
"Kak bisa di Singapura gimana ceritanya? Bukannya kakak di Paris selama ini?" tanya Filla pada Vino yang menyantap makanan yang ia pesan tadi.
Vino menoleh kearah Filla disebelahnya, "Sejak sebulan yang lalu Kakak ada kerjaan di sini, belum tahu sampai kapan, mungkin bisa menetap sampai setahun, karena cabang perusahaan kakak yang ada disini baru dibangun." jelas Vino yang meraih anggukan kepala dari Filla.
Vino adalah pengusaha muda, ia adalah pewaris perusahaan keluarganya, sejak kecil Filla tahu pasti Vino sudah didik untuk menjadi pewaris perusahaan keluarga. Vino adalah tetangga Filla saat di Jakarta, umur mereka yang beda 5 tahun tidak menjadi alasan meraka untuk tidak dekat.
Filla sudah mengganggap Vino adalah kakak yang selalu ada untuk adiknya, Kepergian Vino dan keluarganya ke Paris saat Filla masih kelas 1 SMP tentu saja membuat Filla kesepian.
"Berarti Kakak bakalan lama disini?" tanya Filla semangat membayangkan Vino akan bersamanya lagi.
Vino mengangguk sambil tersenyum.
"Oiya, Kakak tahu aku disini?" tanya Filla sambil menyuap makanan kedalam mulutnya.
Rangga hanya bisa menikmati makanannya dan mendengar percakapan Filla dan Vino yang terkesan akrab.
"Sebenernya Kakak udah tahu kamu di Singapur minggu lalu, Kakak sempet ke Jakarta dan kerumah kamu, tapi kosong." ucap Vino.
Filla mengangguk, tentu saja mengingat Jakarta dan rumah lamanya menjadikan Filla kembali sedih.
Vino mengelus bahu Filla pelan, "Kamu hebat," ucapnya dengan menatap Filla tepat dimanik matanya.
Filla tersenyum, menetralisir rasa sedih yang sudah sangat sering ia rasakan.
"Oiya kalian ada hubungan apa ni?" tanya Vino memecahkan suasana.
Rangga memilih diam tanpa berkomentar.
"Nggak ada Kakak, Rangga tu udah kayak saudara, selama ini aku tinggal sama keluarga Rangga." ucap Filla sambil melahap makanannya. Ada rasa yang Filla tak ketahui maksudnya, menyebut Rangga hanya saudara membuatnya sedikit merasakan sakit tanpa alasan.
Filla menatap Rangga yang sedang menikmati kananannya, tak ada ekspresi lebih dari Rangga, seolah apa yang diucapkan Filla ia juga menyetujuinya.
Filla tersenyum gentir, Apaan sih Fill, batin Filla.
Beberapa menit berlalu mereka selesai dengan makanan yang mereka santap.
"Fill, Langsung pulang?" tanya Rangga sambil meminum jus jeruknya.
"Bisa temenin kakak dulu?" tanya Vino pada Filla.
Filla dengan cepat mengangguk, "Ngga lo pulang sendiri ya, gue mau ikut kak Vino," ucap Filla dengan cepat. "Ini kunci apartemen lo," Filla menyodorkan kunci apartemen yang tadi Rangga dititipkan.
Rangga mengerutkan keningnya lalu memilih tak peduli, "Gue duluan, jangan pulang kemaleman," ucap Rangga lalu beranjak pergi setelah pamit.
"Seriusan bukan pacar dek?" tanya Vino dengan wajah mengejeknya.
__ADS_1
"Ih kakak mah, bukan kak, dia udah kayak saudara nggak mungkin bisa," ucap Filla sambil menepuk pelan bahu Vino.
"Apa salahnya? Kalian juga bukan saudara kandung."
Filla hanya menggeleng menanggapi ucapan Vino.
"Yaudah yuk, temenin kakak cari sepatu," Vino menarik tangan Filla dan mengajaknya masuk kedalam mobil.
Filla memasang seatbelt setelah duduk dikursi penumpang disebelah Vino, "Siapa yang kasih tau kakak kalau aku di Singapur?" tanya Filla saat Vino sudah mulai menjalankan mobil keluar dari tempat makan tadi.
"Satpam rumah kamu, katanya kamu tinggal di Bandung dan dia kasih tahu alamatnya, kakak samperin eh katanya kamu di Singapur."
Filla menatap tak percaya, "Kakak sampai ke Bandung?" tanya Filla. "Segitunya kangen sama aku yang paling cantik sejagat?" olok Filla sambil menoel lengan Vino.
Vino mencubit gemas pipi Filla yang membuatnya memerah, "Iya sekangen itu, 7 tahun dek kita nggak ketemu."
"Iya, lama banget, aku nggak nyangka bakalan ketemu kakak lagi."
Vino tersenyum sambil mengelus puncak kepala Filla, "Kakak tahu yang kamu laluin sulit, maafin kakak ya nggak ada pada saat itu," ucap Vino tulus.
Filla tersenyum, "Kakak ada didepan aku sekarang, aku seneng banget kak, jangan pergi lagi ya," pinta Filla sambil memeluk lengan Vino.
Filla memang sedekat itu dengan Vino, vino yang selalu melindunginya saat kecil membuat Filla tak pernah bisa lepas dari Vino, walau terpisah 7 tahun lamanya Filla tetap merasa Vino tidak pernah asing.
Vino memarkirkan mobilnya saat mereka sampai di salah satu Mal. Vino menggenggam tangan Filla sejak mereka masuk ke dalam Mal.
Filla menggeleng, "Kakak aja, sepatuku masih banyak."
Vino tersenyum.
Mereka memilih beberapa sepatu dan Vino memutuskan untuk membeli dua sepatu yang membuatnya bingung sejak tadi.
"Kamu tunggu disana aja dek, biar nggak capek," ucap Vino sambil menunjuk kursi tunggu.
Filla mengangguk dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk Vino.
Selang beberapa menit Vino menghampiri Filla dengan menenteng belanjaannya, "Nih buat kamu," ucap Vino sambil menyodorkan salah satu balanjaannya.
Filla mengerutkan keningnya bingung, "Kakak, aku bilang kan nggak usah," ucap Filla.
"Ambil dek, kakak udah lama pengen belanjain kamu, inget kakak pernah janji kan bakalan beli sepatu saat kakak dapet gaji pertama? Tapi karena dimomen itu kakak nggak bisa ngasih, sekarang waktunya." ucap Vino.
Filla tersenyum, "Aku aja lupa kak, tapi makasih," ucap Filla sambil tersenyum.
Vino ikut tersenyum sambil mengacak pelan rambut Filla, "Dipake ya," ucap Vino menambahi.
__ADS_1
"Pasti."
Vino menunjuk Ice Cream yang berjarak 200 meter dari mereka, "Mau ice cream nggak?" tanya Vino.
Filla mengangguk cepat, apapun tentu saja bisa Filla tolak kecuali ice cream dan coklat.
"Nggak berubah," ucap Vino sambil menarik Filla untuk membeli Ice cream.
Filla menatap ice cream dengan berbagai rasa dihadapannya.
"Mau yang mana dek?" tanya Vino.
"Cokelat," jawab Filla cepat sambil menunjuk ice cream coklat yang ada dibalik kaca.
"Cokelat satu sama Vanila satu," ucap Vino memesan.
"Kak boleh dua nggak?" tanya Filla dengan memasang wajah penuh harap.
Vino tertawa melihat tingkah Filla, "Yaampun dek, gemes," ucapnya sambil mencubit gemas pipi Filla.
"Kakak lama-lama sakit pipiku," Filla mengelus pipinya yang memerah akibat ulah Vino.
"Maaf dek, tuh pesen sepuasnya," ucap Vino.
Filla kembali tersenyum, "Siap," ucapnya semangat.
Vino mengacak rambut Filla gemas, 7 tahun tak merubah sikap Filla pada dirinya, Vino tentu sempat khawatir jika Filla akan asing dengan dirinya, tapi ternyata Filla masih sama sperti dulu.
Setelah mendapat ice cream mereka duduk disalah satu kursi yang disediakan untuk instirahat.
"Kakak tinggal dimana?" tanya Filla akhirnya, karna cukup penasaran sejak tadi.
Vino mendonggak, "Nggak jauh dari apartemenmu, biar bisa pantau kamu selama disini."
Filla tersenyum, "Banyak banget kejutan dari kakak hari ini, aku bisa dong ngerengek minta dimasakin atau ditemenin jalan-jalan?" ucap Filla senang.
"Kamu yang harus masakin kakak dek, masak dari dulu kakak mulu," Vino mempautkan bibirnya, membuat Filla tertawa.
"Kakak mau makanannya menghitam?" tanya Filla sambil tertawa.
"Asal kamu yang masak, kakak usahain makan."
Filla dengan cepat menggeleng, "Jangan kak, nggak ada asuransinya kalau kakak tiba-tiba mati."
Vino tertawa lepas mendengar jawaban Filla.
__ADS_1
******