
Rangga dengan gaya sok Collnya menghampiri Filla dan Bintang yang memfokuskan pandangannya pada pementasan tari diatas panggung, "Hem," Rangga memposisikan dirinya disevelah Filla.
Mendengar deheman Rangga membuat Filla menoleh lalu kembali membuang muka ketika ia tahu disebelahnya sudah berdiri sosok Rangga.
"Hey, ada Rangga, kebetulan banget," ucap Bintang dengan akrab. "Nonton pameran juga Ngga?" tanya Bintang.
"Lebih tepatnya jaga anak Bunda tuh," ucap Rangga sambil menunjuk Filla yang memilih tak menghiraukan kehadirannya.
Bintang mengerutkan keningnya, "Lo sama Filla?" Bintang bertanya dengan wajah bingung.
"Adik kaka," ucap Rangga cepat. Yang meraih anggukan kepala dari Bintang.
"Kok tadi nggak barengan aja? Kenapa kamu naik taxi Fill?" tanya Bintang sambil melihat kearah Filla yang sejak tadi diam.
"Walaupun serumah dia bukan orang yang gue kenal," ucap Filla membuat Bintang melihatnya dan tertawa.
"Kalian berantem?" tanya Bintang sambil tertawa.
Rangga membalas tatapan Filla tak kalah tajamnya, "Terserah deh mau gimana, lo nggak usah peduliin dia deh," celetuk Rangga.
Banyak yang mereka tonton dipameran kali ini tanpa mereka sadari malam semakin larut mengharuskan mereka kembali kerumah dan beristirahat setelah mereka selesai makan malam di salah satu stand disana.
"Fill, pulang sama siapa?" tanya Bintang sambil menaruh kursi dipojokan.
"Nggak tahu Bin, kayaknya naik taxi deh, gondok banget kalau nebeng sama Rangga," curhat Filla membuat Bintang tertawa.
"Yaudah, aku yang anter deh," ucap Bintang.
"Seriusan?" tanya Filla senang, tak jadi dinasehati bunda karena bunda sudah wanti-wanti untuk tidak pulang naik taxi.
"Iya, yuk," ajak Bintang diikuti Filla dibelakangnya.
Rangga sudah menyender ditiang tenda tempat mereka nonton, "Lo mau pulang nggak?" tanya Rangga sambil mengunyah permen karet.
"Siapa ya?" ucap Filla lalu beralalu meninggalkan Rangga diikuti Bintang dibelakangnya.
Rangga hanya melotot melihat Filla yang masih ngambek hanya karena masalah sepele menurut Rangga, tak biasanya Filla seperti itu. Lebay teramat. Pikir Rangga.
Filla dengan semangat ketika dibonceng Bintang, orang baik yang selalu manis menurutnya, sangat berbeda dengan Rangga yang berbanding terbalik. Mereka menyusuri malam tanpa kata, tidak dengan Filla maupun Bintang yang mengeluarkan suara. Mereka lebih memilih diam dan menikmati angin malam yang menusuk tulang.
__ADS_1
"Bin, berenti," teriak Filla yang langsung membuat Bintang menghentikan motornya penuh tanya. Filla bergegas turun dari motor dan melepas helemnya.
"Kenapa Fill?" tanya Bintang penasaran.
"Rangga," ucapnya lalu berlari menghampiri Rangga yang tak berdaya melawan 2 orang preman.
Bintang menoleh kearah Filla berlari dan dengan cepat menarik tangan Filla, "Bahaya Fill, jangan kesana," pinta Bintang tegas.
"Lepasin Bin, Rangga butuh bantuan, ayo bantu dia," pinta Filla berusaha melepaskan tarikan Bintang. "Lepas!" bentak Filla.
"Nggak, biarin Rangga urus urusannya sendiri, bahaya Filla!" balas Bintang membentak Filla.
"Bintang, Rangga butuh bantuan, jadi lepasin!" bentak Filla sambil menarik tangannya kuat dari genggaman Bintang tapi nihil Genggaman Bintang lebih kuat.
"Aku udah curiga dari tadi, kamu bukan saudaraan kan sama Rangga?" tanya Bintang masih menggenggam tangan Filla kuat.
"Apaan sih! Mau Rangga Saudara atau bukan ada masalah sama lo?" tanya Filla kesal mendengar penjturan Bintang.
Bintang tertawa meremeh, "Ya masalah la, dia saingan gue di sekolah, apapun yang dia punya harus jadi milik gue," ucap Bintang penuh penekanan disetiap ucapannya.
"Gila, ketipu gue sama tampang polos lo itu," ucap Filla geram. "Jangan bilang mereka suruhan lo? " Filla menunjuk preman yang masih berkelahi dengan Rangga.
"Busuk!" umpat Filla, lalu dengan sekuat tenaga melepas genggaman Bintang dari pergelangan tangannya.
"Filla ...!" teriak Bintang saat Filla lepas dari genggamannya. Dia malah merutuki dirinya sendiri gagal mencegah Filla.
Filla meringis ketika mendapati Rangga yang terjatuh tepat dipangkuannya, "Ngga," ucapnya saat melihat Rangga penuh dengan luka lebam. "Ngga," panggil Filla.
Rangga hanya bisa merintih menahan sakit.
Para preman itu mendekat, "Udah dibilangin, serahin harta lo, malah ngelawan," ucap salah satu pereman dengan banyak tindik diwajahnya. Ia menendang-nendang kaki Rangga dengan kasar. "Keluarin duit lo, atau cewek lo yang kita ambil?" lanjutnya menarik tangan Filla sampai berdiri disebelahnya.
"Lepasin dia ...," ucap Rangga pelan menarik tangan Filla tanpa tenaga.
"Nggak punya tenaga aja masih mau ngelawan," ucap salah satu pereman yang disebelah kiri Filla.
"Cukup, atau saya buat kalian semua masuk rumah sakit!" ucap Filla dengan tegas menghempaskan tangannya sampai lepas dari pereman yang mengenggamnya.
Para pereman itu tertawa keras mengejek keberanian Filla.
__ADS_1
"Buat kita dirumah sakit? Nggak salah neng?" ucap salah satu pereman lalu tertawa diikuti teman-temannya. "Udalah, mending lo ikut sama kita," sambungnya sambil menaruh lengannya dipundak Filla.
Dengan sigap Filla memelintir tangan pereman itu dan membantingnya sampai pereman itu terkapar kesakitan. Perlawanan dilakukan yang lain, tapi dengan mudah Filla membuat mereka rata dengan tanah dan merintih kesakitan.
"PERGI ATAU MAU LEBIH DARI MASUK RUMAH SAKIT?" teriak Filla membuat pereman-pereman itu memiih berlari menjauh. Filla dengan cepat menghampiri Rangga yang masih terbaring lemas sambil memegangi dadanya.
"Ngga, bangun yuk," ucap Filla hampir menangis melihat keadaan Rangga seperti ini, walau Rangga orang yang menyebalkan menurut Filla tapi jika meihatnya kesakitan Filla jadi tak tega.
"Hebat juga lo berantemnya," ucap Rangga sambil tertawa.
"Lo ya, sakit masih aja sempet-sempetnya becanda," ucap Filla dengan kesal. "Cepetan bangun atau gue tinggalin?" ancam Filla sambil memapah Rangga.
"Fill, ayo gue anter pulang," ucap Bintang sambil memegang tangan Filla.
"Nggak, gue bareng Rangga."
Bintang tersenyum, "Rangga bisa pulang sendiri. Sekarang kamu ikut aku Filla, jangan campurin urusan Rangga yang selalu dalam bahaya," bujuk Bintang membuat Filla menatapnya tak percaya.
"Lo ngerti Bahasa Indonesia, kan?" tanya Filla menatap tajam Bintang, Filla berjalan memapah Rangga, Filla menoleh, "Dan satu lagi, jangan pernah tampakin muka busuk lo didepan gue!"
Filla dan Rangga meninggalkan Bintang, mereka berjalan sampai di tangga sebuah gedung, "Kita duduk disini ya Ngga," ucap Filla sambil membantu Rangga duduk. "Lo tunggu disini, biar gue cari obat," ucap Filla lalu berlari meninggalkan Rangga menuju Apotek yang ada diseberang jalan.
"Sini gue obatin," ucap Filla sambil menempelkan batu es diwajah Rangga yang lebam, saat ia sampai dan duduk disebelah Rangga
"Aw. Pelan-pelan kali," ucap Rangga.
"Udah syukur gue obatin," ucap Filla sambil menekan kuat batu esnya pada wajah Rangga.
"Aw, aw, sakit Filla!" teriak Rangga.
"Makanya, jangan banyak ngoceh, diem aja," Filla sibuk mengobati luka memar Rangga. Setelah selesai dengan luka terakhir dilengan Rangga, Filla menamparnya pelan. "Selesai," ucapnya sambil tersenyum.
"Sakit Filla," ucap Rangga sambil meringis.
"Bilang apa?" tanya Filla sambil tersenyum penuh arti.
"Iya, iya, makasih," ucap Rangga.
Filla merapikan obat-obatan kedalam pelastik, "Ngga, lo tahu niat Bintang?" tanya Filla sambil melihat kearah Rangga.
__ADS_1
TBC...