
Tangan Rangga terasa hangat menurut Filla, Filla malah memandang tanganya yang di genggam, ia sekarang tidak fokus dengan sekeliling, bahkan pada orang-orang yang berbisik memuji ketampanan Rangga.
Tidak bisa Filla pungkiri, mungkin dirinya munafik jika mengatakan sudah melupakan Rangga sepenuhnya, sekarang ia sadar, tidak ada yang berubah tentang perasaannya untuk Rangga.
Selama ini dirinya hanya membohongi perasaannya dan mensugestikan otaknya untuk mengatakan tidak pada semua tentang Rangga, namun di detik ini, ia tidak bisa berbohong kalau hanya tangan Rangga yang terasa seperti ini, bahkan tangan Vino tidak bisa membuatnya nyaman seperti sekarang.
"Hati-hati," ucap Rangga sambil menoleh pada Filla.
Filla mengangguk tanpa membantah, mengikuti langkah Rangga yang berada didepannya.
Akhirnya mereka sampai dipuncak, memang tidak banyak orang disini, mungkin hanya beberapa orang yang memberanikan diri untuk berdiri ditempat ini.
Filla menatap sebelah kanannya, dan betapa takjub dirinya melihat keindahan dibawah sana.
Filla melepas genggaman Rangga lalu mengedarkan pandangannya, menikmati angin yang bertiup menerpa rambutnya yang tergerai.
Rangga tersenyum melihat senyum Filla, tidak bisa ia pungkiri, terasa hangat, bahkan bersama Kania Rangga hanya merasa sebal selama ini, Rangga tidak bisa mengerti dengan dirinya sendiri.
"Bagus kan Fill," ucap Nindy sambil merangkul Filla.
Filla mengangguk, "Iya Kak, bagus banget," ucap Filla antusias.
"Yuk kita foto," ucap Nindy sambil menarik tangan Filla dan membawanya ke tulisan "I ❤️ Kulong Biru" dibelakang mereka.
Filla dan Nindy berpose didepan kamera yang dipegang Agra, kadang mereka berpelukan atau hanya tersenyum.
"Bagus nggak?" tanya Nindy menghampiri Agra dan melihat foto yang berhasil diambil Agra.
"Bagus," ucap Agra. "Yuk foto berempat," ucap Agra yang langsung meminta tolong seorang pria didekat mereka.
"Dua kali aja Bang," ucap Agra.
Mereka memposisikan diri, dan sekali lagi Filla merutuki posisinya, Rangga tepat disebelah kanannya sekarang dimana mereka berdua diapit oleh Nindy dan Agra.
"Deketan lagi," ucap pria yang memfoto mereka.
"Geser Fill," ucap Nindy yang berada disebelah kirinya. Alhasil jarak antara Filla dan Rangga memang sangat tipis, ditambah Agra yang ikut menggeser Rangga kearah Filla.
Filla hanya memasang wajah tersenyum tenang walau berbanding terbalik dengan jantungnya yang sedang berdisko.
"Dah, makasih Bang," ucap Agra yang diangguki pria tersebut.
__ADS_1
"Bagus nggak?" tanya Nindy yang langsung mendekati Agra.
"Bagus, entar aku kirimin," ucap Agra.
********
Filla menghela napas lalu mematikan laptop yang sengaja ia bawa hanya untuk nonton drakor, namun kali ini sepertinya drakor kurang menarik untuk Filla.
Ponsel Filla berdering, nama Reya muncul dilayar ponselnya, tanpa berpikir panjang Filla mengangkat telpon dari Reya.
Dirinya menempel ponsel tersebut ke telinga lalu menghempaskan diri dikasurnya, mumpung belum ada Tita, Filla bisa leluasa.
"Assalamualaikum, yang lagi liburan," ucap Reya dari seberang.
"Waalaikumsalam, kalau bisa mah gue di Bandung aja," ucap Filla sambil menghela napas.
"Loh kenapa? Bukannya lo semangat banget waktu tahu bokap lo ngajak ke Bangka, baru juga gue bersiap iri sama cerita lo," ucap Reya.
"Bukan gitu, gue seneng, seneng banget malah liburan di Bangka, selama dua hari disini gue mengunjungi banyak tempat yang menakjubkan, tapi-,"
"Tapi apaan? Rangga?" Tebak Reya.
Tentu saja tebakan yang tepat, Filla sudah terbiasa dengan Reya yang selalu peka dalam keadaan apapun apalagi tentang dirinya.
"Kenapa? Rangga ganggu proses move on lo?" tanya Reya, dan lagi-lagi tentu saja Filla membenarkan.
"Lo tahu lah gimana sulitnya situasi yang gue hadapin sekarang, gue capek Rey, otak gue selalu pengen semua ini selesai, tapi hati gue," ucap Filla terhenti, Filla menghela napas.
"Hmm," Reya bergumam. "Sekarang lo harus paham ada hati yang perlu lo jaga Fill," ucap Reya.
"Iya, itu yang buat gue tambah merasa bersalah," ucap Filla sambil menutup wajahnya dengan lengan, menghalangi cahaya lampu yang berada tepat diatasnya.
"Bukan salah lo, perasaan bukan kita yang ngatur, yang penting lo selalu jaga perasaan Kak Vino," ucap Reya.
"Kak Vino menghilang Rey, hampir 3 hari dia sulit dihubungi, kalaupun panggilan dari gue diangkat palingan satu menit dia cari alasan buat matiin," ucap Filla terang-terangan, terlalu sulit menyimpannya sendiri.
"Aneh, Kak Vino kan nggak pernah kayak gitu sama lo. Tapi mungkin karena dia sibuk."
"Semoga," ucap Filla.
"Intinya saran dari gue, berusaha move on jangan terpancing."
__ADS_1
Filla tersenyum miris walau Reya mungkin tak bisa melihatnya, "Andai semudah itu, mungkin hidup gue bakalan lebih indah," ucap Filla.
"Lo kan juga udah suka sama Kak Vino kalau gue lihat, tinggal di dalemin lagi aja perasaannya."
"Sampai sekarang juga gue belum tahu, perasaan buat Kak Vino adalah cinta atau cuma rasa nggak enak," ucap Filla mencoba jujur tentang perasaannya.
"Lo perlu jawaban atas pertanyaan lo sendiri Fill, cuma hati lo yang tahu," ucap Reya.
"Sejak kapan bijak?" ledek Filla sambil tertawa.
"Resek lu," ucap Reya, Filla bisa pastikan bagaimana wajah Reya yang sebal karena ledekannya, Reya memang tipikal orang yang sebal ketika dirinya serius sedangkan lawan bicaranya bercanda, namun Filla sangat menyukainya.
"Udah ah, gue mau ke kampus dulu, ada janji sama Bu Ines," ucap Reya.
"Makanya sama Dosen Pembimbing diselesein tuh, biar liburan tenang."
"Berhubungan sama dia juga liburan gue udah tenang," ucap Reya. "Resek, awas aja lu, yaudah da, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Filla menaruh ponselnya diatas kasur, lebih tenang ketika berbagi cerita dengan Reya.
Filla melihat hoodie yang tersampir di kursi, hoodie yang ia pakai saat jalan-jalan tadi siang, Filla tanpa sengaja melihat cokelat yang mengintip dari saku.
"Pengen, tapi kan dari Rangga," ucap Filla, sambil menggeleng.
Filla manatap coklat tersebut, bisa dikatakan coklat adalah hal yang tidak bisa Filla abaikan, sejak kecil Filla sangat suka dengan makanan manis itu.
"Nggak apa-apa lah, coklat nggak ada hubungannya sama Rangga," ucap Filla lalu berjalan dan meronggoh coklat tersebut.
Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Filla tidak bisa mengabaikan coklat tersebut, untuk alasan apapun.
"Akak, makan kata Bunda," ucap Tita dari ambang pintu. "Bagi Akak," teriak Tita saat melihat coklat ditangan Filla.
Filla menghela napas, "Tutup pintu dulu," ucap Filla dan Tita tanpa membantah menutupnya lalu berlari mendekati Filla.
Filla memotek coklat batang ditangannya, "Makan disini aja, jangan bawa keluar," ucap Filla.
"Kenapa?" tanya Tita penasaran sambil memakan coklat ditangannya.
"Nggak apa-apa entar pada minta," ucap Filla, padahal ia hanya tak ingin ketahuan Rangga.
Tita mengangguk tanpa membantah.
__ADS_1
*******