
Vino membawa Filla ke tenda khusus tenda kesehatan, diletakkannya Filla diatas kasur lantai yang sudah rapi didalam tenda.
Panji dengan cepat masuk kedalam tenda mengecek keadaan Filla, "Filla lo nggak apa-apa?" tanya Panji memeriksa pergelangan kaki Filla.
"Kalian kalau kasih hukuman dipikir bisa? Cari kayu didalam hutan nggak mikir bahayanya gimana?" tanya Vino dengan wajah dinginnya.
Filla menunduk, rasanya bukan hanya Panji yang kena amarah Vino, bahkan dirinya sendiri merasakan hawa dingin yang Vino berikan.
"Maaf Filla, gue nggak mikir berbagai bahaya yang akan lo temuin dalam hutan," ucap Panji merasa bersalah.
Filla mengangguk menenangkan, "Nggak apa-apa kok Kak, udah konsekuensi gue karena kalah tadi," ucap Filla.
Vino keluar dari tenda tanpa kata.
Filla menatap kepergian Vino, saat ini sepertinya Vino tak ingin diganggu.
"Sorry banget Filla," ucap Reza menambahi, Reza yang juga salah satu panitia rombongan lain mungkin merasa bersalah atas kejadian.
Filla menggeleng, "Nggak apa-apa kok Kak, cuma terkilir doang," ucap Filla sambil tersenyum.
"Kalian istirahat dulu, gabung lagi nanti malem pas acara puncak," ucap Reza sambil membawa Rangga duduk dikasur depan Filla.
Filla dan Rangga mengangguk tanpa membantah.
Setelah kepergian Reza dan Panji tenda terasa sunyi, hanya ada Filla dan Rangga yang sama-sama memilih diam.
Filla membaringkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit tenda, sesekali ia melirik kearah Rangga, masih sama Rangga memainkan ponselnya tanpa mau diganggu.
"Gimana kakinya?" tanya Vino yang tiba-tiba masuk dan duduk didekat kasur Filla.
Filla mendudukan dirinya, "Lumayan baikan Kak," jawab Filla.
Vino mengangguk, "Sini Kakak kompres," ucap Vino meraih kaki Filla dan mulai mengompresnya dengan batu es yang sudah dibalut kain.
Filla hanya menurut tanpa membantah, "Makasih Kak," ucap Filla.
Vino menatap Filla yang menunduk, "Lain kali bisa kan hubungi Kakak dulu sebelum ngelakuin hal-hal bahaya, orangtua kamu nitipin kamu ke Kakak Filla, jangan bikin mereka jadi nggak percaya sama Kakak," ucap Vino.
Filla mengangguk, benar kata Vino, yang bertanggungjawab besar atas keselamatannya disini adalah Vino, karena Vino yang memegang janji pada kedua orangtuanya, pantas saja jika Vino kesal dengan sikap Filla.
"Maaf Kak," ucap Filla pelan hampir tak tersengar.
"Udahlah, udah kejadian juga, jadiin pelajaran oke?" Vino mengelus puncak rambut Filla, sedangkan Filla hanya menggangguk mengiyakan.
Vino meronggoh sesuatu disakunya, "Nih," ucap Vino sambil memberikan cokelat kesukaan Filla.
Filla tersenyum, "Asik," ucapnya dengan cepat mengambil cokelat dari tangan Vino.
Vino menggeleng sambil tertawa, "Sebelum makan cokelat, habisin roti ini dulu," ucap Vino sambil mengeluarkan roti yang sudah ia bawa.
Filla menghembuskan napasnya.
"Makan ini atau cokelatnya Kakak ambil lagi?" ancam Vino.
Filla menyerah, lebih baik menghabiskan roti dari Vino daripada tidak bisa memakan cokelat kesukaannya.
Rangga memegang kepalanya yang terasa nyeri. lalu mengambil jaketnya kemudian berjalan keluar dari tenda tanpa berucap.
Vino menatap Filla meminta jawaban atas sikap Rangga, namun Filla hanya menaikkan kedua bahunya, lalu entah apa yang lucu, mereka berdua tertawa.
******
Dingin menusuk ketulang, Filla merapatkan jaket tebal yang ia kenakan, malam ini adalah puncak acara makrab, mereka sekarang melingkar didepan api unggun, banyak kegiatan yang sudah mereka lakukan sejak jam 7 malam tadi.
"Dingin?" tanya Vino yang duduk disebelah Filla.
Filla mengangguk, "Lumayan Kak."
Vino melepas jaketnya dan menyampirkannya dibahu Filla.
"Kakak nanti kedinginan," ucap Filla hendak melepaskan jaket Vino dari bahunya.
Vino menahan tangan Filla, "Kakak udah pake sweeter tenang aja," ucap Vino.
"Aduh, romantisnya bisa kali nggak usah didepan gue," ucap Reya sambil menyenggol bahu Filla.
"Terserah dong," ledek Filla sambil meleletkan lidahnya.
"Ih," Reya mendorong Filla keras kearah Vino.
__ADS_1
"Eh sorry Kak," ucap Filla yang sekarang berada di pelukan Vino.
"Yaampun makin dingin sih iya, dipeluk nyaman nih," ledek Bima pada Filla dan Vino. semua ikut menyoraki Filla dan Vino.
Filla langsung menjauhkan diri dari Vino dengan wajah bersemunya sedangkan Vino terlihat santai tanpa beban.
Rangga hanya membuang muka melihat Filla dan Vino.
"Gimana kalau Vino dan Filla kasih hiburan buat kita?" usul Bima yang meraih anggukan antusias dari yang lain.
Filla menatap bingung pada semua orang yang bertepuk tangan menyuruh mereka berdua maju ketengah lingkaran.
"Ide bagus, ayo Filla dan Vino, sumbangkanlah 1 lagu untuk kita-kita yang bucin sama kalian," ucap Kenzi menambah sorakan yang lain.
Filla tersenyum kikuk, jika sudah begini mundurpun tak menyelesaikan masalah.
"Sana, sok malu-malu lagi," ledek Reya sambil berbisik.
Filla menatap Reya dengan tatapan dendam, semua ini tentu saja Reya akar permasalahannya.
"Bicara - The Overtunes feat. Monita Tahalea," ucap Vino setelah membuka gulungan kertas yang sudah disiapkan panitia.
"Wah, semangat," ucap Panji mengepalkan tangan untuk Vino dan Filla.
"Tau lagunya kan?" tanya Reza.
Filla mengangguk, ia dan Vino sekarang menjadi pusat perhatian, Filla merutuki Reya yang sibuk bertepuk tangan kegirangan.
"Santai aja, suaramu bagus," bisik Vino menenangkan.
"Kapan Kakak denger suaraku coba?" Filla melirik Vino yang lebih tinggi darinya.
Vino tertawa, "Waktu kecil, kamu kan suka nyanyi," ucap Vino tanpa dosa.
Filla menatap Vino pasrah, "Waktu lecil tenggorokanku belum nyentuh gorengan Kak," ucap Filla.
Vino tertawa sambil menutup mulutnya dengan lengan.
"Yaudah, yuk kita dengar suara emas Vino dan Filla," ucap Panji sambil bertepuk tangan lalu diikuti semua orang.
Vino mengambil gitar dan mendudukan diri dirumput. Filla mengikuti Vino duduk disebelahnya.
Vino memulai menyanyikan lagu mengikuti irama yang ia mainkan.
Sudah berapa lama aku
Menunggu jawaban darimu
Tepuk tangan menggema ketika suara Vino yang sopan memasuki telinga. semua orang ikut terhanyut dalam musik yang dimainkan Vino, terlihat mereka bergerak kekiri dan kekanan berulang mengikuti irama.
Sampaikah kepadamu
Kata-kata yang 'ku rangkaikan
Agar kau tahu perasaanku
Yang telah lama terpendam
Inilah yang 'ku rasakan
Vino menatap Filla sambil tersenyum. Filla memulai bagiannya, walau gugup ia tetap mengikuti irama dan suasana hatinya.
Jangan hanya bicara
'Ku tak perlu kata-kata
Semua bertepuk tangan mendengar suara Filla, Reya dengan antusias berteriak memberikan semangat bersama Kenzi dan Intan.
'Tuk mengerti yang kau rasakan
Karena 'ku hanya butuh
Separuh hatimu di dalam hidupku
'Tuk buatku bahagia
Filla ikut tersenyum menatap Vino, mereka hanyut dalam alunan musik dan kenyamanan malam yang tercipta.
Sebut yang kau inginkan
__ADS_1
Apapun itu 'kan 'ku berikan untukmu
Vino dan Filla menyanyikan bersama liriknya membuat semua yang mengelilingi mereka bersorak.
Andai kau bersamaku
Ditempat dan waktu yang sama
Kau akan tahu perasaanku
Yang telah lama terpendam
Inilah yang ku rasakan
Jangan hanya bicara
'Ku tak perlu kata-kata
'Tuk mengerti yang kau rasakan
Karena 'ku hanya butuh
Separuh hatimu di dalam hidupku
'Tuk buatku bahagia
Vino menatap Filla sambil tersenyum, membuat semua orang ikut baper dengan keuwuan yang mereka ciptakan.
Semenjak kau ada disini 'ku mengerti
Betapa 'ku membutuhkanmu
Filla menatap Vino, Vino bisa mengurangi rasa gugup yang ia rasakan sejak tadi dan bisa menikmati lagu yang mereka nyanyikan.
Bila kataku tak cukup 'tuk buatmu mengerti
Ijinkanku bertemu lagi denganmu
Mereka menyanyikan bersama lirik yang tersisa, bahkan yang lain juga ikut bernyanyi manambah kemeriahan.
Jangan hanya bicara
'Ku tak perlu kata-kata
Tuk mengerti yang kau rasakan
Karena 'ku hanya butuh
Separuh hatimu di dalam hidupku
'Tuk buatku bahagia
(A... a... a...)
Tuk buatku bahagia
(A... a... a...)
Tepuk tangan terdengar keras apalagi Bima dan Ifan menjadi dalang dibaliknya.
"Udah, jadian aja," teriak Kenzi membuat semua ikut mengangguk dan bersorak.
Filla dan Vino tertawa sambil bertatap, mereka menganggap ucapan Kenzi adalah lelucon.
"Lagi, lagi," teriak Nindy membuat semua orang mengikuti teriakannya.
Filla membulatkan matanya, satu lagu saja benar-benar membuatnya gugup apalagi lebih.
Filla menatap Panji penuh harap.
Panji tersenyum, "Makasih Filla, Vino suara dan keromantisan kalian menghibur," ledek Panji membuat yang lain ikut tertawa.
"Oke, kita lanjut, kalian boleh duduk, terimakasih," ucap Ifan menengahi membuat banyak sorak kecewa dari yang lain.
Filla mengusap dadanya, lega rasanya Ifan menyudahi keresahannya.
Vino dan Filla berjalan kembali duduk ketempat sebelumnya.
Filla sempat melihat Rangga yang berjalan menjauh keluar dari lingkaran, sedikit membuatnya penasaran kemana Rangga pergi, namun dengan cepat Filla menepis pikiran bodohnya.
__ADS_1
******