
Roland menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah apotek. Ia membawa secarik kertas resep dokter yang diterimanya tadi. Obat tersebut tidak lain milik istrinya, yang terserang demam dua hari ini.
Dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, Roland memasuki tempat tersebut dan langsung menyerahkan secarik kertas resep dokter kepada apoteker yang berjaga disana.
Setelah beberapa obat yang didapat, Roland pun meraba sakunya mencari dompetnya untum menebus obat tersebut, namun dompetnya pun tidak ada didalam sakunya.
"Sebentar ya bu.." ucap Roland keluar dari apotek tersebut dan memasuki mobilnya mencari-cari dompetnya didalam mobil. Namun ia pun tak menemukannya. Dan ia baru sadar jika dompetnya tertinggal dirumah karena tergesa-gesa.
"Duh.. kenapa aku bisa lupa" ucap Roland sembari menepuk keningnya.
Ia pun mencoba menghubungi Vanesha. meminta anak gadisnya itu mengantarkan dompetnya. Baru saja ia hendak mencari kontak Vanesha, tiba-tiba saja seorang pemuda memberikan plastik yang berisi obat-obatan miliknya.
"Ini pak.." ucap pemuda yang berperawakan tinggi itu.
"Tapi ini.."
"Sudah saya tebus pak, ini.." ujar pemuda tersebut.
"Terima kasih" ujar Roland.
Pemuda tersebut mengangguk seraya tersenyum, dan kemudian menyeret kakinya pergi dari sana.
"Tunggu nak, boleh saya minta no rekening kamu? saya akan mentransfer uangnya nanti" ujar Roland.
Pemuda tersebut langsung menghentikan langkahnya. Ia pun berbalik menghadap Roland.
"Tidak usah pak, saya ikhlas membantu" timpal pemuda itu.
"Kamu sepertinya seumuran dengan anak gadisku, bagaimana jika aku menjodohkanmu dengan anakku?" gurau Roland seraya terkekeh.
Pemuda itu pun tersenyum mendengar penuturan Roland.
"Mmmm.. maaf pak, saya sudah punya itu.. kekasih"timpal pemuda itu sedikit tergagap.
"Hmm... sayang sekali. Oh ya, siapa namamu nak?" tanya Roland.
"Saya Dito pak" timpalnya.
"Oke, makasih ya nak Dito" ujar Roland.
"Sama-sama pak" sahut Dito yang kemudian melanjutkan langkahnya. Dan Roland pun langsung memasuki mobilnya menuju ke rumah.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Rasya berada di ruangannya yang serba putih. Ia membalikkan buku yang sedang dibacanya sembari mengisi waktu kosong sejenak. Namun pikirannya teralihkan dengan kejadian semalam, dimana saat Aurel yang marah menghabiskan dua piring buah mangga hanya dalam sekejap.
Rasya pun terkikih geli saat mengingat kejadian malam itu. Selama ia mengenal Aurel, baru kali inj Rasya menemukan keunikan pada kekasihnya itu.
Rasya menutup bukunya dan langsung merogoh ponsel disakunya. Bukan untuk menelepon Aurel, melainkan membuka aplikasi mesin pencarian yang ada diponselnya.
Rasya pun mengetikkan kata kunci pada kolom pencarian tersebut.
Cara meredakan amarah wanita
Dan belum lama kemudian, muncullah beberapa jawaban, dan Rasya mengklik salah satunya.
1. Meminta maaf terlebih dahulu.
"Udah minta maaf tapi nggak ditanggepin" gumamnya.
2. Beri waktu si dia untuk sendiri
__ADS_1
"Yang ada malah tambah marah" ujar Rasya.
3. Buatlah dia membutuhkanmu
"Yang terjadi malah sebaliknya" ungkap Rasya.
4.Dengarkan omongannya.
"Ya dia cuma bilang pikir saja sendiri" Rasya mengendikkan bahunya.
5. Beri hal yang dia suka
"Hal yang dia suka... hmmm.." ucap Rasya tampak berpikir.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Di lain tempat, Aurel yang baru selesai berkutat dengan layar komputernya. Ia pun meraih ponselnya, dilihatnya ada banyak pesan yang dikirim Rasya.
Selamat siang
Sudah makan?
Apa kamu sibuk sayang?
Sayang..
Apa kamu masih marah denganku?
Jawab aku..
Tolong jangan mengabaikanku..
Namun ia segera mengurungkan niatnya, menghapus semua huruf yang sudah diketiknya.
"Sesekali cuekin aja lah, biar dia peka" gumam Aurel sembari mencebikkan bibirnya.
.
.
.
Aurel usai mengerjakan tugasnya, kemudian ia pun meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Belum lama kemudian terdengar suara pintu terketuk. Dan Kinan pun muncul dari balik pintu.
"Maaf bu mengganggu, saya menyampaikan pesan dari seseorang untuk menemuinya dibawah" ucap Kinan.
"Seseorang? siapa?" tanya Aurel sedikit bingung.
"Orang tersebut tidak mengizinkan saya untuk bertanya lebih jauh bu" ungkap Kinan.
"Siapa sih, oke nanti saya temui" ujar Aurel.
Kinan pun pamit undur diri, sedangkan Aurel bersiap untuk menemui orang tersebut dibawah.
Setelah pintu lift terbuka, Aurel melangkahkan kakinya sembari melirik kesana dan kemari mencari orang yang menyebalkan yang dimaksud oleh Kinan.
Hatchimmmm...
Suara bersin yang begitu nyaring tertangkap di indera pendengarannya. Dilihatnya Rasya yang berdiri tegak tepat didekat tembok lukisan dengan memegang sebuket bunga mawar. Dilihatnya pria itu dengan hidung yang mulai memerah.
"Rasya.." gumam Aurel yang langsung melangkahkan kakinya menghampiri kekasihnya.
__ADS_1
"Hai.." ujar Rasya seraya melambaikan tangannya.
"Kenapa kamu kesini, dan ini.."
Hatchimmmm..
"Ini buat kamu.." ujar Rasya yang langsung menyerahkan bunga mawar tersebut.
"Lagian kenapa bawa beginian kalau kamu alergi" ucap Aurel.
"Karena kamu menyukainya" ujar Rasya.
Aurel pun memalingkan wajahnya kemudian tersenyum. Bagaimana pun juga pria itu berhasil membuatnya terbang setelah kemarin menjengkelkan.
Aurel terkejut saat Rasya berlutut dihadapannya dan kemudian meraih tangannya.
"Didepan lukisan ini, dihadapan banyak orang, aku ingin jujur" ucap Rasya.
Aurel melirik ke kanan dan kiri, banyak mata yang menyaksikan mereka, bahkan hampir semua mata orang memandang ke arah mereka berdua.
"Mungkin aku adalah lelaki yang tidak romantis yang tak bisa membahagiakanmu, tapi aku akan berusaha menjadi romantis demi membahagiakanmu. Mungkin banyak dari kekuranganku yang membuatmu ragu, namun aku akan berusaha semampuku untuk menepis keraguan itu" ungkap Rasya.
Rasya merogoh sebuah kotak cincin dari dalam sakunya. Ia pun membuka kotam tersebut memperlihatkan sebuah cincin berlian yang sangat cantik.
"Kamu adalah anugerah terindahku, menikahlah denganku" sambung Rasya.
Mata Aurel berkaca-kaca saat mendengar penuturan dari Rasya. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kejutan yang sangat romantis dari kekasihnya itu. Aurel pun mengangguk sembari tersenyum. Setetes air mata lolos jatuh di pipinya.
Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan yang tiada tara. Rasya kemudian menyematkan cincin di jari manis Aurel. Keningnya pun berkerut saat mendapati cincin tersebut kebesaran di jari manis kekasihnya.
Sorakan pun berdatangan dari orang-orang yang melihat mereka sedari tadi disertai tepukan tangan yang riuh. Rasya kemudian bangkit dan langsung merengkuh tubuh mungil Aurel.
"Jangan marah lagi ya sayang.." bisik Rasya sembari mengusap sayang rambut kekasihnya itu.
"Hehehe iya, tapi besok tuker ya sayang cincinnya. Masa muatnya di jempol" gumam Aurel tersenyum namun dengan kata yang penuh arti.
"Pakai aja dulu sayang, jangan protes dulu banyak yang lihat, jangan malu-maluin" timpal Rasya terkekeh.
"Kamu gimana pilihnya, terus kok bisa cari yang cantik begini" ujar Aurel lagi.
"Pokoknya ada deh, panjang ceritanya" ucap Rasya.
Keduanya pun berbincang tanpa melepas pelukan diantara mereka. Banyak mata yang memandang kagum ke arah mereka. Bahkan ada saja siulan yang menggoda keduanya. Namun mereka tak menggubrisnya, rasa bahagia tengah menyelimuti keduanya seakan dunia hanya milik berdua.
.
.
.
Bersambung..
Perjuangan babang Rasya sebelumnya bakalan di ceritakan di next episode yak. Untuk visualnya sengaja gak aku tampilin dulu karena akhir-akhir ini review memakan waktu yang cukup lama.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya 🤗
Salam manis Ryn❤️
__ADS_1