Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 39


__ADS_3

Flashback on:


Setelah jam kerja Rasya habis, dan antrian pasien pun sudah tidak ada lagi. Rasya bergegas melepas jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan, dan hanya menyisihkan kemeja yang dikenakannya.


Ia pun mengambil tasnya yang diletakkannya di atas meja, kemudian berjalan keluar dengan sedikit tergesa-gesa. Setelah membaca rentetan panjang cara mengatasi amarah wanita yang didapatnya dari internet, Rasya pun langsung mencari apa yang disukai oleh wanita yang menjadi kekasihnya itu.


Dan kini mobil Rasya terparkir cantik didepan toko bunga yang tak lain milik tantenya itu.


"Selamat sore pak, mau cari bunga apa? silahkan lihat-lihat" ucap pelayan disana dengan ramah.


Rasya pun mengulas senyumnya, dan kemudian melihat-lihat bunga yang ada disana, hingga matanya tertuju pada mawar merah.


"Saya minta yang itu" ujar Rasya sembari menunjuk ke arah bunga mawar.


"Satu tangkai atau satu buket?" tanya pelayan tersebut.


"Satu buket" timpal Rasya.


"Mau yang isi berapa tangkai pak?"


"Buket besar kira-kira isi berapa tangkai?"tanya Rasya balik.


"Seratus tangkai pak"


"Nah, minta yang itu" ucap Rasya.


"Kalau bisa dibuat seistimewa mungkin" lanjutnya.


"Baik pak"


Pelayan tersebut langsung menata seratus bunga mawar pesanan Rasya. Sembari menunggu Rasya langsung menuju meja kasir dan membayar pesanannya pada pelayan satunya lagi.


"Berapa totalnya?" tanya Rasya.


"1,900.000 rupiah pak" timpal kasir tersebut.


Rasya pun mengeluarkan karu ATM nya untuk membayar pesanannya.


"Tante Melly nya ada?" tanya Rasya saat tidak melihat keberadaan tantenya disana.


"Bu Melly lagi sakit pak" timpal pegawai tersebut.


"Sakit apa?"tanyanya lagi.


"Saya kurang tahu pak, terakhir kemarin ibu demamnya tinggi"


Rasya pun mengangguk paham. Belum lama kemudian bunganya pun telah siap. Rasya menerimanya dengan hati-hati. Dan sesaat kemudian..


Hatchimmmm..


Hidungnya yang sensitif pada bunga mawar. Namun bagaimanapun juga, Aurel sangat menyukainya. Mau tak mau ia pun harus berkorban demi wanita tersebut.


Rasya menjauhkan jarak bunga tersebut, namun tetap saja tak menghentikan bersinnya. Ia pun menuju parkiran namun beberapa kali bersin karena bunga tersebut.


"Aku benci mawar!!" teriak Rasya kesal sembari menjauhkan jarak bunga tersebut.

__ADS_1


Tanpa sadar suaranya yang sedikit meninggi tadi mampu mencuri perhatian banyak orang. Tatapan heran dari banyak orang saat melihat ke arahnya.


Bagaimana tidak? ia baru saja menyerukan bahwa ia benci bunga mawar, namun ia membeli ratusan tangkai yang kini digenggamnya.


Rasya segera memasuki mobilnya dengan rasa malu yang tak tertahankan.


"Demi kamu, aku dikata orang gila" gumam Rasya sembari menatap mawar yang diletakkannya di kursi belakang. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke tempat selanjutnya.


.


.


.


Rasya tampak bingung saat memilih perhiasan yang cocok untuk kekasihnya itu. Ya.. kini pria itu sedang berada di toko perhiasan.


Salah satu pegawai disana tampak mengeluarkan cincin berlian dengan design yang sederhana.


"Yang ini bagus mas, cocok untuk hadiah buat istrinya" ucap pegawai tersebut.


Rasya hanya mengulum senyumnya, pahit rasanya saat ia mendengar kata istri yang baru saja didengarnya. Andaikan saja kekasihnya itu sudah siap untuk menikah, mungkin tak butuh waktu lama untuk Rasya membawa orang tuanya untuk melamar Aurel. Namun mau dikata apa, jangankan untuk melamar membahas masalah pernikahan pun Aurel selalu saja mengalihkan pembicaraan.


"Saya ambil yang ini" ucap Rasya.


Rasya pun mencoba memakainya di jari manisnya. Namun cincin tersebut tampak sangat kecil hingga tak bisa masuk di jari manisnya.


"Mbak, ada yang lebih besar lagi ukurannya?" tanya Rasya.


Pegawai itu pun mengambil cincin yang hampir serupa di dalam etalase, hanya saja designnya yang sedikit berbeda namun tetap cantik. Rasya pun mencoba melihat sekilas cincin yang ukurannya lebih besar. Ia pun mengira cincin tersebut pasti pas di jari Aurel.


Ia pun langsung melakukan transaksi pembayaran dan setelah itu melangkah keluar toko. Kembali dibukanya cincin didalam kotak tersebut. Terbesit keinginannya untuk melamar Aurel hari ini juga. Setidaknya ia mencoba kembali mungkin saja Aurel akan menerimanya.


"Mari kita coba lakukan lagi" ujar Rasya gigih.


Flashback off


.


.


.


Didalam mobil, Aurel melemparkan pandangannya kepada Rasya yang sibuk menyetir. Berulang kali Rasya mengusap hidungnya hingga menimbulkan kemerahan.


"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Aurel menatap Rasya.


Rasya hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa aku buang saja bunga mawar itu" ucap Aurel sembari menunjuk bunga mawar tdi yang diletakannya dibelakang.


"Jangan..!" cegah Rasya.


"Lihat hidungmu yang sudah seperti badut" ucap Aurel.


"Nggak apa-apa sayang, apa yang ku berikan padamu jangan pernah dibuang ya" ujar Rasya.

__ADS_1


Aurel pun menganggukkan kepalanya.


Rasya memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah Aurel. Aurel yang hendak turun dari mobilnya, namun Rasya pun menarik tangannya tiba-tiba, yang membuat Aurel mengurungkan niatnya.


"Ada apa?" tanya Aurel.


"Kamu serius kan jawab yang tadi" ucap Rasya.


"Yang mana?"


"Setuju menikah denganku" ucap Rasya.


"Iya sayang, untuk hal itu aku serius" sahut Aurel.


"Sebelumnya kamu enggan membahas masalah pernikahan denganku" tutur Rasya.


"Itu dulu, saat aku masih ragu dengan hatiku. Mulai saat ini tidak ada lagi keraguan itu" ucap Aurel bersungguh-sungguh.


"Kalau begitu nanti malam aku akan menemui orang tuamu" ujar Rasya.


"Untuk?"


"Meminta restu dari kedua orang tuamu. Dan besoknya aku akan membawa kedua orang tuaku untuk mengatur tanggal pernikahan kita" tukas Rasya.


"Secepat itukah?" tanya Aurel seraya terkekeh geli.


Rasya menganggukan kepalanya.


"Lampu hijau sudah menyala, setidaknya inj waktuku untuk tancap gas" timpal Rasya yang juga tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa nanti malam" ucap Aurel yang kemudian turun dari mobil.


Ia pun membuka pintu belakang dan mengambil bunga pemberian dari Rasya tadi.


"Hati-hati di jalan" ucap Aurel seraya melambaikan tangannya melihat mobil yang dikendarai oleh Rasya perlahan melaju.


Sesaat kemudian mobil yang dikendarai oleh Rasya sudah melesat ke jalanan. Aurel tersenyum gembira sembari menghirup aroma mawar yang ada ditangannya.


"Akhirnya aku akan menikah" gumam Aurel sembari mengulas senyum bahagia.


.


.


.


Bersambung...


Cieee yang mau nikah, cieeee yang udah di lamar.


Otor kesalip nih sama dua sejoli😂 jadi pengen dilamar juga🏃🏃🏃😂


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya yak biar tambah uwwuu😚


Salam manis dari aku si remahan rengginang 😘

__ADS_1


__ADS_2