Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 156


__ADS_3

Rangga berjalan mendekati Filla dan Iren.


Iren berdiri mendadak, "Gue harus ke toilet, kalian duluan aja ke mobilnya," ucap Iren.


"Yaudah kita tunggu disini," ucap Filla.


Iren menggeleng cepat, "Tunggu di mobil aja oke?" tanpa menunggu penolakan dari Filla, Iren berlari menuju toilet.


Filla menghela napas, ia tahu pasti niat jahil Iren, terlihat Iren malah mengedipkan mata sebelum menghilang di balik beton sekat lorong toilet.


"Yaudah, kita ke mobil?" tanya Rangga yang akhirnya diangguki oleh Filla.


Filla berjalan mengikuti Rangga keluar dari warung, Filla sempat tersenyum pada pemilik warung yang juga terlihat ramah.


"Hati-hati licin," ucap Rangga sambil menoleh kearah Filla saat mereka menuruni anak tangga.


Filla mengangguk tanpa berucap. sSampai pada anak tangga terakhir.


Byurrr...


Filla menutup wajahnya, ia tahu pasti apa yang akan terjadi ketika genangan air di lubang yang cukup besar terlindas oleh mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Dirinya pasrah untuk pulang dalam keadaan basah.


Tapi Filla lebih terkejut saat tubuhnya dipeluk erat oleh Rangga, rasanya hangat berada dipelukan Rangga yang dulu selalu ia idam-idamkan. Rangga melindungi tubuhnya dari cipratan air.


Tentu saja jantung Filla tak bisa dikondisikan detaknya sekarang, Filla meneguk saliva-nya, mereka bertemu tatap dengan jarak yang begitu dekat, baik Filla ataupun Rangga hanya bisa mematung beberapa detik.


Rangga berdehem ketika tersadar lalu memundurkan tubuhnya walau tangannya langsung membenarkan rambut Filla yang sedikit basah, "Kamu kena?" tanya Rangga sambil mengibas bahu Filla.


Filla juga ikut mengibaskan bahunya, "Nggak, cuma dik-," ucapan Filla terhenti ketika dirinya mendonggak dan mendapati baju Rangga basah kuyup. "Lo basah?" tanya Filla sambil memutar tubuh Rangga, "Nanya apa sih gue? Yaiyalah basah," ucap Filla mengatai dirinya sendiri.


Rangga hanya tersenyum mendengar ucapan Filla, "Nggak apa-apa, yang penting kamu nggak basah," ucap Rangga dalam keadaan memunggungi Filla.


Filla menatap punggung Rangga, "Sini," ucap Filla sambil menarik Rangga menuju bagasi.


Filla membuka kopernya lalu mengambil hoodie pink miliknya yang berada di bagian paling atas di dalam koper.


"Nih, cuma ini yang sedikit lebih besar," ucap Filla memberikan hodie-nya pada Rangga lalu kembali menutup kopernya.


Rangga menatap hoodie milik Filla lalu terdiam.


Filla menoleh pada Rangga yang masih diam menatap hoodie ditangannya, "Dipake, malah bengong," ucap Filla.

__ADS_1


Rangga mengangkat wajahnya lalu menatap Filla, "Seriusan pink gini?" tanya Rangga.


Filla mengangkat bahu, "Kalau nggak mau yaudah," Filla mengambil kembali hoodie-nya namun Rangga dengan cepat menariknya.


Rangga tersenyum, "Setelah dipikir-pikir lebih baik pake dari pada masuk angin," ucap Rangga.


"Bagus paham," ucap Filla lalu berjalan meninggalkan Rangga masuk ke dalam mobil.


Rangga mengikuti Filla masuk kedalam mobil dan menempatkan diri di kursi kemudi, tanpa aba-aba Rangga langsung membuka kaosnya.


"Rangga! Jangan disini juga kali buka bajunya." Filla menutup matanya dengan cepat.


Rangga tertawa, lalu memakai hoodie dari Filla, dirinya mencium lengan hoodie tersebut lalu tersenyum, aroma Filla masih sama.


"Nggak lucu," ucap Filla masih menutup matanya.


"Mau sampai kapan tutup mata? Aku udah selesai," ucap Rangga membuat Filla sedikit mengintip.


Filla menatap kesal pada Rangga, lalu membenarkan posisi duduknya.


"Aku harus ganti baju di jalanan biar kamu nggak teriak?" tanya Rangga sambil tersenyum.


"Ya terserah, jangan di mobil juga, seenggaknya ngomong kek, langsung buka aja," ucap Filla sambil melipat tangan didepan dada.


"Ih, PD amat," Filla mengalihkan pandangannya ke kaca jendela mobil sedangkan Rangga menahan tawanya.


Iren membuka pintu mobil lalu duduk disebelah Rangga, Iren tertawa saat melihat Rangga dengan imutnya menggunakan hoodie pink, "Gimana ceritanya lo pake hoodie pink gini?" tanya Iren berusaha menahan tawanya.


Rangga menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Eh tunggu, ini kan hoodie kesayangan lo Fill?" tanya Iren sambil mengerutkan kening.


"Baju dia basah karena kecipratan air, cuma itu yang gede mau gimana lagi?" ucap Filla sambil memainkan ponselnya tanpa menoleh.


"Pilih kasih banget sih lo, gue pinjem nggak boleh, Rangga boleh," ucap Iren sambil cemberut.


"Namanya juga genting, tau ah, berisik," ucap Filla.


"Ish," Iren kembali menghadap kedepan sambil merutuki Filla dalam bisikannya.


Rangga tersenyum, terasa istimewa memakai barang kesayangan Filla. Rangga menjalankan mobilnya melanjutkan menuju Bandung.

__ADS_1


********


Filla menaruh kopernya di pinggiran meja rias, "Anggep rumah sendiri Ren jangan mal-," ucapan Filla terhenti saat Iren sudah membaringkan diri dikasurnya sambil cengengesan didepan Filla. "Gue lupa lo nggak tahu malu," ledek Filla.


"Gue tuh mandiri, tanpa disuruh udah harus anggep sebagai rumah sendiri," ucap Iren.


Filla tertawa, "Suka-suka lo deh," ucap Filla.


"Besok kemana kita?" tanya Iren sambil menaikkan kedua alisnya.


"Kita main-main dulu ke butik Mama, sambil lihat koleksi-koleksi disana, setelahnya bebas," ucap Filla.


Iren mengangguk antusias, "Setuju, ajak yang lain ketemuan, sekalian gue mau kasih surprise , mereka kan nggak tahu gue kesini," ucap Iren senang.


Filla mengangguk, "Emang lo suka jahil," ledek Filla.


Iren berjalan menuju pintu balkon, "Ini balkon?" tanya Iren.


Filla mengangguk, "Hmm."


"Gue buka ya?"


"Buka aja, gue udah lama banget nggak santai disana," Filla mendekati Iren lalu ikut berjalan keluar.


Masih sama, sepertinya Bi Surti masih mengurus tanaman di balkon kamar Filla, terlihat jelas tanaman disana makin besar dan subur, bahkan ada beberapa tanaman yang baru.


"Eh itu kamar Rangga?" tanya Iren sambil menunjuk balkon kamar Rangga yang bersebelahan dengan balkon kamar Filla.


Filla mengangguk sambil menatap jalanan dibawah yang sepi karena sudah terlalu sore.


"Pantesan lo susah move on, tempat nyantai aja bersebelahan apalagi hat-," ledek Iren terpotong.


Filla menutup mulut Iren sebelum Iren membongkar rahasianya, "Berisik deh lu, ember, entar dia denger gimana?"


Iren menunjukan jadi telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V, "Iya sorry, kan keceplosan," ucap Iren setelah Filla melepas mulutnya.


"Cepetan masuk entar tambah parah." Filla menarik tangan Iren masuk kembali kedalam kamarnya. "Gue mau mandi dulu, lo kalau mau makan snack ambil aja di situ," Filla menunjuk lemari disebelah kasurnya, "Kalau mau minum ambil aja di kulkas," ucap Filla sambil menunjuk kulkas kecil disebelah Tv-nya."


"Buset, kamar apa tokoh Buk?" tanya Iren saat membuka lemari yang Filla maksud.


"Tau deh, itu Mamah yang siapin, makan aja," ucap Filla sambil meraih handuk. "Gue mandi dulu," ucap Filla, Filla menggeleng saat Iren tanpa memperdulikannya sibuk memilih cemilan.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Filla keluar dari dalam kamar mandi dan masuk ke ruangan wardrobe-nya, "Mandi gih," ucap Filla membuat Iren berdiri dan mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.


*******


__ADS_2