Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 189


__ADS_3

Filla melihat wajah Rangga yang begitu serius mengompres perutnya, wajah yang sejak dulu sepertinya masih sangat Filla ingin lihat.


Selama ini Rangga hanya menampilkan sikap dinginnya, sikap yang selalu menyakiti Filla, lalu jika Rangga hadir dengan sikap seperti sekarang, Filla tentu saja perlu mempertanyakan tentang dirinya sendiri, akan seperti apa selanjutnya.


"Susah ya jadi cewek ternyata, tiap bulan akan sakit gini?" tanya Rangga.


"Nggak semua cewek juga rasa sakitnya sama, ada yang bahkan lebih parah, atau biasa-biasa aja," ucap Filla berusaha menjelaskan.


Rangga mengangguk walau tanpa menoleh, "Jangan sakit lagi oke," ucap Rangga sambil menunjuk perut Filla.


Perlakuan Rangga tentu saja membuat wajah Filla memerah, "Ngga apaansih?" ucap Filla.


Rangga tersenyum, "Udah nggak anget airnya, mau aku minta lagi ke dalem?" tanya Rangga, mereka memang masih memarkirkan mobil di parkiran supermarket.


"Nggak usah, udah lumayan baikan kok," ucap Filla.


Rangga mengangguk, "Kita lanjut?" tanya Rangga membuat Filla mengangguk.


******


Terlihat mereka sedang berada ditaman belakang Vila, dengan udara dingin menyayat sampai tulang mereka masing-masing memakai jaket tebal.


Sejak pukul dua siang mereka sudah sampai di Vila, dengan alasan penat akhirnya mereka.menghabiskan setengah hari untuk beristirahat.


"Fill gimana rasanya nikah sama Rangga?" tanya Ola tiba-tiba sambil mengerlingkan mata.


"Harus banget nih kalian bahas-bahas pernikahan?" tanya Reya sambil memotong beberapa paprika yang akan mereka panggang.


"Tau, resek," ucap Iren menambahi.


"Bilang aja kalian iri," ledek Ola sambil tertawa kegirangan, sedangkan Filla hanya menggeleng melihat kelakuan ketiga sahabatnya.


"Yang harusnya di tanyain tuh Iren, masih lengket aja sama yang itu, biasanya cuma 24 jam nyerah," ledek Filla sambil menyenggol Iren.


"Nggak usah resek, entar kalau dia denger bisa-bisa gue diputusin, udah klop sama yang itu," bisik Iren membuat sahabat-sahabatnya tertawa.


Ola merangkul Iren, "Gue rasa sih Glen cowok yang baik, cocok," ucap Iren.


Iren menyingkirkan tangan Ola dari bahunya, "Bukan apa-apa nih, tangan lo bau daging woy," ucap Iren membuat Filla dan Reya tertawa.


Sedangkan Ola mencium tangannya, "Ih, iya ternyata," ucap Ola dengan polosnya menjauhkan tangannya dari tubuhnya sendiri. "Gue ke toilet dulu," Ola berlari masuk kedalam Vila menambah tawa sahabat-sahabatnya.


Iren masih memotong kentang dalam beberapa bagian, "Gimana Fill? Udah bisa buka hati?" tanya Iren.


Filla mengangguk pelan.


"Udah gue kira sih, mana tahan lo sama ketampanan Rangga," celetuk Reya membuat Filla menutup mulut Reya dengan cepat.

__ADS_1


"Sekalian aja ngomong pake toa Rey," ucap Filla kesal. Dirinya tak ingin Rangga mendengarkan apapun pembicaraan mereka.


"Sorry," ucap Reya sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


"Jadi gimana?" tanya Iren penasaran.


Filla menghela napas, "Ya gitu," ucap Filla membuat kedua sahabatnya menatap tajam karena mendapat jawaban singkat darinya.


"Apanih? Serius amat," Ola kembali duduk disebelah Filla.


"Lo dengerin aja, jangan berisik," ucap Reya lalu kembali menatap Filla.


"Ya apa? Bambang."


"Ish," Iren menyenggol sebal pada Ola, "Kita mau dengerin Filla, udah bisa buka hati atau belum buat Rangga," bisik Iren pada telinga Ola.


"Itumah nggak usah ditanya, yang perlu ditanya tu emang Filla pernah bisa nutup hati buat Rangga?" ucap Ola santai.


Iren dan Reya mengangguk mendengar ucapan Ola yang tidak ada salahnya.


"Kalian pada kenapa sih?" tanya Filla yang kesal mendengar ucapan Ola yang memang benar adanya, tapi mengenang usahanya selama tiga tahun yang tak berguna membuatnya tambah kesal.


"Bener kan? Selama ini tuh cuma gengsi yang ditutup sama kata move on," celetuk Ola.


"Nggak usah dipertegas juga Jubaedah," ucap Filla membuat Iren dan Reya tertawa sedangkan Ola mempautkan bibirnya.


Filla menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi, "Lumayan, seperti yang Ola bilang!" tekan Filla sengaja menyindir Ola. "Gue kayaknya emang nggak bisa move on, apalagi sikap Rangga sekarang romantis," ucap Filla akhirnya jujur.


"Romantisnya gimana? Mau denger, gimana seorang Rangga bermuka es batu bisa romantis."


Filla menceritakan beberapa sikap romantis Rangga sambil sesekali melirik pada Rangga yang asik memanggang daging didepan sana, dirinya takut Rangga akan mendengar obrolan mereka.


"Jadi pengen nikah," celetuk Iren sambil memangku wajahnya dengan kedua tangan saat Filla selesai bercerita.


"Pikirin aja dulu mau sama yang ini atau cari lagi," ledek Ola sambil mengusap wajah Iren.


"Ola!" teriak Iren sambil membenarkan rambutnya.


"Udah nggak bau daging jangan banyak alasan," ucap Ola santai membuat yang lain tertawa, beginilah jika mereka berkumpul, akan ada saja comedian yang muncul dadakan.


Iren hanya menatap sebal pada Ola.


"Nggak habis pikir gue, Rangga yang dingin itu bisa bersikap semanis itu," ucap Reya.


Filla hanya mengangkat kedua bahunya, "Jangan diliatin terus entar orangnya sadar," ucap Filla saat Reya menimang pemikirannya sendiri sambil melihat kearah Rangga.


Benar saja Rangga menoleh lalu mengangkat kedua alisnya mempertanyakan apa yang terjadi.

__ADS_1


Reya kelabakan lalu memilih tersenyum, lalu kembali berbalik menghadap Filla.


Rangga hanya menggeleng lalu kembali memanggang beberapa daging untuk mereka makan nantinya.


"Lo sih," Filla menampar bahu Reya.


"Ya maaf."


*********


Rangga menaruh daging pada piring Filla, dirinya bahkan tidak membiarkan piring Filla kosong sejak tadi.


"Udah Ngga, aku kenyang," bisik Filla.


"Kamu harus makan yang banyak," ucap Rangga lalu menambah sayur kedalam piring Filla.


Filla akhirnya memilih diam, membiarkan piringnya terisi lagi karena ulah Rangga.


Yang lain saling menaikkan kedua alis melihat keromantisan pasangan dihadapan mereka.


"Udah kali Ngga, bisa-bisa Filla gendut kamu paksa makan," ledek Ola.


Rangga tersenyum, "Yaudah nggak apa-apa," ucap Rangga santai.


"Emang bucin," ledek Iren membuat Filla menatap tajam padanya.


Rangga tertawa melihat wajah kesal Filla.


"Eh gimana butik kalian? Nggak apa-apa tuh ditinggal liburan padahal baru grand opening?" tanya Samuel mengalihkan pembicaraan.


"Aman, udah di tangani sama bos," ledek Filla pada Iren.


"Oh pasti," ucap Iren dengan santainya, "Kita mau tampil beda, sebelum kerja bagai kuda, maka liburan duluan," ucap Iren membuat yang lain tertawa termasuk Filla.


Samuel menjentikkan jari, "Gimana kalau kita kerja sama untuk nanganin wedding, kalian gaun kami foto preewed-nya" ucap Samuel. "Gimana Ngga?" tanya Samuel pada Rangga yang sibuk memperhatikan Filla makan.


"Boleh, kantor juga sering dapet klien yang pengen langsung dapet sepaket antara gaun sama foto preewed."


"Boleh tuh, gimana Fill?" tanya Iren semangat.


Filla mengangguk, "Bagus, aku oke-oke aja," ucap Filla.


"Oke, kita sekarang rekan kerja," ucap Iren semangat membuat Rangga dan Samuel tertawa.


"Udah kali bahas kerjaannya, bosen nih, main truth or drink yuk," ajak Ola.


*******

__ADS_1


__ADS_2