Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 95


__ADS_3

Filla berlari kecil menuju rumahnya sampai pergelangan tangannya terasa ditarik seseorang, membuatnya berhenti tepat disebelah ayunan halaman depan rumah.


Filla berbalik "Rangga?" Filla membulatkan pandangannya.


"Maksud lo bersikap kayak gitu ke Kania apa?" tanya Rangga to the point, dengan ekspresi yang tentu saja tidak enak dilihat menurut Filla.


Filla mengerutkan alis, "Maksudnya?" tanya Filla, karena benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Rangga.


Rangga memutar bola mata malas, "Kania minta maaf sama lo dan lo pergi gitu aja, lo nggak mikirin perasaan dia?" tanya Rangga geram.


Filla memegang tiang ayunan disebelahnya, ia berusaha bertopang pada tiang itu, tubuhnya terasa lemas, perutnya masih saja terasa melilit.


"Terus lo mikirin perasaan gue? Kenapa harus gue yang selalu mikirin semua mau lo?" tanya Filla, ia benar-benar geram mendengar semua ucapan Rangga.


"Mikirin perasaan lo? Buat apa? Karena kita tetanggaan? Atau karena orang tua kita deket?" tanya Rangga menuntut jawaban.


"Karena gue cinta sama lo!" Filla membuang pandangannya, ia berusaha keras menahan airmatanya yang sudah menggenang.


Rangga terdiam lalu menghembuskan napasnya, "Terus salah gue kalau lo suka sama gue?" tanya Rangga sedikit menurunkan suaranya.


Filla memberanikan diri menatap Rangga, "Nggak," ucap Filla sambil menggeleng. "Salah gue, terlalu bodoh," ucap Filla lalu berjalan masuk kedalam rumah dan menutup pintu.


Rangga berdiri mematung didepan rumah Filla. sampai tubuhnya terdorong kedepan karena senggolan kuat dibahunya.


"Sorry gue nggak sengaja," ucap Vino yang langsung berlari menuju pintu rumah Filla. "Dek," panggil Vino sambil mengetuk pintu beberapa kali.


Filla yang terduduk didepan pintu didalam sana, menangkupkan wajahnya diatas lutut, ketukan pintu dari Vino untuk sementara ia abaikan, Filla harus menormalkan rasa sesak yang ia rasa saat mendengar ucapan dari Rangga. Rangga bukan lagi orang yang ia kenal.


"Dek buka, kamu nggak apa-apa? Kata mamamu kamu lagi sakit?" tanya Vino dengan nada khawatir.


Mendengarnya Rangga juga ikut menatap khawatir pada pintu rumah yang masih tertutup.


"Dek ayolah," pinta Vino frustasi sampai terdengar suara pintu terbuka. Vino langsung menarik Filla dalam pelukannya. "Kamu jangan bikin khawatir," ucap Vino sambil melepas pelukannya dari Filla, namun Filla menahan agar Vino tetap memeluknya.


Filla tak bisa melihat lagi wajah Rangga yang ada dibelakang Vino, hatinya tidak akan sangup, "Please bawa aku masuk tapi tetep sembunyiin aku," ucap Filla pelan.


Vino yang mengerti membawa Filla masuk dan menutup pintu tanpa memperdulikan Rangga yang masih berdiri mematung sambil mantap kearah mereka dengan wajah datarnya.


Vino melepas pelukan Filla dan memegang bahu Filla, "Kenapa? Kamu sakit?" tanya Vino dengan nada khawatir yang terdengar jelas.


Filla mengangguk, didepan Vino ia tak bisa menyembunyikan tangisnya, Filla menangkup wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


Vino menarik Filla dalam pelukannya, "Nangis, keluarin semuanya, tapi setelah ini jangan pernah nangis lagi," ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.


Filla menumpahkan semuanya didada bidang Vino, terasa hangat, Vino memang sosok ternyaman menurut Filla, ia butuh seseorang seperti Vino sekarang.


******


"Gimana perutnya?" tanya Vino.


Mereka berdua sekarang duduk diruang keluarga, setelah Filla menangis hampir 1 jam akhirnya mereka saling diam sampai Vino membuka suara.


Filla merutuki dirinya yang menangis didepan Vino tanpa rasa malu.


"Aku malu," ucap Filla jujur sambil menunduk.


Vino menhan senyumnya, "Kenapa harus malu? Dari kecil juga kamu udah cenngeng," ledek Vino sambil tertawa.


"Ya beda konsep Kak," ucap Filla kesal.


Vino tertawa, "Oke, oke," ucap Vino mengalah. "Jadi gimana perutnya?" tanya Vino masih khawatir dengan kondisi Filla.


Filla tersenyum, "Aman."


Filla menatap Vino, "Kakak nggak penasaran kenapa aku nangis?" tanya Filla penasaran.


Vino mengalihkan pandangannya ke Filla, "Penasaran, cuma semua orang tentu punya privasi, jadi kakak sebagai pendengar ikut kamu aja, mau berbagi atau nggak," ucap Vino.


Filla menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap kagum pada Vino.


"Kenapa?" tanya Vino sambil mengerutkan alisnya.


"Pantesan cewek di kampus kelepek-kelepek sama Kakak, Kakak keren," ucap Filla sambil memberikan dua jempol pada Vino.


Vino tertawa, "Kamu nggak kelepek-kelepek sama Kakak?" tanya Vino.


"Kalau aku bukan adik Kakak keknya udah jatuh hati sama Kakak," ucap Filla gamblang.


Vino terdiam, "Kita bukan Kakak adik," ucap Vino lalu kembali menatap layar TV.


Filla menatap Vino, ia juga ikut terdiam dengan jawaban dan reaksi Vino, tapi Filla menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum, "Jahat banget, kan aku mau kakak cowok," ucap Filla dengan manja bergelayut ditangan Vino.


"Dasar adek bawel," ucap Vino sambil mengacak rambut Filla.

__ADS_1


"Aku mau cerita," ucap Filla akhirnya menatap serius Vino.


Filla akhirnya menceritakan semua tentang hidupnya yang terasa dipermainkan, tentang Rangga yang selalu berperan melupakan.


Vino sempat terdiam beberapa saat, butuh waktu untuk ia menerima cerita Filla yang tidak bisa dipecahkan dengan logika.


"Kak," panggil Filla setelah Vino lama terdiam.


Vino menoleh sambil mengangkat alis walau tatapannya masih kosong.


"Kakak," Filla menggoyang lengan Vino sampai Vino menoleh kearahnya. "Aku nggak bohong," ucap Filla meyakinkan.


"Aku nggak bilang kamu bohong, cuma aku belum bisa anggep cerita kamu hal yang biasa," ucap Vino jujur.


Filla mengangguk, "Kakak aja yang denger cerita, nggak terima, apalagi aku yang jalanin, kek mau pecah nih kepala," ucap Filla sambil mengacak rambutnya.


Vino tersenyum lalu merapikan rambut Filla, "Ada hikmah dibalik setiap kejadian dek, kamu hebat melalui semuanya," ucap Vino.


Filla tersenyum, "Makasih Kak," Filla memeluk Vino dengan erat begitupun sebaliknya.


******


Setelah kejadian malam dimana Filla mengeluarkan perasaannya pada Rangga, Filla tidak pernah menjumpai Rangga, terhitung sudah 3 hari lamanya, entah karena keadaan atau memang Rangga menjauhinya masih menjadi pertanyaan besar untuk Filla.


Filla mematung saat tanpa sengaja berpapasan dengan Rangga dan Kania yang berjalan kearahnya sambil bergandengan, Filla menarik napas dan menghembuskannya, mau bagaimanapun ia tak bisa selamanya sembunyi dari tatapan Rangga, ia tidak bersalah sampai harus bersembunyi dengan bodoh.


"Filla," panggil Kania sambil tersenyum.


Filla membalas senyuman Kania, "Hai," sapa Filla seadanya.


"Fill, soal malem itu gue minta maaf, gue beneran nggak sengaja, nggak ada maksud buat numpahin air digelas itu ke lo, " ucap Kania.


Filla mengangguk, "Iya nggak apa-apa," ucap Filla sambil tersenyum. Filla sempat melirik Rangga, namun Rangga tetap membuang muka jika tanpa sengaja berpapasan pandangan dengan Filla, seolah Filla adalah akar dari semua masalah.


"Tapi beneran nggak apa-apa? Soalnya malem itu lo langsung pergi, gue jadi ngerasa bersalah, yakan Ngga?" tanya Kania yang langsung meraih anggukan Rangga.


Filla memaksa senyumnya, ucapan Kania seolah menyudutkannya dan Filla menyadari hal itu, "Nggak apa-apa, malem itu gue nggak sempet jawab permintaan maaf lo karena buru-buru," ucap Filla jujur.


"Syukur kalau lo nggak marah, cuma agak kesel aja waktu itu lo langsung pergi," ucap Kania sambil bergelayut manja di tangan Rangga, seolah sengaja memamerkan kemesraannya didepan Filla.


******

__ADS_1


__ADS_2