Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 36. Wanita Masa Lalu


__ADS_3

Aurel mencoba fokus dengan pekerjaannya dikantor. Wanita itu mencoba untuk melupakan semua hal pahit yang baru saja dialaminya, namun menyibukkan dirinya pun rasanya percuma karena saat ini pikirannya tengah berada melayang jauh.


Wanita itu pun menghentikan tangannya yang semula menari diatas keyboard. Ia pun memukul meja dengan keras lalu kemudian menutup wajahnya. Kemudian ia pun menangis tersedu.


"Apa yang harus aku lakukan" gumamnya disela tangisnya itu.


...****************...


Reyhan mengerem mobilnya dengan mendadak hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Irene sedari tadi merasa nyawanya sudah di ujung tanduk akibat ulah Reyhan yang mengemudi mobilnya bak kesetanan itu. Namun Irene tidak berani untuk menegur Reyhan, karena setelah menerima telepon dari mertuanya itu raut wajah Reyhan menjadi kemerahan karena amarahnya yang sudah menggebu-gebu.


Tanpa aba-aba lagi Reyhan pun segera turun dan menutup pintu mobil tersebut dengan sedikit keras membuat Irene kembali terkejut.


"Jika kau terus bersikap seperti itu mungkin satu Minggu kemudian aku dinyatakan jantungan" gumam Irene yang melihat Reyhan yang sudah memasuki rumah Rasya terlebih dahulu.


...


Suasana dirumah itu tampak dingin, terlihat dari wajah orang-orang yang ada didalamnya. Rasya yang hanya melamun sembari duduk di ruang tamu, sementara Abizar tampak memijat kepalanya. Irene pun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mama mertuanya. Ia melihat sang mama tengah membantu ART yang ada dirumah rasya. Sesekali wanita itu menyeka air matanya yang jatuh di pipi keriputnya itu.


"Ma .." panggil Irene yang sontak saja Irsya menoleh ke arahnya.


"Nak Irene.."gumam merutuanya itu yang kemudian menghampirinya dan memeluknya.


Air mata Irsya pun tumpah saat itu juga, hanya terdengar suara sesegukkan tanpa mengucapkan satu kalimat pun untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini. Namun Irene tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin ini adalah masalah yang bukanlah spele, dan mungkin butuh waktu bagi mertuanya itu menjelaskan semua yang terjadi di tempat ini.


Setelah sedikit merasa tenang, Irsya pun mengajak Irene duduk di kursi yang ada di dapur. Perlahan Irsya pun menjelaskan semuanya dan tentu saja Irene terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Yang ia tahu kakak iparnya itu adalah pasangan paling sweet yang pernah ditemuinya namun entahlah mengapa keduanya memilih jalan untuk berpisah.


"Mama yang tenang, semoga bang Rasya dan kak Aurel mengubah keputusannya" ucap Irene mencoba menenangkan mertuanya itu.


...


Sedari tadi ponsel Reyhan tak henti-hentinya berdering. Irene menemukan ponsel tersebut tergeletak begitu saja diatas kursi tanpa tahu kemana si empunya pergi.


Irene mencoba membiarkan ponsel tersebut, namun dilihat dari dering telepon yang sedari tadi tak hentinya, Irene pun segera meraih ponsel tersebut. Tak lain tak bukan si penelepon tersebut adalah sekertaris Reyhan.


Irene pun langsung mencari keberadaan Reyhan, tampaknya ada hal penting yang disampaikan oleh sekertarisnya itu.

__ADS_1


Irene bertanya kepada ART Rasya, sang bibi pun langsung menunjuk keberadaan Rasya dan Reyhan ke arah halaman belakang. Tanpa aba-aba lagi Irene segera menuju ke tempat tersebut.


"Mengapa kau mengambil keputusan secepat itu bang? " tanya Reyhan dengan intonasi tinggi.


"Aku hanya ingin memberikan kebebasan untuknya" ucap Rasya dengan santainya bak manusia yang tanpa beban.


"Bebas? kau yang bebas atau Aurel yang merasa bebas?" sahut Reyhan.


"Dia tidak mencintaiku tapi mencintaimu" ujar Rasya.


"Jika kau ingin melepasnya mengapa tidak sedari dulu, aku bisa saja mencintainya melebihi cintamu padanya. Namun dia lebih memilihmu bang" tukas Reyhan kesal.


Tanpa keduanya sadari, Irene sedari tadi mendengarkan percakapan diantara Reyhan dan Rasya. Bibirnya bergetar mencoba menahan tangis. Seketika Irene pun teringat dengan percakapan mereka waktu itu.


...*Lantas mengapa kau tidak menikahinya?...


Gadis itu sudah bahagia dengan pilihannya.


Apakah kau masih berharap padanya*?


Irene pun mengurungkan niatnya untuk memberikan ponsel tersebut. Gadis itu pun memilih untuk pergi dari tempat tersebut, karena semakin banyak hal yang akan didengarnya tentunya akan semakin melukai hatinya. Irene sadar bahwa pernikahannya hanya dilandasi dengan perasaan dari orang tua Reyhan saja, bukan karena cinta dari keduanya.


...


Lanjut dengan cerita antara Reyhan dan Rasya.


Reyhan yang kesal dengan tingkah abangnya yang bersikap sangat santai tersebut langsung menghadiahi tinju untuk abangnya itu. Rasya pun sontak membalas pukulan adiknya itu.


Rasya memegang kerah baju Reyhan dan hendak memukulnya lagi namun tangannya hanya mengudara.


"Pukul saja aku jika itu membuat akal sehatmu kembali" ujar Reyhan menantang.


Rasya pun melepaskan tangannya yang menggenggam kerah baju Reyhan. Sedangkan Reyhan menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.


"Kau jangan hanya menyalahkan orang lain tanpa tahu kesalahanmu sendiri apa. Dia istrimu setidaknya kau mempercayai bahwa dia mencintaimu maka dari itu dia memilihmu" jelas Reyhan.

__ADS_1


"Asal kau tahu bang, dia menatapku dengan perasaan iba tapi ia menatapmu dengan perasaan cinta. Dan itu cukup untuk membuatku menyerah memperjuangkannya bang. Jika kau melepaskannya maka saat itu juga kau menyesalinya. Ingat itu!" ujar Reyhan yang kemudian pergi dari tempat tersebut.


Setelah kepergian adiknya, Rasya pun menitikkan matanya. Semua ucapan yang dilontarkan adiknya itu benar adanya. Selama ini dirinyalah yang selalu menyalahkan Aurel tanpa tahu bahwa kesalahan terbesarnya adalah menitipkan sebuah kepercayaan untuk istrinya.


...****************...


Diperjalanan pulang, baik Irene maupun Reyhan tidak mengucapkan apapun. Irene ingat akan ponsel Reyhan yang masih disimpannya tadi, gadis itu pun memberikan ponsel tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Terimakasih" ucap Reyhan.


Hening pun tercipta diantara keduanya, Reyhan beberapa kali menoleh ke arah istrinya itu. Jika biasanya Irene tampak sangat berisik kini Irene seolah setan yang baru saja bertemu penangkalnya, diam tak berulah namun membuat Reyhan sedikit tak nyaman.


"Maaf hari ini aku membatalkan niatku untuk mengajakmu keluar, lain kali aku janji akan membawamu ke tempat yang lebih indah lagi" jelas Reyhan.


"Tidak perlu membuang waktumu mengajakku keluar, saat dikantor tugasku bekerja bukan menggangu waktumu bekerja" ujar Irene menatap ke arah luar.


"Apa kau marah padaku?"


"Kau tidak melakukan kesalahan apapun, untuk apa aku marah denganmu" ucap Irene.


"Kau berbicara namun tak pernah memandangku" ujar Reyhan.


"Haruskah? baiklah kalau begitu" ucap Irene yang memandang ke arah Reyhan dengan cukup lama.


"Hentikan.. tatapan itu sungguh menyeramkan seperti kau menyimpan dendam kepadaku" ujar Reyhan.


Irene pun berhenti menatap suaminya itu dan pandangannya pun kembali ke arah luar. pikirannya mengulang kejadian saat berada dihalaman belakang. Hatinya terasa sangat sakit saat mengetahui kenyataan pahit tersebut.


"Apakah salah jika aku mencintai suamiku sendiri?" gumamnya dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2