
Setelah pesta usai, satu persatu tamu pun berpamitan untuk pulang. Reyhan yang tampak masih semangat menyalami beberapa tamu, sedangkan Irene yang ada disampingnya sesekali menghela nafasnya karena terlalu letih.
"Bawa istrimu beristirahat, tampaknya menantuku sudah terlihat letih. Urusan tamu biar mama dan papa yang urus" ujar Irsya memberi masukan.
Kata istri yang disematkan untuk Irene masih sedikit terdengar asing ditelinga Reyhan. Namun kenyataannya ia memang sudah berstatus menikah sekarang, bukanlah seorang pria single lagi.
"Baik ma.." timpal Reyhan yang kemudian membawa Irene.
...
Saat telah memasuki hotel, Reyhan sengaja mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Irene.
"Hey tunggu.." seru Irene.
"Langkah kakimu itu terlalu kecil, kau berjalan seperti kura-kura" timpal Reyhan yang tak menoleh ke arah Irene sedikitpun.
"Gaunku sedikit sempit untuk mengejar langkahmu" ucap Irene.
Langkah Reyhan terhenti..
"Sebaiknya kau jangan pernah mengejarku, sejauh apapun aku melangkah dan sejauh apapun aku berlari ku harap kau tetap pada tempatmu dan tidak untuk melewati batas" ucap pria itu yang kemudian kembali melangkahkan kakinya lagi.
Irene yang mendengar hal tersebut langsung menghentikan langkahnya. Dadanya terasa sakit saat mendengar penuturan Reyhan barusan. Matanya pun mulai berkaca-kaca sembari menatap punggung Reyhan yang semakin lama semakin menjauh.
Irene mendongakkan kepalanya agar air matanya itu tidak tertumpah, namun setetes bening pun jatuh membasahi pipinya.
"Bukankah kau tahu ini akan terjadi irene? jangan pernah merasa tersakiti ataupun menyesalinya" ujar Irene bermonolog sembari menghapus air matanya.
Ia pun kembali melanjutkan langkahnya yang tertinggal jauh dengan Reyhan.
.
.
__ADS_1
.
"Ma.. pa.. kami pamit pulang, sepertinya mereka kelelahan bermain sedari tadi" ujar Rasya yang menggendong Arden sedangkan Aurel tengah menggendong Aretha.
"Adududuh cucuku kelelahan sekali" ucap Irsya sembari mengelus kepala kedua cucunya satu persatu.
"Kalian hati-hati di jalan ya nak" ujar irsya.
Rasya pun mengangguk patuh, kemudian ia dan Aurel pun memasuki mobil dan meletakkan kedua anak mereka di kursi penumpang.
Rasya pun menghidupkan mesin mobilnya dan melaju ke jalanan.
"Mengapa raut wajahmu tampak tidak bersemangat hari ini?" tanya Rasya pada Aurel.
"Tidak ada apa-apa mas" timpal Aurel.
"Kamu yakin tidak ada masalah apapun? aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sedikit berbeda" selidik Rasya.
"Itu hanya perasaanmu saja, mas" jawab Aurel yang memandang ke luar jendela mobil.
...****************...
Setelah membersihkan diri serta mengganti pakaian, Reyhan dan Irene pun tampak bingung hendak melakukan apa. Irene yang kini tengah duduk di atas tempat tidur sembari memainkan ponselnya, sedangkan Reyhan berbaring di sofa yang merupakan fasilitas hotel tersebut.
Reyhan sesekali melirik Irene yang tampak kegirangan dengan ponselnya itu, sesekali gadis itu pun meneriakkan kata 'yes'.
"Sedang apa kau?" tanya Reyhan.
"Bermain game" ucapnya acuh.
"Game apa?" tanya Reyhan lagi.
"Game yang ada di ponselku tentunya" ucap Irene yang terkesan dingin.
__ADS_1
"Iya aku tahu jika kau sedang bermain game diponselmu, yang ku tanyakan game apa yang kau mainkan?"
"Ini.." ujar Irene memperlihatkan layar ponselnya dari jauh.
"Aku pernah memainkannya, tapi menurutku itu kurang menarik" ucap Reyhan.
"Menurutku ini menarik, dan jangan menggangguku karena aku tidak bisa fokus jika kau selalu bertanya" ujar Irene.
Reyhan pun bersedih mendengar ucapan Irene barusan. Sebenarnya ia juga merasa bosan. Sesekali ia kembali melirik Irene yang masih tampak asyik memainkan game yang ada di ponselnya itu.
"Setidaknya kau mengajakku berbicara" gerutu Reyhan.
Belum lama kemudian, ia pun mengotak-atik ponselnya.
"Berapa ID mu?" tanya Reyhan.
"Sudah ku katakan kalau kau jangan mengajakku berbicara ketika aku sedang main" ujar Irene.
"Aku telah mengunduh aplikasi tadi, apa nama ID mu aku ingin mengundangmu untuk bermain bersamaku" ucap Reyhan.
"Benarkah? baiklah ayo kita bermain bersama" tukas Irene yang tampak antusias.
Setelah menyebutkan ID dari akun gamenya itu, keduanya pun asik dengan ponselnya masing-masing. Namun suasana didalam ruangan tersebut juga ikut menjadi gaduh karena keduanya yang bermain sembari bersahutan.
Sesekali Irene mengumpat karena Reyhan yang tidak bisa memenangkan pertandingan tersebut, namun sebaliknya Reyhan pun tak mau kalah. Pria itu pandai berkilah dengan berbagai alasan.
Dan malam pertama mereka pun hanya diisi dengan bermain game serta saling melempar umpatan satu sama lain.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..