Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 131


__ADS_3

Filla berhasil melayangkan satu pukulan keras pada pria yang memegang balok kayu.


"Kurang ajar!" ucap pria tersebut berniat memukul Filla dengan balok kayu yang sudah ia angkat.


Filla menyembunyikan kepalanya dengan lengan.


Bruuk....


Pria tersebut tersungkur ke tanah dengan sekali tendangan dari Rangga, "Lo nggak apa-apa?" tanya Rangga sambil memegang kedua bahu Filla.


Filla mengangguk.


"Tunggu disini," ucap Rangga lalu kembali bertarung dengan kedua preman tersebut.


Beberapa pukulan Rangga berhasil membuat keduanya tersungkur ditanah.


Pria dengan kumis tebal berdiri sambil mengeluarkan pisau dari balik jaketnya, "Berani macam-macam kalian," ucap pria tersebut sambil mengayunkan pisau lipat ditangannya.


Vino memundurkan langkahnya merentangkan tangan menjaga Filla dibelakangnya, "Mundur Fill," ucap Rangga.


Filla memundurkan langkahnya menuruti ucapan Rangga, dirinya menutup mulut saat pria dengan kumis tebal tersebut mengayunkan pisau sambil tertawa.


Beberapa kali pisau tersebut diayunkan ke tubuhnya, Rangga dapat menghindar sampai pria yang terbaring di tanah bangkit dengan memegang balok kayu.


Rangga berusaha keras melawan semampunya, sampai pria yang memegang balok dapat ia lumpuhkan.


"Lo akan tahu akibatnya bermain-main dengan kami," pria tersebut mengacungkan pisau dihadapan Rangga.


"Rangga!" teriak Filla berlari kearah Rangga berniat menghalangi pisau yang diarahkan ke tubuh Rangga.


Rangga dengan sigap memeluk Filla, melindungi Filla dengan tubuhnya.


BUUUUK.


Tubuh Rangga terdorong kedepan saat satu pukulan mendarat di tengkuknya, dan terlebih pisau yang hampir mengenai Filla menggores lengannya.


"Rangga!" teriak Filla saat Rangga dan dirinya terjatuh.


Pria tersebut tertawa, sambil mengayunkan balok kayu hendak kembali melayangkan pukulan pada Filla, sampai pak Mamat berusaha bergerak setelah lama terdiam didepan mobil sambil memegangi dadanya. Pak Mamat menendang kayu tersebut sampai terlempar jauh kebelakang.


Dalam beberapa kali pukulan kedua pria tersebut berlari meninggalkan mereka.


"Ngga," panggil Filla cemas sambil memangku kepala Rangga. "Darah," ucap Filla saat melihat telapak tangannya yang penuh dengan darah dari lengan Rangga. "Ngga please bangun," Filla tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.


Rangga membuka matanya lalu mencoba menggapai wajah Filla namun ia tidak bisa lebih lama tersadar, Rangga pingsan.

__ADS_1


"Rangga," panggil Filla panik sambil menepuk pipi Rangga, namun tidak ada respon. "Pak Mamat, tolong," pinta Filla.


Rangga dibawa kedalam mobil dengan Filla memangku kepalanya, "Ngga please bangun, jangan bikin gue khawatir," ucap Filla namun tidak ada jawaban dari Rangga.


Filla mengikat lengan Rangga dengan syalnya yang ada dimobil, "Pak cepetan," ucap Filla sambil menepuk kursi.


"Baik Non, kita segera kerumah sakit," ucap pak Mamat yang fokus mengendarai mobil walau sesekali melihat keadaan Rangga dan Filla dari kaca diatasnya.


Filla menghapus airmatanya, "Ini salah gue, harusnya gue dengerin ucapan Rangga, bodoh," ucapnya mengatai diri sendiri.


Rasanya sesak melihat wajah pucat Rangga dipangkuannya.


*******


Filla mondar mandir sejak tadi didepan ruang UGD, dokter belum memberikan kabar apapun tentang Rangga sejak Rangga dibawa masuk kedalam, membuat Filla sangat khawatir pada keadaan Rangga.


"Kak, Kakak nggak apa-apa?" tanya mama yang langsung memeluk Filla.


"Rangga Ma," ucap Filla.


"Maaf Bunda," ucap Filla yang langsung memeluk bunda saat bunda mengusap lengannya.


Bunda mengelus kepala Filla.


"Udah, Rangga pasti baik-baik aja," ucap ayah yang ikut mengusap kepala Filla walau ia juga sangat khawatir tentang kondisi Rangga.


Filla melepas pelukan bunda lalu menatap papa, "Awalnya aku sama Pak Mamat di cegat dijalan waktu mau pulang, dan tiba-tiba Rangga bantuin, sampai dia jadi kayak gini," ucap Filla terisak.


"Udah sayang, Rangga nggak apa-apa Bunda yakin," ucap bunda yang menarik Filla dalam pelukannya.


"Selalu gara-gara Filla, dulu Rangga koma juga gara-gara Filla," ucap Filla kesal pada dirinya sendiri.


"Kakak, denger Bunda," ucap bunda meraih wajah Filla. "Nggak ada yang salah, semua udah takdirnya."


Ceklek...


Pintu ruang UGD terbuka, membuat semuanya mendekat pada dokter yang keluar dari sana.


"Gimana keadaan anak saya Dok?" tanya ayah yang langsung berdiri dari duduknya.


"Alhamdulillah, tidak ada yang serius," ucap dokter sambil tersenyum.


"Alhamdulillah," ucap semuanya serentak termasuk Filla.


"Kalau dalam keadaan dekat pasien sadar, besok sudah bisa pulang."

__ADS_1


Semua menghela napas lega mendengar keadaan Rangga.


"Makasih Dok," ucap ayah yang langsung meraih anggukan dari dokter Bram.


********


"Fida demam tinggi Yah, Bunda harus gimana?" ucap bunda pada ayah.


"Bunda pulang aja nggak apa-apa, Filla bisa jagain Rangga," ucap Filla yang duduk dikursi sebelah tempat tidur Rangga.


Memang sejak tadi papa dan mama sudah pulang karena khawatir dengan Tita yang sendiri di rumah.


"Filla pulang aja, kamu butuh istirahat, biar ayah aja disini," ucap ayah sambil mengusap punggung Filla.


"Bunda kasian Yah kalau pulang sendiri, kalian tadi nggak ajak supir kan?"


Bunda dan ayah diam membenarkan ucapan Filla.


"Nggak apa-apa Ayah sama Bunda istirahat dirumah, biar Filla jagain Rangga, Filla juga ngerasa bersalah kalau pulang saat Rangga bahkan belum sadar," ucap Filla lalu menatap wajah pucat Rangga yang masih setia memejamkan matanya.


"Yaudah, kamu kabarin Ayah sama Bunda kalau ada apa-apa, jangan tidur kemaleman," ucap ayah sambil mengelus puncak kepala Filla.


Filla mengangguk.


"Makasih ya Kak," ucap bunda sambil tersenyum. "Maaf Bunda sama Ayah ngerepotin kamu," ucap bunda.


Filla menggeleng, "Filla nggak berasa direpotin kok Bun," Filla memaksa senyumnya.


"Yaudah kita pulang dulu, kabarin Ayah," ucap ayah yang berjalan keluar dari ruangan bersama bunda.


Filla mengangguk sambil menatap punggung mereka berdua, ruangan terasa sepi, hanya suara khas rumah sakit yang terdengar.


Filla menghela napas, Filla meronggoh ponsel didalam tas, bagaimanapun dirinya harus menghubungi Vino mengabari hal ini.


"Hallo Kak, Assalamualaikum Kak, aku-," ucapan Filla terpotong.


"Iya Dek, Kakak lagi ada kerjaan, nanti Kakak telpon lagi, Assalamualaikum," ucap Vino yang langsung mematikan sambungan telpon.


Filla menghela napas, lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam tas, melihat wajah Vino yang tidak bergeming sejak tadi.


'"Ngga, maafin gue, selalu bikin lo kayak gini," ucap Filla pelan sambil memegang tangan Rangga, dirinya benar-benar merasa bersalah atas semua yang menimpa Rangga karena melindunginya.


Filla terisak, "Gue pikir dengan menghalangi pisau itu buat lindungin lo bakalan kayak dulu, ternyata malah gue ngebahayain lo," ucap Filla sambil menangkup wajahnya.


Filla terdiam saat tangan kanannya yang memegang tangan Rangga bergerak, "Ngga, lo sadar?" tanya Filla yang langsung berdiri.

__ADS_1


Rangga perlahan membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, Rangga mengerjabkan matanya menatap Filla yang begitu dekat dengan wajahnya.


*********


__ADS_2