
Filla dengan setelan olahraganya berdiri disalah satu baris yang sudah tersusun memanjang, mereka sekarang dikumpulkan di lapangan yang cukup luas tidak jauh dari area kamping.
"Fill, Rangga liat ke lo terus tuh," bisik Reya yang berbisik dibelakang Filla.
Filla berbalik, "Nggak usah bikin gue GR Bambang," ucap Filla lalu kembali memfokuskan diri menatap Reza yang memberikan beberapa arahan didepan.
Filla sempat melirik Rangga yang berada dibaris ke empat dibelakangnya. Filla menguatkan diri untuk tidak terpengaruh dengan ucapan Raya yang bahkan ia ragu kebenarannya.
Setelah beberapa persiapan akhirnya mereka mulai jalan santai menyusuri jalan sesuai rute yang telah ditetapkan panita.
Reya merangkul Filla, "Fill liat deh," ucapnya sambil menunjuk mahasiswa didepan mereka yang bercanda dengan temannya.
"Adrian?" tanya Filla berbisik, takut jika Adrian mendengar suara mereka melihat jarak yang tidak terlalu jauh.
Reya membulatkan mata, "Lo kenal? Kenalin napa Fill," ucap Reya sambil bergelayut manja ditangan Filla.
"Reya," Filla melepas tangan Reya darinya, "Gue satu rombongan sama dia diawal, jadi nggak kenal-kenal banget," ucap Filla menegaskan.
"Tapi kan lo kenal, pokoknya kenalin gue ke dia," ucap Reya memaksa.
Filla memutar bola mata malas, "Ogah, dah la gue duluan," ucap Filla hendak meninggalkan Reya.
"Liat aja," ucap Reya menarik Filla agar kembali berada dibelakangnya, Reya menjulurkan lidah meledek Filla.
Filla menatap Reya, jika sudah seperti ini akan ada sesuatu yang akan Reya lakukan pastinya. Benar saja Reya dengan santainya mendekati Adrian dan sengaja menabrakkan tubuhnya.
"Maaf, nggak sengaja," ucap Reya, terdengar menggelikan tentunya untuk Filla.
"Eh gue nggak apa-apa, lo?" tanya Adrian ramah.
Reya mengeluarkan senyum manis dan sikap malu-malunya sambil menggeleng, "Tenang aja, nggak apa-apa kok," ucap Reya.
"Yaudah gue duluan," ucap Adrian lalu berlari menghampiri rombongannya yang tertawa menunggunya.
Reya masih berdiri manis menatap kepergian Adrian.
"Woy sadar," ucap Filla menepuk bahu Reya.
"Filla ... cubit gue, cubit gue," ucap Reya antusias.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang Filla dengan kuat mencubit Reya penuh keniatan.
"Aw, sakit Filla! Niat amat lo," ucap Reya sambil mengusap lengannya yang menjadi korban cubitan Filla.
"Lo yang suruh," jawab Filla sambil melipat tangan didepan dada.
Reya kembali mengulum senyumnya, "Lo liat kan pasti dia suka gue, jelas banget dia tadi malu-malu," ucap Reya dengan PD-nya.
"Risih sih iya Adrian sama lo, lo nggak liat dia cepet-cepet lari dari lo."
"Please deh Filla," Reya memegang kedua bahu Filla. "Ini sebabnya lo nggak punya pacar, lo nggak ngerti kode dari cowok," Reya mengusap rambut Filla. "Emang gue yang paling ngerti masalah percintaan," ucap Reya lalu meninggalkan Filla.
"Ini gue yang bodoh? Atau gimana?" tanyanya pada diri sendiri lalu mengejar Reya yang sudah berlari mendekati Adrian, ia harus menghentikan perbuatan Reya agar tidak membuatnya malu sebagai sahabat.
Filla mengejar Reya yang semakin jauh, entah Adrian yang mempercepat jalannya atau Filla yang terlalu lambat, intinya Reya yang berlari saja tertinggal jauh dari Adrian.
Filla menghentikan langkahnya dan meminum air mineral yang ia bawa sejak tadi. Filla melihat sekitarnya, seperti biasa orang disekelilingnya akan melempar senyum dan ia bertanggungjawab membalas, sampai Filla terdiam saat tersadar Rangga disebalahnya.
Filla merutuki diri mengapa berhenti mengejar Reya saat berada tepat disebelah Rangga, sekarang ia bingung harus melakukan apa, pura-pura tidak tahu dan melanjutkan acaranya mengejar Reya atau menyapa Rangga.
Rangga tak memberikan respon yang lebih, ia hanya menatap lurus jalanan.
"Sampai kapan lo mau liatin gue?" tanya Rangga sambil menatap Filla.
Rangga menjauhkan dirinya dari Filla, "Nggak usah bohong," ucap Rangga penuh penekanan.
"Sorry, yaudah gue duluan," ucap Filla hendak meninggalkan Rangga.
Namun tangannya ditahan, Filla menoleh dan mendapati Vino dibelakangnya, tangannya ditahan Vino bukan Rangga, untuk sepersekian detik Filla merasa kecewa. Sepertinya ia berharap tangan yang menahannya adalah tangan Rangga.
"Kakak udah cari dari tadi, mana sekarang sendirian lagi," ucap Vino lalu menarik Filla berjalan lebih kedepan menjauh dari Rangga.
Filla tertawa, "Iya Kak, tadi sama Reya, cuma Reya lagi ngejer cowok makanya aku ditinggalin," jelas Filla. "Lagian rame Kak," ucap Filla.
"Tapi kamu cuma kenal bahkan ada yang belum kamu kenal sama sekali," ucap Vino membela diri.
Filla mengangguk, "Oke-oke nggak lagi," ucapnya sambil memamerkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.
******
__ADS_1
Setelah mendengar beberapa arahan dan penutupan acara makrab dari panitia Filla dan rombongan lain berjalan menuju bus yang akan mengantarlan mereka pulang kerumah.
"Fill, Kaka masuk ke daftar bus 2, Kakak udah ngomong sama panitia biar kita satu bus, tapi nggak bisa," jelas Vino.
Filla mengangguk sambil tersenyum, "Nggak apa-apa Kak, nanti juga pasti sampainya bareng," ucap Filla.
Vino mengangguk, "Kamu jaga diri, ada apa-apa telpon Kakak, sampai di kampus jangan kemana-mana langsung cari Kakak kita pulang bareng," ucap Vino mengingatkan.
Filla mengangguk, "Siap Kak, udah sana masuk ke bus Kakak," Filla mendorong Vino sambil tertawa.
Vino berjalan meninggalkan Filla setelah melambaikan tangan.
"Mau dong diposesifin," ledek Reya sambil menyenggol Filla dan lari kedalam bus.
Filla hanya bisa menggeleng dengan tingkah Reya, lebih parahnya lagi saat Filla masuk kedalam bus, Reya terlihat dengan santai melambaikan tangan dan duduk disebelah Adrian.
"Reya," panggil Filla.
Reya tersenyum tanpa dosa, "Gue duduk disini," ucap Reya membuat Filla hanya bisa menggeleng untuk kedua kalinya.
Filla berjalan ke kursi yang masih kosong dibagian tengah lalu mendudukan diri disebelah jendela bus.
Filla menikmati angin sore yang menerpa wajahnya, memanjakan hidungnya menghirup udara yang terasa nyaman.
"Boleh gue duduk disini kan?"
Filla menoleh memastikan pendengarannya, suara Rangga memecahkan lamunannya, sekarang Rangga duduk disebelahnya.
"Nggak ada kursi lain lagi," tambah Rangga.
Filla menatap sekeliling dan benar kata Rangga semua kursi sudah terisi, Filla hanya mengangguk tanpa bersuara.
Rangga disebelahnya sekarang, aroma farfum Rangga yang lama Filla suka tercium lagi, masih sama Rangga dengan menutup mata dan mendengar musik dari headset-nya tak memperdulikan sekeliling.
Filla menatap Rangga, kesempatan ini sangat langkah, berada dekat dengan Rangga yang bahkan bahu mereka saling bersentuhan sekarang adalah momen terlangka.
Filla tak bisa menyembunyikan senyumnya, Filla tahu ia benar-benar bodoh telah jatuh kembali atau lebih tepatnya menjatuhkan diri kembali pada pesona Rangga. Tapi hatinya tidak bisa dimanipulasi, hanya Rangga yang terasa mendebarkan untuk jantungnya.
"Sampai kapan liatin gue? Terpesona?" tanya Rangga sambil menoleh kearah Filla dan membuka matanya.
__ADS_1
Filla refleks memundurkan tubuhnya, "Nggak," ucap Filla lalu menoleh ke jendela, ia tahu pasti kali ini sudah mempermalukan dirinya sendiri.
******