Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 51


__ADS_3



Setahun berlalu, Filla berhasil lulus sekolah paketnya, semuanya berjalan sama seperti mimpinya, soal ujiannya juga sama persis, jadi Filla merasa tidak diberatkan dalam mengejar hidupnya yang terhenti, tapi menurutnya hidupnya bahkan tak terhenti sedetikpun, lebih tepatnya ia mengulang semuanya lagi.



Hanya saja walau semuanya seakan terulang, tidak ada Rangga sekarang, tidak ada adik-adik panti, ia merindukan semua tawa dikehidupannya kemarin, entahlah mungkin orang akan menganggapnya gila dengan apa yang sudah ia lalui, tapi inilah kenyataannya, hanya dia yang terkurung dalam ingatan yang dipikir ilusi tapi nyata.



Sekarang Filla berada di meja makan bersama kedua orangtuanya seperti biasa, sejak kejadian Filla koma, mama dan papa menghabiskan banyak waktu dirumah, tak seperti dulu yang sangat sibuk, Filla mensyukuri apa yang digariskan Tuhan untuknya.



Papa meletakkan sendoknya, "Fill, Papa sama Mama mau ngomong serius," ucap papa dengan wajah seriusnya.



"Serem amat Pa, biasa aja kali," celetuk Filla.



"Kamu mah, Papa kan udah pasang muka super serius," ucap papa kesal membuat Filla dan mama tertawa.



"Iya, habisnya serius amat, kan aku jadi takut," ucap Filla manja.



"Papa lagi buka cabang perusahaan di Bandung, untuk memperioritaskannya Papa mau nggak mau harus selalu ada disana, pilihannya cuma dua, Papa yang bolak-balik Jakarta-Bandung atau kita semua pindah kesana," ucap papa menjelaskan.



Filla mengangguk-angguk tanda mengerti, "Mama gimana?" tanya Filla saat mengelihkan pandangannya menghadap mama.



"Mama terserah kamu Fill, kalau kamu nyaman di Jakarta, nggak apa-apa kita di Jakarta, dan kalau mau pindah, Mama juga setuju aja."



Filla berfikir sejenak lalu membulatkan matanya saat mengingat sesuatu, "Bentar, tadi kata Papa Bandung?" tanya Filla meyakinkan.



Papa hanya mengangguk tak mengerti.



"Kalau gitu aku setuju," ucap Filla yakin. "Kita semua pindah ke Bandung," ucapnya antusias.



Papa dan mama hanya membulatkan pandangan pada anak mereka yang terlihat sangat senang.



"Seneng banget," celetuk papa.



Filla hanya memperlihatkan senyum manisnya, membuat kedua orangtuanya hanya bisa menggeleng.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*



Filla memperhatikan sekitar, pandangan diluar jendela mobilnya terlihat tidak asing, seperti *dejavu* ia saat ini. Mereka memang memutuskan untuk pindah ke Bandung, tapi Filla sampai saat ini pun belum tahu dimana ia akan tinggal bersama keluarganya.



Filla membuka kaca mobilnya memastikan pandangannya, "Pa, ini kan daerah panti asuhannya Bunda Dira?" tanya Filla menatap papa yang sedang menyetir.



Papa menatap Filla dari kaca diatasnya, "Iya, kok kamu tahu? Kan kamu belum pernah kesini?" tanya papa bingung, setahunya Filla baru pertama ia ajak ke lingkungan ini.



Filla hanya diam menatap Taman yang dulu sangat sering ia datangi bersama Tita.



"Fill, kenapa? Papa tanya loh," panggil mama sambil memegang bahu Filla.



Filla tersentak saat lamunannya dihentikan mama, "Masih sama Ma, sama apa yang Filla mimpiin," jelas Filla.



"Papa nggak tahu kamu ini kenapa Fill, tapi Papa percaya dan nggak percaya dalam satu waktu, disatu sisi cuma kamu yang punya memori tentang apa yang orang lain nggak punya, itu mustahil, tapi semua yang kamu temui dan ceritain bener adanya, Papa jadi bingung," Papa masih menatap Filla dari kaca yang memantulkan bayangan Filla dan mama yang ada dibelakang.



Filla hanya menghela napas pasrah, "Aku juga nggak tahu Pa," jawab Filla frustasi. "Semuanya juga membingungkan buat Filla," lanjutnya ikutan kesal.



Mama menggosok bahu Filla, "Sudah, nggak apa-apa, syukuri aja Fill, semua pasti ada hikmanya," ucap mama menenangkan.




Rumah dengan cat putih dipadu coklat susu dengan taman cantik dihalamannya, ini sungguh membuatnya bernostalgia, rumah itu adalah rumah yang selama ini ia tempati, rumah dimana ia diterima saat ia sendiri, entah itu didunia bagian mana, entah hayalan atau kenyataan, tapi rumah itu benar ada dan sekarang ia berdiri menatap rumah itu.



Tidak ada yang berubah, suasananya sama. Filla tetap berdiri mematung menatap rumah bunda dan ayah, "Pa, kok Papa nggak bilang kita bakalan tinggal tepat disebelah rumah Rangga?" tanya Filla.



Papa dan mama mendekat masing-masing disisi kanan dan kiri Filla, ikut menatap rumah yang dulu jadi tempat mereka berteduh.



"Kayaknya mimpi kamu semuanya nggak kebetulan Fill, semuanya bener, bahkan saat kamu belum pernah kami ajak sekalipun kesini, ini rumah tempat Papa dan Mama dibesarkan, jadi kamu tinggal disini selama kamu koma? Dimimpi atau apalah itu?" tanya papa menatap putrinya yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun pada rumah itu.



Filla mengangguk mengiyakan, "Pa, bisa kita kesana dulu? Filla pengen liat adik-adik panti," ucap Filla dengan wajah memelas.



"Kamu yakin? Disana mereka nggak kenal kamu, seperti kamu kenal mereka lo Fill," ucap mama mengingatkan. "Dan kamu yakin, akan tahan sama tatapan Rangga yang akan dingin seperti sebelumnya?" tanya mama.



Filla mengangguk, "Seenggaknya aku pengen banget Ma, lihat mereka, apakah sehat kayak di mimpiku atau ada yang beruah, aku bakalan kuat kok, aku cuma akan bersikap kayak nggak kenal mereka juga," ucap Filla meyakinkan.

__ADS_1



Akhirnya kedua orangtuanya mengangguk.



"Assalamualaikum," ucap papa sambil mengetuk pintu.



"Waalaikumsalam," ucap ayah yang keluar dari dalam rumah. "Prasetyo, sudah sampai? Ayo masuk," ajak ayah mempersilahkan masuk kedalam rumah.



"Yaampun ada Rahmi, jadi pindah kesini?" tanya bunda sambil memeluk mama senang.



"Iya lah jadi," celetuk mama.



Bunda melihat kearah Filla yang sejak tadi diam menatap rumahnya, "Eh ada anak Bunda yang perempuan ni, ayo duduk," ajak bunda sambil merangkul Filla. "Gimana sekolah paketnya? Beres?" tanya bunda saat mereka duduk.



"Alhamdulillah Bun, lulus," jawab Filla sambil tersenyum.



"Rangga juga lulus, jadi recana masuk kampus mana Fill?" tanya bunda melanjutkan.



Filla menggeleng, "Masih belum tahu Bun, Filla masih ikut tes buat nentuin kampus mana yang bisa Filla ambil dengan kemampuan Filla," jawab Filla sekenanya, karena ia bahkan belum punya gambaran ingin masuk ke Universitas mana.



"Semangat Fill, pasti dapet yang terbaik," dukung bunda. "Oiya, Bunda panggil adek-adek yang lain ya," ucap bunda sambil melangkah kelantai atas.



Filla menatap sekeliling rumah yang bahkan tak menunjukkan perbedaan sama sekali, sudah berapa banyak ia menemukan kesamaan atau lebih tepatnya tidak ada perbedaan dengan apa yang ia alami.



"Nah ini adik-adik panti," ucap bunda sambil membawa adik-adik disampingnya.



Filla menatap mereka lekat, masih sama, disana ada Anton, Rico, Bagas, Rafi, Dodit, Robi, Ara, Tiara, Fida, semuanya lengkap, hanya Rain yang tidak ada disana.



"Ayo sapa Kakak," ajak bunda sambil tersenyum.



"Yaampun Ra, rame amat, em gemes ni sama yang kamu gendong," ucap mama beranjak mengambil Rico dari gendongan bunda.



Terlihat Rangga dengan malas turun dari lantai atas.



Filla hanya tersenyum dan melambaikan tangan saat Rangga bertemu tatap dengannya, ia masih berusaha sesantai mungkin didepan Rangga, berharap mengajaknya berteman dan kembali akrab, walau hatinya sering kecewa melihat tatapan Rangga yang penuh kebencian, Filla tahu akibat kecelakaan itu, Rangga kehilangan motornya dan kehilangan kesempatan emas untuk tanding bola di Jakarta, semua Rangga limpahkan kekesalannya pada Filla, dan Filla berusaha menerimanya.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*


__ADS_2