
Tanpa aba-aba lagi Reyhan pun menarik Irene dan memagut bibir mungil gadis itu secara brutal. Beberapa kali Irene tampak melakukan perlawanan namun tenaga Reyhan yang menahannya lebih besar.
Pukulan bertubi-tubi didada Reyhan pun terhenti saat Reyhan tak henti memaksa untuk memagut bibirnya. Hingga akhirnya Reyhan melepaskan pagutannya saat dirasa keduanya kehabisan oksigen.
PLAKKK..
Irene pun menghadiahkan Reyhan sebuh tamparan.
"Apakah kau menganggap ku wanita murahan? Aku tahu jika aku seorang rendahan yang mungkin dimatamu tidak memiliki nilai. Namun kau tidak berhak melakukan semua ini padaku. Dan satu hal lagi, apakah menyenangkan bagimu saat mengetahui latar belakangku yang kelam? dan saat ini aku merasa dilecehkan kedua kalinya, kau dan orang terdahulu yang pernah mengadopsi ku" ujar Irene dengan berurai air mata.
"Aku bisa jelaskan semuanya" ucap Reyhan terkejut saat Irene mengetahui bahwa dirinya menyelidiki latar belakang Irene secara diam-diam.
"Cukup Reyhan! aku tidak ingin mendengar apapun darimu" ujar Irene yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Reyhan.
Reyhan hendak mengejar istrinya, namun kakinya terasa berat untuk melakukan hal itu. Reyhan pun hanya memandangi bahu Irene yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.
Satu hal yang membuat Reyhan sakit, bukan karena tamparan dari gadis itu melainkan ucapan Irene yang mengatakan bahwa dirinya mendapatkan pelecehan dari Reyhan.
"Maafkan aku Irene, aku hanya tidak ingin kau pergi jauh dariku" gumam Reyhan mematung.
...
Didalam sebuh taksi, Irene pun menatap ke arah luar jendela. Berbagai perasaan pun menghinggapi dirinya.
Setelah kejadian di atap, Irene segera pergi dari tempat itu. Tidak hanya meninggalkan Reyhan, ia juga meninggalkan pekerjaannya. Irene bisa saja memaafkan Reyhan karena diam-diam menyelidiki latar belakangnya. Namun Irene tidak bisa memaafkan apa yang dilakukan Reyhan barusan.
"Bahkan dengan mudahnya kau menyentuh bibirku saat hatimu dimiliki oleh wanita lain" gumam Irene kesal.
...****************...
Reyhan tiba dirumahnya cukup larut malam, ia pun mengedarkan pandangannya disekeliling rumah hanya untuk mencari keberadaan Irene.
"Bik.. dimana Irene?" tanya Reyhan pada Bik Lastri.
"Nyonya belum pulang tuan" sahut Bik Lastri.
Reyhan pun bergegas meletakkan tas kerjanya dan kembali ke mobil untuk mencari keberadaan Irene.
...
Di lain tempat, Irene tengah duduk di sebuah taman. Pikirannya melayang entah kemana. Ia dilema akan perasaannya, dirinya diambang kebingungan karena harus tetap mencintai suaminya atau harus membencinya.
Masa lalunya yang kelam terkuak sudah, kini ia tahu jika Reyhan bersikap baik padanya hanyalah karena rasa iba. Dirinyalah yang terlalu berharap lebih pada suaminya itu.
Tak lama kemudian hujan pun turun. Irene bukannya mencari tempat berteduh malah sebaliknya, gadis itu menadahkan tangannya kemudian mendongakkan wajahnya menatap langit. Irene pun memejamkan matanya menikmati rinai hujan yang membasahi dirinya.
Dan dalam hatinya ia menyerukan kalimat.
"Aku ingin dicintai"
__ADS_1
Sungguh ia sempat berfikir bahwa mengapa Tuhan memberikannya kehidupan yang begitu keras. Ia dibuang begitu saja oleh orang tuanya, dan diadopsi hanya untuk dilecehkan dan kini ia menikah dengan suami yang hatinya masih dimiliki wanita lain.
Irene selalu menebarkan senyum konyolnya akan tetapi hatinya menjerit.
Irene membuka matanya disaat ia merasa bahwa hujan tak lagi membasahi wajahnya.
Ia terkejut akan sosok pria yang datang sembari menadahkan payung untuknya.
"Arya.." gumam Irene sedikit terkejut.
Tatapan pria itu tak seperti biasanya, Irene sadar bahwa dia adalah salah satu dari manusia yang menyakiti hatinya. Namun untuk apa dia disini? ada apa dengan tatapan itu?
"Jangan bersedih lagi, ku mohon.." ucapnya dengan tatapan kosong.
Irene tak tahu apa maksud dari keberadaan Arya disini, ia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan mengabaikan mantan kekasihnya itu.
"Aku pikir kau akan bahagia setelah aku menyakitimu, tapi ternyata semua itu salah" seru Arya.
Sontak Irene pun membalikkan badannya.
"Kehidupanku bukanlah urusanmu, sebaiknya tutup mulutmu dan hiduplah dengan tenang bersama wanita yang kau hamili itu" ujar Irene dengan sarkasme.
Arya hanya menyunggingkan senyumnya, pria itu pun mendekati Irene dan kembali memayunginya.
"Bencilah diriku sebanyak yang kau mau, dan ini.. aku tidak ingin kau sakit" ucap Arya sembari memberikan payung untuk Irene.
Irene mencoba menolaknya, namun Arya langsung menggenggam tangan Irene untuk memegangi payung tersebut.
Irene hanya diam menatap kepergian Arya, Pria berbahu lebar itu pergi meninggalkan Irene dibawah rintiknya hujan.
"Aku mencintainya, tapi itu dulu" gumam Irene.
Irene pun berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke halte yang tak jauh dari tempat tersebut.
...
Reyhan gelisah mencari keberadaan Irene. Sudah hampir satu jam pria itu berkeliling kesana kemari namun tak kunjung juga menemukan keberadaan istrinya itu.
Namun, tak lama kemudian Reyhan melihat seperti sosok Irene yang tengah duduk dihalte yang berada tepat diseberang jalan.
Dan benar saja, itu adalah Irene. Pria itu pun segera mengemudikan mobilnya ke seberang jalan dan menepikan mobilnya. Reyhan yang keluar dari mobil segera bergegas menghampiri istrinya itu.
"Kau darimana saja? hari sudah larut mengapa kau masih di luar" oceh Reyhan sembari melepas jas yang dikenakannya untuk menutupi tubuh Irene yang basah.
"Untuk apa?"
"Apa maksudmu?" tanya Reyhan yang sedikit bingung dengan ucapan Irene.
"Mengapa kau memperdulikan ku?" tanya Irene menatap lekat Reyhan.
__ADS_1
"Karena kau adalah istriku" timpal Reyhan dengan tegas.
Irene pun tersenyum saat mendengar jawaban dari Reyhan, entah mengapa ia merasa ada sedikit rasa bahagia dari ucapan Reyhan tadi.
"Setidaknya aku tidak akan dimarahi oleh orang tuaku karena mengabaikan mu" sambung Reyhan dengan santainya.
Baru saja Irene merasakan bak terbang diatas langit, dan saat itu juga Reyhan menambahkan jawaban yang mampu membuatnya jatuh ke dalam lumpur yang kotor.
"Kau mau mati? setidaknya aku mengurangi populasi manusia yang menyebalkan sepertimu" umpat Irene
Reyhan pun tertawa mendengar umpatan Irene yang seperti itu. Dan ia tahu bahwa kini gadisnya kembali normal seperti biasanya.
"Jangan menertawai ku, karena itu tidak lucu sedikitpun" titah Irene.
"Baiklah, mari kita pulang" ajak Reyhan.
Irene pun beranjak dari duduknya.
"Bukankah kau mempunyai payung? mengapa bajumu masih basah?" tanya Reyhan sedikit bingung.
"Ada orang baik yang tidak ingin aku sakit" timpal Irene.
"Siapa?"
"Dia adalah.."
Reyhan mengernyitkan keningnya menunggu jawaban dari Irene.
"Dia adalah manusia. Manusia yang berusaha menjadi lebih baik" ucap Irene.
"Hehe.. seperti itu" tertawa renyah karena tidak mengerti jawaban dari istrinya itu.
"Mari kita pulang" sambung Reyhan.
Irene pun segera berjalan menuju ke mobil.
"Hei kau tidak membawa payung itu?" tanya Reyhan.
Irene hanya menjawab dengan gelengan kepala sembari tersenyum.
"Payung itu.. aku sengaja membiarkannya disana. Dia dan payung itu sama-sama menjadi sebuah kenangan yang tidak mungkin ku bawa bersamaku dimasa depan" gumam Irene dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..