Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 47


__ADS_3

Aurel tengah menunggu Rasya yang masih berada didalam kamar mandi. Setidaknya mereka turun bersama meskipun belum terjadi apa-apa.


Belum lama kemudian, suaminya itu keluar dari kamar mandi yang sudah berpakaian lengkap sembari mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk.


"Apa kamu menungguku?" tanya Rasya.


Aurel menganggukkan kepalanya perlahan menimpali ucapan suaminya itu.


Setelah mengeringkan rambutnya, Rasya menyisir rambutnya agar tak berantakan, cukup malam pertamanya saja yang menjadi berantakan.


Keduanya pun keluar dari kamar tersebut. Rasya mengekor pada istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu. Dilihatnya kedua mertuanya serta uncle Steve yang sudah duduk manis menunggu kedatangan mereka.


"Mari sarapan" ajak Alea sembari tersenyum tipis.


Rasya dan Aurel pun ikut bergabung di meja makan. Alea meletakkan nasi serta lauk pauk pada piring Alviro dan Steve.


"Sekarang kamu belajar melayani suamimu nak, dari segi apapun. Begitu juga saat makan, lakukanlah seperti yang mama lakukan pada papamu tadi" ujar Alea yang mengajari putri semata wayangnya itu.


Aurel pun mengambil piring Rasya terlebih dahulu dan membubuhkan nasi serta lauk pauk pada piring suaminya itu. Hal baru yang akan menjadi kebiasaan Aurel selanjutnya.


Rasya pun berterima kasih pada istrinya sebelum menyantap sarapannya.


"Oh ya, uncle belum bercerita ke kalian berdua. Hari ini uncle akan kembali ke New York" ucap Steve.


"Kenapa cepat sekali uncle. Ayolah menetap lebih lama lagi" ujar Aurel.


"Uncle masih sibuk dengan urusan kantor, keponakanku. Lain kali uncle akan kembali berkunjung bersama aunty" ucap Steve.


"Janji ya.." tukas Aurel


"Oke" timpal Steve singkat.


...


Alviro dan Alea serta Aurel bersama suaminya berada di bandara. Tak lupa juga pria tua yang berpenampilan muda tengah membawa koper tampak berjalan didepan mereka.


"Uncle.." seru Aurel.


Pria itu pun berbalik menatap keponakannya. Aurel berlari menghambur ke pelukannya. Gadis kecil yang dulu hobi menghabiskan uangnya hanya untuk membeli coklat serta permen.


Steve pun melepas koper yang digenggamnya. membalas pelukan dari Aurel.


"Uncle lain kali berkunjunglah lebih lama lagi" ucap Aurel lirih.


Steve mengembangkan senyumnya, namun terbesit rasa haru saat mendengar ucapan gadis yang dulunya ia asuh dengan penuh kasih sayang.


Sebelum menikahi Alice, Steve sering kali ke Indonesia hanya untuk mengunjungi keponakan cantiknya itu. Bahkan Steve sering mengabaikan pekerjaannya hanya untuk memanjakan Aurel dari jalan-jalan dan bermain. Maka dari itu tak heran jika Aurel begitu dekat dengan Steve.

__ADS_1


"Kau masih saja cengeng seperti dulu" ucap Steve.


Steve mengusap air mata Aurel. Ia pun mengambil sesuatu dari jas yabg dipakainya.


"Uncle lupa memberikan ini pada kalian, setidaknya berbulan madu dan hasilkan buah cinta ditempat terindah" ujar Steve mengerlingkan sebelah matanya.


Aurel yang sedari tadi sesegukan kini menahan semburat malu yang terpatri diwajahnya. Steve pun menghampiri Alviro dan memeluk pria itu untuk berpamitan.


"Kabari aku jika kau sudah sampai" ucap Alviro seraya menepuk pundak Steve.


Steve pun menimpali ucapan tersebut dengan sebuah anggukan.


"Kau jangan menangis wanita tua, sungguh kau jelek sekali" gurau Steve kemudian memeluk Alea yang matanya mulai memerah.


"Aku tidak menangis karenamu si tua bangka, hanya saja debu-debu diperjalanan tadi dengan tidak sopannya masuk ke mataku, hikss..hiksss.." timpal Alea dengan alasan konyolnya, dan hal tersebut sukses membuat Steve terkekeh.


Steve pun kini menuju Rasya.


"Hati-hati di jalan uncle" ucap Rasya.


Steve langsung memeluk pemuda itu sembari membisikkan sesuatu.


"Semoga berhasil, berusahalah lebih keras" bisik Steve. Satu kalimat yang sukses membuat Rasya tersenyum malu seraya mengusap tengkuknya.


Setelah berpamitan, Steve pun melanjutkan langkahnya sembari melambaikan tangannya.


Aurel kembali memandangi tiket penerbangan yang diberikan oleh Steve.


"Venice.." gumam Aurel saat membaca tujuan yang tertera dari tiket penerbangan tersebut.


...****************...


"Nes.. dengarin penjelasan dari aku dulu" ucap Dito yang mengejar langkah Vanesha. Ia pun mencekal tangan gadis tersebut untuk memberhentikan langkahnya.


"Lepasin!" tukas Vanesha yang berusaha menepis tangan Dito.


"Apa yang kamu lihat itu salah, aku cuma reflek nolongin Cecil yang hampir jatuh. Nggak lebih dari itu" jelas Dito.


"Kamu itu sama aja mencari kesempatan dalam kesempitan. Kamu tau kan Cecil juga udah lama ngejar kamu, ya udah kamu pacaran aja sama Cecil" ujar Vanesha.


"Tapi..."


"Tapi apa? kamu senang juga kan? udahlah Dit aku capek kalau harus seperti ini. Aku mau kita putus" ucap Vanesha dengan lantang.


Rahang Dito mengeras saat mendengar ucapan gadis yang ada dihadapannya, hatinya terasa sakit tapi tak berdarah. Pria itu hanya terdiam tanpa perlawanan lagi.


Vanesha yang baru saja hendak berbalik, mendapati Reyhan yang tengah memergoki dua sejoli yang sedang beradu mulut.

__ADS_1


"Ayo ikut gue" ucap Reyhan yang kemudian menarik tangan Vanesha.


Sementara Dito hanya memandang mereka yang mulai menjauh. Ia pun meninju dinding yang ada disampingnya berkali-kali menumpahkan rasa kekesalan serta kekecewaannya.


"Kenapa lo gak pernah percaya gue" ucap Dito lirih.


...


Reyhan dan Vanesha kini tengah berada di halaman depan kampus. Ia pun menyodorkan sebotol air mineral pada gadis itu.


Vanesha menerima minuman tersebut dan langsung menenggaknya hingga menyisakan setengah dari isinya.


"Kalau ada masalah, seharusnya lo bicarakan dengan kepala dingin jangan mengambil keputusan disaat lo lagi emosi" ucap Reyhan yang menasihati sepupunya itu.


"Gue lihat Dito begitu bukan satu kali atau dua kali aja, tapi sering Han. Gue tau Dito orangnya setia, tapi gue nggak mau dia seperti ngasih perhatian gitu ke cewek lain. Lagian kalau dia nggak suka, kenapa harus nolongin si Cecil itu, cewek itu punya seribu alasan buat minta perhatian ke Dito" ucap Vanesha panjang lebar.


"Tapi.."


"Asal lo tau cewek itu nggak bisa dikecewakan, kalau mereka sudah kecewa biar tujuh bulan, tujuh tahun, tujuh turunan, tujuh tikungan, tujuh belokan dan bahkan tujuh tanjakan pun dia akan tetap ingat masalahnya. Maka dari itu pikir-pikir dulu kalau mau kecewain cewek" sela Vanesha dengan cepat.


Reyhan pun hanya terdiam mendengar ocehan sepupunya itu. Yang seharusnya diberi nasihat malah berbalik menasihati.


"Pantas gue nggak berjodoh sama Aurel, ngecewain dia udah terlalu sering" ujar Reyhan dalam hati.


Suasana pun mendadak hening usai ratusan penjelasan dari Vanesha.


"Lo pas selesai mau kemana? atau langsung kerja di rumah sakit?" tanya Vanesha.


"Mungkin gue bakalan keliling dunia untuk beberapa tahun kemudian baru balik ke Indonesia lagi" timpal Reyhan tersenyum tipis.


.


.


Bersambung..



Jaga kesehatan selalu dan jangan lupa memakai masker saat beraktivitas diluar. Last pict untuk babang Reyhan.


Ini terakhir babang Reyhan muncul disini ya guys, soalnya kita fokus dulu ke Rasya sama Aurelnya berhubung bentar lagi Sentuh Hatiku yang season 1 bakalan end.


Untuk Season 2 nya khusus milik babang Reyhan dengan face yang lebih dewasa, hidup baru, dan perjalanan cinta yang baru.


Ikuti terus ceritanya ya, maaf kali ini up nya agak lama karena kemarin badanku lagi kurang sehat jadi otak sama tulisan nggak sejalan🙈


Jangan lupa untuk like, komen dan vote seikhlasnya ya. salam manis Ryn ❤

__ADS_1


__ADS_2