Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 126


__ADS_3

Beberapa penumpang disibukan dengan barang bawaan mereka yang harus segera dimasukkan didalam kabin.


Filla dan yang lain sudah menempati tempat duduk didalam pesawat kecuali Rangga, ayah dan papa yang masih menyusun barang mereka di kabin.


Rangga menempatkan diri duduk disebelah Tita, mereka bertiga mendapat tempat duduk berderet dimana Filla di bagian pinggir jendela, Tita di bagian tengah lalu Rangga disebelahnya.


Filla sesekali menengok kearah Rangga yang memijit tengkuknya, tentu saja rasa bersalah mendominasinya, bagaimanapun semua itu karena menolongnya.


"Ngga," panggil Filla sambil sedikit maju kedepan agar dapat melihat Rangga. "Seriusan nggak apa-apa?" tanya Filla dengan wajah khawatirnya.


Rangga tersenyum lalu menggeleng, "Nggak," ucap Rangga lalu menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.


Tita mendekat pada Filla, "Akak, Tita lihat dari tadi bang Rangga pegang ini," ucap Tita sambil memegang tengkuknya.


Filla mengangguk, "Kasih tahu Akak ya kalau masih," ucap Filla.


Tita mengangguk dengan antusias, "Siap."


*******


"Baik banget ya Pa, keluarga Dani sama Lani," ucap Mama yang duduk dikursi tengah mobil


Papa yang duduk disebelah mama mengangguk, "Iya, mereka nggak berubah," ucap papa sambil mengikat tali sepatunya.


Saat ini mereka berada didalam mobil setelah landing di Bandara 15 menit yang lalu. sedangkan keluarga ayah dan bunda berada di belakang mobil mereka karena menaiki mobilnya sendiri.


Filla menoleh pada kaca sepion disebelah kirinya melihat mobil ayah dibelakang, pikirannya masih pada Rangga, dirinya sangat merasa bersalah pada Rangga, karena saat mereka keluar dari bandara pun Filla bisa melihat Rangga menyembunyikan rasa sakitnya.


"Tita dikasih tas dong sama Ayuk Nindy," ucap Tita sambil menunjukkan tas yang sejak tadi selalu ia kenakan.


"Alhamdulillah, buat sekolah," ucap papa sambil mencium puncak kepala Tita.


"Siap bos," ucap Tita yang ikut mencium papa dan mama.


"Kakak kok diem?" tanya mama sambil mendonggak.


Filla berbalik kebelakang lalu tersenyum, "Capek aja kok Ma," ucap Filla.


Mobil yang dikendarai pak Mamat sebagai sopir keluarga Filla akhirnya sampai didepan rumah.


Filla turun dari mobil sambil merenggangkan tubuhnya, "Encok lama-lama," ucap Filla.


"Kalau kamu encok, Papa apa Kak?" ucap Papa sambil membuka bagasi.


"Papa Ucok," ucap Tita sambil tertawa.


"Udah berani ya anak Papa," ucap papa siap menggelitiki Tita.


Tita menjulurkan lidahnya lalu berlari menuju teras, membuat mama dan Filla tertawa.


"Tungga dek sampai Papa selesai turunin koper," ucap papa membuat Tita mengangguk sambil meledek.


"Alhamdulillah," ucap Ayah setelah turun dari mobil.

__ADS_1


"Gimana Ton? Pinggang masih aman?" ledek papa.


"Jangan meremehkan lah Yo, aman ini," ucap ayah membuat yang lain tertawa.


Filla melihat Rangga merenggangkan tubuhnya sambil menarik koper miliknya.


Tatapan mereka bertemu saat Rangga menoleh, Rangga hanya memasang wajah datarnya seperti biasa lalu kembali ke bagasi menolong bunda dan Aza.


Filla menarik kopernya yang diberikan pak Mamat. "Makasih Pak," ucap Filla yang diangguki oleh pak Mamat.


"Yaudah, kita masuk dulu Ton, Dir," ucap mama pada ayah dan bunda.


"Kakak," ucap Filla terkejut saat melihat Vino berjalan pelan dibantu tongkat mendekat kearahnya dengan kaki yang diperban.


Vino tersenyum sambil mendekati Filla.


"Kenapa bisa gini?" tanya Filla khawatir.


"Asatagfirullah Vin, kanapa?" tanya mama yang ikut mendekat kearah Vino.


Vino hanya tersenyum.


"Yaudah masuk dulu, kasian Vino nya," ucap papa sambil menarik koper diikuti Tita dibelakangnya.


Filla dan mama membantu Vino masuk kedalam rumah, "Bun, kita masuk diluan ya," ucap Filla.


"Iya Nak," ucap Bunda.


******


Filla dan mama membantu Vino duduk di sofa ruang keluarga.


"Kenapa bisa gini Kak?" tanya Filla setelah duduk disebelah Vino.


Vino tersenyum, "Nggak apa-apa Dek, cuma kecelakaan kecil kok," ucap Vino sambil mengelus puncak kepala Filla.


"Gimana ceritanya Vin?" tanya Papa yang ikut duduk di depan Vino.


"Waktu di Singapura, mobil yang aku naikin nggak sengaja di tabrak dari belakang sama pengendara lain, kaki ku retak karena benturan keras, tapi Alhamdulillah nggak ada yang serius Pa," ucap Vino.


"Alhamdulillah," ucap papa.


"Papa sama Mama istirahat aja, pasti capek, Vino nggak apa-apa kok cuma mau ketemu Filla yang lagi ngambek," ucap Vino sambil tersenyum pada Filla.


Papa dan mama tertawa, "Cepat sembuh Vin," ucap mama. "Yaudah Mama sama Papa mandi dulu ya, bantuin Vino kalau butuh apa-apa Kak," ucap mama sambil beranjak setelah meraih anggukan dari Vino dan Filla.


"Kok Kakak nggak ngomong sih?" ucap Filla setelah hanya berdua dengan Vino.


Vino tersenyum, "Nggak mau kamu khawatir, kamu kan liburan masak Kakak ganggu," ucap Vino.


Filla menangkup wajahnya dengan kedua tangan, "Aku jahat banget," ucap Filla sambil terisak.


"Loh kok nangis?" ucap Vino panik, lalu menarik Filla dalam pelukannya.

__ADS_1


"Padahal Kakak kesakitan, aku malah kekanakan ngambek segala," ucap Filla merasa bersalah, andai dia tahu apa yang sedang Vino alami dirinya tidak akan mendiami Vino beberapa hari lalu.


"Hey," ucap Vino lalu membuka tangan Filla. "Lihat Kakak," ucap Vino sambil tersenyum.


Filla terisak tapi tetap menatap mata Vino.


"Kamu nggak jahat sayang, wajar kamu marah, Kakak juga ilang-ilangan kemaren," ucap Vino.


"Tapi Kakak sakit malah aku nggak tahu," ucap Filla.


Vino tersenyum lalu memegang pipi Filla, menghapus air mata yang perlahan jatuh membasahi pipi Filla, "Kakak yang nggak kasih tahu, bukan salah kamu," ucap Vino.


Filla menghambur ke pelukan Vino, dirinya merasa sangat bersalah pada Vino, apalagi jika mengingat ucapannya untuk Vino tempo hari.


Vino mengusap puncak kepala Filla, "Kakak nggak apa-apa kok, Kakak cuma nggak mau kamu khawatir, makanya selalu berusaha menghindar saat kamu hubungi," jelas Vino.


Filla melepas pelukan Vino lalu memegang tangan Vino, "Serius nggak ada lagi yang sakit selain kaki?" tanya Filla sambil melihat Vino.


Vino mengangguk, "Ada sih," ucap Vino dengan senyum jahilnya.


"Mana?" tanya Filla khawatir.


"Di dada Kakak, mau lihat?" tanya Vino sengaja membuat Filla salah tingkah.


"Ih Kakak, orang serius," ucap Filla sedikit sebal.


"Iya-Iya," ucap Vino sambil mengelus puncak kepala Filla.


"Maaf Kak," ucap Filla sekali lagi, dirinya benar-benar merasa bersalah pada Vino.


"Udah ah, belum juga lebaran," ledek Vino. "Gimana liburan kamu?"


Filla mengangguk lalu tersenyum, "Seru, cuma kesel sama Kakak kemaren," ucap Filla manja sambil menyender di senderan kursi.


Vino membawa Filla agar bersender di bahunya, "Iya maaf," ucap Vino. "Soal hati gimana?" tanya Vino sambil tertawa.


"Ya nggak gimana-gimana, ih Kakak ngeledekin terus, padahal cemburu," ucap Filla sambil mencubit gemas perut Vino.


"Geli dek," Vino memundurkan tubuhnya dari Filla membuat Filla tertawa. "Kalau cemburu mau gimana?" ucap Vino menantang.


Filla langsung memeluk Vino, "Nggak apa-apa, biarin Kakak cemburu," ucap Filla membuat Vino tertawa.


Ponsel Vino berdering membuat Filla melepas pelukannya dari Vino.


"Siapa?" tanya Filla.


Vino langsung mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya kedalam saku, "Kantor, cuma Kakak lagi nggak mau ngurusin soal kerjaan, mau kangen-kangenan dulu sama kamu," ucap Vino sambil menaruh kepalanya pada pundak Filla.


"Kalau penting gimana?" Filla mengelus kepala Vino, memainkan rambut milik Vino.


"Nggak ada yang lebih penting dari kamu," ucap Vino membuat Filla bersemu.


*******

__ADS_1


__ADS_2