
Filla melepas sabuk pengamannya lalu ikut keluar dari mobil seperti Rangga, Filla menatap sekeliling, tempat yang cukup strategis, pilihan Rangga patut diacungi jempol pikir Filla.
Rangga berjalan mendekati beberapa spot, dirinya mengambil beberapa gambar, "Gimana?" tanya Rangga sambil memperlihatkan pada Filla layar kameranya.
Filla mengangguk, "Bagus, hebat juga lo," ucap Filla.
Rangga tertawa, "Aku selama ini cuma belajar tentang motret, kalau nggak hebat baru patut dipertanyakan."
Filla mengangguk tanpa mau membantah atau menambahi ucapan Rangga, "Ngga disana," ucap Filla yang sudah berjalan cepat mendekati taman bermain.
Rangga mengikuti langkah Filla, "Kamu mau main atau survey tempat?" tanya Rangga yang ikut duduk di ayunan sebelah Filla.
"Nyantai bentar apa salahnya, kita dari tadi udah dipusingin sama konsep yang Lina mau, istirahat bentarlah."
Rangga tersenyum, lalu mengalungkan kembali kameranya dileher.
Filla melirik arloji dipergelangan tangan Rangga, Rangga masih memakainya sampai sekarang, bahkan Filla yakin arloji itu tidak pernah lepas dari tangan Rangga, "Kenapa masih pakai itu?" tanya Filla memberanikan diri, dirinya tak habis pikir saja, Rangga bisa saja membuangnya setelah mereka memutuskan untuk saling melupakan.
Rangga menaikkan kedua alisnya seolah bertanya lalu mengikuti arah pandang Filla, "Jam tangan?" tanya Rangga yang meraih anggukan Filla. "Kan kamu yang kasih."
"Iya tahu, tapi lo bisa buang kapan aja.
"Kenapa harus dibuang?" ucap Rangga balik bertanya.
Filla mengayunkan ayunannya, "Karena nggak penting."
"Siapa bilang nggak penting? Berkat jam ini aku selalu tepat waktu, sayangnya masalah hati aku terlalu lamban," ucap Rangga tanpa menoleh pada Filla.
Filla menghela napas, "Yuk, entar makin sore," ucap Filla beranjak dari duduknya, bukan tanpa alasan dirinya menyudahi obrolan yang akhirnya akan menciptakan harapan itu lagi.
Rangga memegang tangan Filla, "Harus kamu selalu menghindar? Kamu tahu maksud aku," ucap Rangga.
Filla mencoba melepas tangannya, namun genggaman Rangga cukup erat membuat Filla akhirnya memilih membiarkan tangannya tergenggam.
"Ngga, please profesional," ucap Filla sambil menarik tangannya.
Rangga menghela napas, "Mau sampai kapan kamu bertingkah seolah kita nggak pernah ada hubungan apa-apa? Rasanya nggak enak Fill saat denger kamu pake lo-gue."
Filla menatap mata Rangga, "Terus maunya apa? Kalau lo pengen semuanya kembali seperti semula terlambat Ngga, gue udah mutusin buat melupakan semua harapan gue sama lo, jadi tolong, nggak mudah berdiri didepan lo sekarang."
Rangga ikut berdiri, "Kenapa nggak kita buat jadi lebih mudah Fill, aku tahu kamu belum bisa lupain aku, kamu cuma bohongin diri kamu sendiri Fill."
"Ya," Filla mengangguk, "Tiga tahun terasa singkat untuk gue bertahan, yang gue lupain adalah harapan gue tentang lo, emang nggak mudah, jadi please jangan bersikap seolah semua ini mudah, mudah buat lo nggak buat gue," Filla melepas tangan Rangga dari pergelangan tangannya. "Gue ke toilet, dan gue harap setelah ini, kita nggak bahas ini lagi," Filla berjalan meninggalkan Rangga yang masih menatap punggungnya.
*********
Filla dan Rangga mengerjakan tugasnya masing-masing, tanpa kata mereka terlalu sibuk berdebat dengan diri sendiri.
"Ngga."
"Fill."
__ADS_1
Ucap Mereka berbarengan, mereka sama-sama canggung dengan suasana yang tercipta diantara mereka, situasi yang mereka ciptakan sendiri sebenarnya.
"Sorry, aku nggak akan bahas itu lagi, aku nggak mau kamu jadi nggak nyaman dan akhirnya pergi lagi," ucap Rangga serius.
Filla menatap mata Rangga, dirinya hanya menemukan ketulusan yang entah mengapa malah membuatnya merasa sesak.
Filla mengangguk, "Gue juga minta maaf, tadi mungkin gue terlalu berlebihan," ucap Filla.
Rangga mengangguk, "Yaudah, gue foto-foto disana dulu," ucap Rangga lalu berjalan meninggalkan Filla saat meraih anggukan.
Filla memilih berjalan mendekati bangku kosong didepan sana, mungkin menenangkan diri akan membantunya menyelesaikan semua desain dengan baik.
Sreeeek....
Filla menunduk saat merasa menendang sesuatu, dirinya mengerutkan kening saat melihat sebuah buku catatan kecil terdorong sedikit jauh darinya.
"Buku itu?" Filla menatap lekat buku kecil yang terasa tidak asing.
Filla mendekati buku itu lalu berjongkok mengambilnya, Filla terdiam saat dugaannya benar, buku itu adalah buku yang ia berikan pada Rangga saat sebelum berangkat ke Milan.
"Dia masih simpen?" tanya Filla pada dirinya sendiri, Filla mengibas cover buku yang sedikit ditempeli tanah, dirinya beranjak lalu duduk di bangku kosong bawah pohon.
Filla membuka lembar demi lembar catatan yang dirinya tulis 3 tahun lalu, semua kisah tentangnya dan Rangga tertulis rapi didalam sana.
Filla memasukkan buku itu kedalam tasnya saat Rangga berjalan mendekat.
"Pindah ketempat lain yuk," ajak Rangga.
"Gimana dapet ide?" tanya Rangga sambil menoleh pada Filla yang ada disampingnya.
Filla menggeleng tanpa menoleh pada Rangga, dirinya masih memikirkan banyak hal membuat konsentrasinya terbagi.
"Udah nggak apa-apa, kerjaan kamu emang butuh konsentrasi tingkat tinggi disini kan rame, tenang aja ditempat selanjutnya aku jamin kamu bakalan dapet ide," ucap Rangga sambil tersenyum.
Filla hanya mengangguk.
"Silahkan Mas, Mbak," ucap seorang bapak paruh baya.
"Boleh Pak," ucap Rangga sambil tersenyum. "Yuk," ajak Rangga pada Filla.
Filla mengerutkan kening, "Mau ngapain?" tanya Filla bingung saat Rangga naik keatas perahu.
Rangga tersenyum, "Sini," Rangga mengulurkan tangan pada Filla.
Filla dalam kebingungan akhirnya menerima tangan Rangga, lalu duduk diatas perahu.
"Hati-hati Mas, Mbak," ucap bapak itu sambil tersenyum, yang diangguki oleh Rangga.
"Mau ngapain kita disini?" tanya Filla heran.
"Survey lapangan, danau ini salah satu danau yang menjadi spot foto," ucap Rangga sambil mengayunkan dayung.
__ADS_1
"Lo seriusan? Lo tahu kan tingkat kesulitannya akan dobel? Secara lo akan foto diatas air," ucap Filla.
Rangga mengangguk, "Foto yang bagus perlu diambil dengan keyakinan dan tentunya usaha," ucap Rangga sambil meletakkan dayung. Dirinya mengangkat kamera dan memotret beberapa bagian menarik.
Filla tak membantah lagi, toh bukan dirinya yang akan kesusahan nantinya.
"Foto itu," Rangga mengarahkan kamera pada Filla lalu memotret, "Perlu diambil pake hati," ucap Rangga lalu melihat hasil jempretannya.
"Ngapain lo malah foto gue?" tanya Filla.
"Aku butuh model biar tahu tempat ini bagus atau nggak buat dijadikan tempat foto," ucap Rangga.
"Hapus, gue nggak suka," ucap Filla meraih kamera Rangga.
Rangga menyembunyikan kameranya dibelakang punggungnya, membuat Filla terus berusaha meraihnya sampai perahu mereka sedikit berguncang.
"Fill, entar kita jatoh," ucap Rangga sambil menahan tangan Filla.
"Sini, lo yang mulai, hapus," ucap Filla kesal karena tidak bisa meraih kamera yang sudah diletakkan Rangga di belakangnya. "Rangga gue serius!"
Plung...
Tas Rangga yang menggantung dikayu perahu alhasil jatuh kedalam air membuat Filla ataupun Rangga terdiam.
Rangga melepaskan tangan Filla lalu menatap danau, "Nggak,"
Byuuurrrrr.
Rangga lalu melompat kedalam danau.
"Rangga! Lo gila?" teriak Filla. Filla menatap cemas saat Rangga tak juga muncul kepermukaan setelah menyelam. "Rangga!" teriak Filla namun hanya air yang tenang terlihat.
Filla melihat arloji dipergelangan tangannya, hampir satu menit Rangga tidak juga muncul dipermukaan, "Rangga, jangan bercanda!" teriak Filla kesal dan cemas.
Brrrr.
Filla bernapas lega saat Rangga muncul dipermukaan danau, "Lo gila?" tanya Filla sambil memegang keningnya, dirinya sangat cemas.
Rangga tak memperdulikan Filla, dirinya malah masuk lagi kedalam air.
"Rangga udah," teriak Filla.
"Hah, ketemu," ucap Rangga Sambil mengusap wajahnya dengan tangan kanan mengangkat tas yang berhasil ia temukan dari dalam sana.
"Lo gila!" teriak Filla kesal, "Sini," Filla mengulurkan tangannya yang langsung disambut Rangga.
Rangga berhasil naik keatas perahu dengan keadaan basah kuyup.
"Buat apa lo bahayain diri sendiri? Sebegitu penting isi didalam sana?" tanya Filla tak habis pikir sambil menunjuk tas Rangga.
"Penting," ucap Rangga lalu membuka tasnya.
__ADS_1
********