
Alea mengunci pintu rumahnya bersiap untuk berangkat bekerja.
Ia pun menyusuri lorong gang rumahnya, biasanya Abizar terlihat sudah memarkirkan mobilnya didepan gang namun kali ini ia tidak menemukan sosok tersebut.
Alea pun melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya.
Sesampainya ditempat kerja, ia melihat Tiara yang baru saja turun dari taksi.
"hay Leah. ." sapa Tiarař
"hay juga Tia. ." balas Alea
"tumben sendirian abang tampannya kemana? kalian lagi berantem ya?" tanya Tiara.
"apaan sih Tia ya gak lah, dia lagi sibuk" ujar Alea.
"kayaknya dia suka sama kamu Leah kalo dia nembak jangan ditolak dong, sayang kayak gitu dianggurin udah tampan profesinya dokter lagi" tukas Tiara panjang lebar.
Alea pun menggelengkan kepalanya dan langsung masuk ke dalam minimarket yang menjadi tempat kerjanya.
"Alea tunggu. ." seru Tiara sembari berlari kecil mengejar Alea.
___
Alviro tenggelam dengan tumpukan dokumennya. semenjak kedatangan Roland kemarin yang sedikit memberi pencerahan akhirnya Alviro pun sadar jika ia harus melanjutkan hidupnya.
Drrttttt. . .
Tiba-tiba ponsel Alviro bergetar, dilihatnya id pemanggil ternyata nomor tak dikenal. Alviro pun mengabaikan panggilan tersebut dan tetap fokus pada dokumen yang ada dihadapannya.
Namun nomor tersebut tetap menghubungi Alviro, Alviro pun terpaksa mengangkat panggilan tersebut.
"maaf dengan siapa?" ujar Alviro.
seketika Alviro menegang mengetahui siapa yang menghubunginya berkali-kali.
"baiklah, saya akan segera kesana" ujar Alviro seraya mematikan ponselnya.
Ia pun bergegas keluar ruangan dan meninggalkan pekerjaannya.
__ADS_1
Alviro memarkirkan mobilnya disebuah kedai kopi.
Dilihatnya sepasang pasutri yang sudah paruh baya menatapnya dengan cemas. Mereka adalah orang tua dari Clara.
"Alviro. ." panggil ibunda Clara begitu melihat sosok yang mereka tunggu sedari tadi muncul.
Alviro pun langsung menghampiri orang tua Clara.
"ada apa om dan tante mencari saya?" tanya Alviro seraya menarik kursi yang ada dihadapannya.
"begini Alviro, om cuma mau tanya apakah kamu tau dimana Clara tinggal. Soalnya semenjak mendapat kabar bahwa kamu sudah menikah, Clara kabur dari rumah" ujar Ayah Clara menjelaskan maksud dan tujuannya.
"maksud om dan tante Clara sudah mengetahui kalau saya menikah sewaktu dia masih di Kalimantan?" tanya Alviro mendetail.
"iya, maka dari itu om tanya ke kamu" ujar ayah Clara.
Degggg. .
Kini Alviro sadar bahwa selama ini Clara sudah membodohi dirinya berpura-pura tidak tau pernikahannya dengan Alea.
"apakah om dan tante tidak bercerai?" kata-kata tersebut lolos begitu saja dari bibir Alviro.
Ayah Clara pun tertawa mendengar pertanyaan dari Alviro tersebut.
Sungguh Alviro tak pernah menyangka jika Clara selicik itu. Kini Alviro sadar betapa bodohnya dia mempercayai wanita seperti Clara dibandingkan Alea.
"maafkan saya om jika saya lancang bertanya seperti itu, saya mendengar hal tersebut dari Clara" ucap Alviro.
Kedua orang tua Clara pun saling berpandangan, mereka tak menyangka jika putrinya sampai berkata sejahat itu.
"baiklah kalau begitu mari saya antarkan om dan tante ke tempat Clara" ujar Alviro.
Mereka bertiga beranjak dari tempat duduk dan segera menuju ke tempat Clara.
Alviro memberhentikan mobilnya tepat di depan kediaman Clara.
Alviro dan kedua orang tua Clara pun langsung turun dari mobil.
"om dan tante jangan terkejut jika melihat Clara, karena saat ini Clara sedang hamil" ujar Alviro membuka suara.
__ADS_1
Ibunda Clara langsung menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alviro, sedangkan ayah Clara langsung menarik kerah baju Alviro.
"lancang kamu menghamili anak saya" ujar ayah Clara yang mendaratkan satu buah pukulan di wajah Alviro.
Ibunda Clara mencoba melerai mereka berdua.
"saya tidak pernah menyentuh apa yang bukan menjadi milik saya om, sebaiknya om tanyakan langsung kepada Clara" tukas Alviro menyeka darah yang ada di ujung bibirnya.
Alviro memencet bel kediaman Clara tersebut.
Clara pun keluar dari rumahnya dengan mengenakan baju daster, ia terlihat senang dengan kedatangan Alviro, namun seketika ia langsung membulatkan matanya melihat Alviro tidak sendiri melainkan datang bersama kedua orang tuanya.
"mama. . papa. ." ucap Clara yang setengah berbisik.
"kamu kenapa berdarah gini?" tanya Clara kepada Alviro sembari menyentuh bagian luka yang ada disudut bibir.
Alviro menatap Clara dengan rahang mengeras, ia pun langsung menepis tangan Clara dan tidak menghiraukan pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh Clara.
"om. .tante. . saya rasa tugas saya sudah selesai untuk mengantarkan om dan tante kesini, maka dari itu saya akan kembali ke kantor karena saya masih banyak pekerjaan" ujar Alviro yang langsung pergi dari tempat tersebut.
"makasih nak Alviro. ." ujar ibunda Clara.
Alviro pun membalas anggukan seraya tersenyum.
.
.
Alviro langsung memasuki mobilnya, kini emosinya pun sudah mencapai tingkat tinggi.
"akkhhhhh" teriak Alviro kesal sambil memukul setir yang ada dihadapannya.
Alviro menyesali keputusan yang diambilnya. Ia tidak pernah menyangka jika Clara sejahat itu hanya untuk menghancurkan rumah tangganya.
Andaikan waktu dapat diputar, malam itu Alviro ingin mengatakan bahwa ia mencintai Alea dan akan mempertahankannya. Namun nasi sudah menjadi bubur, penyesalan kini tinggalah penyesalan.
.
.
__ADS_1
Like dan komen yah😉
salam manis RPS😊