
Filla menghirup udara malam hari yang selalu ia sukai, dirinya duduk di ayunan gantung dikamar yang ia tempati, rumah paman Dani dapat Filla katakan adalah rumah yang sangat mewah, bahkan dikamar tamu pun semua kebutuhan terpenuhi.
Filla manatap ponselnya, entah sudah berapa lama dirinya menunggu pesan atau panggilan dari Vino, namun Filla berkali-kali harus menelan kekecewaan.
Filla menekan icon telpon hijau disebelah nama Vino, jika Vino tidak menghubungi, maka dirinyalah yang harus memulai.
Dan masih sama, Vino tidak mengangkatnya sama sekali. Sedangkan Filla masih berusaha.
"Hallo Kak," ucap Filla saat tersambung.
"Iya Fill, Kakak lagi sibuk banget, nanti Kakak telpon lagi oke?" ucap Vino gelagapan.
"Kak, bisa kosongin waktu 5 menit aja, aku mau ngomong," ucap Filla tegas.
Vino diam lalu menghela napas, "Yaudah, kenapa?"
"Kakak sembunyiin sesuatu kan dari aku? Sikap Kakak beberapa hari ini aneh, sesibuk apapun Kakak biasanya, pasti ngehubungin aku, kenapa sekarang seolah ngehindar?" ucap Filla menyampaikan unek-uneknya.
"Bukan gitu, Kakak cuma lagi sibuk aja."
"Sesibuk apa sih Kak sampai bales chat aja sulit, cuma tukar kabar loh Kak," ucap Filla.
"Kamu harus ngerti Fill, Kakak ada banyak pekerjaan, bukan menghindar," ucap Vino.
"Kakak tahu aku di Bangka?" tanya Filla.
"Di Bangka?" ucap Vino terkejut. "Sejak kapan?" tanya Vino.
Filla tersenyum sinis, "Bahkan chat aku nggak Kakak baca, oke, maaf Kak ganggu, aku bakalan mencoba ngerti sama pekerjaan Kakak, Kakak maunya nggak usah tuker kabar kan? Oke," ucap Filla kesal.
"Fill, bukan gitu," ucap Vino frustasi.
"Yaudah Kak, Assalamualaikum."
Filla menutup panggilannya dengan Vino, dirinya menghela napas sambil menatap langit, Filla beruntung dil angit penuh bintang, Bangka masih punya langit yang begitu indah pikir Filla, setidaknya menatap langit mengurangi rasa sebalnya.
Ponsel Filla berdering, Filla menghela napas saat nama Vino muncul dilayar ponselnya. "Sekarang nelpon katanya sibuk," ucap Filla pada dirinya sendiri.
Filla memasukkan ponselnya kedalam saku, dirinya tidak berniat menjawab panggilan dari Vino, masih terasa kesal dengan sikap Vino.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rangga yang tiba-tiba muncul di balkon samping.
Bahkan saat liburan pun balkon mereka masih bersebelahan.
"Apaan yang kenapa?" ucap Filla.
"Ya lo, uring-uringan," ucap Rangga sambil duduk di kursi.
"Lo nguping?" tanya Filla dengan tatapan menyelidik.
Rangga menyeruput kopi yang ia bawa, "Suara lo yang kekencengan," ucap Rangga.
Filla tanpa menjawab kembali membelakangi Rangga.
"Gue masih nggak paham sama ingatan yang terus muncul di kepala gue, dan semua itu tentang lo, bisa jelasin?" tanya Rangga memberanikan diri.
Filla menoleh pada Rangga yang menatap kearahnya, tatapan mereka bertemu namun belum beberapa detik Filla membuang pandangannya.
"Mana gue tahu, ingatan punya lo," ucap Filla, walau sebenarnya jantungnya berdetak dengan kencang sekarang, mendengar pernyataan Rangga separuh hati Filla merasa senang.
"Gue tahu kalau lo pasti paham sama apa yang gue katakan," ucap Rangga sambil memejamkan mata dan menyender pada senderan kursi.
Rangga bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati pagar balkon dan meletakkan tangan disana seperti Filla, Rangga menatap Filla, "Dan kenapa gue ngerasa lo menganggap gue orang asing?"
Filla tersenyum sambil menatap lurus kedepan walau dirinya tahu Rangga sedang menatapnya, "Karena lo duluan yang nggak pernah anggep gue ada, salah kalau gue bersikap sama, lagipula lo yang selalu minta kan?" Fila menoleh pada Rangga sampai tatapan mata mereka bertemu.
"Lo nyerah sama perasaan?"
"Iya gue nyerah, karena sikap gue kemarin adalah hal terbodoh yang pernah gue lakukan dalam hidup, menyukai seseorang yang bahkan lupa pada semua yang terjadi," ucap Filla kesal.
Rangga mengerutkan alisnya, "Jadi bener ada yang gue lupain, ingatan yang muncul sekarang emang bener terjadi?" tanya Rangga.
Filla berjalan meninggalkan Rangga masuk kedalam kamarnya, dirinya tak ingin berlama-lama mengenang momen tentang mereka, sudah cukup Filla ada pada tahap ingin berusaha keluar dari semua ingatan itu, membicarakan itu hanya akan membuatnya kembali pada titik nol dalam melupakan.
Rangga menatap pintu balkon Filla yang tertutup, dirinya punya berjuta pertanyaan namun Filla seolah selalu menghindar, Rangga bertekad mencari semua kebenaran dari potongan ingatan yang ia miliki.
********
Filla duduk dimeja makan bersama semua orang sedangkan Rangga menuruni tangga berjalan mendekat untuk ikut bergabung, pandangan mereka sempat bertemu walau Filla langsung mengalihkannya dengan cepat.
__ADS_1
"Kak Nindy mana Paman?" tanya Rangga sambil mengedarkan pandangan karena tidak menemui Nindy.
"Biasa, dia ada kerjaan di kantor, terlalu sibuk," ucap paman Dani membuat tawa.
"Nindy pantang ada waktu kosong, bisa demam dia kalau rebahan," ucap tante Lina sambil tertawa diikuti yang lain.
Filla menghela napas, keberadaan Rangga memang suatu yang bisa merubah mood-nya, Filla teringat percakapannya dengan Rangga semalam, tanpa bisa Filla pungkiri dirinya mengharapkan ingatan Rangga kembali walau keadaan sudah berubah.
"Bang, coklat dikamar bagi-bagilah buat Tita sama bang Aza," ucap Tita sambil mengunyah sarapannya.
"Udah abis, lagian nggak enak coklatnya," ucap Rangga berbohong.
Tita menghela napas, "Nggak usah bohong Abang, Tita udah coba kok, dan enak," Tita menoleh pada Aza. "Bang Aza jangan percaya Bang Rangga oke," ucap Tita sambil menatap Aza yang ikut mengangguk.
"Darimana coba tahu kalau itu enak?" ucap Rangga.
"Dikasih Kak Filla, Kak Filla aja sampai pelit banget bagiin ke aku," ucap Tita dengan polosnya.
Filla mendonggak lalu tersenyum pada Tita walau didalam sana dirinya sangat ingin ******* Tita seperti kertas.
"Oya?" ucap Rangga sengaja memainkan ucapannya untuk meledek Filla.
Filla menatap malas pada Rangga lalu kembali menikmati sarapan didepannya. Sedangkan Rangga tersenyum melihat wajah Filla yang memerah.
*******
"Nih," ucap Rangga menyodorkan coklat kepada Filla.
Filla mengerutkan keningnya, "Kasih Tita sana," ucap Filla lalu kembali menatap lurus kedepan.
Didepan sana paman Dani, papa dan ayah sedang bermain basket bersama, sesekali Filla tersenyum melihat keakraban mereka bertiga.
"Ini buat lo, atau gue buang," ucap Rangga bersiap memasukkan coklat ditangannya kedalam tong sampah disebelah mereka.
Filla mendengus sebal, "Kenapa lo beli kalau selalu pengen lo buang?" Filla merampas coklat ditangan Rangga.
Rangga tersenyum senang, "Suka aja," ucap Rangga santai sambil menyender pada senderan ayunan yang mereka duduki.
"Ngga, please gua nggak bisa kalau lo bersikap kayak gini, nggak mudah buat gue sampai di titik ini, jadi tolong jangan buat gue kembali," ucap Filla lalu berdiri. "Dan ini coklat terakhir yang bisa gue terima, setelahnya gue nggak akan perduli lagi," ucap Filla lalu melangkah meninggalkan Rangga.
__ADS_1
******