Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 200


__ADS_3

Filla mengangkat tangannya menghalangi sinar matahari dari cela jendela yang mulai menganggu tidurnya, sudah berlalu dua hari sejak keberangkatan Rangga ke Bali, dan dua hari pula Filla menatap kesal pada layar ponselnya yang tidak menampilkan satupun notifikasi dari Rangga seperti sekarang.


Filla menghela napas, Terakhir hanya Filla yang menelpon saat Rangga sampai di Bali, setelahnya hanya pesan singkat dari Rangga tentang hal-hal sepele yang sebenarnya tak perlu Rangga tanyakan menurut Filla.


"Kamu hanya peduli dengan lampu yang kamu pasang, nyebelin!" ucap Filla sambil menatap dan menunjuk lampu otomatis yang Rangga pasang dikamar mereka.


ponsel yang terabaikan berdering, membuat Filla refleks cepat mengambilnya, namun saat memeriksanya ia harus kembali kecewa, bukan pesan dari Rangga melainkan Iren yang memintanya untuk segera ke Butik.


"Ih terserah!" ucap Filla kesal sambil melempar ponselnya, lalu kembali menarik selimut sampai menutupi wajah dan berteriak tertahan sambil menendang kesal selimut yang menutupi kakinya.


********


"Beres juga akhirnya," ucap Iren sambil berkacak pinggang.


Mereka sudah menyelesaikan meeting yang selalu Iren wanti-wanti sejak lama, bagaimana tidak? Klien mereka kali ini adalah salah satu Artis papan atas yang selera busananya sudah menjadi PR untuk para Designer.


"Gue hitung-hitung udah 20 kali lebih lo menghela napas, kayak orang kehilangan semangat hidup," celetuk Iren yang sudah duduk dikursi sebelah Filla.


Filla mengangkat punggungnya dari senderan kursi, "Apaan? Biasa aja," jawab Filla, tak mau mengakui ucapan Iren.


Iren memutar bola mata malas, "Jangan bilang karena Suami lo yang baru pergi DUA HARI?" ucap Iren penuh penekanan seolah menyindir Filla.


"Walau baru dua hari dia nggak ngabarin gue sama sekali," ucap Filla kesal akhirnya.


Sekarang malah Iren yang menghela napas, "Ngaku juga akhirnya," sindir Iren sambil menyenggol pelan kaki Filla.


"Apasih!" Filla menjauhkan kakinya dari Iren, menatap kesal pada Iren.


Iren menyenderkan punggungnya ke senderan sofa, "Makanya kalau orangnya didepan mata langsung karungin, ini banyakin gengsi."


"Gue bukan lo ya, cowok manapun digebet," celetuk Filla sambil menjulurkan lidahnya.


Iren memajukan tubuhnya, "Eh enak aja, gue tipe setia setelah ketemu sama Glen," ucap Iren dengan bangga.


"Ya gue harap," celetuk Filla.


"Kembali ke topik, apaansih yang lo galau-in dari perginya Rangga yang cuma DUA HARI ITU?" tanya Iren penuh sindiran.

__ADS_1


"Udah kali nyindirnya," ucap Filla sambil memutar mata malas, "Gue tuh sebel sama Rangga, tinggal ngabarin doang susah banget, tapi kalau lagi deket aja, nempel mulu."


Iren kembali menyenderkan punggungnya, lalu melipat kedua tangannya, "Paling sibuk, lo kan tahu perusahaan suami lo maju begitu pesat dalam beberapa bulan terakhir."


"Emang jarinya patah? Nggak usah chat deh, telpon aja jarang, sekalinya telpon malah sibuk nanyain lampu, mati lampu juga nggak."


Iren tertawa, "Uh sahabat gue, cinta mati nih sama suaminya," Iren dengan gemas mencolek dagu Filla.


Filla menepis tangan Iren, "Seneng lo ya, guenya bad mood."


"Udah ah, Rangga tuh paling sibuk, Rangga mah bucin sama lo."


Sekarang malah Filla yang menyenderkan punggungnya pada senderan sofa, "Gue jadi parno, kejadian dulu terulang lagi, Vino kan juga gitu dulu, tiba-tiba dingin akhirnya malah ngehamilin anak orang, jangan-jangan Rangga jug...,"


Ucapan Filla terhenti ketika tangan Iren dengan tanpa dosa menutup mulut Filla.


Filla memberontak, "Apasih Ren!" geram Filla sambil melepas tangan Iren dari mulutnya.


"Omongan itu doa Filla, Rangga beda sama si Vino-Vino itu, lo kan tau sendiri Rangga gimana, walau terlambat sih sadar cinta sama lo."


"Habisnya tingkah mereka sama kalau lagi jauh, ngeselin."


Filla melempar bantal tepat mengenai wajah Iren.


"Sumpah lo ya, FILLA!" belum sempat Iren membalas lemparan Filla, klien mereka sudah menyapa duluan, membuat Iren menahan dirinya dan kembali tersenyum melayani klien, tapi tetap saja tatapan penuh dendam ia tujukan pada Filla.


Filla tak bisa menahan tawanya melihat sahabatnya menahan kesal atas dirinya, "Si jahil yang nggak mau dijahilin, ya itu elo Ren," ucap Filla pada dirinya sendiri.


*******


Filla menutup buku sketsa desainnya dan memandang kearah jam dinding yang berada tepat disampingnya, sejak dua jam lalu dirinya menyibukkan diri membuat sketsa busana.


Suara ketukan pintu membuat Filla menoleh, "Masuk Bi," ucap Filla seolah tahu siapa yang mengetok pintu kamarnya.


"Non, susunya mau sekarang?" tanya bi Salamah.


Filla menggeleng, "Bibi istirahat aja, nanti aku bikin sendiri," ucap Filla ramah tak lupa dengan senyuman khasnya.

__ADS_1


"Ok Non, Bibi ke belakang dulu, nanti kalau ada apa-apa, biasa..." bi Salamah mengerlingkan matanya pada Filla, "Panggil Bibi," lanjut bi Salamah lengkap dengan tawanya.


Filla ikut tertawa dengan tingkah bi Salamah, "Siap," Filla meletakkan tangannya di dahi, seolah memberi hormat pada bi Salamah.


Masih dengan tawanya bi Salamah meninggalkan kamar Filla, membuat Filla kembali membalik badannya.


Filla beranjak dari duduknya lalu mengambil ponselnya yang berada diatas meja, dirinya merebahkan tubuh diatas kasur, senyumnya merekah saat nama Rangga muncul dilayar ponselnya, seolah tahu Filla memang tengah menunggu panggilan darinya.


"Hallo," ucap Filla jutek walau senyum belum lepas dari wajahnya.


"Kamu lagi ngapain? Aku baru selesai kerja." ucap Rangga tanpa perlu ditanya.


Filla menghela napas, ucapan Rangga setiap hari seperti skrip naskah yang Filla hapal, "Masih inget ada istri nih," celetuk Filla bermaksud menyindir.


Terdengar kekehan diseberang, "Ingetlah masak nggak sayang, kenapa kok jutek? Tapi kapan kamu nggak jutek ya."


"Enak aja! Kamu tuh nelpon jarang, sekalinya nelpon nanyain lampu lah, mobil lah, rumah udah dikunci atau belum, nggak penting banget," akhirnya Filla berhasil mengeluarkan unek-unek yang telah ia tahan hampir 5 hari ini.


Rangga tertawa pelan, "Kamu lagi dateng bulan ya?" tanya Rangga.


"Apasih? Malah ngaur kan, emang punya suami nggak jelas!" ucap Filla sebal.


"Yaudah, kamu lebih baik instirahat, pasti capek kan, lagian lagi dateng bulan gitu pasti maunya marah-marah."


Filla menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap tak percaya pada layar ponsel yang menampilkan foto Rangga dan dirinya.


"Da istri, suami mau mandi dulu," ucap Rangga.


Filla tanpa menjawab langsung mematikan panggilan dari Rangga dan melempar ponselnya keatas sofa sebelah kasur.


Dirinya menghapus cairan bening yang perlahan membasahi pipinya. Tanpa berucap Filla menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut, entah apa yang ia rasakan sekarang hanya saja sekarang Filla menangis dalam diam.


*****


Hai semua...


gimana kabarnya, makasih udah pada nungguin dan nanyain terus kapan kisah Rangga dan Filla kembali Up, semoga suka lanjutannya....

__ADS_1


jangan lupa tinggalin jejaknya ya.....


__ADS_2