
Filla meletakkan bingkisan didepan ketiga sahabatnya satu persatu sambil tersenyum, sekarang mereka berada disalah satu cafe yang cukup terkenal di Bandung.
"Akhirnya," ucap Reya, sambil melihat kedalam bingkisan yang sekarang miliknya.
"Nih buat lo," ucap Ola sambil menyodorkan bingkisan darinya untuk Filla.
Filla mengambilnya dengan antusias, "Apaan nih? Makasih," ucap Filla.
"Kalau ini spesial dari Caca," ucap Caca sambil mengeluarkan bingkisan untuk Filla.
"Gede banget Ca."
Caca tertawa, "Sekalian beli buat Reya yang nuntut mulu," canda Caca.
Reya cengengesan, "Kalian semua sahabat terbaik, kapan-kapan liburan lagi oke," ucap Reya masih sibuk melihat ketiga bingkisan yang ia terima.
"Dasar lo Rey," ucap Filla sambil menyenggol bahu Reya yang disebelahnya.
"Gimana Bangka Belitung? Ceritain buat kita," ucap Caca antusias.
Filla membenarkan duduknya, "Sumpah keren abis, kalian harus nyempetin kesana, kalau nggak, kapan-kapan kita liburan bareng kesana," ucap Filla antusias.
"Boleh tuh," ucap Ola yang juga meraih anggukan dari yang lain.
"Kalau hati gimana? Aman?" tanya Reya sambil menyenggol bahu Filla
Filla menghela napas lalu menaikkan kedua bahunya, "Harusnya aman, cuma hati sama otak sering nggak singkron," ucap Filla sambil menyesap jus jeruk yang sudah Reya pesan saat Filla dijalan.
"Gimana Kak Vino beneran ngilang?" tanya Reya sambil menyenderkan punggungnya pada senderan kursi.
Filla menggeleng, "Gue jahat banget, Kak Vino ternyata kecelakaan di Singapura, tapi gue malah diemin dia cuma karena Kak Vino nggak selalu ngabarin," ucap Filla.
Ola memegang bahu Filla lalu menepuknya, "Wajar kok, berarti secara nggak langsung lo ngerasa ada sesuatu yang hilang sampai kesel kalau Kak Vino nggak ngabarin, bisa ditarik kesimpulan, sebenernya lo tuh udah ada rasa buat Kak Vino," ucap Ola panjang lebar.
Filla menatap Ola, "Semoga La, gue nggak mau nyakitin Kak Vino sama sekali, dia terlalu baik," ucap Filla.
"Udah, urusan percintaan nanti ajalah, kita udah jarang kumpul, bahkan walau kita udah di Bandung seminggu ini, kita masih aja nggak punya waktu buat ketemu, kita pakai hari ini buat seneng-seneng oke?" ucap Reya dengan semangat.
Ketiganya mengangguk membuat Reya tersenyum.
"Oiya gue sampe lupa, setelah acara wisuda nanti, kampus kalian bakalan ngadain acara perpisahan."
"Lo tahu dari mana coba? Kita yang kuliah disana aja belum denger kabar," ucap Reya sambil menoleh pada Filla yang mengangguk.
Ola tersenyum sambil menaikkan alis, "Kalian lupa Jiel orang penting di kampus kalian, masalah berita kayak gitu mah gampang gue dapetin," ucap Ola bangga.
Filla tersenyum, "Berarti lo bakalan dateng kan? Secara Jiel orang penting di kampus kan harus dateng bawa gandengan," ledek Filla.
__ADS_1
Ola tertawa, "Resek, tapi pasti gue datenglah, entar cowok gue diembat plakor lagi," ucap Ola sambil tertawa.
"Yah, berarti Caca nggak ikut?" ucap Reya.
Caca dan Ola saling pandang, dan bermain isyarat mata membuat Filla dan Reya menatap heran.
"Apaansih?" tanya Reya penasaran.
"Tau, jangan pake rahasia-rahasiaan lah," ucap Filla mempautkan bibirnya.
"Tenang aja, Caca bakalan dateng bareng kita," ucap Ola yang langsung diangguki dengan antusias oleh Caca.
"Maksudnya?" tanya Filla dan Reya berbarengan membuat mereka bertemu tatap.
Ola memberi isyarat agar Caca yang menjelaskan.
"Gue habis jadian sama Zaki," ucap Caca malu-malu.
Filla dan Reya menatap tak percaya pada Caca, bagaimana tidak, Zaki adalah pria terdingin di kampus, pria yang selalu jadi bahan omongan setelah Rangga dan Vino.
"Zaki temen Jiel kan? Nggak salah?" tanya Reya.
Caca mengangguk antusias, "Iya Zaki Prakasa," ucap Caca menegaskan.
Filla mengedipkan matanya berulang.
Filla menepuk bahu Reya memberi kekuatan, "Nanti pasti ada kok Rey," ucap Filla prihatin, sedangkan Ola tertawa puas melihat wajah Reya.
"Sahabat luknut," ucap Reya sambil melempar tisu ke wajah Ola.
"Reya! Jorok," ucap Ola sambil mengusap wajahnya.
"Nanti gue cariin Rey, Galang mau?" tanya Caca serius. Galang adalah tukang kebun kampus yang sudah berstatus duda.
Reya menatap tak percaya, "Sekalian aja Pak Samirudin," ucap Reya sambil memijit kepalanya. sedangkan Ola dan Filla menahan tawa mereka.
"Jangan Rey, istighfar, Bu Retno kasian, lo mau jadi plakor," ucap Caca sambil mengelus dadanya.
Reya menghela napas, "Nasip-nasip, punya temen kek begini satu aja, kalau lebih bisa gila," ucap Reya pelan.
Filla hanya bisa tertawa dalam diam melihat tingkah sahabat-sahabatnya.
*********
Filla memasuki lobby kantor Vino, sudah ketiga kalinya Filla mengunjungi kantor Vino hanya untuk mengantarkan makan siang.
"Hallo Mbak Filla, silahkan, langsung ke ruangan Pak Vino saja," ucap resepsionis ramah pada Filla.
__ADS_1
Sejak kejadian pertama kali Filla datang ke kantor dimana Vino memarahi karyawannya, Filla dapat merasakan banyak perubahan, semua karyawan Vino selalu bersikap sopan saat menjumpainya.
ketika pintu lift terbuka, Filla berjalan keluar menyusuri koridor yang cukup panjang dan sunyi, seperti ucapan Vino sebelumnya, dilantai 4 hanya ada ruangan Vino dan Alex sahabat Vino yang merangkap sebagai asisten pribadi Vino di kantor.
"Harusnya lo jujur Vin, nggak selamanya lo bisa tutupin semua ini," Filla dapat mendengar sayup suara Alex dari dalam ruangan Vino.
Tanpa berpikir panjang Filla mengetuk pintu, "Assalamualaikum."
Pintu terbuka menampilkan Vino dengan senyumannya, "D-dek, udah lama? Kenapa nggak masuk aja?" ucap Vino sambil meraih kotak bekal yang Filla bawa. "Yuk masuk dulu, ada Alex, kita lagi ngomongin masalah pekerjaan."
Filla tersenyum, "Baru aja kok Kak," ucap Filla mengikuti Vino masuk kedalam.
"Hai Fill," ucap Alex sambil tersenyum.
Filla ikut tersenyum, "Hai, apa kabar Lex?" Filla meletakkan tasnya diatas meja, ikut duduk disebelah Alex dan Vino.
"Alhamdulillah baik, yaudah gue kembali keruangan dulu, masih ada kerjaan," ucap Alex sambil tersenyum.
"Makan siang bareng aja yuk," ajak Filla sopan.
"Iya Lex," ucap Vino.
Alex tersenyum, "Kapan-kapan deh, nggak mau gue ganggu kalian yang mau berduaan," ledek Alex sambil beranjak dari duduknya.
"Alex," ucap Filla.
Alex tertawa, "Gue kembali kerja dulu," ucap Alex sambil berjalan keluar dari ruangan Vino.
"Emang suka resek kalau dia dek," ucap Vino yang kembali duduk disebelah Filla setelah mengambil sendok di dapur kecil dalam ruangannya.
Filla tertawa, "Beneran resek," ucap Filla.
"Lihat aja Alex, bakalan Kakak kasih pelajaran," ucap Vino sambil menyendok nasinya.
Filla mengerutkan keningnya, "Kenapa?" tanya Filla heran.
"Berani-beraninya buat kamu seseneng ini ketemu sama dia," ucap Vino.
"Kakak, apaan coba?" Filla tertawa melihat tingkah Vino.
Vino tertawa, "Nggak ada yang boleh bikin kamu ketawa kecuali Kakak," ucap Vino.
"Apaansih Kak," ucap Filla sambil menampar bahu Vino dan tertawa.
"Apalagi kalau kamu gemes gini, cuma sama Kakak aja loh," ucap Vino yang meraih anggukan Filla, walau lebih banyak gelengan kepala yang Filla lakukan setelahnya mengingat tingkah Vino yang kekanakan namun terasa menghangatkan.
*******
__ADS_1