
Malam ini New York diguyur hujan. Alea memandang ke arah kaca apartemennya dengan tatapan sendu. Entah mengapa ia merasa sangat hampa selama 2 tahun ini. Lelaki yang dulunya pernah menjadi suaminya selalu saja muncul dalam ingatannya.
Alea sadar tidak seharusnya ia masih menyimpan rasa pada lelaki yang notabene nya sudah menjadi suami orang lain. Namun bagaimana pun juga hati tetap saja tidak sejalan dengan apa yang diinginkannya.
Sekeras apapun ia untuk melupakan semua tentang pria yang pernah menjadi suaminya itu, namun semuanya percuma karena satu nama yang masih terukir indah didalam lubuk hatinya yaitu Alviro.
Oh, it hurts the most cause i dont know the cause..
Maybe i shouldn't have cried when you left and told me not to wait. .
Oh it kills the most to say that i still care. .
Now i'm left tryna rewind the times you held and kissed me back. .
Alea yang menikmati dinginnya malam ini bersama dengan sebuah alunan lagu yang diputarnya.
I wonder if you're thinking is she alright all alone?. .
I wonder if you tried to call, but couldnt find your phone. .
Have i ever crossed your thoughts because your name's all over mine. .
Alea pun semakin lama semakin terhanyut dalam lagu yang sedang didengarnya. Seketika ia pun mengingat semua yang telah dilaluinya.
A moment in time, dont watch me cry. .
I'm not crying 'cause you left me on my own. .
I'm not crying 'cause you left me with no warning. .
I'm just crying 'cause i cant escape what could've been. .
Are you aware when you set me free?. .
All i can do is let my heart bleed**. .
Tesss. .
Air mata pun jatuh dari pelupuk matanya. Sesekali Alea menyeka air matanya yang tertumpah. Entah mengapa seakan lagu ini mewakili perasaannya.
Mewakili semua yang telah hilang pada 2 tahun yang silam.
.
.
.
.
__ADS_1
Di lain tempat, pagi ini Alviro yang telah memakai setelan kantornya namun di balut dengan menggunakan apron.
Ia melakukan aktifitas seperti biasanya membuat sarapan sebelum berangkat bekerja.
Sepeninggal Alea, Alviro menjadi lebih mandiri, bahkan ia menolak untuk dicarikan asisten rumah tangga oleh Regita dengan alasan ia ingin mandiri.
Alviro meletakan nasi goreng yang sedari tadi ia masak dipiring.
Ia membawa dua nasi goreng ke meja makan.
Mengapa dua piring nasi goreng bukankah ia hanya sendiri?
Jawabannya karena Alviro mengingat Alea. Baginya Alea tetap ada disisinya meskipun wanita itu tidak ada dihadapannya. Mantan istrinya itu sering kali membuatkannya nasi goreng yang menjadi sarapannya. Maka dari itu setiap pagi merupakan hal yang wajib bagi Alviro untuk sarapan dengan nasi goreng.
Alviro pun menyantap nasi goreng buatannya dengan lahap. Setelah nasi goreng yang dihadapannya habis, lalu ia menyambar nasi goreng yang ada di piring satunya lagi, karena mustahil baginya untuk membuang makanan yang sudah susah payah dibuatnya.
Alviro masih jelas teringat waktu itu ia pernah dan bahkan sering menolak makanan yang disuguhkan oleh istrinya itu.
ralat!! mantan istrinya itu.
Namun kali ini baru terasa olehnya bahwa tugas seorang istri itu tidaklah mudah, dari hal kecil saja yaitu memasak.
Dilihat sekilas memasak itu pekerjaan yang paling mudah, namun jika dikerjakan sendiri sungguh lumayan memakan tenaga dan waktu. Ia baru sadar mungkin saat itu Alea luar biasa kecewa karena penolakan darinya.
Alviro sempat beberapa kali gagal membuat nasi goreng yang hanya bermodalkan belajar melalui ponsel pintarnya.
Namun kali ini untuk memasak nasi goreng sudah biasa baginya karena setiap paginya sebelum ngantor, ia selalu berkecimpung di dapur terlebih dahulu untuk memasak sarapan paginya.
Alviro menyembunyikan fakta bahwa ia selalu memasak sarapannya sendiri, jika orang tau terutama sahabatnya yang pecicilan itu tidak lain adalah Roland, pasti Alviro akan ditertawakan dan di ejek oleh sahabatnya yang bermulut besar itu dan setelah itu sahabatnya akan datang setiap pagi hanya untuk makan gratis di rumah Alviro.
.
.
.
.
Alviro telah sampai di kantor. dilihatnya Roland yang melambaikan tangannya ala-ala sinetron yang baru saja bertemu dengan pasangannya.
"morning pak bos" sapa Roland sambil menunjukkan deretan giginya.
Alviro pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berjalan memasuki lift dan Roland yang mengekor dibelakangnya.
"napa lu cengar-cengir?" tanya Alviro dengan menggunakan bahasa informal karena hanya ia dan Roland yang berada di dalam lift.
"gak kenapa-kenapa bos" ujar Roland dengan puppy eyesnya yang tentu saja membuat Alviro merasa mendadak mual melihatnya.
"gak usah pasang tampang kayak gitu, apa lo belok semenjak putusan sama Tere?" tanya Alviro.
__ADS_1
" ih amit-amit" tukas Roland.
"terus kenapa lo dari tadi kayak manis banget ama gue? minta kenaikan gaji?" tanya Alviro lagi.
"pak bos tau amat" ujar Roland seraya menyengir kuda.
Tringgg. .
lift pun terbuka, Alviro hendak melangkahkan kakinya keluar, namun sebelumnya ia berbalik melirik Roland.
"ngimpiiii ! !" tukas Alviro, setelah itu ia pun langsung menuju ke ruangannya.
Roland yang mendengar ucapan dari Alviro tersebut hanya mencebikkan bibirnya.
.
.
.
.
Diruangannya Alviro sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.
Tokkk. .tokkk. .
Roland pun menampakkan dirinya dari belakang pintu.
"pak ini dokumen yang harus ditanda tangani" ujar Roland sembari menyodorkan dokumen yang ada ditangannya.
"bagaimana kabar proyek Global Island yang ada di New York?" tanya Alviro sembari membubuhkan tanda tangannya.
"akan selesai sekitar satu bulan lagi pak" jawab Roland.
Alviro pun menanggapinya dengan sebuah anggukan.
"baru saja saya mendapat telepon bahwa bapak diundang untuk makan malam besok lusa oleh tuan Steve Ernest putra dari Antonio Ernest pemilik Ernest Company untuk membahas masalah kerja sama yang sempat bapak ajukan" sambung Roland.
"Tolong pesan tiket penerbangan ke sana, saya akan berangkat besok" perintah Alviro.
.
.
.
terimakasih sudah membaca sejauh ini
__ADS_1
jangan lupa like, komen, dan vote yah supaya author lebih semangat lagi nulisnya🙏🙏
salam manis rps😊