Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 164


__ADS_3

Terlihat Ola dan Jiel berdansa dikelilingi beberapa pasangan lain yang menemani mereka.


"Rey, dansa yuk," ajak Samuel yang langsung menarik Reya bergabung bersama pasangan lain.


Reya sempat melambaikan tangan pada Filla yang meraih senyuman Filla, membiarkan dirinya dan Samuel menikmati dansa.


Filla melewati Rangga dan memilih duduk di meja kosong, memperhatikan beberapa pasangan yang hanyut dengan alunan musik.


Rangga berdehem lalu duduk dikursi sebelah Filla.


Filla sempat menoleh pada Rangga, lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Kamu nggak mau ikutan?" tanya Rangga.


Filla menoleh, lalu menggeleng, Filla sempat melihat Salsa memperhatikannya disudut ruangan.


"Kenapa?" tanya Rangga yang ikut menoleh kebelakangnya, mengikuti arah pandangan Filla.


Salsa berjalan pergi setelah menatap tajam Filla.


Filla menghela napas.


Rangga kembali menghadap Filla, "Tenang aja, kalau dia berani berbuat hal buruk lagi, aku nggak akan tinggal diem," ucap Rangga.


Filla mengerutkan kening, "Gue bisa selesein semuanya sendiri, dan ini nggak ada hubungannya sama lo, jadi tolong jangan ikut campur."


Rangga menghela napas, "Kenapa sesusah itu kamu terima aku lagi Fill? Aku perlu melakukan apa?" tanya Rangga sedikit mendesak.


"Lo nggak perlu melakukan apa-apa Ngga, bersikap seperti sebelumnya, jangan bikin gue tambah sulit."


"Salah kalau aku nggak bisa ngelepas kamu setelah inget semuanya? Aku juga nggak mau Fill diposisi ini," Rangga melemah disetiap ucapannya.


Filla berdiri, "Udah, cukup Ngga," Filla meninggalkan Rangga, sekali lagi dirinya melarikan diri, dan Filla tahu konsekuensi apa yang akan diterima hatinya setelah ini.


********


"Lo seriusan nggak mau naik pesawat aja?" tanya Filla saat dirinya mengeringkan rambut.


Hari ini, Iren akan kembali ke Jakarta, 2 minggu sudah cukup ia habiskan di Bandung.


"Lo udah nanyain ini hampir 10 kali, jawaban gue tetep sama Filla."


Filla menghela napas sambil meletakkan hair dryer-nya diatas meja, "Emang harus gitu balik sama Rangga?" tanya Filla sambil berbalik dan menoleh pada Iren.


"Lo cemburu?" tanya Iren sambil tertawa.


"Bukan gitu Ren, tau ah terserah lo," ucap Filla mulai kesal.


Iren mendekati Filla, berdiri disebelah Filla sambil tersenyum, "Itung-itung gue hemat Fill, gue kan belum nemu pekerjaan yang cocok disini, dan Rangga juga mau ke Jakarta jadi apa salahnya nebeng," ucap Iren.


Memang ide Iren akan ke Jakarta bersama Rangga bermula dari obrolan bunda dan mama kemarin, Rangga yang akan mengecek perkembangan studio fotonya di Jakarta dan Iren yang pulang dihari yang sama akhirnya memutuskan untuk bersama.


"Lo pasti cepet dapet tempet kerja yang cocok kok," ucap Filla.

__ADS_1


Iren tersenyum, "Berarti hari ini terakhir gue liat lo, setelahnya lo kan langsung ke Milan," ucap Iren merubah ekspresinya.


"Dan kali ini gue disana tanpa lo," Filla mempautkan bibirnya lalu memeluk Iren.


"Lo pasti kangen sama gue, jangan lupa buat balik kesini, bila perlu tiap bulan."


"Bangkrut gue yang ada," ucap Filla.


Iren tertawa, "Duit lo banyak Fill, jangan pura-pura nggak mampu," ledek Iren masih dengan tawanya.


"Ren, Rangga udah nungguin itu dibawah," ucap mama yang berada diambang pintu kamar Filla yang sengaja dibiarkan terbuka.


"Oh oke Tan," Iren mengambil kopernya dibawah meja samping tempat tidur.


Mereka berjalan keluar rumah.


Rangga sudah memarkirkan mobilnya didepan rumah Filla, "Berangkat?" tanya Rangga sambil menolong Iren memasukkan kopernya di bagasi.


Iren mengangguk, lalu menoleh kearah Filla, "Lo jaga kesehatan Fill, jangan sering makan mie instan walaupun enak selama di Milan," ucap Iren sambil tersenyum.


Filla tertawa, "Bukannya lo yang sering racunin gue buat makan mie instan malem-malem," ledek Filla membuat Iren tertawa.


"Gue balik dulu," ucap Iren lalu mendekati mama yang berdiri disebelah Filla, "Tan, makasih ya," ucap Iren sambil menyalami mama.


"Iya Ren, kalian hati-hati," ucap mama sambil tersenyum. "Jangan ngebut Ngga," ucap mama memberi nasihat.


Rangga mengangguk, "Siap Ma, yaudah kami berangkat dulu Ma, Fill," ucap Rangga sambil tersenyum.


"Permisi Non, didepan ada temen kuliah non yang nyariin," ucap pak Hafidz.


Filla mengerutkan kening, "Siapa Pak?" tanya Filla sedikit heran, karena ia hampir tidak pernah kontekkan lagi dengan teman kuliahnya di Indonesia selain Reya.


"Namanya Rafa-, aduh bapak lupa Non," ucap pak Hafidz sambil menggaruk kepalanya.


Filla tertawa, "Yaudah Filla cek sendiri aja," ucap Filla. "Ren hati-hati, kabarin gue kalau udah sampai," ucap Filla yang diangguki Iren didalam mobil. "Ma, Filla temuin temen dulu ya."


Mama mengangguk, "Suruh masuk Kak," ucap mama.


Filla mengangguk lalu berjalan mendekati pagar rumah. Dahi Filla berkerut saat melihat punggung pria yang membelakanginya, "Hai," sapa Filla membuat pria itu berbalik, "Kak Rafael?" tanya Filla.


Rafael tersenyum, "Ternyata masih inget," ucap Rafael.


Filla tertawa, "Ingetlah Kak, masak lupa, masuk dulu yuk," ajak Filla yang diangguki Rafael.


Rangga membunyikan kelakson saat mobilnya melintas disebelah Filla dan Rafael.


Filla melihat pandangan Rangga yang melihat dirinya dari jendela mobil yang terbuka. "Ayo Kak," ajak Filla meninggalkan mobil Rangga yang berjalan pelan keluar dari halaman rumahnya.


Filla dan Rafael masuk kedalam rumah, dan menempatkan diri duduk di ruang tamu.


"Eh ada temen Filla," ucap mama.


Rafael tersenyum lalu menyalami mama, "Assalamualaikum Tante," ucap Rafael sopan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


"Oiya Ma, kenalin ini Kak Rafael, kakak tingkat Filla waktu kuliah S1."


"Oh iya-iya, Yaudah, kalian ngobrol aja, Mama tinggal ke dapur ya."


Rafael dan Filla kembali duduk setelah mama berjalan menuju dapur.


"Apa kabar Kaka? Udah lama banget nggak ketemu," ucap Filla membuka pembicaraan.


Rafael tersenyum, "Iya lumayan lama, terakhir waktu kita makan di cafe," ucap Rafael mengingat.


Filla tertawa, "Iya Kak, sorry ya waktu itu langsung pulang," ucap Filla ketika mengingat bagaimana pertemuan terakhir mereka.


"Iya nggak apa-apa."


"Permisi," ucap bi Surti sambil membawa dua gelas minuman.


"Makasih Bi," ucap Filla dan Rafael berbarengan.


"Kakak kemana aja? Aku nggak pernah liat lagi setelah itu," ucap Filla saat bi Surti kembali kedalam.


"Waktu itu mendadak harus ke Jepang, karena Papa dikabarkan koma."


Filla sedikit terkejut, "Sorry Kak," ucap Filla tak enak hati.


"Nggak apa-apa, sekarang Alhamdulillah Papa udah baik-baik aja."


"Syukurlah Kak."


"Oiya, aku mau kasih undangan," ucap Rafael sambil meronggoh tasnya.


Filla tersenyum, "Kakak nikah? Wah selamet," ucap Filla antusias.


Rafael tertawa, "Bukan, mentang-mentang aku udah nggak muda lagi," Rafael menyodorkan undangan pada Filla. "Aku buka cabang perusahaan di Bandung, itu undangan grand opening-nya."


Filla tertawa, "Aku kira Kakak mau nikah."


"Belumlah, calonnya aja belum ada," ucap Rafael sambil tertawa.


"Nggak nyangka loh Kaka masih inget ngundang aku," ucap Filla.


"Kamu lupa, aku pernah janji akan undang kamu kalau berhasil diriin perusahaan di Indonesia, cukup makan waktu sih."


"Kakak masih inget aja, malah aku nih belum undang Kakak sama sekali, aku masih kerja di Milan sih, belum bisa buka perusahaan kayak Kakak.".


Rafael tertawa, "Ya nggak apa-apa, nggak harus buka perusahaan sendiri juga untuk sukses kan?"


Filla mengangguk sambil tersenyum, "Sukses ya Kak buat kedepannya."


Rafael mengangguk sambil tersenyum.


********

__ADS_1


__ADS_2