
Reyhan dan Irene tampak tengah menikmati makan malamnya. Keduanya tak berucap apapun. Hanya denting piring dan sendoklah yang memenuhi ruangan tersebut.
Sesekali Irene melirik ke arah Reyhan. Gadis itu sungguh tak enak hati dengan Reyhan karena insiden tadi siang yang tentunya membuat Reyhan malu.
"Soal tadi siang, aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu malu" ucap Irene pelan.
"Sudah tidak usah dibahas, habiskan makananmu" titah Reyhan yang masih melahap makanan yang ada dihadapannya.
Irene menuruti ucapan suaminya itu, kembali menyantap makanan yang ada dihadapannya.
...
Irene duduk di gazebo sendirian. Gadis itu menatap langit dengan begitu lekat. Semilir angin berhembus menyibak anak rambut yang ada dikeningnya. Pandangan Irene teralihkan saat tengah melihat Reyhan yang berjalan mendekat ke arahnya.
Pria tampan yang tak lain adalah suaminya. Namun tak mampu ia meraih hatinya. Awalnya Irene hendak membenci pria yang duduk didekatnya ini yang pandangannya masih tertuju pada layar ponselnya itu.
Namun melihat banyak sisi positif dari seorang Reyhan membuat Irene mengurungkan niatnya. Seberapa ingin ia membuang perasaan itu, semakin lekat jua perhatian Reyhan yang membuat semua pertahanannya runtuh.
"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Reyhan sembari memangku dagunya menatap balik Irene.
Irene yang baru sadar dari lamunannya itu mendadak salah tingkah, apalagi saat Reyhan kembali menatapnya seperti itu.
"Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kau berjanji untuk tidak marah padaku" ucap Reyhan.
"Apa?" Irene menunggu pertanyaan dari Reyhan.
"Kau menyukaiku?" tanya Reyhan sembari menatap lekat Irene
DEGGG... DEGGG..
Debaran jantung Irene bak terdengar nyaring. Pipinya memerah saat mendengar pertanyaan dari suaminya itu.
"Pertanyaan macam apa itu" gumam Irene mengalihkan pandangannya sembari mengibaskan jemarinya. Sungguh gadis itu merasa malu, sebuah pertanyaan Reyhan yang tepatnya adalah pernyataan.
"Apakah ketampananku ini masih diragukan?" gumam Reyhan bermonolog.
__ADS_1
"Iya kau sama sekali tidak tampan" ketus Irene yang tentunya hati kecilnya itu berkata sebaliknya.
"Dari gerakan matamu tampaknya kau tengah berkata yang sebaliknya" goda Reyhan.
Irene pun tiba-tiba berpura-pura mengantuk.
"Hehe sepertinya aku mulai mengantuk" ucapnya beranjak dari tempat duduknya dan kemudian menuju ke kamarnya.
Reyhan hanya terkekeh melihat Irene yang salah tingkah seperti itu, baginya gadis itu semakin menggemaskan disaat setiap kali Reyhan menggodanya.
...
Didalam kamar, Irene merasakan perutnya kram. Ia pun merebahkan dirinya sembari memegangi perutnya yang terasa sakit itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Reyhan pun menampakkan dirinya dari balik pintu. Pria itu pun bergabung bersama istrinya itu menaiki tempat tidur.
Dilihatnya Irene membelakanginya, pria itu pun terkekeh. Dikiranya Irene masih malu karena ia goda tadi. Reyhan pun menarik selimutnya, berbaring disebelah istrinya yang tentunya tidak melewati garis pembatas sesuai dengan perjanjian waktu itu. Hanya saja Irene lah yang selalu menyebrangi garis yang dibuatnya sendiri.
"Selamat tidur istriku, jangan mimpi Indah karena kau tidak tahu dia siapa. Lebih baik kau memimpikan ku saja" goda Reyhan sembari terkekeh namun tidak ada sahutan dari Irene.
...
Reyhan terjaga dari tidurnya saat ia beberapa kali mendengar ringisan dari istrinya itu.Reyhan pun bergeser mendekati Irene, ia menyingkirkan bantal guling yang dianggap pembatas mereka itu.
"Kau kenapa?" tanya Reyhan saat melihat Irene memegangi perutnya.
"Perutku sakit" ucap Irene
"Apakah kau salah makan?" tanyanya lagi.
"Bukan itu, ini sebenarnya kram karena sedang datang bulan" ujar Irene sedikit malu.
"Baiklah, kau tunggu disini dulu" ucap Reyhan yang turun dari tempat tidur tersebut.
Tak lama kemudian, Reyhan pun kembali dengan membawa baskom dan disusul dengan segelas air hangat.
__ADS_1
"Minumlah dulu" ucap Reyhan menyuguhkan air tersebut pada Irene.
Irene pun duduk dan meraih gelas yang diberikan oleh suaminya itu dan meminumnya.
"Barbaringlah lagi" ucap Reyhan.
Gadis itu pun menuruti perintah suaminya itu.
Reyhan memeras air yang ada didalam baskom tersebut.
"Maaf, bisakah kau singkap sedikit bajumu. Aku ingin mengompres perutmu dengan handuk hangat" ucap Reyhan.
Sebenarnya Irene merasa sangat malu dengan ucapan Reyhan tersebut, namun Irene tetap menurutinya.
Reyhan dengan sangat berhati-hati meletakkan handuk tersebut di perut ramping istrinya. Ia tidak ingin menyentuh kulit mulus istrinya itu walaupun sisi lain dari dirinya bangkit, karena Reyhan tahu jika hal itu terjadi maka nyawalah yang jadi taruhannya.
Reyhan pun menunggu istrinya itu hingga tertidur. Tampaknya rasa sakit tersebut sudah sedikit berkurang saat melihat istrinya itu tertidur pulas.
Reyhan pun mengambil kembali handuk kompres tersebut. Ia pun menutup kembali baju istrinya itu dan membalut tubuh Irene dengan selimut. Reyhan merapikan rambut yang menutup wajah istrinya itu. Dengan sedikit memberanikan diri, pria itu mengecup kening istrinya dengan lembut. Irene tertidur pulas tentu saja gadis itu tidak akan menyadarinya.
Reyhan beranjak dari tempat duduknya untuk mengembalikan handuk dan baskom yang dibawanya tadi ke dapur.
Perlahan mata Irene terbuka, pandangan sedikit mengabur memperlihatkan bahu lebar milik suaminya itu meninggalkannya. Kecupan singkat yang mendarat dikeningnya begitu terasa.
"Apakah aku sedang memimpikannya?" gumam Irene dalam hati. Perlahan Irene pun kembali tertidur pulas.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya lewat vote, like dan komentarnya ya❤️
__ADS_1
follow juga ig ayasakaryn24 untuk informasi updatenya 🤗