Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 63


__ADS_3

Sejak kejadian malam dimana Rangga bersikap seperti Filla adalah miliknya, Filla tak pernah lagi membiarkan Rangga berada dalam pandangannya, melihat Rangga hanya akan meruntuhkan pertahanannya.


Filla selalu menghindar ketika bertemu Rangga, sedangkan Rangga selalu menggapainya. Filla selalu menepis jauh semua tentang Rangga, seperti saat ini, ia tak menoleh sedikitpun pada Rangga yang duduk dianak tangga, Filla hanya melewatinya dalam diam tanpa menoleh sedikitpun.


BRAKKK


"Aww!" jerit Filla keras ketika badannya terhuyung kebelakang hingga membuatnya terjatuh, untung ia sudah berada cukup jauh dari tangga, tapi karena keadaan refleks tangannya menahan berat badannya sehingga terasa teramat sakit.


"Fillaa ...!” teriak Reya yang melihat Rasti dengan sengaja menabrak Filla, "Apa-apaan sih lo?" teriak Reya kesal dan membantu Filla berdiri.


Filla hanya bisa meringis menahan sakit yang teramat dipergelangan tangannya.


Rangga dengan berlari menghampiri Filla, "Kenapa Fill?" tanya Rangga khawatir karena Filla hanya diam sambil menggenggam pergelangan tangan kanannya.


Rangga menarik dagu Filla dan terlihat darah segar mengalir didahi Filla, Rangga benar-benar geram melihatnya, "Lo luka," ucap Rangga.


Filla hanya diam, tak mampu berucap, sekarang kepala dan tangannya terasa sangat sakit.


"Nggak ada kerjaan banget sih lo, awas aja kalau ada apa-apa sama Filla, gue laporin ke polisi," ucap Rangga tegas sambil menggendong Filla ala bridal style, Filla sempat menolak tapi cengkraman Rangga pada tubuhnya sangat kuat hingga ia hanya bisa pasrah.


Rangga membawa Filla dan menurunkannya tepat dimana mobil Filla terparkir, "Kunci," ucap Rangga tegas membuat Filla hanya bisa memberikan kunci mobilnya pada Rangga.


Rangga memapah Filla dan membantunya masuk kedalam mobil. Lalu menempatkan dirinya dikursi kemudi, "Kita kedokter," ucap Rangga tegas.


"Gue bisa sendiri," jawab Filla masih menggenggam tangannya yang terasa sangat sakit.


"Nggak udah ngebantah," bentak Rangga membuat Filla memilih diam, baru kali ini Rangga benar-benar membentaknya dengan mata penuh kekhawatiran, biasanya Rangga hanya akan memberikan tatapan kebencian, melihatnya Filla hanya tersenyum kecut, sekali lagi Rangga membuatnya bimbang.


******


"Gimana dok?" tanya Rangga ketika dokter selesai mengobati luka dikepala dan tangan Filla.


Dokter tersenyum melihat Rangga yang sangat khawatir, "Dia nggak apa-apa, luka kepalanya nggak serius, cuma pergelangan tangannya aja yang terkilir, tapi akan baik-baik saja dalam 1 minggu," ucap Dokter yang hanya meraih anggukan kepala dari Rangga.


"Baik dok, kami permisi dulu," ucap Rangga pada Dokter.

__ADS_1


"Iya silahkan, cepat sembuh Filla," ucap Dokter itu sambil menepuk bahu Filla.


Filla memberikan sneyumannya, sekarang tangannya sudah membaik, tidak ada lagi rasa sakit seperti tadi.


Rangga memapah Filla keluar dari ruang periksa.


Dengan cepat Filla melepaskan diri dari Rangga, "Gue bisa sendiri, lagian yang sakit tangan bukan kaki, jadi gue masih bisa jalan," ucap Filla meninggalkan Rangga yang kesal dengan tingkahnya.


Rangga dan Filla duduk menunggu obat yang akan mereka tebus, keduanya sama-sama diam, tak ada yang bersuara sama sekali, keduanya memilih bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Obat atas nama Filla," ucap Apoteker.


Rangga langsung maju melangkah ke Apoteker dan menarik Filla untuk kembali duduk. Filla hanya bernapas pasrah, melawan Rangga sekarang tak akan ada gunanya.


Rangga berjalan menghampirinya dengan sebungkus obat ditangan kanannya, "Ayo pulang," ucap Rangga dingin.


"Gue bisa pulang sendiri, makasih," ucap Filla keras kepala sambil menarik kantong obat dari tangan Rangga.


Rangga dengan cepat mengendong Filla la bridal style, "Nggak ada penolakan," ucap Rangga tegas dan berjalan menuju parkiran.


Rangga membawa Filla masuk kedalam mobil dan menampatkan dirinya sendiri di kursi kemudi, "Bisa diem," ucap Rangga ketika Filla masih saja mengumpat Rangga dengan kesal. "Kalau bisa sendiri nggak mungkin gue yang anterin," ucap Rangga akhirnya sambil menjalankan mobil meninggalkan rumah sakit.


"Kalau lo nggak maksa gue juga nggak akan ikut lo," jawab Filla lalu membuang wajah, lebih memilih menatap jalanan yang mereka lalui, walau ia tahu Rangga bernapas kasar melihat tingkahnya.


"Ini kedua kalinya lo Fill, kanapa nggak bisa hati-hati?" tanya Rangga kesal.


Filla dengan cepat menoleh kearah Rangga yang mefokuskan dirinya menyetir, "Maksudnya yang kedua kali?" tanya Filla heren.


"Lupain,”nggak penting," ucap Rangga kembali diam tak menghiraukan pertanyaan Filla.


Filla mendenggus sebal, sepertinya ia berharap lebih, ia pikir Rangga ingat saat tangannya juga sakit waktu dulu, tapi sepertinya itu hanya angan Filla, dan dia muak mengapa tak bisa menghapus Rangga dari ingatan semunya.


******


"Ini kenapa Filla," tanya mama mulai panik saat melihat Filla yan dipapah Rangga.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Ma, cuma jatoh tadi di kampus," jawab Filla seadanya lalu berdiri disebelah mama.


Mama memutar Filla, mencari luka lain selain luka yang terlihat jelas dipergelangan dan dahi Filla, "Kenapa sih Filla, selalu kayak gini," ucap mama khawatir terhadap anak semata wayangnya.


Filla hanya diam, ia tahu mamanya pasti sangat khawatir saat ini.


"Kenapa sama Rangga?" tanya mama menekankan setiap ucapannya saat menyadari kehadiran Rangga.


"Rangga yang bantu Filla dan bawa kerumah sakit," jawab Filla.


"Masuk Filla, apapun alasannya jangan pernah deket lagi sama Rangga, Mama nggak mau kamu terluka kalau sama dia," ucap mama ketus sambil menatap manik mata Rangga.


Rangga memilih diam, karena ia juga menyadari semua kesalahannya terhadap Filla selama ini, padahal Filla selalu datang dengan ketulusan.


"Mama," ucap Filla.


"Masuk," ucap mama lalu menarik Filla, "Dan kamu Rangga, cukup sakitin Filla, saya nggak mau kamu berada disekitar Filla," bentak mama.


Baru kali ini Filla melihat mamanya marah, biasanya mama adalah orang yang paling sabar menghadapi situasi apapun, "Bila perlu besok kita pindah," ucap mama sambil menarik Filla masuk kedalam rumah dan menutup pintu dengan keras, menimbulkan suara yang kasar.


Rangga terdiam melihat kemarahan mama Filla, padahal selama ini terlihat ramah dan humoris, Rangga sadar ia kelewatan dalam langkah yang ia ambil.


"Maafin aku Fill, nggak pernah bisa bikin kamu bahagia, semua salah aku," ucap rangga penuh luka, kali ini ia benar-benar menangis, hanya Filla satu-satunya wanita yang membuatnya mengeluarkan airmata selain bundanya.


Disisi lain Filla duduk dipinggiran kasurnya, "Mama kenapa gitu sih? Rangga udah baik mau nganterin aku kerumah sakit Ma, setidaknya hargai itu," ucap Filla kesal dengan sikap mamanya terhadap Rangga, walau ia juga kesal dan berniat melupakan Rangga.


"Kamu yang bilang mau lupain dia, dan Mama nggak suka, dia berbeda dengan orangtuanya, bisanya dia hanya menyakiti kamu Filla," jawab mama masih marah dengan keberadaan Rangga tadi.


Filla bernapas pasrah, "Tapi dia bantu Filla Ma, sebenci apapun kita sama orang, nggak pantes Ma memperlakukannya seperti tadi, apalagi Rangga yang bantu Filla," jelas Filla sambil menatap mata mamanya.


Mama diam mencerna ucapan Filla, ia membenarkan ucapan Filla, tapi kekesalannya membuat sikap baiknya tertutup, melihat Filla terluka mama tak bisa mengontrol emosinya, "Mama cuma nggak mau kamu terluka," Mama mendudukan dirinya disebelah Filla.


Filla dengan cepat memeluk mamanya, "Filla tahu, Mama bukan orang yang kayak gitu, maafin Filla tadi ngomongnya pake nada tinggi," Filla merasa bersalah karena membentak mamanya.


Mama mengangguk dalam diamnya, mereka menyalurkan kasih sayang lewat pelukan, setidaknya semua karena cinta.

__ADS_1


******


__ADS_2