
"Ngga, Rangga!" panggil Filla sambil berlari mengejar langkah cepat Rangga. Filla berhasil meraih tangan Rangga lalu menghadang Rangga dengan merentangkan tangan didepan Rangga.
Rangga diam tanpa ekspresi menatap Filla.
Filla mengatur napasnya, tidak bisa ia pungkiri, mengejar langkah Rangga membuat napasnya terengah, "Tunggu dulu," Filla menahan tubuh Rangga yang hendak kembali berjalan meninggalkannya, Filla menatap mata Rangga, pria didepannya ini benar-benar mahir memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Rangga menghela napas, lalu melipat tangan sambil menatap Filla.
"Ngga, apa yang kamu lihat tadi nggak seperti apa yang kamu pikirin," ucap Filla serius.
Rangga menaikkan kedua alis tanpa berucap.
Sekarang malah Filla yang menghela napas, "Ngga, jangan marah kayak gini."
Filla berharap lebih jika menginginkan Rangga akan menjawab atau bereaksi dengan ucapannya.
"Aku mau ke toilet," ucap Rangga.
"Rangga," Filla kembali menarik tangan Rangga dan membawa Rangga kehadapannya, "Oke aku jelasin, aku nggak tahu maksud dia apa, tiba-tiba meluk aku, aku paham kamu marah, tapi aku juga nggak tahu harus gimana, itu juga diluar kehendak aku," ucap Filla membela diri.
Filla menghela napas karena Rangga masih setia dengan diamnya.
"Ngga, jangan marah gini, aku nggak tahu harus ngapain, aki juga nggak tahu kenapa tiba-tiba kak Rafael git-," ucapan Filla terhenti.
"Jangan sekali-kali panggil dia dengan embel Kak didepan aku," ucap Rangga tegas.
Filla menelan saliva-nya, suara berat Rangga benar-benar membuatnya takut sekarang, Filla mengangguk.
Sudut bibir Rangga sedikit tertarik, lalu mengusap puncak kepala Filla, "Gitu dong nurut," ucap Rangga pelan.
Filla bernapas lega, Rangga kembali lembut seperti biasanya, "Sorry, aku seriusan nggak tahu kalau-."
"Buat apa kamu jelasin ke aku? Segitu pedulinya apa pikiran aku tentang masalah tadi?" tanya Rangga sengaja. "Kamu nggak perlu repot jelasin sama aku," ucap Rangga.
Filla mengerutkan kening, "Ya aku nggak mau kamu salah paham kayak kemaren-kemaren, dan diemin aku lagi," jawab Filla tanpa berpikir panjang.
"Kamu tinggal cuekin, kamu juga nggak pernah peduli kan?"
"Kamu kenapa sih Ngga? Aku udah berusaha jelasin malah nggak dianggep," ucap Filla mulai kesal.
__ADS_1
"Buat apa? Nggak ada untungnya buat kamu, kecuali kalau kamu cinta sama aku," ucap Rangga tegas.
"Kamu masih mempertanyakan itu Ngga? Senggak jelas itu selama ini kalau cuma kamu yang aku cinta? Betapa sulitnya aku move on tanpa ada hasil, kamu pikir gampang?" tanya Filla emosi.
Rangga mendekap tubuh Filla, jawaban Filla membuatnya melambung sekarang.
"Lepas!" Filla memukul dada Rangga berulang.
Rangga malah mempererat pelukannya pada tubuh Filla, "Akhirnya kamu ngaku kalau kamu juga cinta sama aku."
Filla mendorong tubuh Rangga, "Apaansih Ngga? Nyebelin banget," Filla menutup wajahnya dan mulai terisak.
"Loh kok malah nangis?" Rangga kembali membawa Filla dalam pelukannya, lalu mengusap berulang kepala Filla, kebahagiaan berpihak padanya sekarang.
Mereka berpelukan cukup lama, tak ada penolakan setelah mereka berdua sama-sama jujur dengan perasaan masing-masing.
"Nggak lucu!" ucap Filla sebal sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena Rangga.
Rangga tersenyum, "Emang nggak ada yang ngelawak," Rangga memegang wajah Filla dengan kedua tangannya sambil menghapus airmata Filla dengan ibu jarinya.
Wajah Filla benar-benar seperti tomat sekarang, merah merona karena jarak yang begitu dekat antara mereka berdua.
Filla terbelalak namun sepersekian detik menikmatinya, merasakan ketulusan Rangga dirinya terpejam.
Rangga kembali memegang wajah Filla, lalu tersenyum sedangkan Filla mengambil aman dengan menatap dagu Rangga, tidak aman bagi jantungnya jika melihat langsung pada mata Rangga.
Rangga tersenyum mendapati tidak adanya penolakan lagi dari Filla, Rangga menyampirkan rambut Filla yang tergerai dibelakang telinga, "Kamu nggak berani natap aku?" tanya Rangga.
Filla hanya mengangguk tanpa berucap.
Rangga kembali tersenyum, lalu mencium puncak kepala Filla, "Jangan bikin aku cemburu lagi oke?" ucap Rangga.
Filla mengangguk, lalu memberanikan diri menatap Rangga, hal pertama yang ia lihat adalah senyum bahagia Rangga yang sangat jarang diperlihatkan didepannya, sekarang seolah keinginan yang ingin Filla lupakan terwujud dalam waktu sekejap.
Filla memberanikan diri memeluk Rangga, membuat Rangga sedikit terkejut namun sangat menyukai momen langka ini.
"Tapi seriusan kan kamu nggak suka dia?" tanya Rangga.
Filla melepas pelukan Rangga, "Nyebelin banget sih!" Filla berbalik hendak meninggalkan Rangga namun tertahan oleh pelukan Rangga dari belakang.
__ADS_1
"Tapi dia suka kamu," ucap Rangga.
Filla menghela napas, "Ya kalau akunya nggak suka?"
"Bagus," Rangga mempererat pelukannya pada Filla, membuat Filla tersenyum dalam diam.
"Woy, udah kali," ucap Ola yang tiba-tiba datang dari arah belakang mereka, diikuti Jiel dibelakangnya.
Filla seketika mencoba melepas tangan Rangga yang melingkari perutnya, namun Rangga enggan bekerja sama, dirinya malah memangku dagunya di bahu milik Filla.
"Rangga," ucap Filla pelan namun penuh penekanan.
"Oke, kita pergi, lanjutin," ucap Jiel sambil mendorong bahu Ola agar melanjutkan langkahnya.
"Jangan sampai lupa makan karena keasikan pelukan," teriak Ola agar terdengar oleh Filla dan Rangga.
Rangga mengangkat jempolnya untuk jiel membuat Jiel hanya melambai sambil tertawa.
Setelah Ola dibawa pergi walau terkesan sulit karena jiwa keponya yang meronta. Filla menyikut perut Rangga dengan kesal.
"Aduh, sakit sayang," ucap Rangga sambil memegangi perutnya.
Filla berdehem, menetralisir rasa deg-degannya, panggilan sayang dari Rangga masih terdengar aneh ditelinganya walau dirinyapun menyukai itu, "Syukurin! Siapa suruh kayak tadi? Malu tau nggak diliatin Ola," Filla melipat tangan didepan dada.
"Ya mereka dateng diwaktu yang nggak tepat," ucap Rangga santai.
"Kamu yang nggak tahu tempat," ucap Filla sebal.
"Iya-iya maaf, sini peluk lagi," Rangga merentangkan tangan, kejadian yang sangat langka untuk Filla lihat, Filla baru ketahui Rangga punya sifat manja itu dibalik wajah dingin yang layaknya batu es.
Filla memajukan langkahnya membuat Rangga mengangguk senang, namun Filla sengaja melewati Rangga, "Ayo, mereka udah pada nungguin," ucap Filla.
Rangga menghela napas, sedikit kecewa karena Filla memilih untuk kembali ke tempat piknik, "Tungguin sayang," Rangga sengaja berteriak agar Filla menoleh, dan benar saja Filla menoleh dengan tatapan tajamnya, membuat Rangga tersenyum lalu menghampiri Filla dan merangkulnya.
"Malu Rangga!" ucap Filla geram.
"Buat apa malu?" Rangga mencium cepat pipi Filla, tidak usah ditanya lagi bagaimana keadaan jantung dan pipi Filla sekarang.
Rangga sengaja mencium Filla karena melihat Rafael yang menatap tak suka ke arah mereka, Rangga ingin menunjukan bahwa Filla adalah miliknya sekarang ataupun nanti.
__ADS_1
********