursi dalam kelas bagian depan, "Heh, gue mepermalukan diri lagi kayaknya," ucap Filla tertawa miris.
Reya menghembuskan napasnya, "Udahlah, anggep aja lo terlalu berani," celetuk Reya sambil membuka buku catatannya.
"Salah gue apa sampai dia segitu bencinya sama gue?" tanya Filla kesal.
"Dia bodoh," celetuk Reya lalu berjalan meninggalkan Filla. "Gue mau ke toilet, jangan melakukan hal bodoh," ucap Reya lalu menghilang dibalik pintu kelas.
Filla menyembunyikan wajahnya di tumpuan tangannya, "Filla, Filla," ucapnya pada diri sendiri sambil menggeleng.
Ia tahu pasti semua tatapan saat ini berbaur, tatapan muak pada sikap bodoh Filla atau tatapan belas kasih karena cinta tak terbalas. Filla selalu menerimanya tiap hari, namun kali ini sepertinya ada goresan luka dihatinya atas perbuatan Rangga.
Filla menoleh kebelakang, ia masih bisa melihat Rangga yang betah dengan bukunya, Rangga adalah sebaik-baiknya kekecewaan yang terus tercipta bagi Filla.
Adakalanya waktu mendewasakan dan perasaaan berbaik hati pindah dari semua tentang Rangga.
"Nih," Reya menyodorkan minuman kaleng pada Filla.
Filla mengambilnya dan menyesap sesikit, "Makasih, tau aja lo gue butuh ini," ucap Filla sambil mengangkat minuman kalengnya.
"Nggak ada orang kedinginan waktu ditolak mentah-mentah," celetuk Reya.
__ADS_1
"Resek," Filla mencubit gemas pipi Reya.
*****