Jangan Pergi

Jangan Pergi
episode 37


__ADS_3

maafkan typo yang bertebaran🙏🙏🙏


selamat membaca😊


.


.


tok. . tokkk. .


"Leah. bolehkah aku masuk? aku ingin bicara sesuatu ke kamu" ujar Alviro dengan maksud untuk minta maaf pada istrinya itu.


setelah beberapa kali mengetuk tetap saja tidak ada jawaban.


Alviro pun memberanikan diri untuk langsung memasuki kamar Alea. Alviro terkejut melihat Alea yang tergeletak di lantai masih mengenakan mukena.


"Alea. . ." ujar Alviro menggerakan tubuh Alea .


Alviro panik langsung membopong Alea membawanya ke rumah sakit.


"Leah bangun. ." gumam Alviro sambil menyetir dengan kecepatan tinggi.


Alviro tidak perduli dengan keselamatannya untuk saat ini, yang hanya ada difikirannya yaitu Alea. ia harus segera membawa Alea ke rumah sakit.


setibanya di rumah sakit, perawat pun bergegas membawa Alea menuju ke ruang rawat.


untuk sementara Alviro hanya menunggu diluar selagi dokter memeriksa keadaan Alea.


Alviro tampak gusar, rasanya sangat lama sekali menunggu dokter ke luar ruangan tersebut.


belum lama kemudian dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"dok. . bagaimana keadaan istri saya?" tanya Alviro.


"istri bapak tidak apa-apa ia hanya terkena demam tinggi, mungkin karena faktor stres ataupun kelelahan. kami sudah memberikan suntikan penurun panas, dapat dipastikan keadaan pasien akan segera membaik" ujar dokter meyakinkan Alviro.


"terimakasih dok" ucap Alviro

__ADS_1


"sudah tugas kami untuk menolong pasien" tukas dokter tersebut menepuk pundak Alviro kemudian langsung melangkah pergi.


Alviro duduk di dekat Alea. sesekali ia mengelap keringat Alea yang mengucur, dengan lembut Alviro mengusap dahi Alea.


"maafkan aku Leah sudah membuatmu menjadi seperti ini. tolong jangan sakit lagi" ujar Alviro.


belum lama kemudian Alea tersadar.


"aku ada dimana?" tanya Alea.


"kamu ada di rumah sakit Leah, tadi kamu pingsan" jawab Alviro.


Alea langsung beranjak bangun.


"aku baik-baik saja" ujar Alea sambil melepaskan selang infus yang tertanam di tangannya.


"Alea apa yang kamu lakukan" bentak Alviro menarik paksa Alea.


Alea tetap saja melepaskan infus yang ada di tangannya, hal tersebut berhasil ia lakukan dan menyebabkan tangannya berdarah.


Alea mencoba bangkit dari tidurnya namun ia pun limbung karena rasa sakit dikepalanya belum hilang.


Alea tidak mendengarkan perkataan Alviro ia tetap saja berjalan hendak keluar namun Alviro menariknya kembali.


"lepasin aku mas, apa peduli kamu denganku !" ujar Alea.


"jelas aku perduli denganmu, kamu itu istriku"


Alea tersenyum miris mendengar penuturan suaminya itu. Alea hendak melangkah pergi namun tiba-tiba Alviro memeluknya. Alea terkejut dengan apa yang dilakukan Alviro.


tubuh Alea menjadi kaku seketika.


"maafkan aku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. tapi tolong tetap lah disini sampai kamu benar-benar pulih" ujar Alviro dengan nada lembut.


Alea hanya terdiam menuruti kata-kata Alviro. seakan-akan tenaganya habis untuk memberontak pada suaminya itu.


Alea berbaring di tempat tidur. Alviro mengusap rambut Alea seolah menenangkannya.

__ADS_1


Alea masih marah atas apa yang dilihatnya kemarin malam, namun ia mencoba untuk berdamai.


ia seakan tidak pernah melihat apa yang terjadi pada saat itu. ia lebih memilih untuk berdamai dengan keadaan.


Alviro kembali melakukan aktivitas kantornya setelah beberapa hari libur menjaga Alea. Alea sudah benar-benar pulih, jadi Alviro tidak merasa terlalu khawatir lagi dan meninggalkannya ke kantor.


libur beberapa hari membuat kedekatannya dengan Alea mengalami kemajuan. hal tersebut tentu saja membuat Alviro senang karena tidak akan ada pertengkaran lagi diantara mereka.


Alviro pun sudah tidur diranjang yang sama dengan Alea, hanya tidur tidak ada yang terjadi diantara keduanya.


Alviro memang berhak untuk meminta hak nya sebagai seorang suami, namun ia masih ragu dengan perasaannya. ia hendak memintanya ketika ia sudah benar-benar siap untuk mencintai Alea.


tokkk. .tokk . .


salah satu staf nya masuk ke ruangan Alviro.


"pak ini laporan keuangan untuk bulan ini sudah saya rekap" ujar Nina.


"mana Clara? bukankah ini tugas Clara" tanya Alviro


"mbak Clara sudah 2 hari tidak masuk bekerja pak dan alasannya pun saya kurang tau" ujar Nina.


"ya sudah, kamu letakkan saja dokumennya" perintah Alviro.


"baik pak. kalau begitu saya undur diri dulu pak" ucap Nina dibalas anggukan oleh Alviro.


Alviro mencoba mengambil ponselnya dan menghubungi Clara, namun tidak ada jawaban dari Clara.


"ada apa dengan Clara" gumam Alviro.


di lain tempat Clara dengan kondisi yang memprihatinkan, rumahnya tampak sangat berantakan. ia duduk di sudut kamarnya sambil memeluk lututnya. sebuah benda yang di pegangnya membuatnya bergetar hebat.


"ini tidak mungkin terjadi" gumam Clara matanya tertuju pada benda yang menunjukkan garis dua tersebut.


terimakasih para readers yang selalu setia mmbaca novel ini.


author minta dukungannya untuk memvote novel ini🙏🙏🙏

__ADS_1


salam manis RPS😊


__ADS_2