
"Gimana udah selesai?" tanya Vino saat berpapasan dengan Filla.
Filla tersenyum, "Dikit lagi Kak, kalau rombongan Kakak?" tanya Filla sambil melirik area tenda rombongan Vino.
"Hampir selesai, Kamu kalau ada apa-apa hubungi Kakak Fill," ucap Vino mengingatkan.
"Iya siap Kak, please jangan jadi mama," ucap Filla.
Vino tertawa, "Oke-oke, sana gabung sama rombongan kamu lagi," ucap Vino.
Filla mengangguk, meninggalkan Vino sambil melambaikan tangannya.
"Gimana tenda kita?" tanya Kenzi saat Filla ikut membantu membereskan alat makan.
"Dikit lagi," ucap Filla yang meraih anggukan kepala Kenzi.
"Ngomong-ngomong yang sama lo tadi siapa?" tanya Kenzi yang meraih anggukan Intan.
Filla tertawa, "Kok malah jadi antusias kalian?"
"Abisnya hampir semua mahasiswi ngomongin dan cuma lo yang keknya kenal," ucap Intan menambahi.
Filla mengangguk paham, "Iya, itu Kak Vino, mahasiswa S2 Arsitektur," jawab Filla seadanya.
"Filla please, itu mah kita udah tau, maksudnya hubungannya sama lo," celetuk Kenzin yang disetujui Intan.
Filla mengerutkan kening, "Kakak gue," ucap Filla setelah menemukan kata yang cocok menggambarkan seorang Vino.
"Oh," ucap Intan dan Kenzi berbarengan sambil mengangguk.
******
Filla merutuki dirinya, sepertinya hari ini tak berpihak padanya, setelah melakukan permainan jenga, Filla dan Rangga dinobatkan pemain tercemen alhasil akan ada hukuman yang menanti mereka berdua.
"Sweet banget kalian, kalah aja berdua," ucap Zian salah satu anggota rombongan.
Filla tersenyum kikuk menanggapi, sedangkan Rangga masih dengan wajah datarnya seolah tak tertarik pada semua ucapan yang ia dengar.
"Sebagai hukuman, kalian berdua cuma perlu mencari seikat kayu bakar," ucap Panji sambil tersenyum.
"Wah bakalan romantis tuh Fill, pake aja waktunya buat ambil hati Rangga," ledek Kenzi yang membuat semuanya tertawa kecuali Filla dan Rangga.
"Kalian diberi waktu 30 menit dari sekarang, ingat ambil jalan aman, ikutin tiap petunjuk jalan disana," ucap Panji mengingatkan membuat Filla dan Rangga hanya pasrah dan mengangguk.
Filla mengikuti jalan Rangga yang terkesan cepat, mereka sudah mulai memasuki hutan, hari masih sangat cerah, jam masih setia menunjuk pukul 3 sore.
"Rangga pelan-pelan," ucap Filla sambil berlari kecil menyamaratakan langkahnya dengan Rangga, namun sulit tetap saja ia berada dibelakang.
__ADS_1
"Manja banget sih," ucap Rangga tanpa menoleh.
"Kenapa sih Ngga lo benci banget sama gue?" tanya Filla yang masih sibuk mengejar Rangga.
Rangga tak menggubris dan memilih terus berjalan masuk kedalam hutan.
"Ngga, jalannya agak aneh deh, perasaan kalau jalan yang aman nggak banyak ranting penghalang gini deh," ucap Filla setelah menyadari beberapa kejanggalan.
"Harusnya lo bersyukur, tuh ranting bisa dapet lebih banyak tanpa memakan banyak waktu," ucap Rangga sambil mengambil beberapa ranting pohon yang agak besar.
Filla hanya diam, melawan ucapan Rangga hanya akan membuat mereka berdebat. Filla ikut memungut ranting yang berserakan ditanah.
"Kayaknya udah cukup," ucap Rangga setelah 10 menit mereka mengumpulkan ranting. Rangga mulai mengikat ranting yang berhasil mereka kumpulkan dengan tali yang sudah ia siapkan.
Setelah berhasil mengikat ranting, Rangga membawa ranting tersebut berjalan keluar hutan diikuti Filla.
Lima belas menit mereka berjalan, tetap saja yang mereka lihat tetap pohon besar tanpa ujung.
"Ngga, kayaknya kita salah jalan," ucap Filla mulai melihat-lihat sekelilingnya.
"Nggak mungkin salah jalan, kita udah ngikutin arah panah," ucap Rangga.
"Tapi sekarang kita nggak nemuin panah itu lagi Ngga."
Rangga meletakkan ranting yang dibwanya ketanah, "Lo bisa nggak bikin panik? Manja banget," ucap Rangga sambil melangkah kebelakang Filla mencari jalan yang mungkin akan membawa mereka kembali ke tempat perkemahan.
"Kita lurus aja, gue yakin bakalan nemu jalan," ucap Rangga lalu kembali mengangkat ranting.
Filla mengikuti Rangga dibelakang, ia sudah tidak peduli jika tak bisa menyamaratakan langkahnya dengan Rangga.
Hampir 15 menit mereka berjalan, mereka sepertinya semakin masuk kedalam hutan, Filla memilih berjongkok menetralkan napasnya.
"Nggak bentar, gue capek," ucap Filla.
Rangga berbalik, "Nggak usah manja Filla, gue nggak mau bermalam ditengah hutan," ucap Rangga sambil berjalan meninggalkan Filla.
Filla memilih tetap duduk, kakinya benar-benar lelah, ditambah rasa haus yang mulai terasa.
"Filla!" teriak Rangga yang mendapati Filla tetap duduk. "Gue tinggal ni," tambahnya.
Filla menghembuskan napasnya, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Rangga. Mereka terus berjalan dengan keringat yang terus mengucur di tubuh mereka.
"Ngga gue capek banget, kita udah jalan 46 menit tanpa arah," ucap Filla sambil memegang tangan Rangga.
Rangga menepis tangan Filla, "Gue juga capek, stop bicara seolah cuma lo yang capek," ucap Rangga kesal.
Filla menghembuskan napasnya, "Gue cuma minta istirahat Ngga, kita jalan juga nggak ada arah dari tadi," ucap Filla tegas.
__ADS_1
"Terserah," Rangga dengan egois meninggalkan Filla.
"Awww ...!" Filla terduduk dengan kaki tersangkut disalah satu akar kayu.
"Apaan lagi sih Fill?" tanya Rangga yang berbalik melihat Filla yang memegang pergelangan kakinya.
"Kaki gue sakit banget," ucap Filla sambil menyembunyikan wajahnya dikedua lutut menahan nyeri di pergelangan kakinya.
"Please nggak usah cari perhatian, gue udah terbiasa sama sikap lo yang kayak gitu, jadi udah nggak mempan," ucap Rangga sambil memutar bola matanya.
"Gue serius Ngga," ucap Filla kesal.
"Cepetan, gue nggak mau didalam hutan ini lebih lama sama lo," ucap Rangga sambil berjalan meninggalkan Filla.
Filla berusaha bangkit dari duduknya, "Aww ...!" Filla kembali terduduk, pergelangan kakinya benar-benar tambah sakit sekarang.
Rangga menatap malas pada Filla dari kejauhan, semua pikirannya tentang Filla adalah kebencian, tidak ada simpati sedikit pun.
"Filla!" teriak Vino yang keluar dari semak.
"Kak," Filla merasa lega saat mendapati Vino bersamanya sekarang.
Vino ikut berjongkok didepan Filla, "Yaampun Fill, kamu tahu Kakak khawatir? Kaki kamu kenapa?" tanya Vino.
Filla menggeleng, "Nggak tahu Kak tadi jatuh terus nggak bisa digerakin," ucap Filla sambil memegang pergelangan kakinya.
Vino langsung menggangkat Filla ala bridal style.
"Kakak," ucap Filla kaget.
"Kamu diem atau Kakak tinggalin disini?" ucap Vino dengan rahang mengeras.
Filla tak berani membantah, ia hanya menyembunyikan wajahnya didada Vino.
Vino berjalan meninggalkan Rangga setelah menatap tajam Rangga yang mengabaikan Filla.
"Kakak udah bilang, hubungi kalau ada apa-apa," ucap Vino tanpa menoleh ke Filla, pandangannya tetap lurus kedepan.
Filla hanya dapat melihat rahang Vino, "Maaf Kak, tadi ponselnya dititipin ke panitia," ucap Filla.
Vino tak menggubris ucapan Filla, ia tetap berjalan dengan pandangan lurus kedepan.
Tidak butuh waktu lebih dari 15 menit mereka sampai diarea camping, semua mata menatap Vino yang dengan gagah menggendong Filla.
"Kak turunin, malu," ucap Filla memohon tapi Vino tetap berjalan melewati setiap pandangan dan bisikan orang-orang tentang mereka.
*******
__ADS_1