
Irene menatap langit-langit kamarnya, masih teringat jelas akan pertanyaan bodoh yang dilontarkannya tadi. Entah mengapa dadanya merasa sesak saat menatap manik mata suaminya yang sepertinya masih menyimpan hati untuk cinta pertamanya.
"Ada apa denganku? sebuah larangan bagiku untuk menaruh hati padanya" gumam Irene.
Ceklekk..
Pintu terbuka, Reyhan pun memasuki kamarnya dan langsung menuju ke tempat tidur. Ada sedikit kecanggungan diantara keduanya seusai membahas tentang cinta pertama.
Reyhan mencoba untuk mencairkan suasana mengajak Irene untuk mengobrol.
"Bagaimana jika kita bertukar tempat, kau boleh tidur diatas dan biarkan aku tidur di lantai" ucap Reyhan.
"Tidak perlu, aku lebih nyaman disini" timpal Irene singkat, gadis itu pun menarik selimutnya dan kembali memejamkan matanya.
Mendengar penolakan dari Irene, Reyhan hanya bisa berdeham ringan dan juga ikut memejamkan matanya.
...
Hari hujan deras disertai petir yang menggelegar. Reyhan terbangun dari tidurnya saat suara petir yang begitu nyaring ditelinganya.
Pria itu pun meraba ponsel diatas nakas, melihat jam yang ada diponselnya menunjukkan waktu tengah malam. Samar-samar pria itu mendengar suara isak tangis di dalam kamarnya.
Reyhan mencoba menghidupkan lampu kamarnya, ia sangat terkejut melihat Irene yang tengah memeluk lututnya. Bahunya terlihat naik turun, benar saja gadis itu tengah menangis sembari membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Reyhan yang sedikit bingung.
Gadis itu tak menjawab sama sekali. Reyhan pun berinisiatif untuk mendekati Irene, namun Irene menggeser tubuhnya segera. Ia pun menatap Reyhan dengan ketakutan layaknya melihat hantu.
"Jangan sentuh aku, biarkan aku hidup ku mohon" kalimat itu sukses membuat kening Reyhan berkerut.
"Ada apa dengannya?" gumam Reyhan dalam hati.
"Aku tidak akan menyakitimu, tenanglah" ucap Reyhan yang terus mendekati istrinya itu.
Reyhan mencoba memeluk istrinya, mencoba menenangkan gadis itu.
"Mereka merenggut hidupku" ucap Irene sesegukkan menangis dalam dekapan Reyhan.
__ADS_1
"Tenanglah, mulai sekarang tidak akan yang berani mengusikmu" ucap Reyhan dengan mata yang memerah dipenuhi oleh amarah.
Reyhan mengepalkan tangannya dengan erat, mencoba untuk meredamkan amarahnya.
"Maaf karena aku tidak mengetahui banyak hal tentang dirimu" gumam Reyhan dalam hati.
...****************...
Cahaya mentari memasuki celah jendela, Irene perlahan membuka matanya. Ia terkejut saat mengetahui bahwa kini gadis itu tengah berada di atas kasur milik Reyhan.
Belum lama kemudian, Reyhan keluar dari kamar mandi. Namun pria itu sudah mengenakan setelan kantornya.
"Kau sudah bangun?" tanya Reyhan sembari bercermin merapikan dasinya.
"Mengapa aku bisa tertidur disini?" tanya Irene.
Kening Reyhan kembali berkerut.
"Apakah kau tidak mengingatnya semalam?" tanya Reyhan.
Irene tampak berpikir keras, namun ia tidak mengingat apapun tentang semalam.
"Apa maksudmu? apa kau berbuat mesum padaku?"
"Pikirkan saja" ujar Reyhan dengan santainya melangkah keluar dari kamar.
"Awas saja jika kau berbuat macam-macam, aku tidak segan-segan membunuhmu" kecam Irene kesal.
Reyhan hanya menelengkan kepalanya sembari menutup pintu kamar tersebut.
"Apakah yang dilakukannya semalam diluar kesadarannya, bahkan dia tidak mengingat sedikitpun tentang kejadian semalam" gumam Reyhan.
Pria itu mengambil ponsel di sakunya. Ia pun menekan salah satu kontak yang tertera di ponselnya tersebut.
"Tolong selidiki latar belakang gadis yang baru saja ku kirimkan fotonya padamu" ucap Reyhan .
....
__ADS_1
Reyhan tengah mengelap mulutnya dengan tisu sehabis makan, begitu pun juga dengan Irene.
"Sehabis ini kau ikut denganku" ucap Reyhan.
"Kemana?"
"Jika aku berkata kau ikut, kau harus ikut. Patuhilah aku sebagai suamimu" ujar Reyhan terkesan tegas.
Irene memalingkan wajahnya kemudian mencebikkan bibirnya mengejek ucapan Reyhan barusan.
"Kalau begitu tunggu sebentar, aku hendak mengganti bajuku dulu"
"Tidak perlu, kau cukup ikut saja denganku" tegas Reyhan.
Irene menghembuskan napasnya dengan kasar, ia benar-benar dibuat stres oleh keinginan Reyhan yang tidak mendasar itu.
...
Singkat cerita, Reyhan dan Irene tiba didepan sebuah butik. Pria itu masuk terlebih dahulu diikuti dengan Irene yang berada dibelakangnya.
Pria itu mengambil banyak setelan kantor untuk wanita dan meminta pelayan untuk membungkus semuanya. Reyhan juga menyuruh Irene untuk memakai salah satu setelan tersebut.
"Untuk apa ini semua? aku hanyalah seorang pengangguran yang tidak perlu mengenakan setelan seperti ini" ucap Irene.
"Mulai hari ini kau bekerja ditempat ku" jawab Reyhan.
"Apakah aku tidak salah dengar? benarkah?" tanya Irene antusias.
"Hmmm.." jawab Reyhan malas.
Irene pun berjingkrak senang dan kemudian mendekati Reyhan dan mencubit pipi pria itu.
"Terima kasih suamiku" ujar Irene tanpa sadar beberapa pasang mata tengah memperhatikan mereka.
"Lepas" ucap Reyhan dingin, membuat Irene pun melepaskan tangannya.
"Rahangku hampir bergeser karena ulahmu, lekas bawa barang tersebut masih banyak yang harus ku kerjakan dikantor nanti" ucap Reyhan yang melangkah pergi mendahului Irene.
__ADS_1
"Dasar pria aneh, apakah kau mempunyai mood yang selalu berubah?" gumam Irene yang berjalan menyusul Reyhan.
bersambung...