Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 23


__ADS_3

Setelah sampai diparkiran sekolah Filla langsung turun dari motor Rangga dan melepas helemnya, "Ngga bareng aja ya kekelasnya," ucap Filla membuat Rangga yang sedang melepas helemnya menoleh heran.


"Lo nggak takut kejadian kemaren keulang lagi?" tanya Rangga.


"Filla nggak akan takut sama apapun," ucap Filla mantap sabil memamerkan senyum terbaiknya pada Rangga.


Rangga mengelus Rambut Filla, "Bagus deh kalau lo udah gede," ucap Rangga sambil tersenyum.


"Ngga, gue udah bikin rambut seindah ini susah payah lho, jangan dirusakin," teriak Filla yang meraih tawa Rangga.


"Oke, oke sini gue benerin," Rangga membenarkan letak rambut Filla yang ia acak tadi. "Taudah yuk, kekelas," ajak Rangga sambil menarik tangan Filla.


Filla dan Rangga melewati koridor yang ramai dipadati siswa-siswi, mereka seperti biasa menjadi pusat perhatian tapi kali ini perhatian kagum tak hanya ada pada Rangga tapi juga Filla. Semua siswa dikoridor menatap Filla kagum, sedangkan Filla hanya berjalan tanpa menoleh, ia benar-benar kembali pada Filla yang elegan dan super cantik.


"Itu anak baru namanya Filla kan?" Terdengar beberapa orang membicarakan Filla.


"Cantik banget, buset kayak artis," celetuk salah satu siswa yang duduk dibangku depan Koridor.


"Kok jadi cantik?" Terdengar juga nada tak suka dari para siswi.


Filla hanya terus berjalan tanpa memperdulikan bisikan-bisikan itu, ia berjalan beriringan dengan Rangga yang sesekali menoleh kearahnya.


Ketika sampai ditangga yang agak sepi Rangga menghentikan langkahnya. "Fill, kok lo berubah sih? Lebih gaul gitu," tanya Rangga, sejak tadi ia sudah sangat penasaran dengan penampilan Filla.


Filla menatap Rangga, "Manusia harus berubah, jangan pernah-," ucapan Filla terpotong karena Rangga ikut menyebutkan kalimat yang akan ia ucapkan.


"Kalah karena kesedihan?" tanya Rangga.


Filla mengangguk, "Kok lo tahu?" tanya Filla heran.


"Itu kalimat, gue yang ciptain. Lo yang tahu dari mana?" tanya Rangga memojokkan Filla yang hanya menatapnya heran. "Rafi?" tanya Rangga menebak.


Filla mengangguk dengan wajah heran.


"Owh," Rangga melanjutkan langkahnya diikuti Filla.l.


Filla jadi heran semua ucapan Rangga tak ada yang melenceng, "Cuma owh? Bentar, kok lo tahu semua sih? Jangan-jangan nguping ya kemaren?" tebak Filla cepat.


"Siapa lagi yang nguping? Rafi itu juga pernah nanya masalah bully sama gue, dan jawaban gue ya itu. Kayaknya dia teruskan ke lo deh," jelas Rangga yang meraih anggukan paham dari Filla.


"Tapi bagus deh lo berubah, gue juga jadi nggak malu lagi jalan disebelah lo," celetuk Rangga.

__ADS_1


Filla dengan cepat menggetuk kepala Rangga, "Rasain Rangga tukang jahil," ucap Filla lalu tertawa dan berlari menaiki tangga meninggalkan Rangga.


"Filla, awas lo ya," teriak Rangga lalu mengejar Filla.


Sesampainya Filla dan Rangga didepan kelas. Rangga langsung masuk kelas sedangkan Filla menuju kantin karena sedang kehausan, gara-gara Rangga yang ngoceh ingin pergi sekolah cepat-cepat Filla jadi lupa minum.


"Hay, anak baru, kok jadi cantik sih?" tanya pria yang menurut Filla sangat playboy, bagaimana tidak? Dengan gatelnya pria itu mendekati Filla dan memainkan Rambut Filla tanpa izin.


Filla tersenyum, "Lepasin tangan lo dirambut gue," ucap Filla mulai tegas dan merubah wajah ramahnya menjadi wajah yang sangat jutek.


Pria itu tersenyum licik, "Bilang aja lo juga terpesona sama kegantengan gue," ucap pria itu sambil mencolek pipi Filla.


Dengan gesit Filla memelintir tangan pria itu sampai mengaduh kesakitan, sekarang mereka jadi bahan tontonan, "Gue bilang lepasin, lepasin! Jangan sok ganteng," bentak Filla membuat pria itu terus meringis kesakitan.


"Oke, oke lepasin sakit tahu," Pria itu berusaha melepaskan diri.


Filla dengan kuat mendorong pria itu sampai terjungkir dilantai, "Jangan pernah ganggu gue!" Filla berlalu dari keramaian menuju tempat tujuan utamanya.


Tanpa Filla ketahui, Rangga menatap Filla lekat sejak tadi, ia tersenyum bangga pada Filla yang tak lagi mengandalkan tangis untuk menyelesaikan masalah, Rangga pikir Filla menjadi pribadi yang lebih baik sekarang.


******


Filla duduk dikantin sambil menyeruput jus alpokat kesukaannya. Sampai kenyamanannya terganggu karena kedatangan Bianca dan teman-temannya. Filla tanpa ambil pusing sibuk meyeruput jusnya walau kursi dan mejanya bergerak karena tendangan Bianca dan teman-temannya.


Filla hanya diam sibuk memakan bakso yang ia pesan dijam istirahatnya. Semua mata menatap kearah mereka, karena jelas Bianca terkenal primadona sekolah, jadi apapun yang dilakukan Bianca, selalu jadi bahan tontonan.


"Lo punya kuping kan? Berani banget lo cuekin gue," bentak Bianca sambil mengambil jus alpokat Filla dan menumpahkannya kelantai dengan senyuman liciknya.


Filla mengangkat wajah dan memperhatikan kelakuan Bianca tanpa ekspresi.


Bianca tersenyum melihat Filla yang tak melawan, "Guys, kira-kira menurut kalian, ini anak bisa nggak bisu karena siksaan kemaren?" tanya Bianca yang meraih tawa teman-temannya yang lebih kencang. "Owh gue tahu, dia sok-soan berubah Guys," Bianca memegang dagu Filla dan menariknya mendekat. "Nggak ngaruh, lo berubah gimanapun, lo tetep cewek murahan," ucap Bianca sambil tertawa diikuti teman-temannya.


Filla mengambil minuman Bianca yang tadi Bianca bawa saat menghampirinya.


Bianca menatap Filla heran.


Filla meminum jus Bianca yang belum diminum sedikitpun, lalu menatap Bianca masih tanpa ekspresi, "Jus jeruk? Boleh juga," ucap Filla lalu berjalan tanpa menoleh lagi membuat Bianca dan teman-temannya menatap heran.


******


Sekarang Filla dipusingkan dengan ujian akhir sekolah yang akan ia tempuh dengan yang lain, bisa dibilang persiapannya kali ini tidak lebih dari 10 persen. Walau ia sudah pernah ujian disekolah yang lama, tapi tetap saja tak satupun soal yang ia ingat. Sekarang ia merutuki dirinya sendiri yang sejak dulu tidak pernah mempersiapkan semuanya, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan menongkrong di kafe sampai memarahi semua pembantu dirumahnya.

__ADS_1


Coba saja dulu ia lebih menjadi anak yang penurut mungkin tak akan semenyesal ini ketika dihantui rasa bersalah karena belum bisa membanggakan mama dan papanya selama mereka masih hidup.


"Kenapa Kak? Ngelamun lagi?" tanya Fida saat ia sudah berada disebelah Filla yang sedang duduk diayunan sambil menatap Rangga dan ayah yang sibuk bermain basket dilapangan basket panti.


"Nggak dek, Kakak cuma lagi ngebayangin aja, coba dulu Kakak nggak jadi anak pembangkang, mungkin sekarang Kakak nggak akan merasa bersalah yang teramat karena selalu ngecewain orangtua Kakak," curhat Filla.


Fida mengangguk paham, "Seenggaknya Kakak pernah liat mereka kan? Dibanding aku yang nggak pernah liat sedikitpun rasanya lebih nyesek Kak," curhat Fida sambil tersenyum.


"Kamu pasti akan dipertemukan kelak dengan mereka Dek," ucap Filla sambil mengelus kepala Fida dengan sayang, "Lagian kan Adek punya Bunda dan Ayah yang sayang sama Adek lebih dari apapun," ucap Filla.


"Iya Kak, kita semua beruntung punya Ayah sama Bunda. Kakak juga jangan sedih, Kakak tunjukin sama mereka kalau Kakak bisa berubah, karena kata Bunda semua orang yang pergi akan jadi bintang Kak, dan mereka akan selalu lihat kita dari atas," Fida menatap langit diikuti Filla.


"Iya Dek, makasih," Filla masih menatap langit yang dipenuhi bintang, mencari satu diantara bintang yang terasa lebih terang.


"Kakak bentar lagi ujian kan?" tanya Fida menatap Filla.


"Oiya, Kakak juga lagi musingin itu Fid, Kakak belum ada persiapan apapun," ucap Filla mulai panik lagi.


"Tenang Kak, kalau pelajaran matematika biasanya Bang Rangga tuh minta ajarin sama Bang Rafi, tapi kalau pelajaran lain Bang Rangga udah mahir semua, jadi Kakak ikutan aja, terus kalau pelajaran lainnya belajar sama Bang Rangga," usul Fida.


"Bentar, Rafi? Kamu seriusan? Rafikan masih SMP Dek, masak disuruh ngajar anak SMA, kamu yang bener deh," ucap Filla sambil tertawa.


"Kakak jangan salah, Bang Rafi itu pinter matematika semua tingkatan, dia juga sering ikutan lomba matematika umum, jadi soal apapun diluar kepala," jawab Fida bangga.


Filla menatap Fida tak percaya, "Seriusan Dek?" tanya Filla meyakinkan dan hanya meraih anggukan yakin Fida.


"Bang Rafi," teriak Fida saat melihat Rafi yang lewat menuju dapur.


"Apa Dek?" tanya Rafi yang mendekat karena Fida melambaikan tangan.


"Bang, Kak Filla minta ajarin matematika nih, dia mau ujian katanya," jelas Fida saat Rafi sudah duduk didepan dirinya dan Filla. "Gimana Bang? Abang bisa ajarin nggak?" tanya Fida dengan muka berharap.


"Kakak emang nggak bisa matematika?" tanya Rafi pada Filla yang hanya diam menyaksikan.


Filla menggeleng, "Sumpah, metematika sebenernya paling Kakak benci," ucap Filla sambil cengengesan.


"Makanya Kak, jangan dibenci biar nggak susah masuk otaknya," ledek Rafi membuat Filla tertawa. "Kebetulan Bang Rangga juga udah ngomong semalem, dan jadwalnya malem ini kita mau belajar sama-sama. Kakak ikutan aja," ucap Rafi.


"Thank you Adikku," ucap Filla sambil tertawa dan mencubit pipi Rafi gemas.


"Kakak, jangan dicubit," ucap Rafi sambil mengelus pipinya yang merah.

__ADS_1


******


__ADS_2