Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 14. Berkeringat


__ADS_3

"Drama apa yang sedang ia mainkan sekarang? sungguh menyebalkan" ucap Irene dalam hati sembari meniup anak rambut yang ada di keningnya.


Irene yang kini tengah duduk bergabung bersama Reyhan dan teman yang lainnya. Tentu saja ini adalah perintah Reyhan. Dan sang pemilik resto yang tak lain adalah temannya sendiri dengan senang hati menyambut kedatangan calon istri dari sahabat karibnya itu.


Namun tanpa mereka ketahui bahwa ini adalah lelucon semata. Permainan yang diciptakan oleh keduanya membuat kesalahpahaman.


Reyhan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, dan ia pun langsung mengelap peluh yang ada di kening Irene.


"Seharusnya kau tidak perlu bekerja keras seperti ini sayang, setelah kita menikah nanti kau cukup di rumah saja" ujar Reyhan sembari memainkan perannya sebagai lelaki yang paling romantis namun cukup membuat Irene muak.


"Omong kosong apa lagi ini" ujar Irene dalam hati. Ia pun langsung meraih sapu tangan tersebut dari tangan Reyhan.


"Biarkan aku saja" ucap Irene.


"Maafkan aku, jika aku tahu kalau Irene ini adalah wanitamu aku tidak akan memberikan pekerjaan yang terlalu berat" kini David lah yang membuka suara.


"Tidak apa, dia memang suka dengan pekerjaan yang sedikit berkeringat. Betulkan sayang?" balas Reyhan sembari melemparkan senyum mematikannya.


Prffttt..


Vanesha yang mendengar ucapan Reyhan tiba-tiba saja menyemburkan jus mangga yang baru diminumnya.


"Maaf pikiranku sedikit liar saat mendengar kau mengatakan itu" ujar Vanesha sembari membersihkan jus yang menyiprat kemana-mana akibat ulahnya tadi.


Dito yang mendengar ucapan istrinya yang terbilang spontan itu langsung mengusap tengkuknya menahan malu. Sedangkan David dan Reyhan meraih kopinya dan menyesapnya secara bersamaan sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Kini tinggallah Irene yang dengan posisi melongo tak tahu apa maksud ucapan Vanesha tadi.


"Emmm.. kalau begitu aku melanjutkan pekerjaanku dulu" ucap wanita yang sedari tadi bingung.


"Kau tidak usah melakukannya Irene, cukup duduk disini saja" ujar David bijak.

__ADS_1


"Biarkan ia melanjutkan pekerjaannya, bukankah tadi sudah aku katakan bahwa ia senang dengan aktivitas yang mengeluarkan keringat" kilah Reyhan yang tidak mau Irene salah paham atas ucapannya tadi yang disambung oleh Vanesha.


Irene tersenyum sembari menahan kekesalannya namun dari bawah ia mengcungkan jari tengahnya.


Reyhan yang melihat hal tersebut juga berbalik mengepalkan tinjunya dari bawah.


"Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Irene yang melangkahkan kakinya, namun belum lama kemudian gadis itu berbalik dan melihat Reyhan yang masih memandang ke arahnya membuat gadis itu kembali mengacungkan jari tengahnya dan mengangkatnya sedikit tinggi. Tentu saja hal tersebut hanya sepengetahuan Reyhan saja.


Reyhan membulatkan matanya menahan kekesalan yang kian memuncak, dan kini Irene bak mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya memandang Reyhan.


Reyhan yang terlihat kesal itu pun kembali menyesap es kopinya untuk mendinginkan kepalanya karena emosi akibat ulah Irene.


...****************...


Irene mengganti seragamnya dengan bajunya yang ia pakai sebelum bekerja. Ia pun memasukkan setelan seragam tersebut ke dalam lokernya dan melangkah pergi dari ruangan tersebut.


Seusai mendorong pintu keluar dari resto tersebut, gadis itu menghirup napasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan kasar. Seolah melepas lelah seharian bekerja di tempat tersebut.


Tinnn.. Tinnn..


Sebuah mobil membunyikan klaksonnya dari belakang, namun Irene tak mendengarnya karena volume musik di telinganya itu ia pasang full.


Tinnn..


Tetap saja wanita itu melangkah tanpa menoleh sedikitpun. Dengan sedikit menggoyangkan kepalanya serta tangannya yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya.


Beberapa pasang mata memandang ke arah mobil yang sedari tadi membunyikan klakson tersebut berulang kali. Melihat hal itu membuat Reyhan pun mau tak mau keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Irene.


Ia dengan cepat meraih menarik hoodie Irene. Irene pun tersentak kaget tiba-tiba dari belakang ada yang menyeretnya.


"Hei kau.. lepaskan aku!" teriak gadis tersebut.

__ADS_1


Reyhan tetap saja tidak menghiraukan teriakan dari Irene. Berbagai umpatan pun keluar dari mulut irene namun tetap saja tak membuat Reyhan berhenti sedikitpun.


"Dia penguntit, stalker, perampok.." seru Irene.


Orang-orang yang ada disekitar sana hanya memandang tanpa menolong Irene meskipun ia sudah mengucapkan kata-kata itu.


Reyhan pun memaksa Irene segera memasuki mobilnya.


"Hei apa yang kau lakukan! keluarkan aku dari sini!" seru Irene sembari menepuk-nepuk kaca mobil.


"Sebaiknya kau tutup mulutmu itu" ujar Reyhan sembari masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke jalanan.


"Orang-orang disana hanya menonton saja, tak memperdulikan teriakanku" ujar Irene sembari memberengut kesal.


Reyhan mendecih saat mendengar ucapan Irene.


"Bagaimana mereka akan menuduhku melakukan penculikan, apalagi menculik gadis yang memiliki banyak hutang sepertimu" ujar Reyhan.


"Lagi pula pakaianku, mobilku, serta ketampananku sudah menjawab semua tuduhanmu itu" lanjut Reyhan tersenyum miring.


"Terserah kau saja, lagi pula ada apa kau menyeretku seperti itu" tukas Irene.


"Tidak apa-apa, hanya ingin mengantar pulang calon istriku saja" ujar Reyhan sembari mengerlingkan matanya.


"Cihhh.. apa dia salah minum obat? ada apa dengannya" batin Irene.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2