
Alviro tampak menggertak-gertak tangannya di meja, diliriknya benda pipih persegi empat yang tidak jauh dari tangannya.
Ia masih ragu untuk mengambil sebuah keputusan yang akan dipilihnya.
Namun, pada akhirnya ia pun kemudian mengambil benda pipih tersebut, mencari kontak yang akan ia panggil.
"Halo.." ucap Alviro.
"Apakah kamu ada waktu siang ini?" tanyanya pada seseorang yang berada diseberang telepon.
"Baiklah, nanti saya kirim lokasinya" ujar Alviro yang kemudian menutup teleponnya.
Lalu Alviro pun kembali melanjutkan aktivitasnya.
.
.
.
Tringggg
Notifikasi pesan dari ponsel Rasya berbunyi. Rasya pun meraih ponsel tersebut dan membacanya sekilas. Setelah itu, Ia melepaskan jas putihnya dan menggantinya dengan jas yang berwarna hitam yang digantungnya tadi.
Ia pun bergegas memasuki mobilnya dan langsung menuju jalanan.
Rasya telah sampai di sebuah restoran, Ia pun mengendarkan pandangannya. Terlihat pria yang rambutnya yang sudah mulai memutih,namun tidak mengurangi kadar ketampanannya.
Ia pun dengan sigap langsung menghampiri pria tersebut, dan menarik salah satu kursi yang ada dihadapannya.
"Maaf om, membuat om menunggu lama" ucap Rasya.
Pria tersebut mengembangkan senyumnya.
"Tidak apa-apa" timpal Alviro.
"Silahkan pesan dulu, nanti setelah makan kita baru bicara" lanjut Alviro.
"Baik om"
Keduanya pun memesan hidangan yang ada di buku menu tersebut.
Beberapa waktu kemudian, mereka pun telah menyelesaikan makan siangnya.
"Apa yang mau om bicarakan?" tanya Rasya lagi.
"Emmm begini, apakah kamu tidak memiliki niat untuk serius pada putri om?" ujar Alviro langsung.
"Maksud om?" tanya Rasya lagi yang tampaknya kurang paham dengan perkataan Alviro.
"Om tahu, kamu menyukai Aurel" ujar Alviro.
Rasya pun hanya bungkam.
__ADS_1
"Om ingin kamu buat anak om menyukaimu juga" tutur Alviro.
"Tapi Aurel memiliki lelaki lain dihatinya om" timpal Rasya.
Alviro pun terkekeh.
"Bukankah hasil tidak akan pernah bisa dilihat jika kamu belum pernah mencobanya nak. Bagaimana kamu akan menang jika semangat juangmu mudah pudar" jelas Alviro.
Rasya pun terdiam. Apa yang baru saja diucapkan Alviro memang ada benarnya. Selama ini Rasya hanya dekat dengan Aurel namun tak dapat memikat hatinya.
.
.
.
Siang pun berganti malam, Aurel berbaring di kasur seraya memegang kartu ucapan yang selalu ia terima setiap paginya, beserta setangkai mawar yang selalu singgah di depan pintu rumahnya.
Ia pun membaca berulang kali seraya tersenyum sendiri, layaknya anak remaja yang baru saja menemukan cinta pertamanya.
Tok. .Tok. .
Ketukan pintu pun membuyarkan lamunannya. Ia segera menyembunyikan kartu ucapan tersebut di balik bantalnya.
Belum lama kemudian, Alea pun menampakkan dirinya dari balik pintu.
"Kamu dicariin papa, katanya dia mau ngomong sesuatu ke kamu" ucap Alea.
"Mama kurang tahu nak, temui papamu sana" titah Alea.
"Oke ma.." ujar Aurel yang langsung turun dari ranjang. Ia pun langsung keluar dari kamarnya dan menemui Papanya.
Alviro tampaknya telah menunggu Aurel di ruang tengah, Aurel pun langsung menghampiri papanya.
"Ada apa pa?" tanya Aurel langsung.
"Apakah kamu masih mendatangi kampus Reyhan?" tanya Alviro balik.
"Emangnya ada apa pa?" ujar Aurel yang terkejut dengan pertanyaan Alviro.
"Papa tanya kamu, apakah kamu masih datang kesana setiap paginya?" tanya Alviro tegas.
"Iya pa, masih" cicit Aurel.
"Bisakah kamu untuk berhenti mengejar Reyhan dan berhenti mendatangi pria itu?" tukas Alviro.
"Maaf pa, aku nggak bisa" ucap Aurel pelan.
"Lupakan pria itu!" ujar Alviro lantang.
"Papa sebelumnya mendukungku pa, kenapa papa tiba-tiba berubah fikiran?"ucap Aurel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Papa hanya tidak ingin jika kelak kamu jatuh ke tangan pria yang salah, nak." ujar Alviro yang mulai melembut.
__ADS_1
Aurel pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju kamarnya. Entah mengapa hatinya begitu sakit, saat mendengar ucapan ayahnya tadi.
Selama ini papanya lah yang selalu mendukungnya, namun kali ini Alviro tampaknya sudah tidak berada dipihaknya.
Alviro yang melihat putri semata wayangnya itu dengan perasaan bersalah.
"Apakah ucapanku tadi terlalu kasar?" batin Alviro.
Jujur saja, sudah beberapa hari ini ia mengikuti Aurel setiap paginya. Bahkan ia melihat semua yang dilakukan oleh Reyhan pada putri semata wayangnya itu.
Perlakuan yang tidak mengenakkan selalu menjadi suguhannya. Alviro tidak terima dengan perlakuan Reyhan terhadap putrinya. Namun, ia tidak bisa menyalahkan Reyhan sepenuhnya. Karena yang selama ini putrinya lah yang terlalu mengejar pria itu.
"Ada apa denganmu, mas?" ujar Alea yang datang dari belakang kemudian duduk bersebelahan dengan Alviro.
Alviro hanya berdehem.
"Selama ini kamu selalu ngedukung Aurel, kenapa tiba-tiba kamu berubah fikiran?" sindir Alea.
"Emm.. ya.. aku.. aku hanya memberikan arahan saja supaya Aurel nantinya menemukan pria yang layak untuk disukainya" ujar Alviro terbata-bata.
"Dari dulu aku nasihatin Aurel, tapi kamu selalu aja bela dia. Sekarang kamu baru sadar mas"tukas Alea tersenyum sinis.
"Iya, maafin aku Leah" ucap Alviro.
"Aku ibunya mas, naluri seorang ibu itu lebih kuat mas. Aku juga nggak mau kalau Aurel memilih jalan yang salah" tutur Alea.
"Iya sayang" rayu Alviro seraya mengelus puncak kepala istrinya itu, agar menghentikan ocehan istrinya yang semakin tua semakin cerewet.
Alea pun langsung memberikan tatapan tajam pada suaminya itu. Tentu saja ia mengerti trik suaminya menghentikan ocehan yang baru saja dilontarkannya.
"udahlah, aku mau tidur" ketus Alea langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Leah, jangan pura-pura tidur. Kamu mau tidur dikamar apa tidur diluar?" ujar Alviro menirukan ucapan istrinya beberapa hari kemarin seraya menaik turunkan alisnya.
"Terserah.. Aku tidur diluar aja. Kamu malem ini tidur aja sendiri" ujar Alea melangkah pergi.
"Astaga" ujar Alviro seraya mengelus dadanya.
.
.
Bersambung...
Terimakasih sudah membaca jangan lupa like komen dan votenya ya sayang-sayangku 😘
Salam manis Ryn
__ADS_1