
"Ma ngapain dipajang coba? Dan dari sekian banyak foto kenapa pilih yang ini?" tanya Filla kesal saat mama memajang fotonya bersama Rangga dimeja bawah tangga.
Memang mama juga memajang foto lain, foto mereka berenam disebelah fotonya bersama Rangga, namun Filla tak habis pikir bagaimana mama bisa memajang fotonya bersama Rangga yang saling tatap.
"Nggak apa-apa Kak, lucu aja liatnya, cuma sama Rangga juga," ucap mama merapikan foto tersebut yang sudah lengkap dengan bingkainya.
Filla menghela napas, ya karena itu sama Rangga, batin Filla. Jika sudah seperti ini maka tidak akan ada yang bisa merubahnya.
"Nggak apa-apa Fill, lucu kok, yakan Tan?" ucap Iren lalu meleletkan lidahnya meledek Filla.
Filla menatap Iren sebal, bukannya membela Iren malah bersekongkol dengan mama.
"Benerkan lucu, waktu Mama cetak orang-orang pikir foto prewedding malahan, kan Mama jadi ketawa dengernya," ucap mama sambil tertawa.
"Pada nggak jelas ih," Filla berjalan kedapur meninggalkan mama dan Iren yang sibuk dengan foto Filla dan Rangga.
Filla membuka kulkas dan meneguk air putih setelah menuangkannya didalam gelas.
"Assalamualaikum, Kak Illa," panggil Frida yang berjalan masuk kedalam dapur.
"Waalaikumsalam Dek, masuk," ajak Filla sambil tersenyum. "Kenapa?" tanya Filla.
Frida tersenyum sambil mengambil coklat di toples atas meja, "Bunda ngajakin Kakak bikin kue," ucap Frida.
"Oh," Filla mengangguk. "Entar Kakak kesana sama Kak Iren, Kakak mau ganti baju dulu," ucap Filla.
Frida mengangguk, "Oke, aku pulang dulu, makasih coklatnya," ucap Frida sambil berjalan keluar setelah meraih anggukan Filla.
"Aduh, ketemu Rangga dong? Tapi kan kue Bunda enak," ucap Filla pelan sambil memijat dahinya. "Bodoh amat, cuma bikin kue," ucap Filla yakin.
********
"Assalamualaikum," ucap Filla dan Iren berbarengan.
"Waalaikumsalam Kak, masuk," ucap ayah yang berpapasan dengan mereka di pintu masuk.
Filla menyalami ayah diikuti Iren, "Ayah mau ngantor?" tanya Filla.
"Iya Kak, biasa cuma ngecek yang di cabang," ucap ayah. "Masuk gih, Bunda udah nungguin dari tadi," ucap ayah.
Filla tersenyum, "Ayah hati-hati di jalan," ucap Filla yang meraih anggukan ayah.
Mereka masuk kedalam rumah setelah mobil ayah meninggalkan pekarangan.
"Lo deket banget ya Fill, sama keluarga Rangga," ucap Iren saat mereka masuk keruang tamu.
Filla mengangguk, "Lumayan, seperti yang gue ceritain, gue pernah tinggal disini walau cuma gue yang inget," ucap Filla.
"Kadang gue masih percaya nggak percaya, cuma lo yang ngalamin dan gue lihat bertapa nggak maunya lo tersakiti lagi, nggak ada alasan gue buat nggak percaya," bisik Iren.
__ADS_1
Filla tersenyum, mereka masuk kedalam rumah dan mendapati Rangga sibuk dengan beberpa foto diatas meja.
"Assalamualaikum Rangga," sapa Iren membuat Rangga menoleh.
"Mau bikin kue?" tanya Rangga yang langsung meraih anggukan antusias Iren sedangkan Filla hanya berdiri disebelah Iren tanpa berucap.
"Kebetulan," ucap Rangga lalu memilih beberapa foto dan membawanya mendekati Filla dan Iren.
Filla mengerutkan kening saat foto tersebut dijejerkan Rangga dan diperlihatkan kearahnya.
"Pilih 2 dari 4 foto ini," ucap Rangga.
"Lo nyuruh gue?" tanya Filla sambil menunjuk dirinya
Rangga menghela napas, "Siapa lagi? Ayo pilih," pinta Rangga sedikit memaksa.
"Udah pilih aja," ucap Iren sambil menyenggol bahu Filla.
"Nggak tau gue, pilih aja sendiri, atau nggak, suruh Iren tuh," ucap Filla sambil melipat tangan.
"Ya Allah, ketimbang tinggal milih," ucap Rangga.
"Ya kenapa nyuruh gue?"
"Aku bingung, foto-foto ini mau di kirim ke klien."
Rangga menghela napas, "Ini sama ini, udah kan?" ucap Filla lalu menarik Iren menuju dapur.
"Lucu banget kalian berdua," ucap Iren.
"Nggak ada lucu-lucunya."
Iren hanya tertawa sambil menggeleng.
"Eh Kak, sini Bunda tadi udah duluan buat nastar kamu suka kan?" ucap bunda sambil mengangkat beberapa nastar dari panggangan.
Filla tersenyum lalu mendekati bunda, "Suka banget lah Bun, kue Bunda juara pokoknya," ucap Filla sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Ayo dimakan aja, Filla, Iren juga," ucap bunda.
"Enak Bun, seperti biasa," ucap Filla.
"Iya Bun enak banget malah," tambah Iren.
"Alhamdulillah kalau enak."
Filla membantu bunda membuat beberapa kue, "Kenapa nggak buka toko kue aja Bun, pasti laris," ucap Filla sambil mengaduk beberapa bahan yang bunda masukkan.
"Bunda belum cerita ya? Bunda udah buka toko kue Kak, udah jalan 7 bulanan," ucap bunda.
__ADS_1
Filla membulatkan matanya, "Serius? Kok nggak ada yang kasih tahu Filla sih? Kan pengen mampir dan coba semua buatan Bunda.
"Lupa Bunda Kak, besok deh Bunda ajak kesana, nggak jauh dari Kampus kalian Kak rukonya," ucap bunda.
"Oya? Pengen pergi pokoknya, besok kita berdua kesana Ren," ucap Filla yang meraih anggukan antusias Iren.
"Bunda ada tamu," ucap Rangga dari ambang pintu.
"Yaudah, kamu tolong angkat kuenya paling 3 minit lagi mateng," ucap bunda.
"Filla sama Iren aja nggak apa-apa Bun," ucap Filla sambil menaburkan keju diatas kue yang sudah dibentuk.
"Jangan, nanti kalian luka lagi," ucap bunda sambil melepas apron birunya.
"Jadi kalau Rangga nggak apa-apa luka gitu?" tanya Rangga.
Bunda tertawa, "Abang kan laki, udah ah Bunda nemuin tamu dulu," ucap bunda lalu meninggalkan dapur.
"Gue denger perusahaan photografi lo terkenal banget ya Ngga? Keren dong udah jadi pengusaha muda," ucap Iren.
Rangga tersenyum, dirinya menyender di dinding sebelah kulkas, menunggu oven bunda berbunyi, "Alhamdulillah," ucap Rangga sekenanya.
Nada dering ponsel Filla terdengar memenuhi seluruh penjuru dapur, Filla meletakkan mixer, dan meronggoh saku celana yang ia kenakan.
"Gue angkat telpon dulu," ucap Filla pada Iren, lalu berjalan keluar dari dapur setelah meraih anggukan Iren.
Selang beberapa menit Filla kembali masuk kedalam dapur, sampai saat diambang pintu, Filla melihat keakraban Iren dan Rangga dengan saling lempar tepung.
Filla membuang semua pikirannya, berjalan masuk dan berdiri didepan meja, memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.
"Siapa?" tanya Iren saat menyadari kehadiran Filla
Filla mengikat rambutnya yang mulai berantakan, "Albern," jawab Filla sekenanya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Rangga ikut menoleh pada Filla.
Iren mengangguk berulang, "Kayaknya mereka nggak sabar nunggu lo liburan. Atau takut lo nggak balik lagi kayak gue."
Filla tersenyum, "Mereka cuma minta salinan laporan bulan lalu kok," ucap Filla sambil menuang adonan didalam loyang kue.
"Hmm," dehem Iren.
"Iren bakalan stay di Jakarta?" tanya Rangga, berusaha masuk di pembicaraan Filla dan Iren.
"Iya, gue mau bangun usaha sendiri,"
"Kamu Fill?" tanya Rangga.
Filla mengerutkan kening saat Iren dan Rangga menatapnya, "Mungkin akan terus di Milan."
__ADS_1
********