
Filla tak besemangat hari ini, apa yang terjadi dihidupmya sekarang benar-benar belum bisa ia terima.
Filla duduk di kantin bawah kampus, menikmati secangkir coklat panas membuatnya lebih nyaman.
Banyak hal yang menjadi pertanyaan, permainan seperti apa yang ada sekarang, dengan mudah hidupnya diubah-ubah, kesalahan apa yang dirinya perbuat sampai ia mengalami hal yang tidak orang lain alami.
Reya menempatkan diri disebelah Filla, menepuk pelan bahu Filla.
Filla menoleh lalu tersenyum, "Lo baru dateng?" tanya Filla.
Reya mengangguk, "Tadi gue ke minimarket dulu," jawab Reya seadanya. "Kemarin kenapa? Ada masalah?" tanya Reya.
Filla menggeleng, "Biasa," ucap Filla lalu menyesap kembali cokelat panasnya.
"Mimpiin Rangga lagi? Udahlah lo kan memutuskan untuk berhenti menunjukkan rasa suka lo sama Rangga, dan gue bangga banget, cuma mimpi lupain lah," ucap Reya menatap Filla penuh keyakinan.
Filla tersenyum, "Andai semudah itu," ucap Filla pelan hampir tidak tersengar.
"Maksudnya?" tanya Reya yang tak mendengar jelas ucapan Filla.
Filla tersenyum lalu beranjak, "Andai gue jadi lo Rey, nggak akan seberat ini," ucap Filla.
"Susah jadi gue," ucap Reya sambil tertawa lalu mereka meninggalkan kantin dan berjalan menuju kelas.
Filla dan Reya memasuki kelas yang sudah ramai mahasiswa didalamnya, Filla melihat Rangga yang asik dengan buku ditangannya, hari ini Rangga mengambil kelas yang sama dengannya.
Filla mendudukan diri disebelah Reya, cukup berjarak dengan Rangga yang berada di bagian kanan kelas.
"Udah, entar nggak bisa move on," ucap Reya sambil menarik dagu Filla membawa wajah Filla agar menatapnya.
Filla menghela napas, benar kata Reya, mungkin ini akhir dari semua kisahnya dengan Rangga, ia harus ikhlas dengan apa yang terjadi, sekarang ia punya keluarga yang akan terus ada disisinya.
Filla membuka bukunya dan memutar musik diponselnya, melakukan hal ini akan membantunya tidak terus melihat kearah Rangga yang akan mengabaikannya.
******
Filla berjalan menuju parkiran sampai ia menghentikan langkahnya saat melihat Rangga dan Kania duduk dibangku dekat taman.
Rasanya baru saja kebahagiaan membuncah ia rasakan, sekarang sepertinya harus kembali merasakan sakit dan siap akan apapun kejutan berikutnya tentang Rangga.
Filla berjalan meninggalkan Rangga tanpa menoleh kembali.
Filla memasuki mobilnya lalu membenamkan diri di setir, menikmati rasa yang sepertinya akan ia rasakan selalu setelah pilihan yang ia buat.
Ponsel Filla berdering, tertera nama Ola dilayarnya, tanpa berpikir Filla menerimanya.
__ADS_1
"Hallo La," ucap Filla membuka pembicaraan.
"Fill, gue sekarang sama Caca," ucap Ola pelan, sedikit takut dengan reaksi yang akan dikeluarkan Filla.
"Kalian sekarang dimana?" tanya Filla.
"Dirumah gue, lo mau kesini?" tanya Ola hati-hati.
"Iya, kirim alamat rumah lo," ucap Filla lalu mematikan sambungan saat pembicaraannya dengan Ola selesai.
Tidak memakan waktu lama Filla sampai dihalaman rumah Ola, rumah yang sangat nyaman menurut Filla, dimana ada kolam ikan didepan rumahnya dan beberapa pohon yang membuat rumah terasa nyaman.
Rumah yang sangat berbeda seperti rumah Ola di Jakarta, rumah ini terkesan lebih sederhana namun elegan.
Filla menekan bel saat dirinya berdiri didepan pintu rumah Ola.
Seorang wanita paruh baya sedikit terkejut dengan kehadiran Filla.
Filla juga cukup canggung, secara pertemuan terakhirnya dengan mama Ola berkesan sangat tidak baik.
"Assalamuaalikum Tante," ucap Filla mencoba tenang lalu menyalami tangan tante Sina yang masih mematung.
"Filla," ucap tante Sina yang langsung membawa Filla dalam dekapannya.
Filla sedikit tersentak namun tetap membalas pelukannya.
Filla tersenyum, "Yang udah lewat biarin aja Tante, Filla juga minta maaf pernah kasar sama Tante," ucap Filla.
"Kamu anak baik Filla," ucap tante Sina sambil tersenyum. "Kamu mau ketemu Ola?" tanya tante Sina.
Filla mengangguk, "Ola bilang ada Caca," ucap Filla seadanya.
"Iya, sejak 20 menit yang lalu, sepertinya mereka menangis didalam kamar," ucap tante Sani sambil tertawa.
Filla ikut tertawa.
"Yaudah yuk masuk, kamu langsung ke kamar Ola aja Filla, dilantai 2," ucap tante Sina sambil menunjuk anak tangga yang akan membawa Filla ke kamar Ola.
Filla mengangguk, lalu berjalan menaiki anak tangga, sampai ia berada didepan pintu dengan tulisan nama Ola, Filla sedikit gugup, bagaimanapun bertemu lagi dengan Caca adalah hal yang tak pernah ia banyangkan.
"Assalamualaikum," ucap Filla sambil mengetuk pintu.
Terdengar langkah kaki dari dalam, "Iya Filla," Ola menarik tangan Filla saat pintu terbuka, terlihat mata sembab Ola.
Filla mengikuti arah tarikan Ola, didepan sana ada Caca yang memilih menunduk tak berani menatap kehadiran Filla.
__ADS_1
Filla ikut duduk dikasur mengikuti Ola.
"Caca mau ngomong sama lo," ucap Ola sambil menepuk bahu Filla.
Filla mengangguk.
Caca mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap mata Filla, "Fill maafin gue, gue salah," ucap Caca tak bisa membendung tangisannya.
Filla menghela napas, menarik Caca dalam pelukannya, "Yang udah lewat biarin aja Ca, sekarang kita bejalan maju kedepan," ucap Filla sambil menggosok punggung Caca.
"Gue bodoh Fill, sembunyi dibalik orangtua hari itu, gue bukan sahabat yang baik," ucap Caca.
Filla mengusap puncak kepala Caca, lalu melepas pelukannya pada Caca dan menatap Caca tepat dimanik matanya, "Gue udah renungin semua ini, nggak ada yang salah diantara kita, waktu itu kita cuma takut," ucap Filla menenangkan.
"Makasih Fill, terasa lebih baik ketika lo ngomong gini sama gue," Caca menarik Filla dalam pelukannya.
Ola ikut memeluk mereka bedua, mereka bertiga menumpahkan semua rasa yang lama terpendam saat ini, mengeluarkan tiap rasa bersalah yang selalu menghantui.
"Kalian berdua jangan pernah ninggalin gue lagi," ucap Ola terisak. "Gue sendiri," ucap Ola.
Filla dan Caca memeluk Ola erat dan mengangguk.
"Kita jadiin semua ini jadi pelajaran," ucap Filla yang ikut terisak.
Ola dan Caca mengangguk.
"Lo Ca, nggak pernah nemuin gue," ucap Ola pura-pura kesal.
"Maaf La, gue nggak siap ketemu kalian, gue ngerasa bersalah banget apalagi tahu kabar Filla koma setelah kejadian itu," ucap Caca.
"Tapi kan bisa ketemuan sama gue, gue sedih banget waktu lo pergi tanpa pamit."
Caca mengangguk, "Gue emang nggak bisa jadi temen yang baik," ucap Caca.
"Udah jangan dibahas lagi," ucap Filla sambil tersenyum, jika dilanjutkan tidak akan ada yang benar atau salah, mereka semua hanya melewati masa remaja lebih istimewa dari orang lain.
"Gue takut banget tadi Filla nggak bisa maafin gue, karena waktu itu lihat gue aja Filla pergi," ucap Caca.
Filla tersenyum.
"Emang lo nyeremin Ca, makanya Filla kabur, apalagi ngebayangin bakalan ketemu lagi sama lo yang loading-nya lama," ledek Ola sambil menimpuk Caca dengan bantal.
"Maksudnya?" tanya Caca dengan wajah penasaran.
"Ye, udah Fill nyerah-nyerah," ucap Ola sambil membaringkan diri dikasurnya. diikuti Filla disebelahnya.
__ADS_1
"Apa dulu?" tanya Caca menarik tangan Filla dan Ola yang memilih mengabaikannya.
******