Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 18


__ADS_3

"Siapa kamu ..." ujar Alviro dengan nada yang tinggi.


"Saya ... lelaki yang telah menghamilinya" ucap Ardan.


Alviro pun beranjak dari tempat duduknya. Ia menarik baju Ardan dan..


Bughhh... Bughh ..


Alviro menghadiahi Ardan beberapa kali pukulan.


"Brengs*k .. kenapa kau baru muncul" ujar Alviro seraya memberikan pukulan bertubi-tubi.


Roland yang menyadari adanya keributan di dalam. Ia pun langsung menerobos masuk dan melerai keduanya.


Ardan tersenyum sinis seraya mengelap darah yang berada di sudut bibirnya.


"Kau juga brengs*k, bukankah kau pria yang hendak menikahinya?" tukas Ardan.


"Harusnya kau yang bertanggung jawab atas perbuatanmu!" ujar Alviro dengan rahang mengeras,mencoba menahan amarahnya.


"Bukan aku tak ingin, namun semua itu atas kemauan Clara" ucap Ardan lirih. Ardan pun menceritakan semuanya pada Alviro.


Flashback on:


Ardan terbangun dari tidurnya, ia terkejut dengan wanita yang sedang terlelap berada disampingnya.


"Apa ini? apa yang telah ku lakukan" gumam Ardan yang kemudian mencoba mengingat kejadian semalam.Entah bagaimana obrolan singkat mereka berakhir dengan pergulatan di atas ranjang.


Ardan menatap kembali wanita tersebut.


Cantik


Itulah yang ada dipikirannya saat ini. Melihat wanita tersebut terlelap dengan damai, membuat Ardan enggan untuk membangunkannya.


Ardan memberanikan dirinya membuka tas wanita itu untuk mencari tahu identitasnya.


"Clara Nadira, hmmm .. nama yang cantik" gumam Ardan yang melihat nama dari kartu identitas tersebut.


Ia pun mengambil ponselnya dan memotret kartu identitas serta wanita yang sedang terlelap itu.


Drrrtttt ...


Ponselnya bergetar, Ardan pun menjawab panggilannya itu di luar karena takut suaranya akan membangunkan Clara.


Namun seusai ia menerima telepon, dilihatnya wanita yang tadi masih bergelung dengan selimutnya kini hilang entah kemana.


2 bulan kemudian ...


Ardan mencari alamat yang ada di kartu identitas yang pernah di potretnya melalui ponsel. Tampaknya Ardan terlambat menemui gadis tersebut. Dilihatnya Clara dengan wajah yang pucat dituntun oleh pria yang juga tampan.

__ADS_1


Ardan pun dengan sengaja menunggu didalam mobil. Menunggu pria yang bersama Clara itu pergi. Belum lama kemudian, dilihatnya pria tersebut keluar dari rumah Clara dan mengendarai mobil.


Tanpa berfikir panjang, Ardan segera turun dari mobilnya. Clara yang baru saja hendak menutup pintunya, langsung dicegah oleh Ardan.


"Siapa kamu ..." ujar Clara.


"Apakah kamu melupakanku? kejadian dimalam itu?" ucap Ardan.


Plakkkk...


Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Ardan.


"Lelaki bajing*n! lancang sekali kamu muncul dihadapanku sekarang!" seru Clara.


"Maafkan aku karena telat menemuimu, aku akan bertanggung jawab" tutur Ardan tulus.


"Aku tidak butuh pertanggung jawaban darimu!"


"Apakah karena pria yang baru saja bersamamu? aku sudah menyentuhmu, dan besar kemungkinannya bahwa benihku sedang tumbuh di rahimmu!" tukas Ardan dengan nada tinggi.


"Dia.. Alviro Dirgantara akan menikahiku, dan dia juga tahu saat ini aku sedang mengandung benih dari pria bajing*n sepertimu!" ujar Clara yang tak mau kalah.


"Lebih baik kau jangan muncul lagi dihadapanku, anggap saja hal itu yang dapat menebus dosamu padaku!" lanjut Clara yang kemudian menutup pintunya dengan keras.


Ardan tertegun, tanpa disadari air matanya pun jatuh. Ia merasa harga dirinya baru saja di injak-injak oleh Clara, wanita cinta satu malamnya itu. Ardan pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Sejak saat itu, Ardan berhenti menemui Clara dan tidak mau tahu lagi tentang wanita itu.


"Dimana Clara? aku hanya ingin menemui darah dagingku" ucap Ardan dan tiba-tiba berlutut dihadapan Alviro.


Baik Alviro maupun Roland terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Ardan. Kini Alviro mengerti, dengan apa yang baru saja diceritakan oleh Ardan membuat Alviro tak bisa menyalahkan pria itu sepenuhnya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu menemui Clara" ucap Alviro seraya membangunkan Ardan agar berhenti berlutut padanya.


Alviro pun membawa Ardan tanpa ditemani oleh Roland. Alviro memberhentikan mobilnya tidak jauh dari pemakaman umum.


Ardan langsung terkejut saat tempat ini yang dimaksud oleh Alviro. Ia pun menatap Alviro. Seolah mengetahui apa yang dimaksud oleh Ardan, Alviro pun hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Perlahan demi perlahan Ardan mengikuti langkah Alviro. Mereka pun berhenti tepat di depan sebuah nisan yang bertuliskan nama Clara Nadira.


Ardan langsung luruh ke tanah. Kakinya terasa lemas dan tak sanggup lagi menopang tubuhnya.


"Clara meninggal karena sebuah kecelakaan, ia pergi bersama janin yang ada didalam rahimnya. Kala itu. aku belum menikahi Clara" tutur Alviro.


"Aku mengorbankan rumah tanggaku untuk menikahinya, aku rela melepaskan istriku kala itu hanya untuk menjadi ayah dari anak yang dikandungnya" lanjut Alviro.


"Maaf, aku tak bisa menjaga wanitamu dan anakmu" ucap Alviro seraya menepuk bahu Ardan.


"Ini bukan salahmu, ini adalah mutlak kesalahanku. Jika saja aku tidak berfikir bodoh waktu itu, jika saja aku terus mengejarnya, jika.." Ardan tak bisa melanjutkan kalimatnya. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya karena sebuah penyesalan yang teramat dalam.


Alviro pun mencoba menenangkan Ardan. Bagaimanapun juga ia mengerti apa yang dirasakan Ardan saat ini.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Aurel duduk disebuah taman seraya menunggu kedatangan Rasya. Awalnya Rasya ingin menjemputnya, namun Aurel menolak tawaran Rasya dan hanya bertemu di tempat tersebut.


Belum lama kemudian, seseorang pun datang dari arah belakang dan menutup kedua matanya.


"Rasya..." ujar Aurel menebak.


"Tingg... anda benar" ucap Rasya yang menirukan gaya presenter di sebuah acara kuis.


"Mana hadiahnya?" tukas Aurel seraya menadahkan tangannya.


Rasya memeragakan sedang membelah dadanya, dan mengambil jantungnya. Setelah itu, ia letakkan di tangan Aurel.


"Aku bukan hanya menitipkan hatiku, tetapi juga jantungku. Dan mulai sekarang kamu yang mengendalikan semuanya. Hatiku, maupun hidupku" ujar Rasya panjang lebar.


Aurel pun langsung bungkam saat mendengar semua ucapan Rasya. Seolah ia kehilangan semua kata-kata.


"Aku mencintaimu, Aurel" ucap Rasya tulus, seraya mengelus puncak kepala Aurel dengan sayang.


Aurel membeku, entah mengapa perlakuan Rasya kali ini membuatnya terenyuh. Ia pun hanya bisa menatap Rasya dan berusaha mencari kebohongan didalam matanya, namun sayangnya Aurel tidak menemukannya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? apa karena aku terlalu tampan?"ucap Rasya yang kemudian terkekeh.


"Sebaiknya kau banyak-banyak berkaca tuan" ujar Aurel kesal dan kemudian menepis tangan Rasya yang berada di puncak kepalanya.


"Dan cermin hanya menunjuk diriku yang paling tampan" ujar Rasya.


"Oh tidak, bukan hanya aku saja tetapi ada adikku. Reyhan juga sangat tampan"lanjut Rasya seraya menatap mata Aurel.


Aurel pun bungkam seketika saat mendengar nama yang baru saja diucapkan oleh Rasya.


Rasya yang dapat membaca ekspresi Aurel, seketika merasa teriris.


"Jika kelak kamu dihadapkan dengan dua pilihan, antara aku dan Reyhan. Siapa yang akan kamu pilih?" tanya Rasya dengan serius.


.


.


Bersambung...


Hai.. hai.. maaf ya kalau disini flashback dari aku rada panjang. Karena ada yang sempat bilang kalau masalah Clara rada ngegantung dan disini aku sengaja kupas tuntas langsung tebas wkwkwkwk. yang masih bingung Clara itu siapa, intip di novel pertamaku ya yang judulnya JANGAN PERGI.


Tinggalkan selalu jejaknya ya biar tambah cinta❤


yang belum rate bintang lima, cuss tekan ya dipojokan ampe penuh ampe luber biar makin uwwuu😆


Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘

__ADS_1


__ADS_2