
Filla masuk kedalam rumah dengan berlari, membuat bunda yang ada diruang keluarga tersentak.
"Kak," panggil bunda ketika tahu Filla yang masuk kedalam rumah.
Fiilla mengedarkan pandangannya dengan tergesa mencari seseorang yang sangat ingin ia lihat.
"Kak kenapa?" tanya bunda khawatir sambil menggenggam bahu Filla.
Filla menatap bunda, "Rain mana?" tanyanya dengan mengguncang bahu bunda.
"Ada dikamar," ucap bunda dengan wajah kebingungan sambil menunjuk kearah lantai atas.
Trdengar napas lega Filla, "Bun, janji sama Filla, sebenci apapun Bunda sama Filla tetep janji sama Filla buat nggak ngasih Rain ke siapapun," ucap Filla dengan tangisnya.
"Ya Allah Kak, Bunda nggak benci Kakak, ini kenapa?" tanya bunda menggenggam bahu Filla.
Filla menghapus airmatanya. "Nggak bun, Filla kekamar dulu," ucap Filla kemudian berlalu meningalkan bunda yang masih menatap bingung dirinya.
Filla berjalan menghampiri Rain yang ada dikamar. Diangkatnya bayi yang sudah berumur 1 tahun itu, "Rain jangan tinggalin kita semua ya, Kakak sayang banget sama Rain," ucapnya sambil mencium pipi gembul Rain.
Rain meraih idung Filla sambil tertawa. Tawa inilah yang membuat Filla kuat, tawa Rain lah yang mengingatkannya pada semua senyuman, saat ia sedih, Rainlah penghiburnya, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Rain pergi dari hidupnya. Filla kembali menangis sambil memeluk Rain.
"Kak? Kakak kenapa?" tanya bunda yang sejak tadi melihat Filla yang berbicara dengan Rain. "Rain mau kemana? Dan apa maksud Kakak?" tanya bunda bingung dengan sikap Filla.
Filla menghapus airmatanya dan menaruh Rain di box bayi kembali, "Nggak Bun, nggak apa-apa," jawab Filla ingin beranjak pergi tapi tangannya ditahan bunda.
"Kak, Kakak marah sama Bunda? Bunda minta maaf, Bunda cuma nggak mau Kakak jadi anak keras lagi kayak dulu yang hanya ingin menang sendiri. Bunda percaya sama Kakak kalau Kakak nggak mungkin berniat jahat sama Rain, atau memfitnah Kania, tapi Bunda hanya nggak mau Kakak jadi kayak dulu," ucap bunda sambil menangis.
Filla memeluk bunda sambil menangis, akhirnya bunda memaafkannya, ia rindu ucapan halus ini, "Maafin Filla Bun," ucap Filla dalam isak tangisnya.
"Kakak nggak salah, Bunda yang terlalu keras sama Kakak, sekarang cerita sama Bunda ada apa?" bujuk bunda sambil menghapus airmata Filla.
Akhirnya Filla menceritakan kejadian yang baru ia ketahui. Tentu saja bunda syok dengan kenyataan ini, tapi bunda masih bisa menahan amarahnya dan memilih dewasa dalam menyikapi hal ini.
"Kakak nggak usah takut, Rain bukan hanya punya Kakak, tapi kita semua," ucap bunda meyakinkan Filla.
__ADS_1
Setidaknya Filla tenang jika bunda juga tak menginginkan Rain pergi.
******
Filla duduk diayunan teras belakang menatap langit yang dihiasi bintang, entahlah dia harus senang atau sedih dengan semua ini, disatu sisi dia senang Rain tak lagi sendiri, dia punya orangtua dan bisa hidup seperti anak lainnya dengan kasih sayang keluarga sesungguhnya. Tapi disisi lain hatinya sedih karena sekarang tak ada lagi tangis dan tawa Rain yang memenuhi hari-harinya, sekarang terasa sepi.
Sejak tadi novel yang ia baca masih terbuka dihalaman yang sama, sepertinya enggan melanjutkan bacaannya yang entah sudah sampai mana.
"Kak," panggil ayah yang ikut menempatkan diri diayunan sebelah Filla.
Filla menoleh lalu melempar senyum terbaiknya, "lya Yah," Filla memposisikan duduknya sedit menyerong menghadap ayah.
"Kakak masih sedih?"
Filla tersenyum, "Lumayan Yah, Filla udah terbiasa ada Rain jadi agak sulit nerimanya," ucap Filla jujur.
"Ayah tahu ini sulit, tapi ambil sisi positifnya, Rain punya keluarga yang utuh sekarang, dia beruntung kak ketemu sama kamu walau cuma sebentar," ayah menepuk pelan bahu Filla yang menatapnya lekat.
"Kalau malam itu nggak ada yang bangun kita nggak tahu apa yang bisa terjadi sama Rain, dia beruntung ketemu kamu, tapi ada waktunya Kak, kapan kita harus ikhlasin apapun yang kita punya, apapun yang ada disisi kita."
Filla mengangguk, "Filla akan coba ikhlas Yah."
"Fill," sapa Rangga lalu duduk disebelah Filla setelah kepergian ayah.
Tak ada jawaban. Filla sibuk dengan pikirannya sendiri, "Fill, maaf kalau kemarin gue nggak percaya sama lo, gue beneran bodoh deh," Rangga memukul kepalanya sendiri.
Filla masih diam tak menggubris ucapan Rangga.
Rangga bernapas pasrah, "Fill maafin ya, gue emang salah. Ternyata Kania nggak sebaik yang gue pikirin, dia jahat bahkan sama anaknya sendiri, dan tadi saat dia dateng dengan si siapa itu? Ah Riyan gue pengen bejek-bejek rasanya sumpah," ucap Rangga panjang lebar.
Filla beranjak dari duduknya meninggalkan Rangga. Sampai tangannya ditahan oleh Rangga, "Lepasin!" ucapnya marah.
"Nah gitu dong, ngomong, ini nggak, sejak tadi Rain dibawa sama Kania, lo diem nggak ngomong apa-apa," ucap Rangga masih menggenggam tangan Filla yang berontak
"Gue nggak mood bercanda, lepasin, lagian buat apa gue ngomong entar yang keluar cuma hasutan seperti kata lo!"”ucap Filla geram.
__ADS_1
Rangga terdiam, ucapan Filla benar-benar tepat menganai rasa bersalahnya, ia mencoba tersenyum, "Ayo ikut gue," ucapnya lalu menarik Filla yang masih sibuk memberontak keluar rumah dan menariknya kegarasi.
"Apaan sih Ngga? Mau kemana? Gue lagi nggak mood jangan ganggu deh," ujar Filla mulai kesal dengan tingkah Rangga.
Rangga naik keatas motornya dan memakai helem saat mereka sampai digarasi, "Udah ikut aja, dijamin nggak bikin rugi," Rangga menarik tangan Filla agar naik keatas motornya lalu memberikan helm pada Filla.
Tanpa mau melawan Filla mengikuti kemauan Rangga, toh dia sedang tidak berselera untuk bertengkar ataupun berteriak, "Ini dimana?" tanya Filla ketika motor Rangga berhenti disalah satu tempat yang menurut Filla asing.
"Udah, yuk," ajak Rangga sambil menarik tangannya.
Terlihat didepan sana ada banyak lampion yang mengambang di atas air dan banyak sekali perahu yang terapung disana, juga banyak orang-orang yang terlihat makan malam diatas perahu-perahu itu.
"Jadi ini tempet makan yang lo janjiin?" tanya Filla masih malas dengan apapun yang ia lakukan sekarang.
Rangga mengangguk, "Maaf ya," ucapnya lagi dengan wajah yang dilihat sememelas mungkin.
Filla mengalihkan pandangannya, jauh menatap lampion yang menyala terang, pemandangan ini membuatnya takjub tapi tetap membuatnya sedih ketika mengingat Rain tak akan bersama mereka lagi, lagi-lagi ia merasa ditinggalkan.
Rangga jadi serba salah, melihat Filla hanya diam membuatnya tambah merasa bersalah, menyesali tatapan dan ucapan yang ia tunjukan pada Filla waktu itu.
Sesekali Filla menyentuh air yang terasa sangat dingin membuatnya sedikit tenang.
"Gimana ujian lo?" tanya Rangga mengajak Filla berbicara, menyelami sunyi yang Filla ciptakan membuatnya tidak betah.
"Lumayan," jawab Filla seadanya tanpa mengalihkan pandangannya pada danau.
Rangga sedikit tersenyum mendengar Filla menjawab pertanyaannya, "Maaf Fill nggak percaya sama lo kemaren, gue nggak nyangka aja Kania bisa melakukan hal sekejam itu," Rangga mencoba mendapatkan maaf dari Filla untuk kesekian kalinya.
"Hmmm," Filla hanya berdehem pelan, hampir tak terdengar.
Rangga bernapas pasrah, "Fill sorry, gue tahu lo gedek banget sama gue."
"Gue nggak marah sama lo, cuma kecewa," ucap Filla akhirnya.
"Sorry Fill bikin lo kecewa," Rangga mengikuti arah pandang Filla yang menatap tangannya sendiri sambil memainkan air.
__ADS_1
Filla tak berniat berbicara pada Rangga, ia harus menetralisir kesedihannya sekarang, menghilangkan rasa sakit karena tidak dipercayai untuk sekian kalinya walau Filla tahu Rangga dan bunda tidak berniat menyakitinya, hanya saja hatinya belum bisa menerima apapun perkataan Rangga sekarang.
******