
Filla menyesap lemon tea yang sudah ada sejak tadi didepannya, Sekarang Filla bersama beberapa teman seangkatannya mengadakan pertemuan.
Kali ini dirinya duduk dengan beberapa mahasiswa yang ia kenal dan sisanya adalah mahasiswa jurusan lain namun masih satu angkatan, termasuk Rangga yang sekarang duduk dihadapannya.
"Fill gimana desain lo yang waktu itu? diterima dong?" tanya Vika teman satu jurusan dengan Filla.
Filla mengangguk, "Sempet takut nggak diterima sih, desain lo?" tanya Filla sambil mengangkat kedua alisnya.
Vika menggeleng, "Ngulang gue, enak jadi lo," ucap Vika sambil menaikkan kedua bahunya.
"Sebentar, bisa nggak usah bahas tugas? gue mumet," ucap Agam menambahi membuat semua orang tertawa.
"Oke sorry," ucap Vika sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Filla, lo seharusnya udah semester 7 kan?" tanya Alika yang duduk disebelah kiri Filla.
Semua menatap kearah Alika.
"Ada yang salah? Gue cuma mau tahu aja, nggak apa-apa kan Filla?" tanya Alika menatap Filla meminta dukungan.
Filla mengangguk, "Iya, harusnya udah semester 7," jawab Filla santai.
Ada beberpa orang menatap Filla, mungkin baru tahu tentang Filla dari Alika barusan.
"Lo nggak lanjutin waktu tiga tahun yang lalu kenapa?" tanya Alika masih nyaman dengan pertanyaannya.
"Ada urasan pribadi," jawab Filla sekenanya.
"Padahal sayang banget, coba kalau lo langsung kuliah, kan udah mau lulus."
Rangga memajukan badannya, "Urusannya sama lo?" tanya Rangga menatap Alika tajam.
Semua mata menatap Rangga.
"Maaf, nggak maksud apa-apa cuma nanya," ucap Alika sambil menunduk.
Salma yang duduk disebelah Alika menggosok punggung Alika menenangkan, "Santai Ngga, dia cuma nanya," ucap Salma kesal dengan sikap Rangga.
"Gue nggak bodoh untuk tahu alasan dia bertanya," ucap Rangga.
"Udah Ngga, kenapa sih?" Filla meraih tangan Rangga menenangkan.
Rangga sempat ingin menentang ucapan Filla namun tatapan Filla membuatnya memilih mengalah.
"Oke, pindah topik yok, kan kumpul pengen tambah akrab bukan adu urat," ucap samuel.
Semua tertawa dan kembali memecahkan suasana. Sedangkan Alika memilih diam dan menunduk selama acara.
******
Filla berjalan keluar dari toilet sampai tangannya ditahan Alika.
"Fill masalah tadi Sorry ya," ucap Alika dengan wajah penuh harap.
Filla tersenyum, "Nggak apa-apa kok, Maaf juga ya soal Rangga," ucap Filla.
__ADS_1
"Rangga? Nggak ada hubungannya sama lo sih, kan Rangga cuma berpendapat," jawab Alika dengan senyumannya.
Filla tersenyum paksa penuh tanya dengan ucapan Alika, "Yaudah gue duluan," ucap Filla lalu melangkah kembali kemejanya setelah mendapat anggukan dari Alika.
"Udah?" tanya Rangga saat Filla kembali duduk didepannya.
Filla mengangguk.
"Filla awas," ucap Rangga yang langsung bergerak cepat melindungi Filla dengan tubuhnya.
Teriakan semua orang memenuhi ruangan, membuat Filla terpejam sampai gerakan Rangga membuatnya menoleh pada tangan kanan Rangga yang melindunginya.
"Ngga," panggil Filla saat menatap wajah Rangga yang begitu sangat dekat dengan dirinya menahan nyeri.
Tangan Rangga memerah setelah kuah sup yang Samuel pesan menyiram tangan Rangga tanpa sengaja.
"Maaf Mas," ucap pelayan yang membawa sup tersebut sambil menunduk ketakutan.
semua mata menatap kejadian tersebut.
"Lo ngak apa-apa kan Fill?" tanya Rangga memastikan.
Filla menggeleng, "Tangan lo," ucap Filla sambil meraih tangan Rangga yang memerah.
"Nggak papa," ucap Rangga walau terlihat jelas wajahnya menahan perih.
Semua orang terdiam.
"Maaf mas, saya benar-benar nggak sengaja," ucapa Pelayan masih menunduk.
Filla dengan sigap membersihkan tangan Rangga dengan tisu, "Kita kedokter," ucap Filla khawatir.
"Nggak perlu Fill, cuma luka ringan."
"Gue bilang kedokter Rangga!" bentak Filla. membuat semua orang menatap padanya.
Filla tanpa aba-aba menarik Rangga keluar dari restoran, "Masuk," ucap Filla tanpa mau dibantah saat mereka sampai diparkiran mobil.
Rangga mengangguk, membantah pada Filla saat ini sama saja dengan mengantarkan nyawa.
"Ngapain sih Ngga pake ngelindungin kayak tadi, luka tangan lo," ucap Filla saat dirinya menjalankan mobil.
Rangga tersenyum, "Khawatir ni?" tanya Rangga menggoda Filla.
"Gue serius Ngga."
"Kalau nggak gue tahan lo yang bakalan kena, kan nyusahin entar," ucap Rangga membuat Filla menampar tangan Rangga.
"Woy masih sakit," Rangga memegang tangannya.
"Ya Sorry, abisnya lo," ucap Filla.
******
"Tidak ada yang serius, hanya luka bakar ringan, nanti saya kasih resep salep olesin 2 kali sehari," ucap Dokter menjelaskan.
__ADS_1
Rangga dan Filla mengangguk.
"Pacarnya khawatir sekali mas," goda suster yang sejak tadi berdiri disebelah dokter.
Rangga dan dokter menahan senyumnya.
"Bukan pa-," ucap Filla terhenti.
"Iya Sus, anaknya emang suka khawatiran," jawab Rangga sambil menahan tawanya sambil mengusap puncak kepala Filla.
"Apaan si ng-," Filla menghela napas, membantah sekarang sama saja tidak ada gunanya.
"Ini mas, semoga cepat sembuh," ucap dokter memberikan catatan resep pada Rangga.
Setelah pamit dengan dokter Filla dan Rangga berjalan menuju tempat menebus obat.
"Nggak di papah?" tanya Rangga.
Filla menatap malas, "Yang sakit tangan lo bukan kaki," ucap Filla sambil menunjuk kaki Rangga.
"Tapi orang sakit harus tetep dipapah," ucap Rangga sambil mengulurkan tangan kirinya.
Filla hanya menghela napas namun tetap mengikuti keinginan Rangga, "Tuh duduk," ucap Filla sambil membantu Rangga duduk dikursi tunggu.
"Makasih," ucap Rangga tak melupakan senyumannya.
"Ganteng banget," ucap dua perempuan yang duduk tak jauh dari Rangga dan Filla.
Filla menoleh, menatap sengit dua perempuan yang melambai pada Rangga dengan genitnya, "Nggak usah diladenin kali," ucap Filla kesal.
Rangga langsung mengalihkan pandangannya dari kedua gadis itu, ia langsung duduk menghadap Filla, "Cemburu?" tanya Rangga dengan nada menggodanya.
"Apaansih?" Filla membuang wajahnya dari Rangga.
"Rangga Aditya," panggil apoteker sambil menyusun obat untuk Rangga.
Rangga ikut bangkit saat Filla beranjak.
"Gue aja," ucap Filla lalu berjalan menemui apoteker.
2 menit berlalu Filla mendekati Rangga yang diam tanpa mau menoleh sekeliling, Filla tak bisa menahan tawanya, "Yuk," ucap Filla sambil merangkul Rangga.
"Yah udah mau pergi," ucap salah satu gadis yang sejak tadi memanggil Rangga.
Filla langsung berbalik dan menoleh, "Ganjen banget sih," ucapnya sengit membuat kedua gadis itu menunduk malu.
Rangga menahan tawanya melihat tingkah laku Filla, "Cemburu ni?" tanya Rangga dengan nada mengoloknya.
"Kegeeran banget lo," ucap Filla.
Filla memapah Rangga keluar dari rumah sakit, saat mereka berada di lobby rumah sakit Filla melepaskan rangkulannya pada Rangga.
"Tunggu, gue ambil mobil," ucap Filla lalu berlari menuju parkiran saat mendapat anggukan dari Rangga.
Tak menunggu lama Filla kembali turun dan merangkul Rangga masuk kedalam mobil walau sebenarnya sangat tidak diperlukan, hanya Rangga saja yang yang sangat manja pikir Filla.
__ADS_1
******