
Reyhan melempar tas kerjanya begitu saja diatas kasurnya. Sungguh ia merasa sangat pusing dengan permintaan kedua orang tuanya. Reyhan segera turun dan kembali menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk di teras.
Namun saat jarak tersebut sudah dekat, Reyhan mengurungkan niatnya dan kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan ponselnya dalam saku dan mencoba menelepon kontak yang dinamainya gadis gincu tersebut.
Setelah menelepon yang ke tujuh kalinya panggilan tersebut baru dijawab oleh gadis tersebut.
"Hei kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku" ujar Reyhan kesal.
"Maafkan aku, aku sedang bekerja"
"Dimana tempat kau bekerja, aku akan menemuimu sekarang. Ini penting!" ucap Reyhan.
"Tapi.."
"Kirimkan alamatnya segera, atau kau harus membayar hutangmu itu lebih" tukas Reyhan mengancam, pria itu pun langsung memutuskan sambungan telepon.
Hal yang baru lagi dilakukan oleh seorang Reyhan yaitu menghubungi seorang wanita lebih dari satu kali. Ia mengetuk-ngetukkan tangannya diatas meja sembari menunggu pesan singkat dari wanita tersebut.
Setelah mendapat notifikasi pesan singkat tersebut, Reyhan bergegas keluar dari kamarnya.
"Ma.. pa.. Reyhan keluar sebentar" ucapnya kepada kedua orang tuanya yang masih duduk di teras rumah.
"Kamu mau kemana?" tanya Irsya yang sedikit heran melihat putra bungsunya tampak terburu-buru.
"Mau ke rumah teman sebentar ma, ada yang harus Reyhan urus" ucapnya yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Pria itu pun melajukan mobilnya menuju ke jalanan. Irsya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Reyhan.
"Mungkin dia mau menemui teman istimewanya ma, biarkan saja dia mengejar wanita yang akan menjadi masa depannya. Papa hanya tidak ingin dia terus terpuruk memikirkan cinta masa lalu nya." ujar Abizar sembari menyesap teh nya.
"Cinta masa lalu? siapa pa?" tanya Irsya bingung.
"Biasalah rahasia para lelaki" canda Abizar yang mendapat sebuah pukulan kecil dari Irsya.
...****************...
Reyhan tengah menunggu didepan toserba tempat Irene bekerja. Sesekali ia melirik arlojinya. Sudah 15 menit lamanya ia menunggu Irene yang masih sibuk melayani pelanggan.
Beberapa saat kemudian, wanita itu pun menemui Reyhan yang tengah menunggunya di luar.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Irene.
"Aku kemari untuk menagih uang yang kemarin" ujar Reyhan.
"Apa?!" Irene membulatkan matanya terkejut.
"Aku mendapatkan pekerjaan baru beberapa hari yang lalu dan kau menagih hutang padaku?" sambungnya sedikit heran.
"Kalau begitu bantu aku, maka semua hutangmu akan aku anggap lunas" ujar Reyhan santai.
"Benarkah?" tanya Irene yang sedikit tak percaya.
"Hemmm.."gumam Reyhan.
"Kalau begitu apa yang bisa aku bantu?" tanya Irene.
"Berkencanlah denganku" ucap Reyhan santai.
Irene membulatkan matanya seketika. Sungguh ia tidak akan menyangka jika semua hutangnya akan ditukar dengan sebuah kencan.
"Aku tahu jika aku cantik sampai bisa membuatmu jatuh hati seperti itu, tapi kenapa harus kencan yang menjadi bayarannya" gumam Irene sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Apa kau pikir aku tertarik padamu?"
Irene mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Aku memintamu berkencan bukan berarti aku tertarik padamu, aku hanya tidak ingin kedua orang tuaku sibuk menjodohkanku dengan banyak wanita. Jadi jangan berharap lebih" jelas Reyhan sembari melipat kedua tangannya didepan.
Irene yang tadi bak terbang kini bagaikan dihempaskan ke dasar lumpur. Ia pun kembali bersikap sewajarnya.
"Lantas apa yang harus aku lakukan" tanya Irene lagi.
"Luangkan waktumu jam 5 besok sore. Aku akan menjemputmu" ujar Reyhan.
Setelah mengatakan hal tersebut pria itu langsung memasuki mobilnya.
"Ingat luangkan waktumu atau hutangmu menjadi dua kali lipat" ujar Reyhan setelah menurunkan kaca mobilnya. Pria itu pun langsung melaju ke jalanan.
"Atau hutangmu akan menjadi dua kali lipat" ejek Irene menirukan ucapan Reyhan sembari mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Irene pun melangkah pergi dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
...****************...
Sore itu, Reyhan mulai merapikan dokumen yang tadi dipelajarinya. Dilihatnya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah lima.
Pria itu tidak melupakan janjinya yang akan menjemput Irene. Ia pun melangkah pergi dari ruangannya itu.
Tiba didalam lift, ia berpapasan dengan pak Darto yang merupakan salah satu orang yang memiliki saham di rumah sakit tersebut. Dan pria itu juga merupakan salah satu dari orang yang menentang Reyhan untuk menduduki posisinya yang sekarang ini.
Reyhan mencoba bersikap ramah namun pria tua tersebut tampak acuh. Ia melihat Reyhan dengan seksama.
"Apa kau sudah ingin pulang? hahh yang benar saja" ucap pak Darto dengan tersenyum sinis.
Lift pun terbuka, pria itu melenggang keluar terlebih dahulu. Sikap yang ditunjukkan oleh pak Darto tadi sukses membuat Reyhan mengelus dada.
...
Reyhan menyandarkan badannya di mobil sembari menunggu Irene didepan kontrakannya. Belum lama kemudian, gadis itu pun keluar dari huniannya.
"Ayo kita berangkat" ujar Irene yang langsung memasuki mobil disusul dengan Reyhan.
Di perjalanan keduanya hanya bungkam. Reyhan menyalakan tape untuk mengusir keheningan. Sedangkan Irene menurunkan kaca mobil sembari menikmati angin yang menerpa wajahnya.
.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya dengan like, komen, dan vote seikhlasnya🤗
Salam manis Ryn❤️
__ADS_1